Tanha

Sembahyang bertujuan untuk menjinakkan hati, agar hati ini tidak banyak kemauan (tanha). Sebab, orang yang sembahyang cuma mau sama Allah. Maka bila sembahyang makin rajin tapi kemauan kita makin kenceng, harus hati-hati. Itu artinya sembahyang kita cuma ampas. Mati kita cuma sebagai pupuk pohon jepun.

Apakah itu artinya berkemauan atawa berkeinginan atawa bercita-cita adalah buruk? Tidak. Justru sebetulnya bagus: kita sembahyang dan meminta langsung pada Allah agar kemauan kita dikabulkan. Itu berarti kita bergantung pada-Nya, dan Allah suka pada hamba yang hanya bergantung kepada-Nya. Tapi ada dua hal yang perlu kita waspadai.

Pertama,

Kita harus selektif dalam berkemauan. Tidak semua mau harus diladeni, sebab tidak semua mau itu baik. Kemauan yang tidak hakiki, yang melanggar norma-norma ilahi, hanya akan membawa seseorang pada penderitaan. Narkoba, seks bebas dan uang haram adalah sedikit contoh.

Tapi kemauan yang sekilas tampak baik dan wajar pun menyimpan potensi penderitaan, dan bersifat lebih halus sehingga dibutuhkan ketelitian dan keberanian untuk menghindarinya. Misalnya, kemauan untuk kaya raya. Motifnya apa? Yang disebut ‘kaya’ itu bagaimana? ‘Layak’ itu seperti apa? Agak mengerikan melihat dosen berusaha berdarah-darah, membungkuk-bungkuk pada pejabat kampus, bahkan hingga rela melakukan kecurangan-kecurangan demi income lebih dan agar bisa membeli mobil—hanya karena sosial metetapkan standar bahwa yang namanya dosen harus punya mobil. Ngeri. Saya melihat pemandangan itu sehari-hari: ilmuan yang tidak kuat pendirian dan kalah dari lambe turah.

Bahkan kemauan untuk hijrah pun bisa diselidiki, apakah kemauan itu didasarkan pada niat murni atau dalam perjalanannya bercampur dengan nafsu. Apakah hijrah itu pada akhirnya hanyalah perpindahan dari satu jenis kesombongan ke jenis kesombongan lain. Pengalaman pribadi: seorang sahabat memutuskan silaturrahim dengan saya hanya karena saya mengunggah puisi Ariel Noah untuk Abu Bakar Ba’asyir sewaktu ia di penjara. Ariel Noah mengagumi Abu Bakar Ba’asyir, tapi sahabat saya tidak mau tahu: baginya, Ariel Noah adalah pendosa. Itu terjadi beberapa bulan setelah ia masuk ke sebuah lembaga dakwah. Entah siapa ustadnya di sana.

Kedua,

Penderitaan karena kemauan akan berimbas bukan saja pada kita, melainkan pada orang lain. Baik kemauan yang tidak baik, maupun kemauan yang dipandang wajar. Hasrat untuk seks bebas yang berujung pada ‘kecelakaan’ akan menyakiti hati keluarga dan merusak nama baik orang tua. Hasrat akan keuntungan dari perkebunan sawit atau megaproyek sirkuit motoGP akan merugikan para pemilik tanah dan sawah yang menjadi korban penggusuran.

Dalam level yang lebih tinggi kita bisa mengambil misal: semua orang mungkin sepakat bahwa kemauan orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah unggulan itu baik dan wajar. Tapi kita harus membedakan antara kemuliaan pendidikan dan nafsu manusia. Niat orang tua mungkin bagus, tapi di sekolah, si anak sangat mungkin mengalami retakan-retakan mental karena menjalani sesuatu yang tidak ia sanggupi/sukai/butuhkan. Belum lagi kita menyelidiki ‘motif sesungguhnya’ dari kemauan orang tua menyekolahkan anak di sekolah unggulan itu.

Dan itu masih satu tema: pendidikan. Belum pernikahan. Belum politik-ekonomi. Belum kebudayaan. Belum ilmu pengetahuan. Belum agama.

Intinya: tidak semua niat baik berujung pada kebaikan. Terutama ketika niat baik itu dipaksakan tanpa mau memahami pihak yang dipaksa. Ketika manusia merasa bisa mengontrol dan mengendalikan sesuatu, yakinlah matanya akan menjadi cukup picik untuk melihat akibat-akibat buruk. Sesederhana itu kelemahan manusia, dan fatal. Namun prihatinnya, manusia merasa dirinyalah ras ter-unggul.

Saya pernah mendebat seorang kakak yang mencoba menasehati saya agar tidak gampang keberatan mengiyakan kemauan masyarakat. Maklum, saya memang terkenal suka protes. Beliau berkata, “kita hidup di dunia ini tidak sendirian.” Tapi menurut saya, justru karena kita hidup tidak sendiri, kita harus mengembangkan sikap saling memahami. Setiap orang punya situasi-khusus, sehingga kita tidak boleh memaksa orang lain berbuat sebagaimana kemauan kita. Kalau prinsip di atas diartikan sebagai saya harus menyenangkan hati semua orang, saya bakal bengkok. Justru masyarakatlah yang harus belajar mengendalikan kemauan. Tahu batas. Lambe juga harus dididik biar beradab. []

Standar

8 respons untuk ‘Tanha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s