Penyendiri

Sudah lama saya merasa diri extrovert. Saya memang suka berbicara.

Di Aufklarung dulu, saya dibekali dasar-dasar ilmu komunikasi. Aufklarung membuat saya merasa lebih percaya diri bicara di depan umum, bisa berdebat dan bernegosiasi, dan tahu cara membawa diri di lingkungan tertentu. Karena bekal itu, saya jadi cenderung mudah mengendalikan pembicaraan. Kadang saya gunakan untuk ngobrol dengan bapak-bapak, ibu-ibu, kakek-kakek, yang saya temui entah di mana. Saya tahu kapan harus bicara dan kapan harus mendengar. Itu skill berharga bagi seorang extrovert.

Tapi belakangan saya sadar, saya suka bicara hanya pada keadaan-keadaan tertentu. Misalnya, ketika saya bertemu orang yang obrolannya se-frekuensi. Mungkin karena temanya menarik, atau karena orang-orangnya asyik. Selebihnya, saya seorang penyendiri. Saya lebih suka berada di kamar tanpa diganggu. Sebetulnya saya cenderung malas menemui orang yang mencari saya; lebih baik saya yang pergi mencari orang-orang (karena dengan begitu, sayalah yang siap bertemu). Saya bahkan gampang lelah kalau berinteraksi terlalu intens dan padat dengan banyak orang.

Tapi karena sejak lama mengira diri extrovert, saya selalu menyangkal perasaan lelah dan malas itu. Saya mengira saya memang ditakdirkan sebagai pegiat sosial yang ulet, aktivis yang tidak berhenti bergerak. Tipe yang bisa membuka rumahnya untuk diramaikan banyak orang. Tipe yang menghibahkan dirinya untuk melayani, melayani, dan melayani.

Beberapa minggu terakhir, saya menggugat diri saya. Itu tepat setelah saya merasa sangat kecewa pada seorang teman yang begitu saya pedulikan. Kejadian yang sama, dengan masalah yang sama, pernah saya alami puluhan kali dengan orang yang berbeda. Saya mulai mempertanyakan ulang diri saya. Mungkin saya memang suka bicara, karena minat saya pada pengetahuan dan kesukaan saya menggali cerita manusia. Tapi saya seorang penyendiri. Saya tidak cocok bersentuhan terlalu intens dan padat dengan orang lain. Saya akan mudah bergantung pada persentuhan itu dan rentan dikecewakan.

Saya merasa lebih sehat ketika sendirian, ketika apapun saya kerjakan sendiri. Saya bertemu dengan orang seperlunya dan ketika ingin saja. Itu pun bukan pertemuan yang saling mengikat satu sama lain. Mungkin karena itu pula dua tahun belakang ini saya lebih ingin menjadi pemikir, penulis, periset dan petualang mandiri, alih-alih, seperti selepas S1 dulu, saya merasa harus berorganisasi dan menggalang massa. Kini, daripada menjadi aktor sebuah komunitas, saya lebih senang “duduk-duduk di kursi belakang, setelah bantu-bantu beberes ruangan.”

Saya bertekad untuk kembali pada fitrah saya: menjadi seorang penyendiri. Kepedulian tetap bisa dirawat dengan cara lain. Saya tetap akan suka nongkrong sama kawan, tetap suka hadir di acara komunitas, tapi itu semua bukan karena keharusan. Itu karena saya ingin. []

Standar

47 respons untuk ‘Penyendiri

  1. apakah umur juga mempengaruhi? kalau baca ceritanya agak2 mirip nih, menganggap diri extrovert tapi makin lama nge-charge diri saat lagi sendirian, tapi walaupun suka menyendiri skill untuk menempatkan diri (terutama saat ngobrol) itu memang berguna banget ya

  2. Selalu bisa ngobrol dengan siapa saja, KALO AKU MAU.

    Bisa berbaur dengan apa saja, KALO AKU MAU.

    Ya ampuuunn, pantasan aku senang dengan tulisanmu, ini tulisan bikin aku kayal lagi ngaca. Cuma bagian di kecewakan orang dan keputusan terakhir aja yang mungkin kita ga sama… Itu pun cuma MUNGKIN.

    Wkwkwkwk, kok kita bisa samaa siih, apa jangan-jangan….
    Jangaaaannnn…..
    🤣🤣🤣🤣🤣

  3. Memahami waktu yang tepat untuk bicara dan waktu yang tepat untuk diam itu skill yang bermanfaat sekali menurut saya, Bang. Barangkali karena itulah Bang Ical bisa jadi pengendali pembicaraan.

    Saya sendiri menganggap introver-ekstrover ini sebagai spektrum. Dalam hidupnya, berdasarkan kejadian-kejadian yang mereka alami, setiap orang akan berpindah-pindah posisi dalam spektrum intover-ekstrover ini.

    Btw, itu gambar Sang Pemikir-nya Rodin Bang Ical gambar sendiri? Keren! 😀

    • Jadi, introver ekstrover itu sesuatu yang terus berkembang sesuai pengalaman dan pengetahuan manusia, ya, Bang? Saya pikir demikian. Mungkin saya hanya sedang mengalami perubahan. Mungkin juga tidak 🙂

      Bukan Bang, saya comot di internet :’)

  4. Ping-balik: Bekerja - Cerita Momo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s