Buddha

Tidak jarang saya mendengar pertanyaan, apakah Agama Buddha betul sebuah agama? Mengingat Agama Buddha tidak bicara tentang monoteisme, atau politeisme, atau ateisme. Nampaknya tuhan-figur memang bukan fokus utama agama ini. Tapi untuk menyangsikan Buddha sebagai agama juga riskan, karena Buddha punya banyak elemen yang dimiliki lazimnya agama.

Apa itu agama? Untuk menjawab ini, kadang kita mencampur aduk makna. Kata agama berasal dari bahasa sansekerta, dan dipakai sebagai terjemahan kata diin dari bahasa Arab, dan religio dari bahasa latin. Makna yang ditawarkan tiga bahasa itu mungkin mewakili kondisi mental dan cita-cita yang berbeda. Kalau benar begitu, menggunakannya sembarangan tidaklah pas.

Umumnya agama punya keyakinan akan adanya suatu misteri tertinggi. Umumnya agama juga punya tradisi dan praktek spiritual yang diyakini sebagai jalan selamat. Dalam Islam dan Kristen ‘misteri tertinggi’ itu memang berupa tuhan-figur, tapi dalam Buddha ia mungkin berupa sesuatu yang lain. Dan Agama Buddha juga punya: keyakinan, tradisi, praktek spiritual.

Tak ada alasan untuk menyebut Buddha sebagai bukan agama―setidaknya dalam pengertian modern. Tapi saya yakin Agama Buddha juga punya suatu rasa berdikari tinggi yang membuatnya rileks saja menanggapi anggapan apapun dari siapapun. Saya membayangkan Sang Buddha tersenyum lembut menatap kaum yang, dengan standarnya sendiri, bersikeras menilai kaum lain.

***

Saya pernah bilang begini di suatu diklat mahasiswa Islam: “Kalau umat Islam mau berlatih disiplin moral, pergilah ke para Bhikkhu Buddha.” Waktu itu ucapan saya ada yang menentang, dan itu wajar. Tapi saya menjelaskan kenapa saya bilang begitu.

Usia Agama Buddha telah lebih dari 2500 tahun, dan sejak awal agama ini punya fokus yang tinggi pada bagaimana manusia menempa kesadaran dan perilaku. Saya membaca sejumlah literatur Buddha, dan mendapati pemikiran yang sangat rasional, sangat detail, dan sangat hati-hati dalam menerangkan tentang (1) apa itu derita, (2) mengapa manusia merasakan derita, dan (3) bagaimana cara agar manusia terlepaskan dari derita.

Seturut dengan itu, Agama Buddha mengembangkan berbagai macam metode melepas derita, yang sekaligus juga mengembangkan sejumlah sikap hidup dan kualitas kebajikan. Agar sikap hidup dan kualitas kebajikan itu bersifat ajeg (tetap, langgeng, berkelanjutan, abadi), manusia harus merawat keadaan batinnya agar tetap berkonsentrasi pada kebajikan. Untuk itu Agama Buddha mengembangkan meditasi.

Apakah dalam Islam yang semacam itu tidak ada? Ada, tapi tidak utuh dan bukan mainstream. Islam memang mementingkan ilmu dan akhlak, tapi secara institusional tidak mengembangkan “jembatan” antara ilmu dan akhlak. Dalil tentang kejujuran atau larangan mencuri bisa ditemukan dan dihapal dengan mudah, tapi bagaimana cara membentuk mental ‘apa-adanya’ dan mental ‘tidak mudah tergoda’ oleh hasrat? Bagaimana salat diarahkan sebagai meditasi untuk membentuk mentalitas tertentu?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak mudah dijawab, dan tirakat semacam itu, bila ada, dikembangkan secara mandiri oleh individu dan kelompok (tasawuf, organisasi), dan biasanya bersifat eksklusif, tidak inheren di dalam doktrin utama Islam.

Dan hal itu memang agak wajar. Rumpun agama Asia Tengah-Tenggara nampaknya punya karakteristik khas. Dalam Hindu Nusantara, misalnya, iblis (Prabu Jaya Kanti Wang) dikalahkan oleh manusia (Raden Wijaya) setelah manusia menempa nafsunya selama 10 tahun. Iblis dihukum mati, tapi arwahnya bersumpah menuntut balas. Strukturnya berbeda dengan Islam, di mana manusia digambarkan sudah istimewa sejak terciptanya dan dimanja di surga. Iblis, yang terusir karena menentang keistimewaan manusia, berhasil membuktikan bahwa manusia sangat mudah tergoda. Maka gambaran kasarnya sebagai berikut: secara teologis, rumpun agama kuna Asia Tengah-Tenggara mementingkan penempaan batin manusia agar nafsu hasrat bisa dikendalikan, sementara fokus orang Islam lazimnya adalah kembali ke surga—kadang bahkan dengan hanya mengharapkan kemurahan hati Tuhan, meski pelayanan pada tuhannya ala kadar.

Saya katakan begini pada mahasiswa-mahasiswi Islam itu:

“Rasulullah berwasiat: ‘hikmah adalah hak orang Islam, di mana pun kalian menemukannya berserak, pungutlah.’ Belajar disiplin moral dari Agama Buddha tidak membuat kesan Islam itu tidak sempurna. Islam sempurna dalam gugus nilainya dan daya jamah konteksnya, tapi peradaban manusia terus berkembang, kebutuhan terus berubah, sedangkan manusia tidaklah sempurna untuk menghadapi perubahan. Karena itulah umat Islam diwajibkan belajar terus menerus. Dan sangat mungkin dalam proses belajar itu umat Islam memungut ilmu dari peradaban lain. Sains Islam, kedokteran Islam, filsafat Islam, semuanya berkembang dengan cara demikian.” []

Standar

5 respons untuk ‘Buddha

  1. Suka bang..
    Kadang yang terlalu fanatik, bisa jadi lupa bahwa manusia itu tempatnya salah.

    Yah, cukup jalani aja yah sesuai keyakinan. Yang penting baik sebagai manusia dan juga baik sebagai makhluk Tuhan. 😊

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s