Teacher’s Diary dan Jalan Sunyi

Film “Teacher’s Diary” adalah salah satu film yang paling gani rasa dan bernas. Setidak-tidaknya menurutku.

Film adalah hasil sulingan jitu dari banyak aspek: daya kreatif para pengambil gambar, karakter yang dibangun oleh aktor,  kehalusan dan kejutan alur cerita, kekuatan dialog di dalam skrip. Bila semua itu diramu dengan baik dalam sebuah film, maka sebagai penonton perhatianku bisa sepenuhnya dirampas; pikiranku bisa terganggu oleh cadas gelisah bahkan hingga berminggu-minggu setelahnya; dan seakan sekujur punggungku meremang saat pengetahuan demi pengetahuan dari masa silam menemukan benang merahnya, terajut menjadi sebuah kesadaran. Itulah yang selalu kusebut sebagai moment of enlightment—saat di mana kejernihan menyambar-nyambar.

Tidak banyak film yang pernah memberiku pengalaman tak terperi semacam itu. “Three Idiots”, misalnya, pernah hingga membuatku mundur dari fakultas teknik dan mengulang kuliah di fakultas agama. “Children of Heaven”, sejak menontonnya di bangku sekolah dasar, film ini masih membekaskan satu pelajaran hebat bahwa perjuangan yang tulus jauh lebih bernilai dari sekadar mendapat juara satu. “The Man from Earth”, yang direkomendasikan Ust. Hilal, memberi gegar yang lebih gila lagi. Gegar itu akan kutuangkan di blog ini lain hari saja.

Adapun “Teacher’s Diary” memberiku petualangan yang berbeda. Aroma cinta yang sangat berkelas begitu pekat kuhidu di sepanjang film. Ini adalah kualitas cinta yang hebat dan biasanya dimiliki oleh mereka yang hidup di masa ketika gadget dan media sosial belum merusak keintiman. Sayang sekali, di kisahnya yang asli, asmara antara Pak Song dan Bu Ann tidak ada.

Ya, film ini berangkat dari kisah nyata. Sosok mantan pegulat yang dikirim mengajar ke sekolah terapung itu memang ada. Situasi pelik yang dihadapi guru tersebut, serta eksperimen belajar yang ia terapkan, sama seperti yang digambarkan dalam film. Hanya saja, di kisah aslinya, ia akhirnya memutuskan untuk mengajar di sana selamanya. Kini sudah lebih dari 8 tahun ia menjadi guru di sekolah terapung. Nama guru teladan itu Samart Suta, nama sekolah itu adalah Ban Ko Jad San, terletak di pinggir-jauh danau Mae Ping, Thailand. Samart Suta pernah dianugerahi penghargaan sebagai pendidik inspiratif. Ia menyita perhatian internasional. Adapun asmara antara Pak Song dan Bu Ann itu fiktif, dikarang untuk pasar.

Banyak orang yang tersihir hanya oleh kisah cinta Pak Song dan Bu Ann. Namun film ini menyembunyikan hal-hal yang jauh lebih megah. Aku ingin membaginya padamu.

***

Film ini membawaku pada pengalaman yang berkali-kali, yakni saat aku menjadi orang asing di keluarga besarku sendiri. Aku terasing karena memikirkan, meyakini, dan mencoba menjalani hidup dengan cara yang sama sekali tidak dapat mereka pahami. Padahal aku sudah berbicara dengan bahasa yang sama-sama kami mengerti. Padahal aku sudah menjelaskan dengan sangat baik. Tapi begitu asingnya pemikiranku, sehingga bahasa gagal menjembataninya.

“Aku memilih menikmati hidup ini, wahai ayahnda, pamanda, bibinda, kakanda. Memilih mengisinya dengan kebahagiaan, dengan hati yang penuh rasa syukur dan cinta. Detik demi detik sangat berharga untuk dilewakan dengan kesemuan. Maka aku tidak berkejaran untuk mendapat ranking satu; aku tidak bersaing untuk menjadi pegawai negeri; aku tidak berkompetisi untuk menikah lebih dahulu; alih-alih bersikeras agar bisa segera punya anak, aku memilih menata keseimbangan jiwaku, agar kelak bila aku punya anak, anakku mendapati ayahnya seorang penyabar, seorang pembelajar, seorang yang tidak menggunting bakat, yang tidak menggantung harap, yang tidak mendikte. Aku, wahai ayahanda, pamanda, bibinda, kakanda, memilih untuk tidak tersuruk-suruk mengikuti gengsi yang dihembus-hembuskan dunia ini dari mulut orang-orang.”

