Mengembalikan Teknologi ke Pangkuan Seni

*AS Rosyid adalah peneliti dan pustakawan di Akademi Gajah.

Bila akar kata teknologi adalah techne, yaitu kata Yunani kuno untuk menyebut kesenian, maka kita harus merenungkan lagi banyak item teknologi kita.

Masyarakat industrial menyederhanakan makna teknologi. Lazimnya, kita melihat teknologi sebagai “karya mekanis yang menggunakan energi tertentu untuk mempermudah pekerjaan dan kebutuhan manusia.” Lebih gampang bagi kita membayangkan produk elektronik sebagai contoh teknologi, alih-alih, misalnya, tasbih dan cangkul.

Empat ratus ribu tahun yang lalu, Manusia Erectus menemukan cara membuat dan mengendalikan api. Hubungan manusia dan api pun berkembang. Dengan api, manusia mampu mengolah dan menyimpan makanan, melengkungkan lambung kapal dengan metode pengasapan, atau membakar lempeng tanah liat sebagai media tulisan.

Tiga ribu lima ratus tahun yang lalu, di Mesopotamia, manusia menemukan roda. Penemuan itu memudahkan manusia dalam banyak kerja fisik. Roda menjadi komponen gerobak yang memudahkan distribusi hasil bumi atau bahan bangunan. Roda juga menjadi komponen alat pelengkung tembikar yang lebih sempurna dari kerja tangan.

Begitulah teknologi berangkat dari hal-hal sederhana. Namun esensi di balik perkembangan teknologi tidaklah sederhana. Dari contoh di atas, kita bisa mengambil dua kesimpulan.

Pertama, teknologi merupakan kesenian. Untuk berteknologi, manusia harus mengerahkan akal dan perasaannya sekaligus. Saat mencipta, tubuh dan naluri manusia mengalami proses dialog dengan alam. Untuk menghasilkan teknologi yang sempurna, manusia harus berlatih hingga ke derajat pakar. Proses itu bisa disebut proses kesenian.

Kedua, teknologi merupakan lokalitas. Teknologi tidak diciptakan oleh sebuah industri besar yang memonopoli produksi serta pasar. Teknologi dan keahliannya secara merata dimiliki di lokus-lokus komunitas. Sederhananya, bisa dibilang tiap-tiap daerah memiliki pengrajin tertentu. Bahkan individu bisa membuat teknologinya sendiri.

***

Kini, teknologi sangat bertalian dengan konsumsi praktis. Industri memproduksi teknologi untuk meraup laba besar dari pasar dengan cara memanfaatkan ketergantungan manusia pada kemudahan dan kenyamanan, serta memanfaatkan terbatasnya sumber daya alam yang menyediakan bahan baku teknologi—sumber daya alam yang telah dimonopolinya sendiri.

Manusia, misalnya, membeli motor semata untuk mengurangi jarak tempuh, yang sebelumnya mereka harus tempuh dengan berjalan kaki, dan kini mereka tidak sudi. Bahkan jarak tempuh 100 meter pun harus ditempuh dengan motor. Industri menebang hutan dan menghapus sawah demi memenuhi kebutuhan manusia akan bangunan, yang sudah tidak bisa lagi dipenuhi sendiri oleh manusia secara gotong royong, seperti ketika manusia hidup di desa dengan sistem sosial yang kuat. Industri, lantas, menciptakan pendingin ruangan untuk mengatasi gerah karena perubahan suhu bumi.

Menggelikan: manusia menciptakan sepatu untuk melindungi kaki dari duri, tapi mereka juga butuh kaus kaki agar sepatu mereka tidak melukai kaki.

Ketika teknologi sekadar dilihat sebagai alat untuk memenuhi kenyamaan manusia, yang hanya bisa didapatkan dengan cara membeli, maka teknologi sudah jauh dari proses kesenian. Kesenjangan teknologi dan seni itu diisi oleh industri yang tidak memiliki rasa hormat pada tubuh alam (lingkungan hidup). Pada titik itulah, hubungan manusia, teknologi, dan lingkungan hidup akan bersifat tambal sulam. Siklusnya sebagai berikut:

  1. Manusia menciptakan teknologi demi kenyamanan mereka, dengan cara mengambil dan memanipulasi tubuh alam (yang original) menjadi sesuatu yang lain (yang artifisial);
  2. Kemudian, manusia menggunakan teknologi tersebut untuk memanipulasi tubuh alam, demi berbagai kenyamanan dan kemudahan mereka yang lain;
  3. Manipulasi manusia berpengaruh dan mengubah kondisi alam; perubahan tersebut memengaruhi kenyamanan manusia;
  4. Manusia, lantas, kembali ke siklus pertama.

Apa yang terjadi bila yang terlibat dalam siklus ini lebih dari setengah populasi bumi, yakni 3,5 miliar manusia? Apa yang akan terjadi bila manipulasi dilakukan dengan teknologi berdaya jamah raksasa, dijalankan oleh industri-industri raksasa, yang jumlahnya tidak sedikit serta berproduksi secara masif dan terus-menerus?

