Memaknai Ulang dan Memperluas Cakupan Green Jobs

Sebelum memilih bergelut di pekerjaan-pekerjaan ramah lingkungan (green jobs), atau sebelum memilih beralih ke sana (bila kebetulan tengah bekerja di usual jobs), kita harus memikirkan ulang makna green terlebih dahulu. Bukan untuk mematahkan semangat, tentunya, tapi justru agar pilihan kita menekuni pekerjaan-pekerjaan ramah lingkungan semakin mantap. Kita tidak mudah goyah di perjalanan bila kita berangkat dengan berbekal pemahaman yang kukuh.

Mari kita kembali ke gagasan dasar.

Green sudah menjadi istilah yang merujuk pada “sistem lingkungan hidup”. Kita tinggal di sebuah planet yang terikat dengan hukum-hukum alam tertentu, yang ketat sekaligus rentan. Disebut ketat karena hukum alam itu bernuansa sebab akibat mutlak. Rentan, karena sebab yang buruk dapat menghasilkan akibat yang celaka. Rekayasa kecil terhadap satu unsur di planet bumi akan memengaruhi unsur lain. Tebanglah pohon, udara akan terasa gerah; gundulilah hutan, banjir akan menjadi kepastian.

Bila rekayasa itu dilakukan bersamaan oleh miliaran orang, dengan intensitas yang terlalu sambung menyambung, dan secara besar-besaran, maka bumi akan kehilangan keseimbangannya, tidak memiliki kesempatan untuk recovery. Akibatnya bukan saja pada manusia, melainkan pada seluruh makhluk hidup, yakni bencana ekologis skala planet: perubahan iklim, krisis air bersih, tipisnya ozon, hilangnya keanekaragaman hayati, pengasaman air laut, limbah plastik, dll.

Akar Krisis Lingkungan Hidup

Hari ini, pekerjaan-pekerjaan manusia, baik di Indonesia maupun di negara lain, terhubung dengan hukum sebab akibat yang mengarah pada bencana ekologis itu. Kita melakukannya secara bersamaan, terus-menerus, dan masif. Perusak lingkungan bukan hanya para penambang emas artisanal-ilegal yang menggunakan merkuri; industri tambang emas legal yang izin operasionalnya didapatkan dari kecurangan politik, yang daya jamah produksinya bisa melubangi gunung, juga merupakan jenis pekerjaan tidak ramah lingkungan.

Protokol kenegaraan kita, hingga lokus terendah, kerapkali tidak berprinsip hemat energi―terlalu banyak kemubaziran demi citra politis. Kebutuhan harian hotel atas air yang cukup besar dan penggunaan mesin bor untuk memenuhi kebutuhan itu dapat merampas cadangan air tanah suatu daerah dan menyebabkan krisis air. Makelar tanah, dalam sudut pandang tertentu, juga bisa disebut sebagai jenis pekerjaan tidak ramah lingkungan, karena tanah dalam benak makelar hanyalah properti ekonomis yang bisa diperjual-belikan tanpa perlu dipusingkan tanah itu akan disulap menjadi bangunan dan semakin memperparah kasus alih fungsi lahan. Bila ditelaah lebih lanjut, tentu akan panjang sekali. Tapi setiap pekerjaan manusia modern berpotensi menyumbang satu langkah baru menuju bencana ekologis berskala planet.

Pertanyaannya, mengapa bisa begitu?

Kita hidup di alam modern yang ditandai sedikitnya oleh dua ciri utama: globalisasi dan industrialisasi. Globalisasi mempertemukan masyarakat dalam persaingan pasar, sedangkan industrialisasi mendorong masyarakat mengejar pertumbuhan. Mereka yang dikagumi adalah mereka yang memiliki kemakmuran dan kemasyhuran. Siapa cepat, dia dapat; generasi baru mempelajari mentalitas baru. Masyarakat kita melihat alam dengan kacamata ekonomis semata: alam adalah uang, dan uang bisa membeli semuanya. Dengan falsafah itu, manusia melakukan eksploitasi. Bahaya semakin besar ketika yang melakukan eksploitasi adalah pemain besar yang punya alat produksi raksasa―yang didukung oleh kolusi oknum-oknum pejabat negara.

Bayangkan bila eksploitasi besar-besaran itu terjadi setiap hari, tanpa henti, di berbagai tempat, untuk menyokong kepentingan berlanjutnya industri yang berbeda-beda: minyak, listrik, mineral, properti, transportasi, kertas, pangan, hospitality, hiburan, dll. Di sisi lain, produksi skala besar itu tetap langgeng karena manusia modern tidak bisa berhenti berkonsumsi. Hari ini hampir semua kebutuhan manusia didapatkan dengan cara membeli, dan konsumsi itu berorientasi limbah: kemasan, sisa makanan, produk rusak/tak terpakai, dll. Semua itu, sekali lagi, demi memenuhi standar nilai manusia modern: kecepatan, pertumbuhan, dan kepemilikan.

