Penyunting Naskah

Sudah sejak bulan September 2020 saya melakoni profesi sebagai editor lepas.

Sebetulnya, kegiatan menyunting naskah sudah lama saya lakoni, tapi sifatnya sukarela, biasanya untuk membantu kawan. Pengetahuan saya tentang bahasa Indonesia terbatas, sense menulis saya juga tidak terlalu bagus. Saya baru mulai giat mempelajari bahasa Indonesia dan berusaha menajamkan sense menulis saya pada tahun 2017, setelah kumpulan cerpen “Gerimis di Atas Kertas” terbit. Setelah beberapa tahun, akhirnya saya mulai berani menerima tawaran menyunting naskah dari beberapa kawan.

Mulanya naskah sederhana saja, kumpulan esai ringan dan pendek yang hendak diterbitkan secara self-publishing. Ada juga yang minta dieditkan naskahnya untuk keperluan lomba. Saya tidak menentukan tarif, tidak pula mengatakan bahwa saya ingin bayaran. Mereka, entah bagaimana, menawari saya sejumlah kompensasi. Tidak banyak, tapi itulah momen-momen pertama saya mendapatkan uang dari kegiatan menyunting naskah.

Pada bulan Desember, saya menyunting naskah kumpulan esai reflektif dari seorang Doktor di Universitas Muhammadiyah Malang. Tantangan pertama saya menyunting naskah secara profesional muncul di sini: untuk pertama kalinya, hasil suntingan saya dikeberatani. Menurut pemilik naskah, gaya menulisnya jadi hilang. Jujur saja, saya menerima naskah yang sangat berantakan. Struktur berbagai kalimat dalam tulisan beliau begitu buruk sehingga memang harus dirombak total di banyak bagian. Bagi saya, gaya menulis itu nomer dua, terutama setelah struktur kalimat dalam tulisan kita tepat. Tapi beliau bersikukuh ingin dieditkan sebatas typografinya saja—yang sama berserakannya. Akhirnya, ya, sudahlah. Tapi, jujur, saya sangat belajar banyak dari pengalaman yang satu ini.

Saat ini saya sedang mengerjakan naskah-naskah dari guru saya sendiri, Pak Pradana Boy ZTF, Ph.D.

Saya memanggil beliau “Pak Prof”, orang Lamongan lulusan ANU dan NUS. Seperti Habibie: beliau kecil tapi otak semua. Pak Boy adalah peneliti di berbagai organisasi internasional, seorang pakar dalam pemikiran Islam kontemporer Asia Tenggara. Beliau banyak mendidik kami berliterasi tradisional (literasi yang serius: baca buku, berdiskusi, menulis), bersedia membuka rumah dan perpustakaannya sebagai markas anak muda, bahkan memberi kami makan kalau kami tidak punya uang.

Pak Prof. meminta saya menyunting naskah-naskah beliau yang berserakan selama beberapa tahun belakangan. Dikiriminya saya semua naskah itu. Ada ratusan. Setelah saya pilah-pilah, kemungkinan semuanya akan jadi 4-5 buku, atau 6 buku. Saya sedang menyunting naskah perjalanan beliau ke berbagai negara. Sembari menyunting, sembari membaca. Hal-hal kecil tapi penting, seperti logika suatu uraian yang membingungkan, lekas saya tanyakan. Pak Boy setuju dengan perbaikan-perbaikan saya berdasarkan interpretasi yang masih dalam koridor maksud uraian.

Semuanya terasa lebih mudah karena Pak Boy sejak mulanya memang penulis yang andal. Tulisanya apik. Kultur wacana kami juga sama sehingga saya mudah mengikuti isi tulisan beliau. Alhamdulillah.

Apakah saya akan tetap menjadi penyunting profesional dan menerima bayaran? Ya. Ternyata asyik juga, dapat kompensasi yang layak dari berlama-lama duduk, menatap layar laptop, dan gusar memikirkan tepat tidaknya bagian tertentu dalam naskah itu diubah. Tapi saya tetap mengerti betul kapan saya tidak boleh mengambil untung dari kegiatan literasi. Batas-batas itu selalu saya pegang. Kapan-kapan akan saya tulis.

Standar

10 respons untuk ‘Penyunting Naskah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s