Dukkha

Buddha mendorong manusia mengenal dukkha. “Dunia ini penuh dengan penderitaan,” katanya, sembari tersenyum. Di masa kini, orang-orang mungkin skeptis. Penderitaan tidaklah sepenuh itu. Penderitaan mungkin ada di kantor kita. Penderitaan mungkin ditanggung orang miskin. Tapi penderitaan pun punya banyak kesenangan yang mengobatinya.

Tapi dukkha tidak sesederhana itu. Penderitaan, bagi Buddha, bukan tentang orang yang mengalami kesakitan, kecelakaan, kesialan, kesedihan, dan keprihatinan semata. Penderitaan sebetulnya jauh lebih besar dari yang jamak manusia kira. Rasa tidak puas juga adalah penderitaan, tapi kepuasan juga penderitaan. Kekecewaan adalah derita. Amarah juga derita. Dendam juga derita. Iri juga derita. Sombong juga derita. Bangga juga bisa disebut derita.

Dukkha adalah kondisi di mana manusia tidak stabil, atau sekurang-kurangnya rentan menjadi tidak stabil; kondisi di mana manusia merasa gelisah, terganggu, tidak mengenal kebenaran hidup, dan tidak memiliki kedamaian hati. Dukkha membuat manusia berkeluh kesah lantaran tidak menerima keadaan, mangkir dari kenyataan bahwa fitrah manusia adalah terbatas, punya kelemahan, dan tidak diciptakan untuk mengungguli siapa-siapa. Dan di dunia ini, apa yang tidak berubah? Di dunia ini, apa yang bisa dipercaya bersifat tetap? Tidak ada. Mempercayai dunia ini sebagai barang yang takkan berubah akan menjerumuskan kita pada kekecewaan.

Manusia merasakan dukkha karena percaya bahwa sesuatu pasti berjalan sesuai rencana. Itulah yang disebut sebagai “kemelekatan” atau keterikatan. Manusia menderita karena mengikat diri pada hal yang dipikirnya statis padahal dinamis. Manusia berkeinginan (tanha), kemudian keinginan itu mengikat manusia dalam dukkha. Sebab, bila keinginan itu tidak tercapai, manusia mengalami dukkha.

Memang, di dunia ini ada keinginan-keinginan yang bisa diupayakan keberhasilannya. Namun tetap, keberhasilan itu pada akhirnya mengikat manusia dalam ancaman dukkha yang lebih besar. Setelah mendapatkan sesuatu, manusia merasa memilikinya, dan perasaan itulah yang membuatnya rentan mengalami dukkha, yaitu acap kali manusia bertegangan kala mempertahankannya, atau acap kali ia kecewa dan sedih kala kehilangannya, atau acap kali manusia iri kala menemukan perbandingan.

Itulah yang terjadi pada orangtua yang memprogram anaknya untuk kesuksesan-kesuksesan semu; ada yang programnya tercapai tapi anaknya tenggelam dalam dukkha; ada yang programnya tidak tercapai dan keduanya tenggelam dalam dukkha; ada yang programnya tercapai tapi mereka bolak-balik dihantam dukkha ketika berusaha mempertahankan kesuksesan itu—lantaran tidak rela melepaskannya. Siapa menabur tahta, menuai dukkha.

Namun, dukkha terbesar adalah ketika dukkha yang kecil-kecil mengalihkan perhatian manusia dari kebahagiaan sejati, kedamaian hakiki. Dalam hidup, ada harta yang lebih mulia dari dunia dan seisinya: “lenyapnya kemelekatan dan tercapainya pencerahan”—tentang kebahagiaan sejati dan kedamaian hakiki. Itu adalah rasa tenang yang ajeg, yang berketerusan, yang tidak berkesudahan. Orang jadi senyum terus, santai terus, sabar terus, jujur terus, legawa terus, sederhana terus.

Dalam Buddha, salah satu cara melenyapkan dukkha adalah melatih konsentrasi, yaitu dengan meditasi. Manusia harus berlatih agar pikirannya tidak mudah terganggu dengan setiap godaan yang menghasilkan dukkha. Manusia harus berlatih agar pikirannya berkonsentrasi pada kedamaian, sehingga ucapannya juga damai, tabiatnya juga damai. Pelenyapan dukkha harus dimulai dari diri manusia. Kemelekatan harus dicopot; orang harus kembali pada tujuan benar, pikiran benar, dan tindakan benar.

Dalam Islam, yang sejati dan hakiki itu hanya Allah. Kerap ditekankan: “berkemul dalam martabat alam zikir jauh jauh jauh jauh jauh jauh jauh lebih mulia daripada memiliki dunia dan segala isinya.” Muslim juga diperintahkan untuk menyederhanakan nafsu, menyederhanakan harta-benda, dan menyederhanakan laku hidup. Sehingga cukup aman untuk berkata bahwa Islam pun mengenal konsep dukkha. Hanya mungkin kurang terlihat karena menggunakan istilah lain, misalnya nafs al-muthma’innah, hubbu al-syahwat, jannah dan nar.

Mungkin juga ajaran dukkha kurang terlihat karena agama Islam disyiarkan dengan titik tekan ubudiyyah/fiqhiyyah, bukan akhlaqiyyah. []

Standar

10 respons untuk ‘Dukkha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s