Kenapa Tinggal di Rumah Orang tua Setelah Menikah Itu Perlu

Saya dan istri tidak memulai kehidupan sepenuhnya dari nol atau dari minus. Entah bagaimana Tuhan memberi jalan, tapi tabungan kami yang mulanya nyaris tak ada menjadi berlipat berkali-kali. Ada sesuatu yang kami bisa pakai untuk keperluan ini dan itu di awal pernikahan. Kami juga lebih leluasa menabung karena untuk sementara kami akan tinggal di rumah orang tua.

Ya, Insyaallah mulai dari Bulan Juli mendatang saya dan istri menetap di Lombok. Kami tidak tinggal satu atap dengan orangtua, tapi masih satu halaman. Saya akan menggunakan rumah mungil di halaman belakang. Kami akan punya kamar mandi sendiri, dapur sendiri, pengeluaran sendiri dan ruang privasi. Kami pernah minta izin pada Mamak agar kami boleh mengontrak rumah di suatu tempat, mungkin di desa. Kami ingin berlatih mandiri dalam berkeluarga. Tapi Mamak menolak.

Istri saya tidak ada masalah dengan ide tinggal bersama mertua. Kami sepakat bahwa dalam konteks tertentu tinggal bersama orang tua itu penting. Namun karena pilihan tersebut istri saya jadi kerap “dinasehati” untuk berpikir dua kali. Ide tinggal bersama mertua itu buruk. Istri saya gemas. Ia tahu nasehat adalah bentuk dari kepedulian, tapi kepedulian itu terdengar seperti luapan emosional dan gosip. Istri saya lebih suka diberi saran produktif alih-alih cerita yang hanya membuatnya takut. Gosip yang memperkeruh hati bukanlah kepedulian.

Biasanya, cerita tentang seramnya rumah mertua datang dari dua golongan. Pertama, orang yang berpengalaman tinggal di rumah mertua dan rasanya tidak menyenangkan. Kedua, orang yang belum menikah tapi pernah mendengar gosip terkait. Dua golongan ini lupa bahwa setiap pasutri punya latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Memang banyak mertua toksik, tapi mertua baik juga tidak sedikit.

Khutbah nikah mengajari kami untuk “menghapus istilah mertua-menantu.” Orang tua istri adalah orang tua saya, pun sebaliknya. Saya adalah anak dari orang tua istri, pun sebaliknya. Dua keluarga telah jadi satu. Persepsi itu memudahkan kami beradaptasi.

***

Ada sejumlah alasan yang lebih sosiologis mengenai kenapa, dulu, pasutri baru memilih keluar dari rumah orang tua. Ini bisa dilihat dari generasi bapak kita.

Generasi bapak kita dulu keluar dari rumah orang tua karena kebanyakan mereka tumbuh di tengah situasi ekonomi yang sulit. Pada tahun 1980-an listrik belum marak di Lombok. Orang Lombok Timur jamak mencari kerja ke Kota Mataram dengan berjalan kaki, karena armada angkutan umum sangat sedikit. Rumah-rumah sempit, sementara satu keluarga bisa beranak pinak lima hingga dua belas. Sawah ladang tidak selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan, sedangkan orang tua terus menua, kehilangan tenaga untuk menggarap tanah. Menambah satu anggota keluarga baru adalah beban.

Kini situasinya terbalik. Memang generasi kita tumbuh di tengah situasi ekonomi yang ramah. Transportasi hingga pendidikan mudah diakses. Perbaikan ekonomi membuat pembangunan sarana pra sarana semakin pesat. Tapi justru inilah mata pisaunya: pesatnya pembangunan membuat tanah kian langka dan mahal. Generasi milenial sangsi mereka akan sanggup membeli rumah dan tanah sendiri.

Bagaimana pun, generasi kita cukup kontras dengan generasi orang tua kita. Mereka bekerja keras di tengah keterbatasan akses dan meraih kemapanan hidup. Kita, di tengah kelimpahan akses, kehilangan tanah dan kesempatan memiliki rumah sendiri. Sulit bila harus menabung sambil harus mengontrak rumah. Maka pilihan rasional bagi generasi kita adalah memanfaatkan fasilitas orang tua, bila fasilitas itu memang ada dan kehadiran kita tidak mengganggu. Bukan untuk menjadi ketergantungan, melainkan agar kita bisa menabung.

***

Alasan sosiologis lain untuk tinggal bersama orang tua setelah menikah, bagi saya dan istri, adalah untuk “merawat manusia”.

Sulit bagi saya meninggalkan Kota Malang, tapi keputusan untuk pulang ke Lombok saya rasa tidak perlu disesali. Zaman saya adalah zaman edan. Industrialisasi sejak dekade 60-an telah menciptakan gelombang urbanisasi dengan sistem sosial yang rapuh. Efeknya mengerikan pada generasi bapak kita dan generasi kita.

Dulu, generasi bapak kita pergi ke kota meninggalkan orang tua dan sawah ladangnya. Namun, orang tua yang mereka tinggalkan itu memiliki support system berupa kehidupan sosial yang bagus. Desa era lama adalah desa di mana semua orang saling rawat dan rumat, sehingga umumnya para sepuh desa tetap sehat hingga tua. Teman hidup tidak kurang, ditambah lagi ekosistem desa masih asri dan mampu menyokong pangan organik. Kebalikannya, generasi bapak kita menuju kota yang warganya hidup serba sendiri-sendiri. Hutan sawah telah hilang. Pangan tidak segar, kebanyakan malah sintetik.

