Kembali Ke Huma Berhati

Akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke Lombok, ke tanah kelahiranku, ke gumi yang pelan-pelan kehilangan romantika dan jati dirinya ini. Lombok akan menjadi rumah baru bagi istriku yang selama ini tidak pernah benar-benar mengenal rumah. Karib kerabatku akan menjadi karib kerabatnya.

Keputusan itu, sayangnya, mengharuskan istriku mundur dari kantor. Istriku bekerja sebagai seorang konselor di lembaga bimbingan konseling Universitas Muhammadiyah Malang sejak tahun 2015. Keputusan ini membuatnya harus berpisah dari bos yang beberapa tahun terakhir tampil sebagai bos sekaligus orangtua bagi istriku. Kantor tempatnya bekerja memang selalu terasa hangat. Ia nyaman bekerja di bidang psikologi, sesuai dengan disiplin ilmunya sewaktu kuliah. Ia nyaman bekerja di kantor yang jam kerjanya longgar tapi tetap punya tuntutan profesionalitas dalam menangani klien.

Karena itulah aku merasa bersalah padanya. Kantor BK-UMM telah memberi istriku sahabat dan keluarga dan kini mereka harus berpisah. Namun keputusan ini terasa berat bukan hanya baginya. Bagiku, meninggalkan Kota Malang adalah pilihan yang menyakitkan. Setiap sudut Malang Raya menyimpan cerita: Jabung-Tumpang-Bromo, Gadang-Turen-Kepanjen, Batu-Cangar-Pacet, Batu-Pujon-Kediri, kukenang semua itu sampai-sampai aku sadar aku telah mengenal daerah ini lebih pekat dari tanah kelahiranku sendiri.

Tapi lebih dari itu, komunitas epistemik dan jaringan kerjaku ada di Kota Malang. Bila kutinggalkan itu semua, aku harus membangun kembali karirku dari nol sembari meraba-raba medan akademik dan politik di Kota Mataram. Aku tidak bisa lagi banyak membantu Mas Hasnan dan Prof. Pradana Boy “bertarung” untuk Muhammadiyah. Paling-paling hanya bisa membantu dari jauh, seperti mengedit atau menyumbang naskah. Menghadap mereka untuk pamit pun akan terasa menyakitkan. Mereka telah membesarkanku sedemikian rupa dan aku minggat pada akhirnya.

Tapi keputusan sudah dibuat, dengan beberapa pertimbangan. Salah satunya tujuanku pulang adalah untuk menemani orangtuaku. Istriku telah berbakti pada ayahnya selama belasan tahun; kini ia menemaniku giliranku berbakti pada orangtuaku. Aku masih bekerja di sekolah alam dan pelan-pelan akan meniti karir sebagai dosen―semoga ada kampus yang bersedia menerimaku. Hanya saja, prioritas utamaku adalah mengejar beasiswa doktoral di dalam negeri atau beasiswa magister di luar negeri. Bisa saja, setelah studi, aku tidak tinggal di Lombok lagi. Bisa jadi aku akan kembali ke Kota Malang, atau ke Jakarta, atau ke Malaysia, atau ke Bhutan, atau ke Denmark, atau ke Swiss, atau ke Gotham City.

Ya, aku masih percaya pada ramalan beberapa sufi tentang aku yang tidak ditakdirkan tinggal di Lombok. Mengenai niatku untuk mengabdi di Lombok dan sepertinya Tuhan merestui niatku, itu betul. Aku mendirikan Akademi Gajah dua bulan yang lalu―kapan-kapan akan kuceritakan. Tapi jalan ceritaku berikutnya siapa yang tahu? “Ana urid, anta turid, wallahu yaf’alu ma yurid.” Aku mau, kamu mau, dan Allah melakukan apa yang Ia mau. Tapi aku tidak mau berpikir sejauh itu. Saat ini keputusan sudah dibuat dan aku harus menjalaninya pelan-pelan. Apa yang menanti di ujung jalan, apakah merupakan gerbang akhir atau masih ada lagi jalan berkelok, kita lihat saja esok lusa.

***

Beberapa hari yang lalu, sastrawan besar Umbu Landu Paranggi berpulang ke sisi Tuhan. Ia kerap disebut sebagai “penyair misterius” (saking tidak inginnya ia terkenal, namun toh ia terkenal juga) dan “mahaguru para penyair” (saking besar jasanya menghidupkan sastra di Jogja dan melahirkan para sastrawan besar seperti Cak Nun dan Linus). Tidak ada media yang membicarakannya selagi ia hidup dan menjalani tirakat “nyepi” di Bali, tapi ketika ia berpulang ramai dan gegarlah media massa nasional dibuatnya.

Salah satu puisi Umbu yang pernah ditulisnya berjudul “Apa Ada Angin di Jakarta”. Larik terakhir dalam puisi itu berbunyi:

pulanglah ke desa |
membangun esok hari |
kembali ke huma berhati
.

Umbu meragukan “Jakarta” (simbol kehidupan urban yang di sana surplus uang dan pembangunan berada) bisa menyediakan “angin” (simbol ketentraman, keadilan, kebersamaan, dan segala yang membuat manusia menjadi manusia). Umbu menyarankan kita pulang ke “desa” (simbol kehidupan rural di mana kesejahteraan masih dalam bentuknya yang sederhana) untuk membangun “esok hari” (simbol masa depan cerah tanpa persaingan yang tidak waras yang melahirkan iri dengki, manipulasi dan eksploitasi).

Umbu menutup larik tersebut dengan: kembali ke huma berhati. Huma adalah sawah ladang yang memproduksi pangan, manifestasi cinta yang paling dasar dalam kehidupan. “Huma berhati” adalah perlambang sumber-sumber ekonomi yang bertumpu pada nurani dan kebijaksanaan; “huma berhati” adalah iklim di mana pangan diupayakan oleh masyarakat secara gotong royong dan di mana hutan dan air tidak dimonopoli; “huma berhati” adalah antitesis bagi kehidupan industrial-urban di mana semua orang memperdagangkan segala sesuatu dan semua orang mengambil kesempatan untuk saling menjatuhkan, saling menguasai, saling mencurigai.

Puisi Umbu menyentak dan seakan-akan memperingatkanku agar tidak menganggap sepele kepulanganku ke Lombok. Memang keinginanku untuk tinggal di kota berhawa dingin tempatku pertama kali mengenal kebebasan itu cukup besar. Tapi aku pulang untuk “merawat”, baik merawat orangtua biologis maupun merawat orangtua historis. Pulau Lombok adalah rumah leluhurku, dan orang-orang Sasak adalah ibu, bapak, serta saudara-saudariku. Bersama mereka, sekurang-kurangnya sekali seumur hidup, aku harus mencoba kembali ke huma berhati, membangun esok hari.

Bila gagal, aku boleh mencobanya lagi. Atau pergi dan sudah.

***

Lebaran besok insyaallah akan menjadi lebaran pertama (dan terakhir?)-ku di Kota Malang. Selama ini aku selalu berlebaran di Lombok, di rumah, bersama keluarga besar. Tapi kali ini, selain agar setelah lebaran aku bisa berangkat ke Semarang mengunjungi mertuaku, aku memutuskan lebaran di Malang untuk bernostalgia sekali lagi, bila bukan nostalgia terakhir. Aku ingin menelusuri semua tempat bersejarah bagiku. Tempat-tempat yang sering kukunjungi. Jalan-jalan yang sering kulewati. Aku ingin kembali sejenak sebelum pergi untuk waktu yang panjang. []

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s