Lebih Baik Dari Buruh

Murid-murid kelas Aliyah (setara SMA) mengenalku sebagai sosok yang sulit ditebak. Mereka tahu aku menyenangkan dan pemberang sekaligus, tapi mereka tidak dapat selalu menebak kapankah kumenjelma menjadi salah satunya. Bahkan mereka pernah menemukanku menjelma keduanya di satu waktu.

Memang mereka bisa mereka-reka pola. Mereka tahu biasanya aku berang pada murid yang tidak tekun, yang meremehkan proses, yang tidak disiplin, atau yang petantang-petenteng menindas kawannya. Tapi mereka juga tahu aku tidak pernah mempersoalkan nilai, tidak memusingkan sikap selengean, tidak melarang mereka makan di kelas (kadang akulah yang membawakan mereka jajan), dan tidak keberatan bila mereka menyela materiku dengan candaan. Sesekali aku bahkan menyilakan mereka tidur sejenak supaya mereka merasa lebih segar dan siap belajar. Mereka bisa menangkap pola, tapi polanya terus berkembang sehingga mereka tetap sulit menebakku.

Dua minggu yang lalu, malam Jumat, aku naik pitam. Salah seorang dari kelas Aliyah bersikap tidak hormat pada ibu dapur. Anak itu melayangkan kata-kata kasar. Ibu dapur sampai menangis. Ia sedang kelelahan, sedari subuh ia belum sempat beristirahat karena bekerja menyiapkan makanan untuk seluruh santri agar mereka bisa makan tepat waktu. Ritme kerjanya memang padat dan ia kerap membagi waktu antara bekerja dan mengurus anak (yang ia bawa ikut mondok). Ibu dapur lantas mengadu pada suaminya (salah satu satpam sekolah) dan pada kepala asrama. Aku tahu ceritanya karena tidak sengaja masuk dapur dan mendapati ibu dapur menangis. Tumpahlah semua keluh kesah.

Kebetulan aku datang ke sekolah malam itu untuk mengajar kelas literasi Aliyah. Di kelas, aku duduk di meja guru tanpa sepatah kata, tanpa sesungging senyum. Ketika mereka tiba di kelas, mereka sadar aku sedang dalam mode berang. Setelah semuanya hadir, dengan suara datar kukatakan pada anak yang menyakiti hati ibu dapur itu: “Silakan kamu keluar. Haram bagimu masuk ke kelas saya lagi.” Kulihat wajahnya tertekuk tapi ia menurut dan melangkah keluar. Setelah itu, kulayangkan pandangan pada semua murid kelas Aliyah. Mata demi mata.

“Malam ini tidak ada materi. Tugas kalian adalah menulis dalam 20 paragraf. Saya ingin kalian menjelaskan: memangnya apa sih yang membuat kalian, wahai para pelajar, berkedudukan lebih istimewa dari buruh? Apa sih yang kalian banggakan dari menjadi pelajar, sehingga kalian merasa lebih mulia dari buruh? Apa sih faktor-faktor yang bikin kalian berhak bicara dan bertingkah seenaknya pada buruh?”

Biasanya aku meminta mereka menulis 5 paragraf, dan biasanya mereka juga mati-matian menawar agar mereka cukup menulis 4 paragraf saja. Tapi kali ini mereka tidak protes.

Kutekankan pada mereka bahwa Nabi Saw. sangat memuliakan buruh. Tiap tetes keringat buruh itu harus dihargai dengan patut (pantas dan adil) bahkan sebelum keringat itu mengering. Kuingatkan mereka bahwa semua yang mereka pakai, semua yang mereka makan, sejak mereka lahir hingga sekarang, diproduksi dan didistribusikan oleh buruh.

Kukatakan pula bahwa buruh bisa mencari uang sendiri. Seringkali mereka menjadi tulang punggung keluarga dan membiayai lebih dari satu jiwa. Sedangkan mereka, murid-muridku itu, bisa makan enak tiap hari tanpa perlu pusing sebab hidup mereka sepenuhnya dibiayai oleh orangtua—yang mungkin juga seorang buruh.

Setelah itu, kutinggalkan mereka. Lalu aku jatuh sakit selama dua minggu, tipes dan bronkitis, sekalian isolasi mandiri karena ternyata ibuku positif covid-19. Setelah ibuku (dan kami sekeluarga) dinyatakan negatif, aku kembali ke sekolah.

Aku bertemu ibu dapur dan ia berterima kasih karena sejak itu ia tidak pernah menerima perlakuan seenaknya lagi dari siswa. Aku juga bertemu dengan anak malang yang dulu kuusir itu. Ia meminta maaf. Kukatakan padanya bahwa sebagai guru aku tidak pernah menyimpan marah. Namun kadang aku perlu melakukan shock therapy untuk menanam suatu ide.

Aku cuma ingin mereka paham: kelas pelajar harus menghormati kelas buruh karena berbagai alasan yang tidak mungkin dihitung. Bukan buruh sebagai person, tapi sebagai kaum, sebagai kelompok rentan yang memburuh karena berbagai ketimpangan struktural. Sikap dasar mereka pada buruh harus berupa rasa hormat. Sikap dasar itu haruslah mereka mengerti dan biasakan

Dan Tan Malaka menulis: “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.” []

NB:

Saya hormat pada ibu-ibu dapur. Saya tidak pernah rewel minta dibuatkan lauk yang berbeda. Bila saya temukan mereka sedang sibuk, saya tahu diri: setelah mengambil lauk, saya duduk dan makan di luar. Selesai makan, saya selalu mencuci piring, berpamitan dan berterima kasih. Di pintu dapur saya akan membungkuk dalam-dalam sambil berkata: “Ma’e, Mbak Yani, Bik Ram, terima kasih makanannya.” Saya hormat dan mungkin karena itulah mereka juga hormat. Sering Ma’e membawakan saya segelas teh hangat padahal saya tidak minta. Sering Bik Ram menyimpankan untuk saya minuman dingin. Mbak Yani membuatkan saya sambal bawang. Kehormatan melahirkan kehormatan. Itu kunci.

Standar

7 respons untuk ‘Lebih Baik Dari Buruh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s