Etika Lingkungan Hidup Islami

[tulisan ini adalah serial jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan teman-teman di instagram. Tujuannya untuk memantik saya kembali menulis di blog. tulisan ini menjawab pantikan dari kak ilda karwayu. selamat membaca]

Suka atau tidak suka, kita harus sadar bahwa saat ini kita sedang menghadapi krisis lingkungan hidup―sebuah kerusakan ekosistem berskala planet. Pertanyaannya adalah, apa sebab paling pokok yang mengakibatkan kerusakan itu? Jawabannya menentukan prioritas suatu gerakan lingkungan hidup.

Ada yang bilang, prioritas utama adalah merehabilitasi tubuh lingkungan dan kebiasaan manusia di sekitarnya. Sungai dan pantai yang kotor harus dibersihkan, hutan yang gundul harus ditanami. Manusia harus dibiasakan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Limbah makanan harus dikomposkan, limbah plastik harus diolah agar baharu. Harus ada kampanye dan edukasi ke masyarakat.

Ada yang bilang, prioritas utama adalah melawan industri ekstraktif: industri yang proses produksinya mengandalkan eksploitasi, menghisap terlalu banyak energi, dan menghasilkan limbah. Selain karena sifatnya yang destruktif, industri ini juga sangat kerap mencurangi undang-undang, menyuap pejabat, dan menggusur ruang hidup rakyat. Merekalah yang menghancurkan hutan. Percuma program menanam seribu pohon terus kalau biang keroknya tidak dikalahkan.

Ada yang bilang, prioritas utama adalah mengubah cara pandang kita terhadap alam. Kita ini sudah ratusan tahun dididik untuk berpikir bahwa ras kita, manusia, berkuasa atas alam. Kita dibiasakan untuk berpikir bahwa alam hanyalah bahan baku: manusia boleh mengambil apa saja dan menjadikannya aset untuk memperoleh keuntungan. Manusia terlanjur menempatkan dirinya dan bumi ini dalam sebuah struktur tidak adil: manusia di atas, alam di bawah; manusia pusat, alam pinggiran; manusia bernilai dalam dirinya sendiri, alam bernilai hanya bila ia bermanfaat bagi manusia. Akibatnya: manusia merasa berhak bertingkah apa saja di bentang alam.

Itulah akar dari segala krisis lingkungan hidup hari ini menurut studi ilmu etika lingkungan hidup. Sebab, kelihatannya memang begitu. Hanya manusia yang bisa menebang pohon dan mengubahnya menjadi meja―kemudian menjualnya bersama kipas angin karena udara yang menjadi makin panas. Manusia menebang hutan dan menyulapnya menjadi rumah, lantas sibuk menata halaman rumah agar asri dan sejuk.

Hari ini, manusia mempertontonkan kemampuan mengerikannya mencipta sesuatu. Bumi dipenuhi karya manusia: jajanan instan berbungkus plastik, bising dan asap knalpot kendaraan, limbah pabrik-pabrik di sungai dan tanah, limbah hiburan kembang api di tahun baru. Manusia membangun hotel dan menyerap air tanah sehingga, seperti kasus di jogja, sumur-sumur warga yang telah ratusan tahun mampu menyediakan air bersih secara gratis dan gotong-royong mulai mengering. Manusia disebut berbudaya ketika berorientasi pada konsumsi benda/materi/kuantitas, yang bersifat instan dan bisa dipamerkan. Persoalannya, manusia tidak serta merta menciptakan teknologi atau membangun suatu kebudayaan. Manusia memulai segala sesuatu dari anggapan sederhana, yakni: anggapan tentang posisi manusia di alam. Anggapan tentang posisi tersebut memiliki konsekuensi.

Bila manusia memposisikan dirinya sebagai penguasa alam, sebagai pusat, manusia akan dipenuhi perasaan leluasa untuk berbuat apa saja. Atas nama kreativitas, atas nama insting bertahan hidup, atas nama kebebasan, apapun boleh dilakukan di bentang alam. Bila, seperti banyak kebudayaan kuno nusantara, manusia memposisikan dirinya sebagai pelayan/pelindung bumi, sebagai anak, sebagai abdi yang memahami bahwa alam merupakan jalinan rantai energi yang menyediakan kehidupan sekaligus berpotensi menyediakan bencana bila diperlakukan semena-mena, tingkah laku manusia akan lain.

Intinya: etika lingkungan fokus pada mengubah perilaku dengan cara mengubah cara pandang.

Lalu, bagaimana dengan etika lingkungan hidup islami?

Etika Lingkungan Hidup Islami (ELHI) adalah istilah yang saya gunakan untuk menyebut pandangan Islam tentang posisi manusia di bumi berikut tugas-tugasnya. Setelah meneliti dua tahun lebih lamanya untuk keperluan tesis magister, saya menemukan titik terang bahwa Islam tidak pernah menjadikan manusia sebagai ‘pusat’ semesta. Manusia sama sekali tidak istimewa. Manusia sama sekali tidak dilebihkan derajatnya sebagai penguasa, sebagai sentral wacana, seolah-olah di dunia dan di akhirat hanya ada manusia, hanya ada urusan dan kepentingan manusia, atau hanya ada kedudukan dan kemuliaan bagi manusia.

