Chun

Chun. Apa kabar?

Saya sedih, lho, kamu berpulang. Waktu ambulan datang membawa jenazahmu dari Mataram, Fitri menangis tidak keruan. Suara tangisnya mengalahkan sirine. Dia ndak mau percaya kalau yang ada di ambulan itu kamu. Lain lagi dengan Queen: waktu saya berikan kabar duka, anak itu menangis tanpa berhenti. Dia pergi ke makammu tiga hari kemudian dan meratapimu di sana. Kamu mungkin bisa mendengar suaranya.

Chun. Apa kabar?

Kamu bilang, waktu terakhir kali kita bertemu dua bulan yang lalu, janin di perutmu itu perempuan. Saya juga merasa begitu, karena penampilanmu lebih bersih. Kamu juga bertingkah lebih dewasa. Biasanya kamu polos-polos-konyol begitu. Terus suka bikin ilfil.

Misalnya, nih, ya, waktu kita bertiga (sama Ikhwan) petik rambutan di halaman belakang perpustakaan? Itu rambutan untuk pustakawan lain yang sedang sibuk mendata buku. Eh kamu mau makan di tempat sendirian. Dengan intonasi agak mistis, saya bilang ke kamu: “Jangan makan di sini, nanti kamu kenapa-kenapa.” Kamu pucat, tapi berusaha mengendalikan ekspresi. “Apa sih abang ini, saya ndak takut.” Terus saya bilang, “ya sudah, abang ndak bakal tanggung jawab.” Kamu lantas mundur selangkah, dua langkah, pelan-pelan, balik hadap, lantas kabur, lari kencang-kencang. Kepolosmu.

Kamu juga sering membuat orang merasa ingin memujimu, tapi kamu malah bikin berantakan perasaan itu. Kamu ingat? Kamu pernah mencobai jilbab baru di perpustakaan kita. Kamu keluar dari kamar dan membuat kita terpukau: sungguh jilbab yang indah. Tapi kamu malah memasang wajah kucing-minta-dielus sambil bilang: “Saya cantik, kan?” Oit, oit, biarkan kami yang bilang begitu, jangan kamu. Kan, ilfil kita.

Tapi, Chun, tingkah-tingkah antik semacam itulah yang bikin kami gemas kamu dijemput Tuhan begitu cepat. Semacam perhiasan khas kamu, sebagai cerita yang bisa kami tertawakan dengan gembira. Chun tanpa kepolosan-kepolosan konyol, rasanya seperti bukan Chun. Tapi jauh di dalam sana, kamu adalah perempuan baik yang tulus dan kuat. Perempuan yang bersyukur akan hidupnya.

Chun, anak itu tidak reda menangis karena dialah yang paling pekat merasakan kebaikan hatimu. Waktu anak itu hamil dan kita putuskan untuk merawatnya di perpustakaan, kamu orang pertama yang saya telepon. “Kandungannya harus kita jaga.” Kamu langsung mengatur jadwal. Kamu rutin datang mengecek kondisi anak itu. Kamu membawakannya susu dan bebuahan. Kamu membawakannya jaket. Sesekali kamu bolos dari piket jaga di RS untuk itu. Kamu tidak prekengan. Kamu rawat anak itu sampai anaknya lahir dengan sehat. Anak itu merasa berutang nyawa padamu. Sakingnya, ia mengajari anaknya memanggilmu “Mamak”.

***

Mungkin karena kebaikan hatimu itu, kepulanganmu dirayakan banyak orang. Ya, kini kamu tahu, kematian itu sebetulnya tidak ada. Yang selama ini hidup hanyalah ruhmu, dan jasadmu tak pernah hidup. Kini ruhmu pulang ke haribaan Tuhan kita, sedang jasadmu akan pulang ke dalam siklus perubahan universal. Kematian itu indah dan mulia, kini kamu melihatnya. Jadi, maafin saya, Chun, karena saya tidak menangis waktu menghadiri pemakamanmu. Tepatnya: saya tidak bisa menangis. Saya hanya sedih ketika peti matimu mulai ditimbun tanah. Sebab itu artinya saya ndak bisa lagi melihatmu senyummu. Melihat cemberutmu. Melihat Tuhan saya yang keras kepala di dirimu.

