Ponsel

Beberapa waktu lalu, ponsel saya hilang. Ini aneh, dan sudah terjadi tiga kali.

Jadi, tiga tahun terakhir, ponsel saya pasti kenapa-kenapa tiap tanggal 3 Syawal.

Dua tahun lalu, ponsel saya rusak. Saya tinggalkan ponsel itu seharian di kamar, dan begitu kembali, layarnya sudah retak. Ponsel itu sendiri tidak bisa hidup. Tukang servis menyerah. Sayang sekali: itu ponsel pemberian sahabat karib saya. Beberapa hari kemudian, baru saya tahu ternyata itu ponsel sudah dipakai main-main sama ponakan. Mungkin dipakai melempar anjing kampung, terus nyasar ke pagar rumah, terus nyemplung ke got.

Setahun lalu, ponsel saya tercebur di laut. Saya sowan ke seorang Pak Tua yang sudah sepuluh tahun tinggal sendirian di satu pulau kecil di Lombok Timur. Pergi pagi, pulang malam, pakai sampan. Sialnya, pas pulang, terjadi keanehan. Di tengah laut, sampan saya hanya berputar di tempat. Padahal tuas kemudi sudah diangkat. Sempat saya matikan mesin, kemudian saya dayung sampan ke titik lain, dan saya nyalakan lagi. Sampan tetap berputar-putar di tempat. Akhirnya saya dayung sampai darat. Kala mendayung, sampan saya sering nabrak karang. Ponsel yang saya pinjam senternya itu terlepas dari tangan waktu sampan menabrak karang. Jatuhlah ia ke laut. Wassalam.

Keduanya terjadi tanggal 3 Syawal.

Nah, pada 3 Syawal kemarin, saya pergi ke galeri ATM BNI untuk transfer uang. Setelah selesai transaksi transfer, ponsel saya taruh di atas mesin ATM, saya melakukan penarikan. Saya pergi dari galeri tanpa membawa ponsel. Asli, lupa. 5 menit kemudian saya sadar dan langsung kembali ke galeri. Ponsel sudah raib.

***

Tapi, ada tapinya.

Saya sudah lama dilatih Pak Guru untuk tidak goyah pada datang perginya rizki. Dan saya sangat bahagia karena pada tiga kejadian di atas, detik pertama saya tahu saya telah kehilangan ponsel, hati saya langsung jembar. Oh, diambil Tuhan. Rasanya waktu itu tidak ada sedikit pun rasa sesal atau sedih. Saat itu, hati saya sebiasa melihat batu kerikil di jalan yang berpindah tempat. Sangat biasa.

Saya bahagia karena bagi saya, dan bagi komunitas yang diasuh Pak Guru, diberikan kemampuan untuk berserah semacam itu nilainya besar sekali. Bagaimana tidak bahagia: untuk memahami falsafah keberserahan saja sudah bikin pening. Bukan karena falsafahnya sulit, tapi falsafah itu bertentangan dengan doktrin utama Sapiens, yang membesarkan kita semua (kamu ada, kamu mampu, dan kamu harus mengejar keinginanmu).

Pertentangan antara falsafah keberserahan dan budaya-tak-bersyukur-yang-mendarah-daging itu bikin pening. Syukurlah, saya sudah melewati masa pening itu, dan hasil latihannya mulai terlihat sedikit demi sedikit. Ponsel bagi saya adalah barang mahal dan penting yang di dalamnya ada foto mantan, dan ketika kehilangannya, saya bisa merasa biasa saja. Hasil ini belum seberapa, tapi saya tak bisa menahan senyum senang.

***

Tapi, ada tapinya.

Orang-orang di sekitar sayalah yang sulit menerima sikap santai ini.

Di rumah, saya orang yang paling rapi. Saya disiplin dalam tata letak. Tapi mereka juga tahu saya teledor dalam beberapa hal. Ponsel atau kunci motor saya kadang tertinggal, misalnya, di warung kopi. Bila bukan saya yang langsung ingat, ada orang yang mengejar dan mengantarkan barang itu ke saya. Kartu ATM saya kadang tertinggal di mesinnya. Satpam dan Costumer Service Bank BNI Syari’ah Cab. Malang sudah bosan melihat saya mengurus kartu ATM. Saya bahkan hapal nama satpam dan beberapa CS. cakep.