Apapun yang terjadi, kita patut kuatir. Bumi butuh waktu lama untuk memulihkan diri. Hutan yang ditebang oleh dan untuk keperluan banyak industri butuh bertahun-tahun untuk tumbuh. Mengembalikan kesuburan tanah yang rusak, misalnya akibat perkebunan sawit, tidaklah sebentar. Perusahaan tambang tidak akan menanggung ganti bagi gunung yang menyekung-habis atau tanah yang terkeruk dalam-dalam akibat aktivitas produksi; yang semacam itu terhitung sebagai biaya eksternal.

Air tanah menuju habis. Sekitar 70% cadangan air tanah Indonesia kini berada di Kalimantan dan Papua. Secara geopolitik, tipisnya cadangan air tanah di berbagai tempat dan menumpuknya ia di tempat lain akan memicu konflik air, baik internal (antar daerah di Indonesia) maupun eksternal (antara Indonesia dan Amerika, misalnya). Lucunya, Indonesia mendorong warganya untuk hemat air, tapi keran izin privatisasi dibuka. Swasta diperbolehkan menyedot air dalam volume yang terlalu jomplang bila dibandingkan dengan volume yang digunakan rakyat sehari-hari.

Tapi industri, dan teknologinya, tidak boleh berhenti. Sebab masyarakat sudah sedemikian bergantung. Masyarakat tidak mampu berproduksi. Sebagian besar kebutuhan masyarakat didapatkan dengan cara membeli. Di saat yang sama industri kompetisi ketat; melambatkan produksi akan membuat mereka kalah saing―dan mati.

***

Kita harus mengembalikan teknologi ke pangkuan seni. Bila tidak, teknologi akan dimaknai sebagai karya mekanis yang menyembah kemudahan dan kenyamanan semata. Pertanyaan seperti “teknologi ini milik siapa dan mengandung nilai apa?”, “menciptakannya mengorbankan siapa?”, atau “menggunakannya memberi pengaruh yang bagaimana?” menjadi tidak relevan lagi untuk diajukan.

Kesenian adalah hasil dari olah akal budi yang panjang. Kesenian menjunjung nilai, baru kemudian kegunaan. Mengembalikan teknologi ke pangkuan seni berarti merawat aktualiasi manusia. Ambil contoh, tasbih. Ia memang hanyalah butir-butir biji yang dirangkai melingkar, tapi manusia memilinnya dengan aktualisasi-religius. Desain tasbih itu seni, sistem tasbih itu sendiri, aktualisasi tasbihnya juga seni. Tasbih bisa menghantar transendensi pada seseorang, setelah ia berlatih bertahun-tahun.

Teknologi di pangkuan seni tidak perlu berupa barang-barang megah. Pada teknologi persenjataan (tombak, keris, pedang), teknologi persawahan (pacul, orang-orangan sawah, gerajag), atau teknologi hiburan (wayang, kelir, gamelan), kita melihat karya sederhana tapi artistik, filosofis, dan mendorong pada aktualisasi, pada penghayatan dan pada kewarasan.

Seni itu keindahan, kewarasan, penghayatan, dan penempaan. Teknologi yang diasuh oleh kesenian membawa manusia pada keempat hal itu, bukan justru mengasingkannya. Menyerahkan teknologi pada hasrat-hasrat pendek dan egosentris akan menghasilkan kerusakan perlahan pada hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan tuhan, atau manusia dengan alam. []

Standar

4 respons untuk ‘Mengembalikan Teknologi ke Pangkuan Seni

  1. Tulisannya serius tapi seru bang, bukan kapasitas saya untuk komentar banyak2.

    Tapi saya sepakat kalau teknologi sekarang mengancam bumi, dan masalahnya sekarang sudah dipengaruhi oleh sisi psikologi juga.

    Yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari deh, kendaraan bermotor bukan sekedar alat transportasi tapi juga bernilai prestis. Sekarang banyak orang ogah jalan kaki selain capek juga gengsi. Lha saya naik sepeda saja ditanya sama penjual jamur krispi, “ndak malu naik sepeda?” 😅

    • kalau pertanyaannya “ndak capek naik sepeda?” kayaknya masih wajar, ya. malu ndak malu itu berkaitan sama prestis dan menggunakan kendaraan sudah menjadi kewajaran sosial. tapi, biasanya, justru saat-saat itulah kita bisa berkampanye-ulang, kembali pada cara-cara hidup yang lebih esensi.

      makan jamur krispi bareng-bareng, misalnya 😁

  2. Pertama. Tulisanmu keren dan kayaknya makin keren aja.

    Kedua… Mbok ajari dikit-dikit bole~~~ atau kasih tip-tipnya.

    Ketiga, jadi ingat ini “ujung pengetahuan adalah seni. Ujung kesenian adalah spiritualitas.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s