Branding

Kemarin pagi hingga siang, Ashila, salah satu peneliti di Akademi Gajah, datang membersihkan markas. Setelah ia nyapu dan ngepel, dan setelah saya cabut rumput di halaman, kami duduk dan ngobrol panjang. Salah satu obrolan kami adalah tentang “branding”. Kita ingin dikenali dan dipahami sebagai apa/siapa? Kita ingin orang lain melihat kita bagaimana?

Ada dua macam branding, sekurang-kurangnya, yaitu personal branding dan professional branding.

Personal branding berkaitan dengan kepribadian kita. Apakah kita ingin dikenal sebagai orang yang tekun dan disiplin, ataukah sebagai pemalas yang mudah menyerah? Dengan kata lain, ini terkait dengan mentalitas kita, etos kita, dan kualitas kita sebagai individu: jujur, sabar, teliti, tekun, tabah, tahan banting, kritis, santun, tegas, tenang, dll, atau sebaliknya. Kepribadian kita menentukan apakah kita dapat dipercaya, disenangi dan diandalkan di dunia sosial dan di dunia kerja.

Professional branding berkenaan dengan keahlian dan karir kita di suatu bidang. Selama ini kita identik sebagai apa/siapa? Peneliti Akademi Gajah, Rajeski Gena, identik dengan musik. Ia ahli membuat alat-alat musik sendiri. Peneliti Akademi Gajah lain, Bang Iwan, identik dengan sastra. Ia adalah penyair yang menulis puisi dan membacakannya di panggung-panggung. Ia pembaca sastra yang getol. Saya sendiri identik dengan ….. banyak hal. Orang tahu saya cakap menulis, cukup fasih dalam topik keagamaan, lingkungan hidup, pemikiran dan sejarah kebudayaan. Saya banyak menulis tentang itu. Professional Branding terbentuk dari karya kita, dari kemampuan kita, yang kita perkenalkan ke khalayak.

Personal Branding itu penting, tapi yang kita lakukan bukanlah berlihai-lihai mempermanis sikap agar orang lain terpesona. Itu namanya membohongi diri sendiri dan orang lain. Personal branding adalah seni berjuang mengubah diri. Hasil dari perjuangan kita membenahi kepribadian kita itulah yang akan dikenang orang lain. Kita harus berjuang; membangun kepribadian itu tidak ada jalan pintasnya.

Professional branding juga penting untuk karir. Seperti kita tahu, ada beda antara pekerjaan dan karir. Pekerjaan itu spesifik, kerja yang sedang kita jalani. Sedangkan karir adalah “bidang-bidang keahlian kita yang kita maksudkan menjadi pintu rizki kita.” Misalnya, karir saya ada di dunia pendidikan dan dunia tulis menulis. Berbagai pekerjaan untuk saya datang dari karir itu: mengajar di sini dan di situ, menjadi pembicara di sini dan di situ, menulis ini dan itu, mengedit naskah ini dan itu. Nyaris semua pekerjaan saya datang tanpa saya minta. Orang datang pada saya saat mereka butuh. Itu karena professional branding saya konsisten. Orang tidak bingung tentang sebetulnya saya ini ahli di bidang apa.

Ada orang yang sangat getol melakukan branding diri. Ada yang sebaliknya: tidak ingin “terlihat”, ingin menjadi bukan siapa-siapa karena idealisme tertentu. Menurut saya, kita bisa melakukan keduanya bersamaan. Meniti karir itu sah, bila karir itu dikaitkan dengan urusan ilmu dan keahlian kita, atau kesempurnaan kita sebagai manusia yang berkarya. Lain halnya dengan nafsu mengejar kerja dan uang, kegilaan terhadap harta dan jabatan namun buta keahlian. Tipe orang semacam ini pada akhirnya seringkali cuma bisa mengandalkan nepotisme, tapi kalau kerja kurang becus. Saya kira, sepanjang kita benar memiliki kapasitas, sepanjang kita tidak berusaha menjatuhkan orang lain, dan sepanjang kita tidak “melak” (serakah, rakus, cuma fokus mengangkat diri alih-alih menempa diri), maka professional branding tetap sah dikakukan.

Prinsipnya sama, kok: professional branding ini sama sekali tidak bertujuan untuk memesona pihak lain agar kita diberi pekerjaan. Melainkan cara kita menempa diri, berlatih dan bekerja keras menjadi ahli pada suatu bidang; cukup ahli sampai orang-orang akan mencari kita ketika mereka membutuhkan bantuan dalam bidang kita. Adalah wajar untuk membiarkan orang lain tahu keahlian kita, entah dari mulut ke mulut (soft branding, lambat, senyap), entah dengan cara diumumkan ke khalayak; dan adalah wajar bagi kita untuk memperkenalkan karya kita ke khalayak. Itu penghargaan kita terhadap karya kita sendiri. Itulah kebanggan seorang seniman, bukan riya’.

Ashila saya dorong menekuni sastra anak sebagai Professional Branding. Artinya, ia harus punya wawasan yang cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar: apa itu sastra anak, bagaimana cara kerjanya, apa contoh-contohnya, bagaimana membuatnya, bagaimana anak dibiasakan mengenali dan menyenangi sastra, dll. Untuk meraih itu Ashila harus punya ketekunan belajar/berkarya dan keberanian untuk memperkenalkan pikiran/karyanya ke khalayak.

Standar

8 respons untuk ‘Branding

    • Aku .. ndak tahu kakak cocoknya personal dan professional branding gimana dan dalam hal apa. Tapi, dari blog kakak, dari cara kakak menggambarkan sesuatu, tampak seperti kakak punya ketelitian dan detail. Biasanya ini kekhasan seorang pemikir; mungkin juga karena kakak punya pengalaman membaca yang cukup banyak ☺️ Maafkan mataku yang terbatas 🤭

  1. professional branding tidak selalu berkaitan dg profesi sebenarnya kan bang? sy hampir tdk pernah mengungkap profesi sy sebenarnya di medsos, apakah it berarti sy tdk bs memanfaatkannya sebagai kesempatan berkarir?

    • bener, ing, professional branding itu ndak selalu berkaitan dengan kerjaan yang kita lakukan saat ini. Dan itu tergantung kita, ing, apakah kita membranding cukup lewat mulut ke mulut atau sampai diumbad lewat media sosial ☺️

  2. Menarik nih gimana Bang Ical memaknai Personal Branding. Saya setuju sih personal branding lebih baik dijadikan ajang berbenah dan upgrade diri alih-alih membohongi diri. Terlebih kalau mindsetnya untuk upgrade diri, keinginan untuk terus belajarnnya jadi ga pernah habis 😃

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s