Nabi

Oleh: AS Rosyid

Salawat serta salam ingin kulantunkan untuk engkau, wahai Nabi, di depan gerbang sebuah kebun rindang dan sunyi yang engkau sering duduk sendirian di sana. Kubayangkan diriku memasuki kebun itu perlahan, dan kudapati engkau sedang duduk bersila di atas sebuah tikar dari anyaman daun kelapa. Terhidang di sana piring dari tanah liat dan di atasnya penuh daging buah nangka. Sekocor air putih juga tampak tersedia. Dudukmu, Nabi, bersahaja, dan wajahmu teduh menenangkan. Namun tetap, sirat matamu itu tajam. Kubayangkan diriku menyatukan dua telapak tanganku di depan dada, menyapamu dengan cara khas Nusantara. Dan engkau mengangguk, memahaminya.

“Ada apa, anak muda?” Kubayangkan engkau bertanya demikian. Suaramu alam semesta. Iramamu temaram surga.

Aku duduk di sebelahmu.

Nabi, sesungguhnya aku ingin bercerita banyak sekali. Sebetulnya aku ingin mengadu. Umatmu mengamalkan Islam di zamanku kini, entah kenapa, bernuansa kaku. Mereka lebih didorong oleh kekuatiran, rasa takut salah dalam gerakan sembahyang. Mereka bimbang bila dikatai tidak berpenampilan sunnah, gelisah bila dicemooh karena berbeda. Sedangkan dulu, sependek yang kutahu wahai Nabi, engkau membiarkan Islam tumbuh dalam keragaman. Umat yang engkau didik punya pribadi merdeka, vitalitas tinggi, dan kreativitas. Islam, kebudayaan dan watak lokal mengalir alami.

Dulu, sahabat engkau, Muaz bin Jabal, terlambat sembahyang berjama’ah. Ia kemudian memulai sebuah cara baru yang tidak pernah engkau contohkan sebelumnya, yaitu “Mengikuti rakaat yang sedang berlangsung dan setelah sembahyang jama’ah selesai ia berdiri melunasi rakaat yang tertinggal.” Konon, sebelum Muaz mencontohkan demikian, para sahabat terbiasa memberi isyarat tangan pada mereka yang masbuk, dan yang masbuk akan sembahyang sendirian mengejar rakaat itu. Cara itu jelas membuat seseorang sembahyang terburu-buru, dan Muaz memahami bahwa sembahyang adalah peristiwa sakral yang butuh tumakninah. Maka ia memulai tata cara baru untuk sembahyang berjamaah bagi yang masbuk (terlambat). Dan engkau membenarkan itikad baik Muaz, pemahamannya yang mendalam akan sembahyang, dan “kreativitas”-nya. Nabi, engkau telah jadikan Muaz rujukan.

Ingatkah engkau wahai Nabi, dulu salah seorang sahabatmu mengarang sendiri kalimat tasbih yang ia baca kala sembahyang berjama’ah denganmu. Mungkin sahabatmu itu sedang berada di puncak cinta pada Allah, dan ia memuji Allah dengan kalimat yang tidak pernah engkau ajarkan sebelumnya. Setelah bangkit dari ruku’ dan mengucap sami’allahu liman hamidahu (Allah mendengar siapa saja yang memuji-Nya), sahabatmu itu bertasbih agak keras: alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih (aku memuji Allah dengan pujian yang tiada terhingga, yang penuh kebaikan, dan penuh barakah di dalamnya). Setelah selesai sembahyang, engkau balik hadap dan bertanya, siapakah gerangan pengucap kalimat asing itu? Semua orang tidak berani menjawab, takut salah. Itu perkara besar, wahai Nabi: “Mengarang bacaan dalam salat.” Namun, engkau menerangkan bahwa ada 12 malaikat yang berebut mencatat pahala kalimat kreatif itu, saking indah pahalanya. Barulah sahabatmu mengangkat tangan tinggi-tinggi, bahagia luar biasa.

