Kanak-kanak

Saya bisa membuat peta babak kehidupan saya lewat music playlist. Ada lagu-lagu yang sangat memengaruhi saya ketika saya masih kecil, mewakili memori romantik saya akan dunia sekitar. Ada lagu-lagu yang memengaruhi saya semasa remaja, masa awal kuliah. Bahkan, dengan music playlist, saya bisa memetakan babak mental: masa di mana saya polos, bahagia, dan ‘bersih’.

Di masa kecil, saya dipengaruhi lagu-lagu Sherina dan Sulis.

Lagu Sherina mewakili kesenangan saya pada musim hujan pada tahun 90-an, yang deras di siang hari, reda di sore hari, menyisakan pemandangan basah di jalan dan pepohonan. Oya, waktu itu tanah lapang masih luas. Bentang hijau masih mudah ditemukan. Saya masih sering mendapati rumah dengan pagar tanaman dan pohon berdaun rindang di halamannya yang luas dan tidak di-batako-kan. Tiga lagu Sherina yang paling membekas dan hingga kini masih sering saya putar adalah “Pelangiku”, “Rahasia”, dan “Sahabat yang Selalu Ada”. Lagu-lagu ini ada yang hadir dengan nada yang ceria, ada nada syahdu, ada nada sedih. Ada satu ciri yang menyatukan: iramanya kaya namun berjalan lamban.

Lagu-lagu Sulis, sebaliknya, mengingatkan saya pada sore hari yang cerah, senja yang matang, setiap ketika saya pergi mengaji. Lagu-lagu Sulis memicu kesadaran saya bahwa saya dibesarkan dan―secara fitrati―menyukai tradisi Nahdhiyyin, menyukai para Tuan Guru dari mazhab Syafi’iyyah, yang sorbannya melingkar dan jubahnya hitam, yang tasbihnya menjuntai, yang gurat wajahnya ramah dan karismatik. Lagu Sulis akrab dengan tradisi salawat, dan berirama semenanjung padang pasir. Mendengar lagu Sulis, saya selalu dihidangkan gambar masa lalu tentang masjid jamik yang megah, yang jama’ahnya ber-Islam dengan sederhana, tidak berlebihan nafsu mengejar kesempurnaan ibadah-lahiriah. Beberapa lagu Sulis yang saya kenang: “Kun Ma’iy”, “Nabiyyal Huda”, “Ya Imamar Rusli”, dan “Ya Robbi Ya Rahman.”

Ada juga beberapa lagu masa kecil lain yang hingga kini masih membekas. Masih relijius, tapi kesannya urban. Ingatan saya melayang ke masjid-masjid perumahan, dan orang-orang Islam-kota yang hidupnya mapan. Dua lagu dari Sakha, berjudul “Allah Semesta” dan “Hanya Padamu”, iramanya menggugah, liriknya cocok dinyanyikan dengan lirih dari atap masjid, sambil menatap sungai bintang di langit. Ada juga sebuah soundtrack dari serial Lorong Waktu (diperankan oleh Deddy Mizwar, Adjie Pangestu, Jourast Jordy, Oppie Kumis), judulnya “Maka Jadilah.”

Sulit saya lupakan lagu-lagu ini. Sampai hari ini, saya masih kerap memutarnya, masih senang saya dengarkan. Saya merasa damai, dan begitu rindu pada anak kecil di dala dada saya, yang telah hilang entah ke mana. []

Standar

39 respons untuk ‘Kanak-kanak

  1. Lagu masa kecilku itu… kayaknya lagu-lagu barat semua deh. Macam Backstreet Boys, Britney Spears, dll. Oh, tapi ada satu lagu yang dulu aku suka banget waktu kecil. Foolish Game-nya Jewel.

  2. Lagu masa kecil saya.. apa ya.. 😅 sepertinya ikut mendengarkan campur sari dan uyon-uyon karena kakek memutar lagu² itu secara intens. kalo malam radio dibiarkan nyala, memutar siaran wayangan haha.