Green Job Sebagai Jalan Keluar

Kita masih punya jalan keluar. Kata kunci dari harapan ini adalah “kembali”. Untuk mengatasi akar masalah di atas, kita harus kembali ke cara hidup orang-orang lama: hidup apa adanya, berlaku ikhlas, tidak mencoba mengungguli siapa-siapa, tidak menjatuhkan siapa-siapa, dan tidak perlu silau oleh apapun. Kita harus kembali menyederhanakan makan, menyederhanakan gerak, menyederhanakan hasrat. Globalisation dihadapkan dengan slowbalisation; growth dihadang dengan degrowth; owning diganti dengan being; power diubah menjadi love.

Maka pekerjaan ramah lingkungan, atau green job, adalah pekerjaan apapun yang menganut prinsip-prinsip tersebut di atas. Kita berharap pada sebuah kondisi di mana kita bekerja dengan senang hati, dengan berpegang teguh pada etika lingkungan hidup. Kita mengerjakan sesuatu dengan tidak didorong oleh nafsu mendapati kapital kita bertumbuh lebih dan lebih besar; kita tidak terburu-buru karena kita sendiri sudah menyederhanakan banyak hal dalam kehidupan kita. Eksploitasi, monopoli, over-production, limbah, tidak perlu terjadi dengan terlalu semarak. Sebab kita tidak bergantung pada industri sentralistik. Kita kembali pada industri kecil-desentralistik, di mana masyarakat bisa berproduksi sendiri dan berkonsumsi dengan sederhana.

Beberapa green jobs yang bisa dilakoni oleh generasi milenial adalah ekoturisme dengan prinsip konservasi dan edukasi lingkungan hidup yang ketat sekaligus kreatif, yang tidak tunduk sepenuhnya pada logika pasar dan kelatahan tren. Kita juga memerlukan jasa konsultasi pembangunan ramah lingkungan: sekolah, masjid, kedai, karena sampai saat ini kebutuhan kita pada pembangunan masih tinggi sedangkan keperluan kita menjaga lingkungan hidup juga semakin mendesak. Konsultan pembangunan ramah lingkungan bisa menjembatani dua keperluan tersebut.

Kita juga berkepentingan untuk membangun ketahanan pangan; anak muda harus memulai urban farming dan belajar memasok kebutuhan pangan sehat masyarakat lewat bisnis pertanian. Anak-anak muda potensial bahkan bisa membangun sekolah hijau: sebuah sekolah alternatif yang memadukan kurikulum nasional dan kurikulum lingkungan hidup. []

Standar

12 respons untuk ‘Memaknai Ulang dan Memperluas Cakupan Green Jobs

  1. Taufik Mawardi berkata:

    Wah mantap bang, saya suka sekali membaca tulusan2 bang ical, sy kutip kalimat “tunduk sepenuhnya pada logika pasar dan kelatahan tren” ini semoga mengingatkna kita yang membaca. O iya bang ical ngomong2 tulisan ini spiritnya sama dengan album baru kampoeng baca pelangi “jaga alam” hehehe

    • wah, terima kasih banyak, pik ☺️ saya masih setia menunggu album “jaga alam” itu dilaunching. itu lagu-lagu karya gerakan literasi yang paling keren yang pernah saya dengar!

      • Johan Rahmatulloh berkata:

        Tulisannya keren. Generasi millenial harus berani mencoba. Disamping itu harus ada kekuatan suporting atau political will pemerintah. Terutama dalam konsep urban framing. Jika ditelusuri kembali memang ada yang berhasil dan ada yang belum karena persoalan akses pasar untuk menjual hasil urban framing. Kehadiran pemerintah utk memfasilitasi dan memberikan ruang pasar yang pasti wajib dilakukan. Sebab untuk mengkonsumsi bahan hasil urban framing harus diakui cukup menguras kantong karena prosesnya tanpa pestisida dan hasilnya lebih sehat.

      • betul, abang. dukungan dari politik dan penguasa memang harus ada. terutama berupa kebijakan yang menciptakan pasar sehat dan menjaga pasar dari dominasi kaum berduit. juga, agar ruang terbuka hijau tidak digasap oleh pemodal-pembangun. harapannya politisi tidak mudah memberi izin pembangunan dan harus punya green-scheme of development ☺️

  2. Emalia Susanti berkata:

    suka sekali dengan prinsip-prinsip “kembali” terutama bagian “…power digant love”. Ah, baca tulisan ini bikin menghayal jadi homesteeder 🙂

    • terima kasih banyak emalia ☺️ entah adek masuk golongan on-going atau going-to, adek sekeluarga sudah punya modal banyak untuk mulai meraba green jobs. semangat! ☺️

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s