Anjing

1.

Saya takut anjing. Tapi sekaligus juga cinta.

Saya takut digigit anjing. Kalau mereka menggonggong, saya merasa diteror. Waktu kecil, saya pernah dikejar anjing. Mungkin saya trauma. Saya sudah mencoba memberi sugesti positif: mungkin anjing yang mengejar saya giginya ompong semua, tinggal gusi saja, sehingga waktu digigit, saya cuma akan merasa kenyal-geli-basah. Tentu sugesti itu tidak mempan.

Tapi anjing adalah hewan yang pandai. Anjing mampu merasakan emosi manusia. Mereka seperti kita: bisa memarahi, bisa dimarahi, bisa merasa terhormat, bisa merasa dilecehkan, bisa merasa sedih dan bahagia. Mereka punya kesetiaan. Karena itulah saya cinta anjing. Kalau ada anjing yang jinak, saya tidak ragu memeluk mereka atau membiarkan diri saya dijilat-jilat.

2.

Guru saya memelihara seekor anjing; seekor anjing kurap yang ditemukan di hutan, di dekat kebun beliau. Anjing itu dulu pernah ditolongnya dari jerat jebakan babi milik entah siapa. Kakinya luka parah karena jerat kawat. Dirawat berminggu-minggu di kebun dengan rahman rahim Tuhan, anjing kurap itu tidak mau pisah dari Guru. Suatu kali Pak Guru menemukan anjing itu sudah telungkup di halaman rumah beliau. Anjing itu mengikuti bau Pak Guru dari kebun sampai rumah. Tiap kali kami (murid-murid beliau) bertandang, anjing itu akan menyambut dengan gonggongan dan lolongan panjang. Lalu ia akan menyingkir sebentar entah ke mana.

Kata Guru, itu pertanda ia senang melihat hamba Tuhan. Mulanya saya suka kaget digonggong begitu. Tapi lama-lama saya terbiasa.

3.

“Anjing yang senang” pernah juga saya temukan di sebuah gili (pulau) di tenggara Lombok. Saya dan teman-teman mengunjungi orangtua yang kabarnya sudah sepuluh tahun tinggal sendirian di sana. Setelah menyebrangi laut dengan sampan, kami berlabuh dan mulai mendaki gili yang agak tinggi tanahnya itu. Lah, kami disambut bukan cuma oleh Pak Tua, tapi juga oleh dua anjing pasutri yang menggonggong keras. Takutlah saya. Tapi, jangan takut, kata Pak Tua itu. Mereka senang melihat hamba Tuhan.

Bah. Bagaimanalah saya tidak takut. Mereka menggonggong keras begitu, eh. Apalagi waktu berjalan ke gubuk Pak Tua, dua pasutri itu mengikuti saya sambil menggeram. Seperti siap menggigit. Moncongnya tepat berada di depan betis saya. Barulah sesampai kami di gubuk, mereka cuek. Mereka bermesraan di bawah sebuah pohon mangga besar.

4.

Dulu, Kakek saya di Desa Labuan Aji (sebuah desa pesisir di timur Pulau Lombok) juga memelihara anjing. Ada empat anjing beliau: dua anjing (pasutri) berjaga di belakang rumah, dan dua anjing lainnya (pasutri juga) berjaga di depan. Kakek sayang pada mereka, pun sebaliknya. Tiap kali Kakek pergi ke Kota Mataram, anjing-anjing itu akan mengantar sampai terminal. Sepulang dari Kota Mataram, bau Kakek di terminal tercium sampai rumah, dan mereka berlarian menyambut beliau.

Anjing-anjing itu makan apa yang Kakek saya makan. Kadang Kakek membeli ikan besar dari nelayan dan memanggul sendiri ikan besar itu dari pesisir ke rumah, khusus untuk persediaan makanan mereka. Ketika satu per satu anjing-anjingnya meninggal, Kakek menangis keras. Setiap anjing dimakamkan langsung oleh Kakek. Kakek ‘mengafani’ mereka dengan jas-jas terbaik miliknya yang dibeli di Mekah. Sedemikian hormatnya Kakek pada anjing-anjingnya.

5.

