Merdeka

Global Warming, Environment, Climate, Industry, Pollution, Economy, Weapons

Sebuah film apik pernah saya tonton, judulnya “Battle in Seattle”. Ini bukan film tentang militer vs alien. Ini film yang diangkat dari kisah nyata.

Pada tahun 1999, World Trade Centre (WTO) mengadakan pertemuan di Seattle, Amerika Serikat. Mereka mengundang negara-negara (negara industri/maju, negara konsumen/ketiga) untuk menyepakati sejumlah aturan baru perdagangan bebas. Dilihat dari kacamata manapun, pertemuan itu cuma akan menguntungkan Elit Modal Internasional. Yakni mereka yang ingin mengeruk bumi hingga ke belahan negara lain demi menghisap kesejahteraan secara terlalu berlebihan. Kelompok 10% yang menguasai 70% kehidupan.

Sekitar 40.000 orang berunjuk rasa, berusaha menciptakan kekacauan agar agenda WTO dibatalkan, dan agar dunia menyimak suara mereka tentang betapa berbahayanya pertemuan itu bagi kehidupan banyak orang. Sekitar 600 protestan dipenjara. Tapi akhirnya mereka menang. Protestan dibebaskan, WTO batal menggelar pertemuan. Dunia menekan WTO agar lebih memerhatikan kesejahteraan negara-negara dunia ketiga. Tapi protes terus berlangsung hingga tahun-tahun setelahnya karena WTO tidak benar-benar berniat baik.

Film ini mereka ulang adegan itu dengan sejumlah kisah kecil dari tokoh-tokoh fiktif. Ada banyak kisah kecil di dalamnya: wartawan yang memilih nurani, walikota baik hati yang sekaligus mengkhawatirkan nama baik, kisah cinta antar demonstran, dll. Salah satu yang saya suka adalah kisah antara Jay dan Dale.

Jay, salah seorang otak dari aksi besar ini, dikejar polisi. Salah satu polisi yang mengejarnya adalah Dale. Dale baru kehilangan bayinya. Istri Dale yang sedang hamil tua terjebak dalam keributan demonstrasi sehari sebelumnya dan tidak sengaja terdorong hingga jatuh dan keguguran. Dale menghadapi masa-masa sulit. Ketika menemukan Jay, Dale kalap mengejar dan kesetanan menghajar Jay hingga babak belur. Reaksi yang wajar.

Jay dipenjara. Suatu siang, ketika Jay sedang berbaring di selnya, Dale datang membesuk. Dale tidak menggunakan seragam. Ia datang dengan perasaan bersalah yang sungguh-sungguh. Di sana, Dale memberitahu Jay bahwa ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya ingin meminta maaf karena telah berbuat kelewat batas.

Mulanya, Jay tidak menanggapi. Tapi begitu Dale hendak pergi dari situ, Jay bangkit dari baringnya. Jay berkata, ia tidak menyalahkan Dale, sebab Dale bukan masalahnya, dan Dale hanya melakukan pekerjaannya. Kemudian, Jay berujar kalimat panjang yang menurut saya merupakan inti dari film itu:

Orang-orang yang benar-benar kami coba untuk lawan adalah orang-orang yang menghancurkan dan menyakiti begitu banyak kehidupan. Ada jutaan kehidupan. Dan tidak ada yang pernah menodongkan senjata pada mereka. Mereka tampak diperhitungkan dan tidak tersentuh. Rasanya seperti sial karena kau dan aku pada akhirnya menjadi pihak yang harus saling menyerang.”

***

Protes itu biasa. Indonesia merdeka karena protes. Sejarah Indonesia berkembang dengan protes. Soekarno dijatuhkan dari kediktatorannya oleh protes. Soeharto dilengserkan dari rezim korup dan tangan besinya juga oleh protes. Hingga hari ini, protes terus berlanjut. Protes datang dari mahasiswa, musikus, jurnalis, intelektual, sineas, agamawan, pendidik, dll. Mereka menggunakan protes untuk mengutarakan kegelisahan dan mencoba perubahan.

Juga, perlu dicatat: protes terjadi karena sebagian orang mampu melihat apa yang sebagian lain tidak bisa melihatnya.

Protes adalah seni. Protes adalah jalan. Protes adalah keharusan agar sejarah bergerak, agar kemanusiaan termurnikan, agar akal budi terjernihkan. Protes bukan cuma tentang melawan rezim politik. Bentuk protes juga bisa “melawan dominasi”. Pendapat dominan yang merendahkan perempuan, pendapat dominan yang menyudutkan masyarakat adat, pendapat dominan yang menyerang kelompok minoritas, pendapat dominan yang membuat manusia merasa lebih benar/unggul/berhak dari manusia/spesies lain, boleh diprotes. Protes berusaha menjaga kehidupan agar tidak disakiti.

Saya penggemar film-film kritik sosial dan lingkungan hidup. Dasarnya saya senang pada film atau bacaan yang bisa memulihkan kepekaan dan kepedulian kita, selain tentunya memberi wawasan. []

*ada yang tahu kenapa saya memberi judul tulisan ini “Merdeka”?

Standar

26 respons untuk ‘Merdeka

  1. Judul tulisannya “Merdeka”, tp di artikelnya isinya ttg protes. Hmm kl mnrt saya pny hak utk protes ttg sesuatu yg nggak bener itu adl bentuk kemerdekaan sbg individu. Jd ketika kita msh bs menyuarakan protes, kita trmsk individu yg merdeka (?) Coba bayangin kl hak protes kita dikekang kyk jaman Orba. *btw saya ngomong apa sih?* 😅
    Merdeka!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s