Saya bilang pada keluarga, ya sudah, sudah diambil Tuhan. Sikap ini bikin mereka jengkel. Saya dianggap saya hanya menjadikan Tuhan sebagai alasan untuk menutupi keteledoran. Saya bahkan sempat, sekitar satu jam, merasa diperlakukan seperti “orang asing yang merepotkan” oleh adik saya sendiri, yang kebetulan menemani saya ke galeri ATM.

Masyaallah.

Saya tidak bersembunyi di balik argumen takdir, tapi andai mereka jenih memikirkan, tak ada yang lain yang menggerakkan hati maling selain Dia. Siapa juga yang berdaya membuat saya alpa selain Dia. Khilaf adalah bukti bahwa manusia tidak berkuasa atas dirinya sendiri. Pemegang kuasa itu tak ada yang lain selain Dia.

Cuma, saya maklum. Memahami keberserahan memang tidak mudah. Seseorang harus menerima kelunakan hati dari Tuhan agar mampu menganggap dirinya bukan dirinya, hartanya bukan hartanya, dan segala sesuatu bukan segala sesuatu itu sendiri. Manusia memang cenderung mengakui Tuhan hanya kalau diberikan yang enak-enak. Pas dikasih kesulitan, panjang mulutnya. Segala setan disalahin. Segala diri disalahin.

***

Saya membeli ponsel kecil, dua hari kemudian. Nokia merek apa, gitu. Rencananya, saya pakai itu sampai terkumpul uang dan bisa membeli ponsel baru. Tapi ternyata saya larut dalam kenyamanan. Hanya memiliki ponsel kecil betul-betul menyehatkan. Waktu membaca dan menulis semakin bertambah, juga waktu untuk bercengkrama. Mata makin sehat. Setelah uang terkumpul, saya masih tidak ingin membeli ponsel.

Baru setelah Direktur Madrasah tempat saya mengajar menuntut saya memiliki Whatsapp, saya membeli ponsel. Mulanya saya ingin membeli ponsel sederhana (Samsung Galaxy, atau Redmi 5a), atau membeli Tablet (untuk membaca E-book), tapi keluarga memaksa membeli ponsel dengan spec tinggi sekalian. Jadilah saya beli Realme 5i. Tapi saya tetap jarang membawanya ke mana-mana. Aplikasi Whatsapp yang saya install di laptop memungkinkan saya online di kantor atau warung kopi tanpa membawa ponsel. Begini lebih nyaman. []

Standar

45 respons untuk ‘Ponsel

  1. Hhmm…. sllu ad hikmah di balik setiap peristiwa ya kan? Keren, sprtinya Anda kian sufis dan reflektif dech ya.

    Mmbaca konsep keberserahan dan maklumnya Anda pd apapun yg trjdi, sepintas sy tercenung jg teringat pd doktrin dlm iman sy ttg predestinasi. Tentu dg sudut pandang yg tdk persis, bhkn mungkin sj kontras. Tp bkn itu, mksd sy. Mksd sy, sy merasa salut dg spiritualitas dan cara Anda berfalsafah. Kece badai.

    Btw, klau sy kontak WA Anda yg lma, gak bs dong.

    Org yg tak memiliki sbnrnya tak prnah kehilangan.

    • Pak Guru, saya justru merinding sama kalimat terakhir Pak Guru. “Orang yang tidak pernah memiliki sebenarnya tidak pernah kehilangan.” Ini sama seperti teologi keberserahan yang saya maksud. Sebab, konsep kepemilikan itu sebetulnya rentan bila disematkan pada manusia. Manusia sendiri tidak berkuasa atas dirinya sendiri, maka ruang di mana manusia benar-benar memiliki sesuatu menjadi samar.

      Pak Guru hubungi saya di sini, ya?
      0877-6161-1991

      Itu nomor WA saya yang baru. Terima kasih Pak Guru 🙂

  2. Wah topik “keberserahan” perlu dibuat nextnya nih. Agar kita-kita juga bisa belajar “berserah” ketika barang ilang atau (ditinggal pacar) wk.

    Always mantap 👍

  3. Duh bang hapenya kok sama, kan aku jadi ketawa wkkkk

    Soalnya akupun baru beli karena hapeku yang lama sudah error navigasinya.
    Tapi mendingan sih ini setelah 3 tahun baru ganti, itupun kalau hapenya nggak nge-vn sendiri ke grup2, ku nggak rencana ganti 😀

    • Itu HP parahnya kayak apa coba sampai bisa nge-VN sendiri >,,<

      Jadi kita sama-sama Realme 5i, nih? Tos dulu kita, Ing. Rajin-rajin cerita-cerita di IG, yaa 🙂

  4. “Protes” Nokia adalah nama merk. Samsung Galaxy bukanlah sederhana sampai sekarang tipenya juga mengikuti zaman, bahkan specnya ada yang mengungguli Realme5i.

