Indie

Pada tanggal 26 Maret 2019, Project Hambalang merilis lagu berjudul “Senja Tai Anjing”. Lagu itu menyindir tren indie yang memang sedang berkembang di Indonesia dengan ciri-ciri: lirik tentang cinta dan hal-hal yang sederhana, musikalitas seadanya, secara visual menarik dan khas.

Istilah “indie” memang tidak baru-baru ini adanya. Indie berakar dari kata “independent” (merdeka), dan istilah itu mewakili kebudayaan musik yang sangat kuat dan kaya nada, melawan arus industri musik mainstream, berdikari dalam bermusik, dan liriknya biasanya diilhami dari renungan yang berpijak kuat pada realitas akar rumput dengan segudang pesona dan problemnya. Mungkin karena tren indie-baru yang berkembang di era serba-mudah-viral itu terkesan urbanistik/kelas menengah/menye-menye, kritik Project Hambalang relevan.

Di Lombok tinggal seorang musisi Indie yang cukup kondang di Indonesia: Kang Ary Juliant. Penampilannya jauh dari yang dikesankan budaya indie-baru. Pengetahuan musiknya super, historisitas musim (hubungan berbagai genre musik dengan kondisi sosial, politik, ekonomi) bisa dijelaskannya dengan sangat baik. Lagu-lagunya! Saya orang yang selalu terpaku menyaksikan konser Kang Ary Juliant—biasanya saya temukan beliau tamp di forum-forum sastra. Musiknya menyihir, menunjukkan beliau bermusik dengan mengenal khazanah.

Tentu saja tren indie-baru itu tidak keliru. Hak segala bangsa apakah mereka mau menyukai senja atau tidak, minum kopi saat senja atau tidak, pakai quotes yang kontekstual atau tidak, mengedepankan bentuk atau isi. Indie-lama mengusung kemerdekaan bermusik, masa iya mau mengkritik bentuk kemerdekaan bermusik baru. Tapi dialektika itu penting. Kritik itu mengembangkan kehidupan. Budaya massa dan budaya pop, dalam ilmu sosiologi, memang disebut-sebut agak susah menyajikan kedalaman. Tapi tak mengapa. Lagu hadir untuk menghibur.

Saya sendiri menulis 4 paragraf di atas hanya sebagai hiburan. Saya tidak paham tentang dunia musik, tapi saya mengerti musik tumbuh karena dinamika zaman. Musik tidak lahir dari ruang hampa, melainkan ada konteksnya. Maka siapa yang berdarah-darah belajar musik akan melahirkan lagu-lagu ciamik; siapa yang kuat merenungkan kehidupan akan melahirkan lirik yang abadi.

Saya tidak punya genre favorit. Suka-suka telinga, kalau bisa bikin ‘eargasm’ saya pasti mendengarnya berkali-kali, berbulan-bulan, menyimpannya dalam playlist. Tapi kalau disimak-simak lagi, saya memang sering kepincut pada lagu yang kaya irama, atau lekuk iramanya tidak biasa. Mungkin karena itu saya suka musik klasik, paduan gospel, irama semenanjung, dll. []

Standar

12 respons untuk ‘Indie

  1. Di masa remaja, pilihan genre musik bisa sebagai sarana menunjukkan identitas diri. Genre satu dianggap lebih keren dari lainnya. Orientasi keren inilah yg kemudian terasa tai anjing karena ya.., bersenja senjaan hanya biar keren, tanpa bisa paham esensi..
    Mungkin begitu psikologis lagu senja tai anjing… Dan lagu itu cukup enak didengar… 😀

    • Kalau disimak baik-baik, bahkan struktur nada Senja Tai Anjing itu juga memuat sindiran. Petikan gitarnya gitu-gitu aja. Tidak ada inovasi sama sekali. Terus lagu-lagu miskin nada begini viral karena algoritma media sosial. Yang serius mengulik nada, ndak diapresiasi 🙂

  2. Saya juga dengerin musik suka-suka telinga dan tergantung suasana hati. Playlist saya ndak karuan campur-campur, tapi saya cenderung menyukai lagu dengan lirik yang kaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s