Joaquin

Tahun lalu, saya menulis apresiasi untuk film Joker. Betapa saya terpukau pada akting Joaquin Phoenix sebagai Arthur Flec, dan betapa saya tercenung lama karena isu-isu kemanusiaan yang disokongnya; juga, betapa saya heran pada aneka rupa dakwah salah sasaran yang menyertai terkenalnya film itu.

Tahun ini, saya menyalin dan menerjemahkan pidato Joaquin saat ia mendapatkan piala Oscar sebagai aktor utama terbaik. Sebetulnya tidak perlu disalin: kita bisa menonton videonya di Youtube. Tapi pidato Joaquin amat menyentuh. Ia berbicara tentang kemanusiaan dan ekosentrisme dengan sangat indah sekaligus menusuk. Saya ingin mengabadikan pikiran itu.

Pidato itu membuat saya percaya, pemeran Joker yang paling pas memang Joaquin. Penjahat yang sepenuhnya jahat dan pahlawan yang sepenuhnya baik hanya ada di fiksi klise. Fiksi cerdas menghadirkan kompleksitas. Sebab, dunia nyata tidak pernah sederhana. Fiksi mendidik manusia menghadapi kenyataan dengan liku-rumit rasio dan rasa. Putih tak sepenuhnya putih. Hitam pun demikian.

Selamat membaca.

***

…… …… Saya tidak merasa ada di atas rekan-rekan nominasi saya, atau siapa pun di dalam ruangan ini, karena kita berbagi cinta yang sama, yaitu cinta pada film. Cinta yang sama telah memberi saya kehidupan yang sangat luar biasa. Saya tidak tahu akan jadi apa saya tanpanya. Saya pikir hadiah terbesar yang diberikan kepada saya, dan kepada banyak dari kita di ruangan ini, adalah kesempatan untuk menggunakan suara kita untuk (menyuarakan kepentingan) mereka yang “tanpa-suara” (the voiceless).

Saya sudah banyak berpikir tentang beberapa masalah menyedihkan yang kita hadapi bersama. Saya pikir kadang-kadang kita merasa (atau dibuat merasa) bahwa kita sedang memperjuangkan akar masalah yang berbeda, tetapi bagi saya, saya melihat akar masalah kita sama saja. Saya pikir, entah kita sedang berbicara tentang ketidaksetaraan jender, atau rasisme, atau hak queers, atau hak kaum adat, atau hak hewan, sesungguhnya kita berbicara tentang “perang melawan ketidakadilan”. Kita berbicara tentang pertarungan melawan kepercayaan bahwa satu bangsa, satu orang, satu ras, satu jenis kelamin, atau satu spesies, memiliki hak untuk mendominasi kontrol, memanfaatkan, atau mengeksploitasi pihak lain—dan kebal hukum.

Saya pikir kita menjadi sangat terputus dari dunia natural (alam), dan kesalahan terbesar kita adalah pandangan dunia yang ego-sentris, atau keyakinan bahwa kita adalah pusat dari alam semesta. Kami pergi ke alam dan menjarahnya untuk sumber daya. Kami merasa berhak merekayasa pemeliharaan sapi dan ketika ia melahirkan, kita mencuri bayinya meski sang induk menangis sedih. Kita mengambil susunya, yang semula diperuntukkan untuk anak sapi itu, dan kita menaruhnya di kopi dan sereal kita …………. Tetapi  kita, manusia, berwatak inventif dan kreatif serta cerdik; saya pikir kita bisa menggunakan cinta dan kasih sayang sebagai prinsip diet kita. Kita bisa menciptakan, mengembangkan, dan menerapkan perubahan yang bermanfaat bagi semua makhluk hidup dan ekosistem.

Saya telah menjadi bajingan sepanjang hidup saya. Saya egois, kadang-kadang kejam, sulit diajak bekerja sama, tapi saya bersyukur karena banyak dari Anda di ruangan ini yang memberi saya kesempatan kedua. Dan saya pikir itulah saat kita berada dalam kondisi terbaik; ketika kita saling mendukung dan bukan saling menafikan karena kesalahan masa lalu; ketika kita saling membantu untuk tumbuh; ketika kita saling mendidik dan menuntun menuju penebusan dosa. Itulah wajah terbaik kemanusiaan.

Ketika berusia 17 tahun, Kakakku menulis lirik ini. Dia berkata: “Jalankan penyelamatan dengan cinta, dan kedamaian akan mengikuti.”

***

Waktu di pondok, saya pernah mengamalkan puasa daud selama setahun lebih. Seorang kakak kelas menyarankan puasa itu untuk menjinakkan keliaran saya. Godaannya banyak, tapi tidak seberapa berat. Misalnya, di hari saya berpuasa cemilan sering berlimpah ruah, tapi entah kenapa di hari saya tidak puasa cemilan kok ya sepi. Dasar godaan.

Belakangan ini saya terus terpikir ingin mengambil sumpah vegan dan mulai menjadi vegetarian-konservatif (selama ini saya vegetarian-liberal, yang bisa makan daging kapanpun saya mau, terutama karena saya sulit lepas dari godaan ayam geprek). Ada kawan menyarankan saya menjadi vegetarian-moderat (yang makan daging hanya bila terpaksa, misalnya, karena tidak enak menolak hidangan). Tapi saya terpikir menjadi vegetarian-konservatif karena terganggu oleh satu kegelisahan yang oleh Joaquin Phoenix diwakilkan dengan sangat baik.

