Darin

Selamat menikah, Darin: yang unyu-unyu, yang cepet baper, yang lekas cemas, yang suka kepikiran tapi sulit diajak mikir berat, yang manja tapi juga mandiri, yang royal dan loyal, dan sederet ‘yang’ yang tidak mungkin bisa kusebutkan satu demi satu di sini.

Selamat menikah, sahabatku. Selamat menempuh hidup baru. Aku beruntung bisa menjadi salah seorang yang bisa menyaksikan perjalananmu menemukan sebelah hatimu. Aku terharu bisa menjadi salah satu tempatmu bertanya, menjadi kursimu kala kamu lelah oleh perasaan yang patah bingkas. Aku bangga bisa menjadi peluru yang menembus dinding egomu, menembus kemauan-kemauanmu yang tinggi. Agar kamu merendah. Agar kamu melapangkan dada. Kita tidak hidup dalam dunia ideal menurut standar individualisme-modern, di mana kita bisa cerewet menuntut hak-hak dan kenyamanan kita. Kita butuh sesuatu yang lebih tinggi: keselamatan batin dunia akhirat.

Darin, aku tidak tahu bagaimana kata-kataku bisa menembus kalbumu dan membuat gegar seluruh standarmu. Tidak lama setelah itu, kamu mengabariku sesuatu yang baik: kamu akan dilamar. Aku sedang di Malang waktu itu, sedang menyapu teras kontrakan adikku. Aku bersyukur dalam-dalam, dan aku sangat senang. Pun demikian ketika kamu memberiku cerita lengkapnya, mengirimiku foto-foto kalian berdua saat proses lamaran. Kalian masih tampak kikuk. Wajar saja, kalian baru saling mengenal. Cinta yang sedang malu-malu.

Setelah kita menelepon cukup panjang untuk saling bercerita, aku berbaring dan menatap langit-langit agak lama, Darin.

Sebentar lagi, kumerenung waktu itu. Sebentar lagi masa-masa kita sebagai sahabat tidak akan sama lagi. Sebentar lagi, aku tidak akan menerima telepon-teleponmu di malam hari, menemukan dirimu seperti anak ayam yang kebingungan, seperti anak kucing yang geregetan, atau seperti elang yang menukik tajam. Aku tidak akan lagi menerima kicauan-kicauan usilmu yang mendarat di media sosialku. Aku tidak akan mendengar tangismu yang berusaha kamu sembunyikan. Aku tidak akan mendapatkan hadiah-hadiah kecil yang biasa kamu kirimkan. Semua akan menjadi tidak sama lagi.

Dan aku tersenyum, merasa senang dan lega, meski ada sedihnya. Aku tidak tahu apakah kamu dihinggapi perasaan yang sama. Kupikir, pada telepon kita yang terakhir, tanpa kata-kata kita telah sepakat bahwa sebentar lagi persahabatan kita akan menjadi tidak sama lagi. Mungkin telepon itu akan menjadi telepon terakhir, dan kita saling berterima kasih.

Dan hari ini kamu menikah. “Amar dan Arin”, begitu dua nama kalian bertengger di undangan. Sayang sekali aku tidak bisa datang, Darin. Sayang sekali. Aku masih harus melakukan banyak hal. Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi.

***

Aku senang sekali kita bisa membuat kaget jagad bloger dengan kabar yang seakan-akan kita akan menikah―tentu saja, juga, keusilan ini untuk yang terakhir kalinya. Kalimat yang kurangkai ternyata cukup membuat lingkaran pertemanan kita berdenyut. Tidak kurang teman yang menanyaiku. Benar kamu mau nikah sama Darin? Dan aku berusaha menjawab mereka tidak secara spesifik:

“Doa, itu yang paling penting. Doakan agar acaranya lancar.”

“Aku ndak pernah cocok sama Darin dari dulu, ribut mulu.”

“Tengah bulan dan bulan depan acaranya, insyaallah. Doakan!”

“Kamu ndak menduga, ya? Hahaha.”

“Sahabat yang sering perang mustahil menikah, ya? Hahaha.”

“Doaken, doaken, mudah-mudahan lancar segala hajat kami.”

Begitu.

Tidak semua teman kita mudah dikerjai. Mereka orang-orang yang pandai dan cerdas―juga gigih menangkal hoaks, sebab mereka tahu kita sering usil. Aku juga tahu kita tidak mungkin menahan kabar baik. Pasti ada bocornya. Maka aku pun tidak terlalu peduli bila mereka tahu. Aku hanya senang kita bisa bermain, sebagai dua anak manusia yang puas karena menemukan lelaki dan perempuan bisa bersahabat dengan baik. Teman-teman kita takkan marah. Aku mengenal mereka: orang-orang yang dewasa dan baik hati. Mereka paham aku hanya ingin menceriakan suasana. Mudah-mudahan mereka memaafkanku. Kalau kamu, sudah pasti mereka akan maafkan. Mereka juga akan mendoakanmu karena kamu orang yang baik, Darin.

***

To the very best of times, my friend. Aku berdoa agar segala kebaikan berkumpul dalam pernikahanmu. Selamat menikah. []

NB: Salam dari Bang Ikhwan, Bang Iwan, Bunga, Fina, Kak Yana, Wahyu, dan orang-orang Perpustakaan Djendela yang pernah kamu temui.

Standar

24 respons untuk ‘Darin

  1. Saya yakin Darin ini adalah pemilik blog ryssaid.
    Rupanya dia menikah ya.
    Keren.
    Semoga mereka berdua, Arin dan Amar, diberkahi Alloh dan dipersatukan dalam kebaikan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s