Aku terhenyak: ada kalimat yang engkau tidak pernah ajarkan dalam sembahnyang, yang engkau sendiri kaget mendengar sahabatmu melantunkannya, tapi Allah menyukainya.

Wahai Nabi, pribadi bijaksana panutanku.

Ada sahabat yang seumur hidupnya tidak pernah melihat wajahmu, meski ia tinggal di Madinah dan sering bertemu denganmu di masjid. Itu karena ia sangat takzim pada kemuliaanmu, sehingga memandangmu pun serasa seperti akan menodaimu. Engkau biarkan ia. Ada pula sahabat yang sangat gemar memandangmu, bahkan telaten menyusun puisi tentang betapa purnamanya wajahmu. Engkau biarkan ia. Engkau biarkan Islam hadir mengalir dalam rupa-rupa khazanah manusia; setelah kurenungkan, mungkin itu karena baik Islam dan khazanah manusia adalah sesuatu yang fitrah, ciptaan Tuhan juga. Maka keduanya cocok. Kecuali, tentu, sepanjang khazanah itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai luhur dan tidak menimbulkan kerusakan.

Namun kini, Nabi, oleh umatmu semua perkara hendak dijadikan hukum. Semua perkara hendak diletakkan dalam logika oposisi biner halal-haram, sunnah-bid’ah, dan mereka melakukannya cuma dengan argumen sederhana, dan berbekal dalil satu dua. Menurutku, jarang ada yang melihat Islam sebagai nilai yang berkesatuan dengan budaya. Jarang ada yang melihat Islam sebagai napas yang tak terpisahkan dari laku alamiah manusia dan lingkungannya. Jarang juga, pada akhirnya, Islam dipahami seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan duniawi. Karena ilmu pengetahuan duniawi tidak lagi dipandang penting. Nabi, bukankah Islam itu nilai? Nilai harus punya wadah terapan, dan wadah itu adalah manusia dengan gerak kebudayaannya. Maka Islam dan kebudayaan manusia tidak bisa dipisah. Keduanya, Nabi, sekali lagi menurutku, merupakan fitrah.

[Kubayangkan engkau menghela napas meladeni kecerewetanku]

Nabi, orang-orang takut dituduh mengamalkan bid’ah. Siapa yang menuduh? Ada, kelompok yang juga mencintaimu, namun dengan cara yang menurutku berlebihan. Pada masa awal Islam mereka disebut khawarij―yakni orang-orang yang kecewa karena keponakanmu Ali menerima tahkim dan keluar dari barisan pendukungnya. Mereka kecewa karena pemahamannya tentang Islam terlalu sempit sehingga mereka lebih suka berperang daripada bernegosiasi secara adil. Sesungguhnya mereka “keluar” karena jahluhum bissyari’ah, kedunguan mereka dalam memahami syari’ah, karena terlalu terpaku pada makna harfiah ayat-ayat Allah dan riwayat-riwayat Nabi, tidak mampu menangkap semangat zaman di baliknya. Hari ini, Nabi, mereka muncul dengan nama yang berupa-rupa, tapi masih dengan jahlun yang sama.

Oleh mereka, kebaruan yang baik-baik pun disebut bid’ah. Padahal, Nabi, sependek yang aku pelajari tentang ajaranmu, yang disebut bid’ah hanyalah perkara baru yang isthodam, yang berhadap-hadapan, yang secara nyata bertentangan dengan syari’at. Perkara baru yang menguatkan syari’at bukanlah bid’ah. Karena itulah sahabatmu ‘Umar bin Khattab ringan hati memulai sejumlah tradisi baru. Misalnya, sembahyang teraweh berjama’ah di masjid. Sebelumnya, teraweh adalah sembahyang yang dilakukan sendiri-sendiri di rumah. ‘Umar pula yang mendorong umat mengumpulkan al-Qur’an dalam bentuk mushaf, meski engkau tidak memberi contoh sama sekali.