Saya menangis hanya ketika Kak El menelepon saya dan memberi kabar duka. Kak El terisak dan menyebut namamu. Saya kaget luar biasa. Kamu adalah orang yang saya sangka akan mati tua (seperti inginmu: mati tua, di pesisir, saat senja, di pangkuan suami). Juga ketika saya mampir zikiran ke rumahmu di Beleke, dan menemui Mamakmu. Saya sungkem pada Mamak. Mamak memeluk saya dan menangis. Saya masih sungkem―agar tidak ketahuan menangis. Tapi bahu saya berguncang, dan tangan Mamak basah.

Orang-orang betul-betul merayakan kepulanganmu, Chun. Mereka menangis dan merasa kehilangan yang sangat. Kosong di hati mereka. Karena kamu begitu berharga bagi mereka. Karena kamu baik hati. Tapi mereka bisa sedikit berlapang dada karena kamu berpulang dengan indah: berpulang bersama kandunganmu, di hari Jumat, kala senja.

Mereka bilang, kamu mati syahid. Saya bilang kematianmu lebih indah dari itu. Kamu adalah syahidah yang masih hidup di hati banyak orang. Di istana besar bernama ‘memori kebaikan’.

***

Chun. Apa kabar?

Saya tahu kamu telah terbebas dari rasa sakit. Tapi, Chun, kematian tidak menimpa mereka yang mati. Kematian selalu menimpa mereka yang masih hidup.

Saya tidak bisa menahan sesak membayangkan banyak kejadian. Waktu kamu divonis positif virus itu, bagaimana perasaanmu? Kamu harus diisolasi, sedangkan kamu sedang hamil tujuh bulan kira-kira. Apa yang kamu pikirkan, Chun? Akankah kamu berjalan memasuki ruang isolasi dengan perasaan takut? Kamu membawa kandungan yang telah kamu nanti sejak lama, sedangkan ada 50:50 kemungkinan. Siapkah kamu waktu itu, atas kemungkinan terburuk? Berserahkah sebelah hatimu? Masa-masa kamu sendiri di ruang isolasi, dan ketika sesak menghampiri dadamu, panas dan perih menyerang tenggorokanmu, dan kamu kesulitan bernapas: apa yang kamu pikirkan? Momen ketika rasa sakit dipasangi ventilator itu menghujam luar biasa ke paru-parumu, sempatkah hadir secercah keikhlasan? Ketika kondisimu mendadak turun drastis karena kamu dengan paksa membuka ventilator itu, terbersitkah asa mengirim pesan terakhir?

Chun … bagaimanakah rasanya ketika kamu dihampiri dingin yang datang perlahan … yang merayap di sekujur tubuhmu … lalu suasana tiba-tiba seperti membiru … menggelap … dan semua suara memelan … lalu rasanya tubuhmu seperti bergerak mundur … menjauh … mengangkat … tinggi …bagaimanakah rasanya? Dan tiba-tiba kamu sudah berada di dunia yang sama sekali berbeda?

Chun,

Apa kabar kamu sekarang?

***

Chun, kamu menyusul Kak Ani ke dunia sana. Kalian berdua pustakawan yang saya hormati karena ketulusan, dan saya iringi kepergiannya dengan doa dan penyesalan. Kak Ani yang baik, sepenuhnya baik, namun saya sempat berprasangka buruk padanya sekali. Cuma sekali, tapi itu cukup membekaskan sesal besar karena tidak sempat menemuinya, membuat pengakuan, dan meminta maaf. Ada saja hal yang belum selesai antara kita dan orang lain, sebelum perpisahan tak terelakkan. Seperti antara saya dan kamu.

Saya pernah bilang padamu, perpustakaan kita bukan sekadar gerakan literasi. Perpustakaan kita pernah menjadi rumah bagi banyak orang. Kamu selalu bilang, Chun, “Gimana jadinya saya hidup di pergaulan luar, Bang, kalau saya ndak ketemu sama perpustakaan kita.” Yang kamu maksud dengan perpustakaan kita adalah keluarga barumu: saya, Ikhwan, Bunga, Queen, Yana, Fitri, Darman, Seno, Yusron, Wahyu, dan lain-lain, dan lain-lain―manusia dengan rupa-rupa wataknya, rupa-rupa kurang dan lebihnya.

Saya sering bilang padamu, ketika saya sudah bisa bertengkar dengan seseorang, itu artinya saya sudah menyayangi dan menganggapnya saudara. Seperti kamu. Kadang kita bertengkar, lebih sering lagi berdebat karena hal-hal sepele, tapi kita tidak bisa mengabaikan kesusahan satu sama lain karena kita saling menyayangi. Ingatkah kamu, dulu, ketika kami sering mengunjungi dan membawakanmu bebuahan ke rumah sakit tempatmu bekerja, di jadwalmu piket malam mengurus bayi-bayi? Ingatkah kamu, dulu, ketika meskipun sedang bertengkar kamu datang membesuk saya yang sakit?

