Lebih Baik Potong Gaji

Di antara repotnya tinggal dan bekerja di Lombok adalah waktu pagi yang tidak banyak. Subuh di Lombok dimulai sekitar pukul 05:30 Wita. Jarak antara salat subuh dan jam kerja rata-rata di Lombok hanya satu setengah jam. Bagi perempuan pekerja yang sekaligus ibu rumah tangga, waktu satu setengah jam itu (yang bahkan harus dipotong jam berangkat kerja ideal agar tidak terlambat apel) tentu kurang. Jelas pula ia tak ramah pada pemalas yang bangun pagi jam enam atau jam setengah tujuh—terutama pemalas yang gemar begadang sampai jelang pagi. Tapi saya bersyukur karena jam kerja saya dimulai pukul 07:45 Wita.

Mamak saya yang pensiunan PNS dulunya suka riweuh dan sering terlambat karena sibuk meriap (menyiapkan masakan) untuk suami dan anak-anak. Kini, setelah tenaganya habis disedot negara, Mamak saya butuh istirahat lebih panjang dan bangun agak siang. Akibatnya, Mamak suka terlambat meriap terutama untuk Bapak yang belum pensiun. Mamak juga meriap untuk saya yang masih LDR dengan istri. Saya sarapan di rumah, atau sesekali saya membawa bontotan ke sekolah.

Kadang, Mamak tampak memaksakan diri meriap untuk saya. Mungkin Mamak sadar sebentar lagi masa LDR saya dan istri habis dan ia takkan lagi bisa sering meriap untuk sulungnya. Satu dua kali saya tatap punggung Mamak yang sudah menua dan otot tulangnya yang sudah melemah. Ia mulai suka lupa. Pendengaran beliau mulai berkurang. Vitalitas hidup dan energi kreatifnya telah disedot negara selama bertahun-tahun. Dalam pada itu saya pasti membatin, suatu hari nanti beliau akan meninggalkan saya. Tidak akan ada lagi orang yang bawel karena saya terlambat salat subuh, tapi juga gupuh (tergesa-gesa) menyiapkan untuk saya aneka ragam bekal sarapan.

Maka saya pasti luluh. Meski Mamak belum selesai meriap sampai jam setengah delapan, bila ia meminta saya menunggu, saya pasti putuskan akan menunggu periapan Mamak selesai. Biasanya Mamak senang sekaligus cemas.

“Ndak telat ke, anak?”

“Ndak, Mak. Selo dah.”

Sesungguhnya saya bukan menunggu masakan Mamak, tapi wajah puas beliau karena bisa membuatkan saya sarapan. Itu yang tidak akan pernah dan sudi saya tukar dengan gaji. Resiko terlambat adalah potong gaji, tapi dalam konteks ini saya tidak peduli. Terlambat hadir adalah jenis kedisiplinan yang bisa diganti dengan profesionalisme yang lebih pokok, yang berkaitan secara langsung dengan tuntasnya pekerjaan secara bermutu. Berkah, kawan, berkah dari Allah karena memuliakan orang tua terlalu mahal untuk saya tawar-tawar dengan rupiah. Saya pasti akan menyesal seumur hidup.

Tapi saya sadar, ini keleluasaan yang tidak semua orang punya. Ada yang orangtuanya ghosting, so he’s likefuck off berkah, i’ve been struggle after all this time on my own.” Saya tidak akan berkomentar tentang itu. Ada juga orang yang harus memperjuangkan gaji justru untuk kebutuhan orang tua, sehingga salah satunya (anak atau orang tua) harus mengalah. Komunikasi yang baik akan membuat segalanya menjadi wajar dan baik-baik saja. Tidak mengapa itu semua. Saya bisa memilih dan mengerti logika transenden di balik berkah pun karena priveledge pendidikan saya. Saya punya cukup waktu dan uang untuk menikmati pengetahuan.

Hal yang ingin saya sampaikan adalah: ada kalanya pekerjaan bukan lagi segalanya untuk kita. Sampai di titik tertentu dunia kerja menjadikan kita “mesin uang” sehingga kita tidak peduli lagi dengan hal-hal yang sebenarnya jauh lebih mampu merawat kehidupan kita, seperti kasih sayang, kehormatan dan keberkahan. Bila kita mampu menolak dunia kerja memesinkan kita, sebaiknya kita mencobanya demi batin yang lebih sehat dan jernih. Profesionalisme adalah bentuk integritas yang harus kita punya, tapi kadangkala (seringkali?) ia cuma omong kosong agar kita mau dimesinkan. Kitalah yang harus tahu batas. []

Standar

10 respons untuk ‘Lebih Baik Potong Gaji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s