Nabi, umatmu di sini, di Nusantara, banyak melahirkan tradisi-tradisi baru: maulidan, tahlilan, salawatan, terbangan, hiziban, dll. Hampir semua tradisi baru itu adalah wujud dari pemahaman para pewarismu tentang kebudayaan, tentang hakikat manusia sebagai anak-anak budaya, dan tentang betapa agama perlu kawin dengan budaya agar Islam bisa hadir dengan wajah yang ramah dan dengan keindahan lokalitas.

Dulu engkau memang pernah berkata, kullu muhdatsatin bid’ah, wa kullu bid’atin dhalalah. “Setiap yang baru itu bid’ah, dan setiap yang bid’ah itu sesat.” Sekilas, kata kullu (setiap) dalam doktrin itu tampak seperti berlaku umum. Tapi tidakkah semua contoh yang telah kusebutkan di atas tadi membuat kata kullu itu berlaku khusus hanya pada bid’ah yang istidhom (bertentangan dengan watak dasar agama)? Suatu doktrin tidak berlaku umum selama ada riwayat sahih yang bisa membatasi keumumannya. Maka tidak semua kebaruan adalah bid’ah, dan bid’ah yang dhalalah hanyalah bid’ah yang esensinya mudarati dan secara nyata membawa kemudaratan. Bukan begitu, Nabi?

Kebaruan adalah fitrah dunia. Ada kebaruan yang baik dan buruk. Itu common sense paling dasar. Manusialah yang memilah dan memilih. Itu yang aku yakini, Nabi. Dan aku juga yakin, Islam datang tidak untuk mengganti kebudayaan lama. Engkau titahkan dengan jelas: innama bu’itstu li’utammima makarimal akhlaq. Engkau diutus Tuhan untuk “menyempurnakan” akhlak. Menyempurnakan bukanlah mengganti, apalagi mengganyang. Dalam hal ini, maulidan dan seremoni agama khas Nusantara lainnya, adalah penyempurnaan dari adat istiadat Nusantara kuno.

[Kubayangkan engkau mangut-mangut menakar dangkalnya celotehku. Kubayangkan engkau memintaku minum dulu, mencicip buah nangka sejenak, dan menarik napas, sebelum berbicara lagi]

Nabi, engkau mendidik umat yang   penuh vitalitas hidup. Umat yang merdeka dan bijaksana menafsir cita-cita agama―tentu dengan didorong oleh sebuah itikad kuat untuk menolong umatmu. Engkau pernah mengutus sekelompok sahabat ke pemukiman Bani Quraizah, disertai sebuah perintah: “Jangan sembahyang asar kecuali di pemukiman Bani Quraizah.” Di tengah perjalanan, waktu asar tiba. Entah bagaimana, para sahabatmu berselisih pendapat. Pendapat pertama menyarankan agar mereka sembahyang di perjalanan. Pendapat kedua menyarankan agar mereka melanjutkan perjalanan. Pendapat pertama menimbang maksud titah engkau, yakni agar mereka bergegas, sedangkan pendapat kedua menimbang bunyi titah engkau, yakni agar mereka sembahyang di tujuan.

Dan engkau, Nabi, telah membenarkan keduanya.

Sebagaimana engkau membenarkan sahabat yang berwudu dengan turut membasuh bola matanya. Sebagaimana engkau juga membenarkan sahabat yang membasuh bola mata. Engkau bijaksana memandang perbedaan. Engkau punya toleransi yang cukup adil terhadap keberagaman. Engkau hanya melarang hal-hal besar yang punya pengaruh-mudarat, tapi setelah ditimbang dengan teliti dan bijak. Sisanya tidak masalah. Engkau bahkan menganjurkan para sahabat mendatangi panggung pertunjukan yang dikelola imigran Habasyah, agar para sahabat berhati senang, dan agar imigran punya pendapatan untuk makan. Dan betapa bestarinya engkau, wahai Nabi, ketika engkau berkata: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bahagia.”

Bukankah begitu, Nabi?

Apa yang akan engkau katakan tentang seribu tiga ratus kata cerewet dariku untuk merayakan hari Maulidmu ini? []

Standar

3 respons untuk ‘Nabi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s