Entahlah. Sampai saya tulis pos ini, ayam geprek memanggil-manggil saya. []

Standar

44 respons untuk ‘Joaquin

  1. Waduuhhh…
    Tulisanmu, eh pidatonya, bikin aku mikir dan merasa bersalah.
    Tadi pagi aku sarapan susu dan sereal. Itu apa kabar indukan dan baby sapi nyaaa yaaa…
    Tega banget akuu….

    Btw, sampe sekarang aku belum nonton film Joker ini. Aku takut film nya terlalu deep dan mempengaruhi emosiku.
    Kayak waktu aku nonton Miracle in Cell No.7 (mudah2an g salah judulnya), seingatku seminggu lebih aku merasa sangat marah dan sedih, ngobatin dan menstabilkan emosinya susah.

    Tapi jadi makin penasaran…
    Kek manaa ini Icaaall…
    Tanggung jawab kauuuuu…..

    • Aku adikmu, Kak, bukan dokter pribadimu, kenapa aku yang harus tanggungjawab T_T

      Jadi, pidatonya Joaquin itu diterima gagasan umumnya aja, Kak Leni. Yang agak detail kalau ndak sanggup diterima ya jangan ^_^

      Joker, atau Parasyte, jangan ditonton. Mungkin itu terlalu dark buat Kak Leni 😀

      • Hahaha…
        Iya pulak yaaa …
        Kadang lupa aku fakta-fakta sebenarnya…

        Iya, aku ga mau mencobai diri sendiri.
        Biarlah aku hidup tenang tanpa Joker.

        Btw Parasyte nonton aku. Hampir terlupa aku sama film ini. Itu pun kemaren nonton karna kalah suara aku, waktu nonton rame2. Aku pengen Frozen II, kawan2 ku mau nya Parasyte.

        Emosional aku siap nonton itu.
        Hahahaha…

  2. Kalau mau makan ayam mah makan aja. Darma ayam buat makanan manusia kok. Kalau model yang makan orang beriman dan berakhlak boleh jadi ayam justru bangga. Asal kita gak tiap pingin ayam dituruti saja, perlu stop biar kalo ketemu jadi mesra. Sumpah jadi vegetarian konservatif horor. Puasa biasa aja udah baik kok. Barangkali pelihara ternak aja supaya jadi ‘males’ makan daging. Dalam semesta orang desa yang kutangkap sih, orang makan daging kalau ada atau datang ke hajat/ syukuran/ acara keluarga. Gak nganggur2 nyembelih ternak utk konsumsi pribadi. Yang begitu suka dicibir. Dibilangin kasihan ayamnya, sia-sia. Jadi, gak perlu jadi vegan konservatif. Kecuali kalau tinggal di kota. Mungkin perlu strategi yg sedikit beda utk hindari keseringan makan daging. Vegan itu makan ikan gak sih?

    ((Blog baru, ujung-ujungnya Ar Risalatuna lagi)) 😌

  3. Egosentrisme memang cenderung merusak, si pemilik ego merasa jadi subjek dan yang lainnya sebagai objek belaka. Kerangka berpikir seperti ini menjadikan eksploitasi menjadi dihalalkan

    Dalam kebijaksanaan Jawa, ada ajaran yang mengajarkan untuk tidak menajdi egosentris. Ajaran ini meyakini bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta yang dalam setiap perilakunya hendaknya menjaga keharmonisan empat hal :
    Pertama, keharmonisan hubungan antar sesama manusia (sehingga tidak saling eksploitasi)
    Kedua, keharmonisan hubungan dengan sesama makhluk (tumbuhan, hewan dan bahkan makhluk yang tak dapat dilihat), adanya tempat-tempat yang dikeramatkan adalah salah satu upaya yang dilakukan orang bijak jaman dahulu
    Ketiga, hubungan dengan alam semesta, ilmu saya belum cukup menjelaskan ini, haha…
    Keempat, hubungan dengan Tuhan, apalagi menjelaskan yang ini, duh… 😀

    • Apik sekali :’) Saya cuma karib dengan poin keempat. Tiga poin sisanya, akan sangat berharga untuk dipelajari. Terima kasih Mas ☺️

      Suku Sasak punya filsafat semacam itu. Diurai di beberapa kitab 🙂

    • Saya pikir, orang-orang seperti Joaquin merasa berdosa karena apa yang mereka yakini. Keyakinan itu mereka dapat dari pergelutan mereka dengan pengalaman sehari-hari. Feel free to believe your own priciples, Kak.

  4. Waduh, menjadi orang yang tegas pada prinsip pribadi itu memang sulit ya. Dulu saya berpikir akan selalu beli-beli barang dari toko tentangga saja, tanpa pernah membelinya di gerai duet mart (you know what I mean). Hingga kini itu sulit saya lakukan karena banyak sekali halangan.

      • Kebiasaan harus dilawan dengan kebiasaan baru. Kita tahu itu, tapi tetap aja membangun kebiasaan baru itu sulit. Karen Amstrong pernah bilang bahwa Yoga Klasik merupakan “serangan sistematis” terhadap ego. Apakah ada juga serangan sistematis terhadap kebiasaan lama, ya? 😅

      • Yoga adalah serangan sistematis terhadap ego. Itu kalimat yang menarik 🙂

        Soal mengubah kebiasaan lama…. wah, saya perlu lihat saran2 para motivator nih 😀

  5. Terjemahan pidatonya Joaquin di atas syahdu sekali, Bang Ical. 😀 Umat manusia kayaknya perlu meredefinisikan diri. Kita secara spesies sudah terlalu serakah, tersekat-sekat (oleh sekat yang kita buat sendiri), dan eksploitatif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s