Maka, Lebaran Adalah ..

Saya tidak mengerti, sejak kapankah tradisi saling meminta maaf sewaktu lebaran idul fitri itu dimulai. Dulu, ketika berhari-raya, sebetulnya umat Islam keluar dari rumah mereka dan saling mengunjungi dalam rangka merayakan kemenangan setelah berpuasa. Murni perayaan.

Satu bulan lamanya umat Islam dengan sangat tekun ngalap berkah dan tidak jemu-jemu memohon ampunan. Siang malam, satu bulan lamanya, mereka bertarung menjinakkan nafsu hingga ke tingkat yang membuat orang modern geleng-geleng kepala. Setelah perjuangan panjang, umat Islam saling menghampiri, saling memeluk, saling tersenyum bahagia karena mereka telah berjuang. Kemudian, mereka saling mendoakan.

Mendoakan? Ya.

Misalnya, taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal ya karim. Semoga Allah menerima segenap persembahan kita. Semoga Allah mengampuni kita. Semoga Allah memberkati perjuangan-perjuangan kita. Semoga Allah melimpahi kita dengan rahmat.

Atau, ja’alanallaha wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin. Semoga Allah menjadikan kami dan kamu orang-orang yang puasanya berhasil membawa hati kembali suci, kembali fitrah, kembali manusiawi. Semoga kami dan kamu diberi kemenangan dari fananya nafsu-nafsi duniawi.

Kemudian doa-doa di atas diiringi dengan doa lain yang masih satu tone dengan keberhasilan berpuasa. Semisal doa agar mendapatkan ilmu yang berkah, jiwa yang sehat dan raga yang selamat. Itulah doa hakikat.

Maka sesungguhnya, lebaran adalah momen saling mengunjungi dan saling mendoakan; momen saling merayakan kemenangan setelah berperang melawan nafsu dan berkomitmen memprioritaskan berkah dan ampunan.

Sayangnya, mungkin karena umat Islam kiwari tidak setekun dahulu menghidupi Ramadan, atau mungkin karena suasana takzim di bulan Ramadan memang sudah tidak terasa lagi, maka esensi sesungguhnya dari idul fitri itu diganti jadi acara maaf-maafan. Mungkin karena konteks lain, misalnya, momen lebaran adalah momen di mana semua orang menyempatkan diri berkumpul dengan keluarga setelah lama merantau ke sana ke mari. Khilaf yang tidak sengaja, yang tidak sempat dan tidak bisa segera diselesaikan, bisa diselesaikan.

Tapi kini jarak dan waktu telah dilipat teknologi. Seharusnya kepribadian orang Islam itu begini: bila salah, ia lekas minta maaf; ia tidak gengsi, tidak menunda-nunda, tidak malah membesar-besarkan masalah atau balik menyerang. Tidak perlu menunggu momen lebaran. Cukuplah ia memastikan ponsel pintarnya punya kuota, kemudian segera minta maaf. Bukankah begitu?

Tapi memang ada dendam-dendam yang sulit dimaafkan. Saya, misalnya, telah melakukan banyak kekeliruan di masa lalu yang mungkin sulit diampuni. Meminta maaf pun mungkin hanya akan memperumit keadaan. Maka memohon ampun pada Allah menjadi satu-satunya jalan. Allah memaafkan konteks-konteks.

Selamat berlebaran. Selamat berhari raya bagi yang merayakan.

NB:

Pemikiran cemerlang di atas adalah sabda istri saya. Saya hanya jongos tulis saja.

Standar

4 respons untuk ‘Maka, Lebaran Adalah ..

    • selamat merayakan idul fitri, yuni! terima kasih banyak ☺️

      iya, domisilinya di NTB. Di Kota Mataram tepatnya. Yuni ada rencana ke sana dalam waktu dekat?

    • selamat berlebaran, kak kimi! tak mengapa. karena aku lemah gemulai imannya, aku mohon maaf bila selama saling mengenal aku ada salah kata pada kakak. terima kasih sudah saling mengenal!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s