Dalam Islam ada banyak pendapat tentang memelihara anjing. Ada yang membolehkan dalam batas agak ketat. Misalnya, mereka tidak boleh masuk ke rumah, dan hanya boleh dibelai kepalanya (karena hanya di daerah itu jilatannya tak sampai). Mereka boleh dipelihara untuk menjaga rumah atau untuk berburu. Bekas gigitan anjing berburu di hewan buruan boleh dimakan, tidak najis. Ada juga yang berpendapat dengan tegas bahwa anjing tidak boleh dipelihara. Itu adalah bentuk ikhtiyath (kehati-hatian) terhadap najis, atau karena bersandar pada sejumlah hadis yang saya rasa butuh dikaji lebih mendalam.

Inilah enaknya hukum Islam: dinamis, sah-sah saja bagi orang Islam untuk berbeda pendapat.

Saya? Saya punya pandangan sendiri. Saya tidak melihat hubungan manusia dan anjing sebatas hubungan hukum fikih. Saya melihat cinta di sana, dan cinta, kawan, punya caranya sendiri untuk melunturkan banyak batas. []

Standar

22 respons untuk ‘Anjing

  1. Saya cinta anjing dong.
    Kalau ada yang gemoy pengen tak tabok 😌😌😌😌😌 terus gemes sampe sakit gigi.

    Jadi alasan nggak pelihara anjing adalah takut ompong banyak 😌 gemesan akutu.

  2. Jadi pengen buat tulisan tentang anjing dgn nada serupa,,, aku takut anjing tapi cinta he he he
    Terkait anjing, setiap lewat rumah yg punya anjing pasti selalu digonggong padahal bukan hamba Tuhan😁😁😁
    Terkait anjing,,, aku suka lihat anjing, gambar anjing, video anjing tapiiiii…milik orang.
    Anjing setia, betul sekali. Keluargaku ( orangtua juga adek2ku) dog lovers. Dari aku punya ingatan sampe saat ini, mereka selalu punya anjing. Semua anjing jinak dan setia. Tapi, sampai saat ini aku tidak pernah tergerak ingin punya anjing, bahkan anakku pun tidak.
    Jadi, aku suka lihat anjing tapi tidak untuk memiliki anjing, apalagi mengurus.

    • Ah, masa bukan hamba Tuhan 🤭

      Kasusku agak berbeda, Mbak Sondang. Keluargaku terbiasa tidak memelihara pet kecuali pet itu datang sendiri. Kucing, misalnya. Kalau mereka datang dan betah, pelihara. Kalau mereka mau pergi, ya sudah 🙂 Mungkin anjing juga begitu kelak 🙂

  3. Dulu sy punya anjing. Btul sprti yg Bro Ical ceritakan, bgtu lah anjing.

    Dlm kyakinan kmi, sah2 sj pelihara anjing. Tp saat ini sy tdk pelihara, krn kondisi utk memelihara tak memungkinkan. Slain sibuk, sy jg mlas mengurusnya. Jd saya tak mau mengecewakannya klau sy tdk baik2 mengurusnya.

  4. Waktu SD dulu, saya pernah jalan kaki pulang sendirian lewat jalan kecil. Lagi asyik-asyik jalan, ada anjing keluar dari pekarangan salah satu rumah. Dia sih (kalau saya pikir sekarang) tak peduli dengan keberadaan saya. Tapi saya keburu takut terus mempraktikkan saran yang pernah saya terima entah dari siapa: kalau ketemu anjing, jongkok terus pura-pura ambil batu. Ternyata tak mempan, Bang. Saya dikejar. Mujurnya ada seorang bapak bersepeda yang lewat terus menyuruh anjing itu pergi. 😀

    Tapi lama-lama terbiasa juga berhadapan dengan anjing. Ada kawan yang pelihara herder jinak. Herder itu yang pertama kali berani saya elus kepalanya. Sekarang, paling saya cuma ndredeg kalau harus jalan sendirian di antara kawanan anjing liar. Takut rabiesnya aja. 😀 Kalau anjingnya cuma 1-2 dan tak agresif, bisa jadi teman. 😀

    • Saya belum bisa setenang itu kalau ketemu satu dua anjing, meski tidak agresif. Hanya pada anjing yang saya sudah terbiasa ketemu, baru dah saya bisa tampak biasa-biasa saja 😂

      Saran itu ndak mempan, dan saya kira di manapun! Dulu saya juga pernah dikejar anjing karena justru dianggap ancaman. Apakah anjing bisa mencium hormon tertentu dari tubuh manusia, ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s