Seusai kukatakan semua itu dengan sejelas-jelasnya, kudapati wajah-wajah yang tersangat-sangat tidak memahami. Dinding, ada dinding yang terlampau tebal di antara kami. Ide yang kubawa tidak pernah mereka temukan bekerja di kenyataan mereka. Mereka melihat: di kantor-kantor, orang saling bertega hati; di sekolah-sekolah, para murid enggan saling menolong dan membela; di sekitar tukang sayur, ibu-ibu saling membandingkan pencapaian keluarga, saling hasut agar mereka diikuti; di tengah kopi yang dibuatkan istri yang kelelahan, tengah malam bapak-bapak saling membanggakan kepatuhan keluarga―kepatuhan yang tumbuh dari teror.

Keluarga besarku itu tidak mengenal pemikiranku sama sekali! Wajah mereka seperti orang yang tidak punya banyak pilihan dalam hidup, kecuali untuk terus terseret arus. Bagi mereka, mungkin hidup normal adalah berbasa-basi dan mampu meladeni basa-basi; hidup normal adalah mengoleksi rasa puas dan pengakuan karena mampu menyesuaikan diri dengan basa-basi masyarakat; hidup normal adalah membanggakan benda-benda dan rupa-rupa, alih-alih kebenaran, nilai baik, pelayanan, seni, dan semangat. Bahasaku sama dengan bahasa mereka, namun telinga kami tidak dibesarkan oleh kebudayaan yang sama. Mata kami tidak diasuh oleh buku yang sama―dan memang hanya aku yang membaca buku.

Bagi mereka, cara yang ingin kutempuh hanya omong kosong. Tidak mungkin berhasil. Tidak ada kebahagiaan di ujungnya. Aku pasti akan menderita. Aku harus diselamatkan. Sebab, dunia adalah tentang memiliki, menimbun, dan mendapatkan kebanggaan darinya. Mereka pernah merasakan sakit dan hinanya kemiskinan hingga mereka kini melihat kekayaan dengan sebegitu mulianya. Aku sebaliknya: aku sudah kenyang oleh rasa muak melihat tingkah polah orang kaya yang sengak dan keji—dan goblok.

Maka aku terasing. Film itu mengungkapkan sebagian besar keterasinganku. Pacar Pak Song menjadi sangat tidak sabar, tidak sudi menunggu Pak Song yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan berpenghasilan layak, karena menurutnya Pak Song tidak “realistis”, dan tidak mampu menghargai kebutuhan manusia yang paling primitif, yakni kebutuhan materil. Sedangkan Bu Ann dipandang sebelah mata oleh pacarnya sendiri karena tidak sudi berkompromi dengan belenggu aturan, dan dengan sikap non-kompromi itu Bu Ann jadi menyia-nyiakan kesempatan bekerja sebagai guru di sekolah bertaraf internasional―yang SPP-nya mahal dan tentu saja bergaji besar.

***

Dalam film Teacher’s Diary, kita melihat ketimpangan dunia pendidikan. Kurikulum biasanya tidak kontekstual; mana ada orang gunung-danau mengenal kereta api? Itu mendorong Pak Song menarik sekolah apungnya dengan sebuah kapal, hanya sekadar agar para murid di sekolah apung bisa mencicipi rasa kereta api.

Di Indonesia, ketimpangan terlihat mulai dari kewajiban seragam. Anak petani wajib memakai sepatu? Alamiahnya, petani itu terjun ke lumpur. Para petani paham, manusia lebih sehat saat telapak kaki mereka secara langsung bercumbu dengan ibu bumi. Sekolah “memutus” tradisi itu. Keterputusan semakin jelas bila kita melihat desain kurikulum yang tampak luas (karena di sekolah anak petani mengasup banyak pengetahuan-mendunia) namun sesungguhnya sempit (karena sepulang sekolah anak petani menjadi tidak tahu apa-apa tentang kekayaan alam dan sosialnya, yang jauh lebih nyata, jauh lebih praktikal).

Aku pernah berbincang seharian dengan Pak Toto Rahardjo, pendiri Sekolah Salam. Waktu itu beliau berkunjung ke Malang sebagai pembedah buku “Mendidik Dari Akar Rumput”, sebuah kumpulan catatan pengalaman mengajar yang ditulis oleh para alumni FKIP-UMM. Pak Toto mengaku, pada mulanya, ia bersemangat melihat judul buku itu. Bagi Pak Toto, akar rumput adalah kata yang sakral. Di balik kata akar rumput tersembunyi sebuah ideologi besar dan semangat melawan pengerdilan rakyat oleh negara-pro-industri. Rakyat tidak boleh putus dari tradisi, sebab tradisi menyimpan pengetahuan sosial, medis, spiritual, pangan, dll. Sekolah, sebagai alat negara, tidak boleh memutus rakyat dari tradisi.

Namun alangkah kecewanya Pak Toto karena isi buku itu tidak mencerminkan ideologi akar rumput sama sekali. Di dalamnya tertera kisah seorang guru yang memrotes lembaga adat karena sebuah upacara adat mengharuskan para murid menunda sekolah. “Guru macam apa itu,” kata Pak Toto, jengkel. “Seharusnya dialah yang meliburkan sekolah dan turut bergabung dalam upacara adat. Ialah yang harus belajar dari adat.” Pak Toto tidak suka melihat sekolah merasa diri sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.