  5. wah bang ical sama dengan saya. Dulu ada satu titik saya merasa overwhelmed dengan teknologi dan menyimpan blackberry saya ke lemari dan hanya menggunakan ponsel yang hanya berfungsi untuk telfon dan sms. Rasanya menyenangkan sekali, seperti terbebas dari sesuatu.

    • Betul, kan? Seperti terbebas dari sesuatu. Barang mengikat kita, tapi ponsel pintar saya rasakan punya daya ikat yang terlalu kuat. Macam candu.

  6. Aku juga pernah kehilangan hp dan tablet. Kalau dihitung-hitung sepertinya sudah 4x hilang. Yang satu karena ditinggal begitu saja di Gambir pas lagi dicharge hpnya. Sisanya dicopet. 😆

    Btw, buatku lepas dari WA agak susah karena aku suka video call dengan keluarga di Bandar Lampung. Tapi, kalau lepas dari medsos lain, masih bisa lah.

    • Yang tinggal di pusat kota itu kok ya banyak punya pengalaman dicopet ya? 😂

      Itu dah, Kak Kimi. Intinya di WA. Kalau mengandalkan SMS, kita hanya leluasa berkomunikasi dengan teman yang providernya sama. WA mengatasi itu 😁

  7. Menurutku sih cerita paling tragis kecebur di laut. Itu tuh kek apa ya.. ish kesel banget kalo aku sih.

    Ini mah keberserahan tingkat kabupaten~

    Cuma aku juga pernah kehilangan ponsel. Awalnya aku kayak, “Yaudahlah ya, udah ilang mau gimana?”

    Eh pas besoknya… sepi banget idupku gada yang bisa ku pegang pas lagi bengong 😭

    • Besok kuceritain orang yang keberserahannya tingkat provinsi 🤣

      Waktu kecebur ke laut, betul, yang muncul kok kesel, ya. Nyesel sih ndak, tapi kayak: “Halo, ni hape ada pilihan rusak yang lain nggak, selain kena air garem?”

      Ung, ponselmu ilang karena apa?

  8. Rizky Noviarini berkata:

    Wah bener banget bang. Pernah juga ngalamin kayak gini, terutama saat lagi banyak pikiran wkwkwk…
    Alhamdulillah masih rejeki waktu itu.

    Pernah ninggalin dompet pas beli martabak, pas sampe rumah ditelpon mas-mas penjual martabak (hampir gak diangkat Krn nomor baru di hp) dan baru sadar ternyata dompet tertinggal di sana. Sering juga ninggalin hp di dashboard motor matic, pas balik ke motor baru sadar di situ ada hp nangkring dg cantiknya. Pernah juga pas ke *lf*m*rt mau beli-beli, pas antri bayar di kasir ngeliat motor maticku masih nyala dong lampunya, alias si kunci masih nyangkut dan siap diambil maling. Tapi, Alhamdulillah masih rejeki 🙂

      • Rizky Noviarini berkata:

        Iya, parah sih hahaha, alhamdulillah sekarang udah gak separah dulu hehehe… mungkin karena tubuh dan jiwa sering berpisah jadinya gitu kali ya 😀

      • Kayaknya asyik nih, nulis keteledoran-keteledoran kecil yang kita punya, termasuk cara-cara kita mengatasinya. Pasti ada, kan, taktik yang kita bikin sendiri 🙂

  9. Kalau skalanya diperbesar, memang yang bisa kita lakukan cuma menerima ya, Bang? Hehehe…

    Pernah ada masanya saya sering ketinggalan ATM di mesin, Bang Ical. Entah sudah berapa kali. Kali kesekian kehilangan, saya mulai menerapkan protokol mengambil uang di mesin ATM. Syukurlah, sepertinya berhasil. Sudah lama tidak hilang–mudah-mudahan tak pernah lagi. 😀

    • Protokolnya macam apa, Bang Morish? Kalau saya, “Tak boleh pergi dari ATM sebelum bukti penarikan sudah masuk dompet.” Soalnya pasti kartu ATM yang akan keambil duluan daripada bukti penarikan 😁

      Kalau skalanya besar … Entahlah. Dulu ini juga yang jadi sumber perdebatan saya dan Pak Guru. Kenapa kita tidak harus mengupayakan sesuatu untuk perubahan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s