Memang manusia adalah khalifatullah fil ardh, tapi kata khalifah di situ tidak untuk serta-merta diterjemahkan sebagai ‘wakil Allah yang berkuasa di bumi’ dan boleh sewenang-wenang. Khalifah sesungguhnya adalah ‘pelayan’, ‘kaki tangan’, ‘abdi’, yang diperbantukan oleh Allah untuk meneruskan kerja-kerja keilahian. Apa saja kerja-kerja keilahian itu? Salah satunya memberi rizki bagi seluruh makhluk hidup. Allah mengamanahi manusia untuk memastikan rizki terdistribusi dengan baik. Rizki untuk sesama manusia tidak diserobot dengan serakah, rizki untuk hewan-hewan dan tumbuhan juga tidak diganyang. Rizki itu apa saja? Bukan cuma pangan, tapi hak hidup, hak bertempat tinggal sesuai habitat, dan hak untuk bertingkah laku sesuai kodrat. Kalau ayam kodratnya bergerak bebas ke sana ke mari, ya jangan dikurung sempit atas nama industri. Itu tugas manusia, sebab di dunia ini makhluk Allah bukan cuma manusia.

Memang Allah melebihkan derajat adam di atas malaikat, dan menyempurnakan bentuk lahirnya, namun tetap saja itu bukan indikasi bahwa manusia berhak sewenang-wenang. Kelebihan manusia hanya alat bagi manusia untuk memenuhi tugas tuhannya, yakni sebagai khalifatullah fil ardh dalam pengertian di atas. Derajat manusia juga bisa jatuh lebih rendah dari setan ketika ia menjadi budak setan, budak nafsu, yang membutakannya dari aturan-aturan Allah. Ya, dalam Islam, manusia dibatasi oleh sejumlah tuntutan. Manusia tidak boleh berbuat kerusakan di bumi: kerusakan pada diri sendiri (mengkonsumsi makanan yang tidak sehat, bekerja terlalu keras hingga jatuh sakit), kerusakan pada sesama manusia (mencuri, menghina, menyakiti jasad dan perasaan), kerusakan pada sesama makhluk (menyiksa hewan, menebang hutan, mengotori sungai, mencemari udara).

Manusia mulia ketika menjaga lingkungan. Manusia hina ketika merusak lingkungan. Nabi berwasiat, bumi adalah masjid. Ia suci, ia harus dipelihara dan dimakmurkan. Bukan dirusak. Saya percaya, syariat Islam pada pokoknya mendidik manusia untuk tidak melampaui batas. Puasa membuat kita membatasi konsumsi berikut limbahnya; zakat membuat kita membatasi nafsu kepemilikan berikut siksa batin karenanya; salat membatasi kita dari kesombongan, karena orang yang salat hanya membesarkan Allah, bukan dirinya sendiri atau manusia lain (orang yang salat tapi membesarkan selain Allah salatnya bermasalah). Perilaku ‘membatasi diri’ adalah perilaku ekologis. Hewan-hewan mengambil secukupnya, dan membuang secukupnya. Itu perilaku puasa yang sangat hebat. Zakat juga bisa ekologis, sebab kita membatasi kepemilikan yang menjadikan kita harus terus merambah-rambah lingkungan. Kebutuhan kita akan koleksi mainan plastik memancing industri plastik terus menerus berproduksi dan mengeksploitasi bumi. Kemampuan finansial kita alangkah baiknya dialihkan untuk kebudayaan humanis atau program penghijauan.

So, secara garis besar, itulah cakupan-cakupan wacana ELHI. []

Standar

5 respons untuk ‘Etika Lingkungan Hidup Islami

  1. Teori malthusian – neo malthusian, menunnjukkan kekhawatiran dengan beranggapan bahwa bumi tidak lagi sanggup menanggung kehidupan manusia yang seperti deret ukur, sedang ketersediaan bahan baku dialam seperti deret hitung, kemudian yang saya tangkap bang, bahwa akan tidak cukup dan selalu tidak cukup apabila memang manusia ini diposisikan sebagai mahluk yang mempunyai kesewenangan bertindak. Namun, kalau memahami garis besar etika lingkungan berdasarkan Islam sebagai cara hidup dan berkehidupan, seakan menjadi solusi ideal terbaik yang muncul, tetapi lagi lagi agaknya memang menjadi kerja keras tiap individu untuk mulai sadar secara pribadi, sehingga kemudian bergerak dalam sebuah satu kesatuan yang utuh (komunitas)
    Terima kasih Bang Ical saya ikut membagikan supaya mengerti garis besarnya 🙂

    • justru karena ajaran islam itu ‘ideal’, ia malah dekat ke ‘utopis’, hanya bisa diangan-angankan semua individu muslim menerapkannya secara purna dengan kesadaran ekologis. manusia modern tidak beridentitas satu macam; selain identitas agama, ada identitas kenegaraan, kesukuan dan kebudayaan tertentu yang melekat pada dirinya. manusia modern menimbang baik buruk sesuatu berdasarkan banyak sense, bukan semata dari rahim agama. maka manusia menganggap wajar makan-makan di restoran sebagai kebudayaan modern, meski tahu restoran salah satu penyumbang limbah dapur dan ‘budaya meja makan’ di restoran kerap pula menghasilkan limbah sisa makanan. mereka menganggap daging ayam tetap halal, meski ayam yang ia makan hidupnya telah dikebiri industri. itu karena cara berpikir mereka tidak murni dikendalikan nalar islami-ekologis 🙂

      terima kasih, mas adi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s