Chun, kita semua bersaudara lebih dari yang sempat kita sadari.

***

Chun, siapakah nama bayimu?

Mamakmu bercerita: beliau pernah bermimpi menggendong bayimu dan melihat ada untaian kalimat syahadat terpatri di keningnya. Mendengar Mamak bercerita, saya merasa damai. Anakmu belum sempat mencicipi siksa dunia fana. Ia masih di alam sejati, bermain-main di pusar Tuhannya. Adalah wajar bila anakmu membawa syahadat itu.

Mamakmu memandangi saya lama, sambil tersenyum. “Kamu temannya yang paling sering Chun sebut.” Saya tertegun, tidak menyangka Mamak bilang begitu. Ternyata, Mamak tahu jeroan persahabatan kita. Mamak tahu ketika kita bertemu dua bulan yang lalu, saya membawakanmu pir. Kamu yang menceritakannya. Kata Mamak, kamu tidak bisa memakan pir itu karena kamu sesegukan. Kamu terharu saya bawakan pir. Kamu memang sedang ingin makan pir. Chun, kamu tidak tahu, waktu Mamak ceritakan itu, hati saya jembar sekali. Ternyata, meski ada yang belum selesai di antara kita, kita masih teman baik.

Tentu: teman baik yang usil.

Kamu selalu serius menceritakan arti namamu. “Chun itu bahasa mandarin, artinya musim semi.” Lalu kamu menjelaskan asal usulnya: di Flores sana, ada tetanggamu yang keturunan Tiongoha. Tetanggamu itu senang sekali menggendongmu yang masih bayi. Ia melihat wajah bayimu berseri-seri. Maka kamu diberi nama musim semi.

Tapi berhubung kami adalah teman-temanmu yang baik, kami menolak memanggilmu Chun atau musim semi. Kami, tanpa sadar, berhasrat rasis yang tidak pada tempatnya, dan meneriakkan nama barumu keras-keras: “Woi, Cina!!!”

Kamu cemberut. Kami terbahak-bahak. Cina Gawah. Hahaha.

“Panggil saya Cinta,” katamu, pernah, setelah sesi Lapak Baca. Mukamu serius sekali minta dipanggil Cinta. Kamu betul-betul merasa bahwa nama cinta itu indah, sangat dalam maknanya, dan kuat. Begitu megah pikiranmu tentang cinta, begitu ingin kamu disebut begitu, tapi yang kamu dapat hanyalah sorak sorai: Cina! Cina!

Kamu ngambek. Kami puas. Tapi semua itu begitu manis untuk diingat.

Hari Ahad, sehari setelah pemakamanmu, kami ngelapak di pesisir. Segerombolan kelikit, yang biasanya merubung kepala, membentuk sebuah pusaran kecil di sebelah saya. Awalnya saya mengusirnya, tapi mereka ndak mau pergi. Mereka terus tidak jauh dari  saya. Kemudian saya tertegun. Kamukah itu, Chun? Mengunjungi lapak kita untuk terakhir kalinya, mengintip senja yang fana ini sebelum menikmati senja yang lebih abadi?

Chun, apa kabar kamu di sana?

Selamat jalan.

Selamat jalan, saudari. []

In memoriam our kind friend Baiq Dwi Iryanti, a midwife who became one of the martyrs of Covid-19 on Friday, 24 July 2020. We hope she will be given a beautiful place by His side. Amin.

Standar

35 respons untuk ‘Chun

  1. Bang, maaf aku boleh tanya? Selain karena takdir dan virus itu, apa ada penyakit bawaan lain? Entah komplikasi atau apa, karena ibu hamil trimester 3 kondisi tubuhnya lebih cepat lelah.

  2. innalillahi wainna ilaihi raji’un,
    Kak chun … :’)

    selamat jalan Kak chun dan dedeknya.. insyaAllah khusnul khotimah.. semoga semua yg ditinggalkan diberikan kelapangan :’)

  3. Innalilahi wa innalilahi rojiun, turut berduka cita Bang Ical, walaupun tidak pernah bertemu Chun, tapi sedih sekali membaca cerita ini. Semoga diberikan ketabahan bagi keluarga dan teman teman Chun yang ditinggalkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s