    • Kebiasaan menyalakan radio itu enak banget, lho. Di HP saya ada playlist khusus seminar, pengajian, stand-up, dll, yang durasinya panjang. Sebelum tidur, playlist itu saya putar sampai bangun 😀

      Uyon-uyon itu apa, Frida? 😀

      • betul kak. dan kalo kakek saya itu pakai radio kecil, jadul pula 🙈

        uyon-uyon itu macapat, lagu jawa yg paling mendayu-dayu, tapi bukan campursari. tau kan? kalo di pesta nikahan atau acara adat suka ada tembang itu.

      • Punya pun tidak lagi diputar. Aih, radio transistor dia band itu barang antik yang bernilai tinggi kalau masih berfungsi, Frida. Suatu hari nanti, kalau tiba masanya teknologi informasi berbasis komputer tidak bekerja lagi, radio akan jadi favorit!

      • saya kira juga demikian.. sayang sekali peminat radio tidak seperti dulu, walaupun masih eksis juga.

        kakek saya, adik laki² nenek saya, mereka masih punya radio jadul berbaterai dan berantena sampai sekarang. walaupun orang berwawasan tapi masih mempertahankan radio jadul. siarannya mulai sandiwara bahasa jawa, laras campursari, pengajian, dagelan, siaran kethoprak, dan wayangan. kalau tidur, radio itu dikecilkan volumenya terus diletakkan di atas bantal, kayak ditempelin ke kuping gitu wkwk..

      • oiya waktu gempa di jogja, listrik padam dan hujan deras. radio jadul kakung itu yg jadi sumber informasi kami sekaligus hiburan. masih inget banget 🙈

      • Gempa besar dulu itu, ya. Betul juga. Kalau pas gempa di Lombok, sumber informasi masih ponsel. Kecuali di daerah-daerah terisolir. Radio akan sangat berguna: dia dihidupkan dengan baterai, pasti awet 😁

      • I see. Tau aku ni. Ini gamelan yang iramanya sering dijadiin sound efek mistis-mistis gitu 😢 Uyon, ya. Ok, ada gambaran. Nanti eksplore di Youtube ☺️

      • Frida, entah kenapa irama tembang yang lirih begitu kayak punya efek tertentu ya? Mungkin di tiap orang beda-beda, tapi kalau saya dengar bunyi tembang lirih begitu, saya mudah suwung.

      • menurut saya juga. kadang, bersamaan dgn lirik tembang yg sedikit² bisa saya pahami itu saya bisa membayangkan adegan yg diceritakan kak. kan ada tuh yg nadanya galau, bahagia, semangat, dll.

      • coba maskumambang dan megatruh. saya tanya kakung sih ini 😆 soalnya kalo denger tembang macapat kayaknya banyak bgt yg nadanya sedih atau galau.

        sebetulnya saya kurang setuju sih kalo ada yg menilai tembang jawa (khususnya macapat) itu identik dgn hal² yg serem/mistis. soalnya semua tembang macapat itu ada urutan dan filosofinya, nyeritain dr awal mula manusia diciptain sampe mati. malah dipakai wali utk dakwah loh 😅 bukan lagu pemanggil mskhluk halus hahaha.

      • Kalau sedih dan lara ati, sering nemu sih irama Jawa yang kayak gitu. Tapi yang galau itu terasa kayak ngepop, jadi penasaran 🙈 Oke yaa, Maskumambang dab Megatruh ☺️

  3. Anak kecilnya ngumpet di lemari. Dia merencanakan protes bersama kelompok kecoa dan kupu-kupu kenapa versi dewasa dirinya galak dan gak suka lagi berburu undur-undur 😁

  4. Saya pertama kali dibelikan kaset kalau nggak salah pas TK, Bang Ical. Ada penyanyi cilik Barat namanya Jordy, lagunya “Ooh Lala Baby.” Entah di mana kaset itu sekarang. 😀

    • Kok saya penasaran sama lagu ini, ya? >_< Kita terikat sama suara yang menemani kita tumbuh, ya, Bang. Rasa-rasanya ndak bakal lupa memori pertama kita tentang suara 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s