Mungkin fenomena yang sama juga dilihat oleh Samart Suta: pendidikan yang kontekstual. Bagaimana mungkin ia mengajar dengan contoh soal kereta api kepada anak yang seumur hidupnya hanya melihat perahu? Bagaimana mungkin ia merampas anak dari orangtua nelayan yang terbiasa bekerja sama mencari ikan? Namun pendidikan tetap penting, karena bagi Samart Suta pendidikan mampu menyelamatkan anak-anak itu dari bencana sosial. Menjadi nelayan bukan kehinaan, tapi murid harus menjadi nelayan yang tidak gampang ditipu, yang mengerti ekosistem, dan dapat mengembangkan cara melaut.

Samart Suta akhirnya memutuskan untuk mendesain kurikulum kontekstualnya sendiri. Ia juga bereksperimen, selama bertahun-tahun, untuk memastikan pendidikan dan tradisi berjalan seimbang. Itu pekerjaan hebat yang harus ia bayar dengan dua tumbal: keberanian dan kesunyian. Samart Suta harus berani meninggalkan kehidupan kota yang ramai. Samart Suta harus berani dicemooh keluarga dan dicampakkan pacar. Tapi Samart Suta menukar jalan sunyi dengan kegairahan. Ya, hidup Samart Suta jauh, jauh, jauh lebih bergairah daripada kebanyakan orang yang tampak mapan secara materil. Ia merasa hidup. Dadanya penuh dengan kebahagiaan. []

Standar

10 respons untuk ‘Teacher’s Diary dan Jalan Sunyi

  1. Pendidikan dan belajar-mengajar adalah dua hal yang sampai saat ini belum saya temukan “definisi” tepatnya. Saya belum mampu memformulasikan hal yang “tepat” dan cocok untuk menyebutnya.

    Seperti biasa, tulisan Bag Ical ini meninggalkan kesan “kagum”, sekaligus menyematkan pekerjaan rumah untuk pembaca seperti saya. Banyak hal yang harus direfleksikan, dibongkar-susun kembali.

    Saya sangat terinspirasi dengan perhatian Bang Ical pada pendidikan di Indonesia. Kece!

    • meski ada definisinya di google, kita tetap merasa gelisah dengan kenyataan ya, kakak. kita berinteraksi dengan “pendidikan sehari-hari” yang lebih luas dari sekolah, yang mungkin saja membuag kita merasa bahwa definisi tidaklah cukup besar untuk merangkul kegelisahan kita. kesimpulan itu, usahlah kita simpulkan, kakak. agar renungan kita berkesinambungan, tidak berhenti ☺️

      Terima kasih banyak, kak maria ☺️

  2. Perjalanan sunyi… Yang kau tempuh sendiri.. Kuatkanlah hatiii *nyanyi berhenti.

    Ketika bawa-bawa Pak Toto. Saya langsung mengingat suaranya kalau bicara.

    Ketika baca tulisan ini. Saya bener-bener dua kali baca. Dua kali terkesan juga.

    Ketika ngomongin tentang keluarga dan pandangan-pandangan itu… Saya tahu rasanya Cal. Tahu sekali.

    ~dahla segitu aja komennya.

    • saya sedang merasa terasing, lalu kakak datang dalam wujud komentar dan sekonyong-konyong saya tenang. saya bersyukur saya tidak sendirian. karena sudah tenang, saya mau jadi penuntut: tolong dong ceritaken saya tentang pak toto, kayaknya kakak ini ngefans sama beliau.

      *auto nyanyi saya 🤣

      • Saya banyak ngefans sama para mbah-mbah gitulah 🤣meski kalau soal hiburan seringnya lihat ahjussi dan oppa.

        Sering Cal. Sering sekali saya merasa terasing. Sering nggak paham sama banyak hal, kenapa begini… Kenapa begitu. Kenapa orang begitu. Kenapa jalan pikirannya begitu. 🤣
        Kadang gemes. Kadang pengen marah. Kadang prihatin. Yaa begitulah. Sampai kayaknya saya salah planet apa gimana gitu.

      • oh i love kim go eun!

        sejarah dunia baru mulai belajar lepas dari patriarki, baik dalam hal gender, politik, kebudayaan, dll. opsi gantinya pun kadang kurang matang dan sering menimbulkan gejolak. perlu beberapa ratus tahun lagi sampai kita menemukan dunia yang sehat. atau, setidak-tidaknya, kita bisa menciptakannya sendiri, di dalam tembok rumah kita. atau kamar kita.

    • bener, kakak. menurutku, nabi menyuruh kita hidup sederhana itu ada hubungannya dengan kecakapan intelektual dan kepribadian yang rendah hati. kekayaan sedikit banyak mempersulit manusia meraih dua hal itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s