Kewajiban Untuk Saling Mengerti

[tulisan ini adalah serial jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan teman-teman di instagram. Tujuannya untuk memantik saya kembali menulis di blog. tulisan ini menjawab pantikan dari Kakanda Rozak. selamat membaca]

I

Memang wajar bila kita, umat Islam abad ini, menghela napas kala menengok kualitas umat Islam di masa-masa awal, terutama ketika Nabi Saw. masih hidup. Terlalu banyak kisah keunggulan di dalamnya. Salah satunya kisah berikut.

Suatu ketika Nabi Saw. lapar dan beliau sedang berada di kamar salah satu istrinya. Nabi Saw. bertanya, adakah sesuatu yang bisa dimakan hari ini? Sang istri menggeleng lemah, tersenyum, tidak ada yang bisa diberikan pada suaminya sebagai bentuk pelayanan. Alih-alih marah, Nabi Saw. berkata, maka aku akan berpuasa hari ini.

Betapa Nabi dan istri-istrinya bersikap saling ikhlas, saling sabar, dan saling syukur. Betapa mereka sadar bahwa diberi kesempatan untuk berkasih-sayang dan berbuat baik sudah termasuk rizki yang sangat berharga. Urusan perut itu jasadi sekali. Sangat duniawi. Nomor sekian.

Tapi andai teladan Nabi Saw. tersebut diterapkan hari ini, rupanya membuat beberapa lelaki merasa kuatir. Sebab mungkin istrinya akan protes begini: “Di dapur ndak ada apa-apa, Mas. Yang bertugas nafkahi aku kan kamu. Ya kamu cari, dong, rizki untuk kita berdua. Malah puasa. Aku juga laper nih 😥 ”

Nah, lho.

Bukan maksud saya untuk bilang perempuan muslim kiwari sudah tidak berkualitas. Itu bukan penjelasan tunggal. Sebab lain adalah pergeseran budaya dan nilai, serta kondisi manusia hari ini, dan perubahan semacam itu sah adanya. Bagi saya pribadi, protes semacam itu sangat wajar. Officially, memang suami yang bertugas mencari nafkah dan bertanggungjawab membuat dapur tetap ngebul. Tapi culturally, tidak harus demikian. Manusia tetap bisa melatih diri meneladani Nabi dan istrinya.

Mungkin, mengatakan “perubahan semacam itu sah adanya” akan membuat sebagian orang heran. Mana bisa dibiarkan teladan nabi ditinggalkan? Tapi sekali lagi, saya melihat kehidupan Nabi Saw. dari kacamata kewajaran. Saking manusiawinya, bahkan istri-istri Nabi Saw. pun pernah ‘protes’.

Coba perhatikan surat al-Ahzab: 28-29. Ayat itu adalah catatan sejarah bahwa istri-istri Nabi Saw. pernah meminta ‘kenaikan nafkah’. Waktu itu, umat Islam baru menaklukkan pengkhianat aliansi, yakni Bani Quraizhah. Tentu ada banyak harta rampasan perang. Berita itu tersebar sampai ke istri-istri Nabi Saw. dan mungkin membuat mereka berangan-angan mendapat sutera dan emas. Namun tidak: Nabi Saw. membagi harta rampasan perang itu pada rakyat kecil (baca: distribusi kesejahteraan). Rupanya para istri kecewa sehingga mereka protes. Nabi Saw. mendiamkan mereka selama satu bulan, sampai akhirnya turunlah surat al-Ahzab: 28-29 yang meminta para istri Nabi Saw. untuk memilih: (1) apakah diberi mut’ah lalu diceraikan, (2) ataukah tetap setia pada Allah dan rasul-Nya dengan ganjaran kenikmatan akhirat.

Rasa tidak tahan lapar adalah kondisi yang sangat manusiawi, terutama bagi generasi manusia yang tidak merasakan zaman sulit dan hidup yang menuntut kesabaran luar biasa serta kerja keras, layaknya generasi yang dibesarkan 50 tahun yang lalu ke belakang. Laki dan perempuan, sama, tidak ada bedanya, kita semua mengalami krisis ketahanan untuk menderita. Maka mengeluh bila terpaksa lapar beberapa jam itu wajar.

II

Suami punya hak dan kewajiban. Istri juga demikian. Tapi saya kira, kehidupan pernikahan tidak akan manis bila terlalu saklek pada aturan. Kehidupan pernikahan itu dinamis, dan kuncinya cuma satu: kesaling-mengertian.

Saya belum meneliti, tapi saya jarang mendapati riwayat tentang mata pencaharian Nabi Saw. setelah beliau diangkat menjadi nabi. Beliau, kan, seorang “aktivis”. Siang malam dipakai untuk membangun masyarakat, memperkuat sendi moral religiusnya, membangkitkan ekonominya, menyiapkan sistem sosialnya; agar masyarakat Islam hidup dengan gotong royong, hidup dengan isi dan bukan bentuk; agar masyarakat jauh dari mental korup, jauh dari wajah ketidakadilan, jauh dari makar dan celaka. Literally siang malam beliau membina masyarakat. Kapan beliau bekerja dan bagaimana beliau menafkahi istri-istrinya?

Saya cuma tahu sedikit, bahwa di masa-masa awal kenabian, Nabi Saw. masih berdagang dan beternak, namun setelah hijrah saya tidak tahu apakah beliau masih berdagang atau tidak. Beliau mendapatkan sedikit bagian dari rampasan perang, sekitar seperlima, sebab beliau adalah seorang pemimpin masyarakat (raja, dalam pengertian tertentu), yang 1400 tahun lalu memiliki kedudukan kuat dan terhormat. Nabi Saw. dibuatkan rumah (yang sebetulnya suma sebuah bilik jelek dan sempit) dan sering menerima hadiah berupa logam mulia dan sutera dari para raja dan pembesar di jazirah Arab hingga semenanjung Afrika.

Tapi pemberian itu tidak selalu terjadi (buktinya, beliau sering lapar), dan bila pun ada pemberian, kegemaran beliau bersedekah membuat harta-harta itu selalu nyaris tidak tersisa. Pernah beliau mendapat banyak dinar (uang emas), namun beliau bagikan ke rakyat miskin sampai tersisa tujuh dinar. Enam dinarnya beliau bagikan ke istri-istrinya, dan satu dinar disimpan untuk membayar utang (ya, beliau Nabi dan berutang saking zuhudnya). Namun beliau tidak bisa tidur lantaran sangat kuatir istri-istrinya akan terlena oleh dunia. Beliau perintahkan istri-istrinya menyedekahkan dinar itu. Barulah beliau bisa tidur nyenyak.

Siapakah perempuan yang tahan bersuamikan orang yang menghibahkan hampir seluruh waktu dan tenaganya di jalan Allah―dan waktu yang tersisa harus digilir pula dengan istri-istri lainnya? Bukan saja perempuan itu punya hati yang tabah dan jembar, namun pengertiannya juga harus mendalam. Istri harus mengerti kondisi suami, dan suami harus mampu memberikan nafkah dalam cakupan yang luas: nafkah perut, nafkah otak, nafkah hati, dan nafkah lain-lain. Saya kira, Nabi Saw. juga demikian.

Standar

2 respons untuk ‘Kewajiban Untuk Saling Mengerti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s