Manusia kota, manusia industrial, adalah manusia paling kesepian dan terasing. Mereka terputus dari aspek-aspek kemanusiaan yang mendefinisikan mereka sebagai manusia. Mereka tidak punya ladang dan tetangga untuk beraktualisasi-purna, sehingga tak jarang kita dapati mereka sakit terutama ketika pensiun. Sebagian mengalami post-power syndrome: mereka terkejut karena kehilangan semua yang mereka kira telah mereka kuasai. Ternyata mereka tidak seberkuasa itu.

Inilah kepentingan generasi milenial: mereka perlu pulang ke rumah untuk “merawat” kesepian dan keterasingan manusia, yakni orang tua kita dan kita sendiri. Di zaman menyedihkan ini, sendi-sendi sosial yang mengikat dua manusia sedarah kini semakin lebur dan membuat manusia tidak tahu penderitaan satu sama lain. Bahkan seorang anak bisa tidak tahu apa derita yang disimpan sang ibu selama bertahun-tahun.

Wajah keterasingan di tingkat yang lebih besar tampak pada migrasi anak muda ke kota-kota besar untuk kuliah di kampus-kampus mentereng, yet they know nothing about what their home can provide, that, in certain context, more than what those universities could provide: biodiversity, a sustain food system, land, medicine, wisdom and philosophy, or even magic. Mereka pergi dan belajar untuk menjadi bukan diri mereka lagi.

Ada anak muda yang memilih pulang ke rumah demi meneruskan tradisi orang tua. Mungkin bertani atau berdagang. Ada yang pulang demi merawat dan menemani orang tua di usia senja. Mereka memilih dengan mengorbankan pilihan lain yang (kelihatannya) lebih baik. Tapi saya yakin pilihan mereka berkah. Dalam agama saya, Tuhan memuliakan mereka yang sanggup meminimalkan kesenangan pribadi dan mendahulukan kebaikan orang banyak. Kadang, keberkahan datang dari tempat-tempat yang kita pikir tidak menyenangkan.

***

Saya pernah kaget karena istri saya berkata begini: “Kalau satu atau dua tahun yang lalu aku tahu orang tua Kanda sekaya ini, aku mungkin bakal minta putus. Kita tidak usah menikah.”

Istri saya punya etos harta yang kuat. Ia memang suka berbelanja, senang bersolek, seperti kebanyakan perempuan. Tapi komitmennya terhadap harta yang baik, yang halal dan tayib, di atas rata-rata. Ia, sebagaimana saya, sepanjang hidup ini telah melihat bagaimana harta tidak pernah menjamin kebahagiaan seseorang; bagaimana harta menipu dan menggoda, namun menjerumuskan. Namun, lebih dari saya, ia tahu bagaimana harta bisa menjadi sumber petaka bahkan pada orang yang tidak bersalah. Ia mengerti rasanya menanggung derita karena keserakahan orang lain.

Mungkin karena itulah ia sempat takut. Selama ini istri saya tidak pernah mencoba mengorek-orek latar belakang ekonomi keluarga saya. Ia bahkan baru melihat rumah saya ketika datang ke Lombok tiga hari menjelang pernikahan. Sebetulnya ia syok. Istri saya hanya tahu saya yang kucel, yang motornya butut, yang mengeluh pada kopi seharga lebih dari lima ribu. Saya ingin dia tetap melihat saya seperti itu.

Salah satu masalah yang dihadapi generasi milenial adalah “toksik kesempurnaan”. Kita dipenuhi berbagai imej tentang manusia sempurna. Perempuan, misalnya, dipatok dengan tuntutan ideal untuk menikah muda, punya anak, tampil cantik, punya rumah minimalis dengan perabotan lengkap dan mobil, khas kelas menengah. Padahal, menurut istri saya, perempuan yang sesempurna itu nyaris tidak ada. Perempuan bisa mati-matian berusaha memiliki kulit putih, tubuh langsing dan pakaian bagus karena “cantik” diasosiasikan pada hal-hal itu. Ibu baru bisa frustasi karena air susunya tidak bisa keluar, sebab imej perempuan sempurna bisa menyusui sudah terlanjur melekat. Itu contoh-contoh kecil bagaimana toksik kesempurnaan itu bekerja.

Toksik kesempurnaan harus dibongkar. Manusia harus belajar menjadi real, belajar menghargai “ke-sekarang-an”,  belajar untuk tidak menyalahkan diri dan orang lain hanya karena tidak memiliki hal-hal yang saat ini sedang tidak ada (kesehatan, harta, dll). Jangan menebar ketakutan. Terbarkanlah rasa waras dan ketenangan. []

Standar

Satu respons untuk “Kenapa Tinggal di Rumah Orang tua Setelah Menikah Itu Perlu

  1. entah, selama membaca tulisan ini, fokus saya pergi kesana-kemari oleh kalimat “Mereka pergi dan belajar untuk menjadi bukan diri mereka lagi” kemudian oleh terminologi “toksik kesempurnaan”, disisi lain saya juga mencari cari alasan, apakah mungkin karena tulisan ini belum relevan dengan kehidupan saat ini? tapi alangkah baiknya jika mendapat bekal cara pandang seperti ini sebelum menjalani kehidupan-kehidupan seperti yang dituliskan. Saya juga berharap apa yang kemudian membuat saya gagal fokus bakal menjadi judul tulisan tersendiri hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s