Aksara dan Anak-anaknya

Huruf beranak pinak, namun bukan menjadi kata dan kalimat. Sebab huruf lahir belakangan. Kata dan kalimat beranak pinak dari lidah yang memodifikasi bunyi tenggorokan. Begitulah manusia berkomunikasi ribuan tahun sebelum huruf ditemukan. Huruf melahirkan sesuatu yang lain, yang lebih besar, dan mampu bertahan dari zaman ke zaman.

Baru-baru ini aku menyadarinya setelah ditanyai rekan sesama guru yang mengajar mata pelajaran sejarah. Madrasah kami menuntut guru agar mampu menyajikan konsep dasar serta konteks aktual sebuah pelajaran, sehingga ia merasa perlu mencari pendapat dariku yang punya ketertarikan pada sejarah. “Kenapa sih, kita perlu mengenal jenis-jenis huruf kuno? Kenapa penting mempelajari sejarah aksara?”

Kepadanya kuhantar pendapatku. “Poinnya bukan bagaimana mereka mengenal bentuk-bentuk aksara kuno, tapi bagaimana agar mereka paham kenapa huruf diciptakan.” Dengan kata lain, melihat peran huruf dalam peradaban. Sudut pandang ini lebih menyediakan konteks dan mengaktifkan imajinasi siswa. Hanya bila siswa ingin menjadi pakar sejarah, atau bila ini adalah aksara lokal, baru mereka wajib belajar dengan detil.

Kulihat ia mangut-mangut sembari mencatat. Nampaknya ia setuju dengan pendapatku.

Pada mulanya, aksara diciptakan untuk mencatat pajak dan utang piutang. Enam ribu tahun yang lalu manusia berhenti hidup nomaden dan mulai menetap, mendirikan kota-kota. Penguasa kota bertindak selaku pengelola. Dana untuk membangun sarana pra sarana berasal dari pajak rakyat. Pajak rakyat perlu dicatat agar penguasa tahu ia masih harus menagihi siapa. Aksara pertama pun tercipta dalam bentuk yang sangat sederhana.

Aksara kemudian berkembang dan beranak pinak menjadi lebih dari sekadar untuk mencatat pajak. Aksara berfungsi sebagai dokumentasi: silsilah darah biru, peristiwa-peristiwa penting di kota, dan undang-undang. Semakin berkembang aksara, semakin kompleks dan sanggup ia mendokumentasikan lebih banyak hal: dongeng, sejarah kerajaan, sejarah masyarakat, ilmu pengetahuan, catatan perjalanan, catatan diskusi, hingga kitab suci.

Kapan terakhir kali kita mendengar orang yang mampu membaui hujan di udara dari jarak beberapa hari sebelum hujan itu tiba? Bagaimana ia melakukannya? Selama ini kita mengandalkan tradisi lisan sebagai alat dokumentasi, tapi kelemahan tradisi lisan adalah ia tidak mampu mencatat ilmu secara lengkap. Dan bila seorang informan tidak mampu lagi berinformasi (misalnya ia bisu, sakit, atau mati), ilmu informan itu akan punah.

Memang tradisi lisan punya cara lain untuk melampaui kekurangan ini, misalnya dengan melibatkan unsur mistikal. Seorang tetua adat Sasak di Kuripan Lombok Barat, yang dikenal sangat menguasai bahasa kawi, meninggal. Beberapa hari kemudian, keahliannya itu terwaris ke anaknya, tanpa perlu anak itu belajar sedikit pun. Entah bagaimana mekanisme pewarisan itu, tapi metode mistikal ini sangatlah mempesona.

Namun, di antara para tetua adat di dunia ini, berapa orangkah yang mampu sampai pada maqam atau level mistikal setinggi itu? Di dunia yang menggila ini―di mana industri dan orang-orang berproduksi dan berkonsumsi dengan gila, di mana barang dan sensasi dipertandingkan dengan gila―manusia amat butuh referensi cara hidup waras. Bila dokumentasi hanya mengandalkan metode mistikal, jangkauan referensi itu hanya sedikit.

Aksara membangun peradaban. Manusia memelihara pengalaman dan pengetahuan mereka yang berusia ribuan tahun dengan aksara. Agar pengalaman dan pengetahuan itu tetap bisa mereka rujuk. Agar manusia bisa “menengok ke belakang dan belajar dari masa lampau.”

Sejak tahun 1950-an, Indonesia menjalani program pemutusan akar identitas lokal. Indonesia memilih modernitas. Sekolah mengajari kita hal-hal yang membuat kita tidak lagi mengerti dan berpegang pada lokalitas, berikut khazanahnya. Mempelajari aksara berarti insyaf bahwa kita bisa dan harus memeliharanya kembali. Sebab di dalam lokalitas berikut khazanahnya terdapat resep-resep hidup waras dan berdikari. Kita bisa mulai menelusuri, mencatat, dan menyebarkannya untuk mengobati dunia yang kian gila ini. []

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s