Adi

Kampung Mamak saya di Labuan Aji (Kampung Mandar) punya banyak koleksi cerita aneh. Pohon yang tidak bisa dipotong bahkan dengan gergaji mesin, angkot yang mendadak tidak bisa jalan, macam-macam. Ditengarai, penyebabnya adalah jin. Pohon yang digergaji adalah pohon tua yang menjadi sarang jin. Angkot gagal melaju juga karena ternyata ada jin yang nyangkut di atap.

Ada juga kisah orang hilang, yang disekap-pindahkan ke tempat yang jauh oleh jin.

Jadi dulu, waktu Mamak masih kecil (sekitar 70-an awal), ia dan kawanannya sering bermain sembunyi-sembunyian di kebun. Suatu kali, si anak bawang berusia 3 tahun bernama Adi hilang. Tidak muncul-muncul dari persembunyian hingga magrib. Gegerlah kampung Mandar. Obor dinyalakan, panci dipukul bertalu-talu. Tetap tidak ketemu. Orangtua Adi (Mak Pak dan Pak Marzuki), sedih bukan kepalang.

Barulah 40 tahun kemudian (kemarin-kemarin) ada lelaki paruh baya yang datang ke kampung Mandar dan mengaku sebagai Adi. Adi-besar itu mencari ibu bapaknya. Geger lagi kampung kami. Tidak ada foto yang bisa dirujuk sebagai alat konfirmasi. Hanya ada ingatan samar.

Pada keluarga, Adi-besar mengaku dipindahkan oleh jin. Adi berusaha keluar dari kebun dan tiba di sisi jalan yang tidak ia kenal. Lokasinya bukan di Labuan Aji, dan tidak ada pantai. Ia dipungut oleh seorang perempuan yang ia sebut Nenek, yang kini telah renta. Nenek itu memungutnya karena Adi seperti tidak tahu dirinya di mana, berasal dari mana, dll. Ternyata, Adi berada di Keruak. Ia tidak mengerti sama sekali bagaimana ia bisa sekejap pindah ke sana.

[dan saya baru tahu kalau Keruak, Jerowaru, Ganti, dan jejeran daerah tepi selatan Pulau Lombok itu sudah dari dulu sekali dikenal kental akan ilmu magis]

Ibunya yakin Adi-besar adalah anaknya yang dulu hilang. Lantaran Adi-besar tahu hal-hal yang mustahil diketahi selain olehnya. Misalnya, Adi-besar masih mengenali teman-teman masa kecilnya; teman-temannya itu menyambangi, ngobrol dengannya, dan sedikit-sedikit Adi-besar masih ingat beberapa kejadian di masa kecil. Adi-besar juga tahu piring kesukaannya. “Mak, mana piring yang dulu suka saya pakai makan itu? Kan, ada piring saya yang dari kayu, agak besar,” katanya.

Hanya saja, si Bapak tidak yakin. Sebab bentuk kepala Adi yang ia ingat tidak mirip dengan Adi-besar. Kuatirnya, Adi-besar adalah maling atau sejenisnya. Karena bagaimana pun, Keruak dan Labuan Aji itu cukup dekat, bisa ditempuh kurang dari 30 menit berkendara motor. Kalau jin itu membuang Adi ke daerah Sekotong, mungkin wajar bila Adi tidak pernah mengenal Labuan Aji. Lagipula, mana mungkin Adi lupa sepenuhnya bahwa ia berasal dari kampung Mandar. Mana mungkin Adi tidak pernah melawat ke Labuan Aji, mengingat desa ini punya perayaan tahunan yang sangat terkenal, yaitu Pesta Pantai. Orang Keruak mustahil tidak tahu. Kenapa baru datang sekarang?

Adi-besar tinggal di rumah Ibunya selama sekitar 10 hari. Kemudian, Adi-besar pamit. Alasannya, Adi-besar ingin merawat neneknya di Keruak. Mungkin sebetulnya ia sedih. Memang Adi-besar diperlakukan dengan baik selama di Labuan, tapi diragukan Bapak pasti membuatnya masygul (apakah sudah kodrat sebagian besar orangtua untuk cenderung tidak percaya pada anak-anaknya?). Mungkin juga Adi-besar maklum. Ia hanya datang menengok, bukan meminta diterima. Menengok keluarga adalah bakti, harus ditegakkan walau sekali.

Itu kalau Adi-besar betul Adi. []

Standar

8 respons untuk ‘Adi

    • Apakah rasa haru itu akan terasa pekat, ya, Bang? Ada kemungkinan rasa haru itu cuma sedikit saja terasa, sebab telah puluhan tahun ia tumbuh bukan sebagai bagian anak dari orangtua kandungnya .. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s