Djendela

Di sebuah pesisir pantai yang tidak terlalu bersih, di sebelah perahu nelayan yang parkir paling utara. Di sore hari yang terang dan riuh. Dengan berbekal beberapa buku anak dan selembar tikar, lapak baca Perpustakaan Djendela digelar. Ada anak-anak yang tenggelam dalam bacaannya, ada yang hanya ingin mengacak-acak buku, ada yang lebih tertarik mengintip bacaan temannya, ada yang cuma senang bermain-main di dekat lapak.

Sore itu adalah sore yang indah.

Perpustakaan Djendela hadir lagi. Kali ini memasuki babak ketiga, sejak saya dirikan tahun 2015. Perpustakaan Djendela kini dipimpin oleh Asila, seorang alumni Indonesia Mengajar. Jadi, lewat tulisan ini saya umumkan: saya dan Ikhwan sudah tidak lagi memimpin Perpustakaan Djendela. Si gendut yang lamban dan si manajer serba teliti tidak boleh menghalangi tunas muda yang segar.

Asila mengambil keputusan penting untuk Perpustakaan Djendela: mengubahnya dari youth-literacy movement menjadi children-literacy movement. Lapak baca digelar di salah satu pesisir Kota Mataram. Sudah berjalan dua kali. Mulanya Asila terkejut ketika menemukan anak-anak yang bicara kotor, bertingkah tanpa krama, tidak bisa diatur. Apa boleh buat. Anak-anak adalah anak kandung lingkungannya, dan tidak semua anak punya lingkungan “ramah anak”. Mereka mau bermain di sekitar lapak baca kami saja sudah bagus.

Saya punya pengalaman menghadapi anak-anak kecil, tapi saya tidak punya pengalaman berliterasi dengan mereka. Sama sekali. I don’t know what to do.

Seorang anak bernama S punya tingkah yang liar sekali. Bahasanya ketika berbicara dengan yang lebih tua pun jauh dari santun. Tapi cukup sekali lihat, saya tahu ia menjalani hari-hari yang berat. Tidak ada yang merawatnya dengan baik, pun mengajarinya ini dan itu. Syukur, ia punya energi besar untuk mengacau―yang artinya ia tidak segan bersinggungan dengan manusia. Itu modal besar untuk berubah. Tinggal dibiasakan pelan-pelan. Sore itu, S belajar menggunakan bahasa side-tiang bila bicara, sekurang-kurangnya dengan saya. Saya pun demikian.

Pertunjukan luar biasa, saya kira, datang dari Kak Zi (Ziadah). Pendiri Edu-Land dan tokoh muda Lombok ini mudah sekali menyedot perhatian anak-anak hanya dengan bermodalkan buku bergambar. Kak Zi membacakan buku itu untuk mereka dengan suara lantang dan mimik yang menarik. Ia berhenti di kata yang agak sulit, misalnya gelisah, kemudian memancing anak-anak itu untuk memikirkan dan menjelaskan apa yang mereka pahami tentang kata gelisah.

Saya pikir itu cerdas sekali. Trik literasi anak semacam itu tidak pernah saya lakukan. Saya hanya terbiasa berhadapan dengan mahasiswa, atau remaja, dan bermain pikiran secara alot. Sedangkan yang Kak Zi lakukan itu sederhana sekali. Tapi diksi dan emosi terasah sekaligus.

Menjelang lapak baca berakhir, dan saat Asila sedang bermain game dengan anak-anak dengan hadiah balon karet, Ikhwan dan saya berdiri bersisian dengan Kak Zi. Perhatian kami tertuju pada A, seorang bocah kalem kelas 5 SD yang saya pikir punya bakat alam di bidang matematika. Pada Kak Zi, lantas, saya berterima kasih.

“Kakak mengajari saya sesuatu yang indah hari ini,” kata saya. Kak Zi tertawa.

Saya mengatakan itu dengan sungguh-sungguh. Perpustakaan Djendela, bila ingin serius menekuni Literasi Anak, harus belajar banyak trik-trik kecil semacam yang dilakukan Kak Zi. Asila harus tekun dan sabar berlatih bersama anak-anaknya. Sebab, proses ini baik bukan untuk anak-anak itu saja. Proses ini juga berharga buat Asila dan siapapun yang membantunya. []

Bonus gambar:

Standar

35 respons untuk ‘Djendela

  1. Masya Allah, kukira kisah begini cuma ada di novel. Ternyata di zaman modern pun masih ada ya😭 Semoga aku juga bisa buka perpustakaan baca seperti Bang Ical😊

  2. Selalu salut aku sama orang2 yang gak berhenti menebar kebaikan seperti Bang Ical dkk ini. Semoga perpustakaannya selalu jadi berkah untuk anak2nya, dan yang mengasuhnya juga. Aamiin.

  3. Fitri W berkata:

    Punya keinginan ngediriin perpustakaan di rumah yang bisa datangi anak-anak di sekitar rumah. Kebetulan juga rumah dekat dengan pantai. Kegiatan djendela bisa jadi inspirasi nih. Terima kasih tulisannya bang. Sukses selalu. 🙂

  4. Sempet dulu bikin berpustakan kecil disebelah kamar rumah, bermodalkan buku-buku yang dikoleksi (gak banyak sih). Niatnya biar para tetangga “kepatil” termotivasi buat baca buku. Tapi gagal karena minimnya waktu mengelola karena malah lebih fokus ke tugas akhir skripsi. Keren sih bang Ical, the point is keep finding inovations! 👏

    • Ndak papa. Perpustakaan harus dibangun sepanjang masa—tidak ada kata terlambat. Dan usahlah pikirkan jumlah buku—jumlah itu ilusi. Hakikat perpustakaan adalah tradisi membaca-bincangkan buku 🙂

      • Aiiish membaca-bincangkan buku 👌. Sekarang lebih ke arah minjemin buku-buku ke temen (terutama temen kantor), namun tentu yang minat buku bisa dihitung.

  5. Tunas muda memang baiknya dan sudah seharusnya diberi kesempatan tumbuh, apalagi tunas muda yang segar…

    Saya bisa membayangkan Kakak Zi yang berusaha memancing keingintahuan anak-anak, tentunya perlu skil, pengalaman dan kesungguhan untuk dapat melakukannya…. 🙂

  6. Dari dulu selalu punya keinginan untuk buat perpustakaan, mendongengkan anak-anak, mendirikan rumah baca.. Semoga bisa tercapai salah-satunya. So inspiring setelah baca cerita ini. Terimakasih kak……

  7. Sebelum SD dulu, setiap hari Minggu saya diajak bapak ke pasar untuk beli koran edisi Minggu. Senang sekali rasanya setiap kali diboncengi ke pasar, sebab itu berarti ketika pulang nanti saya akan dibacakan dongeng-dongeng yang dimuat di koran Minggu itu. Saya yakin itu yang bikin saya tak merasa asing dengan membaca dan menulis.

    Apa yang Bang Ical dan kawan-kawan lakukan di Djendelo pasti akan sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak-anak itu. Teruslah, Bang Ical!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s