Seni dan Duka Modern

Pada tahun 1990, Guruh Sukarnoputra mengarang sebuah lagu berjudul “Seni”. Lagu itu dinyanyikan oleh Chrisye, kemudian dibawa ulang oleh banyak penyanyi setelahnya. Ada satu bait dalam lagu itu yang telah lama menarik perhatian saya.

Ingin kukatakan tentang makna seni | Namun kemunafikan tidak mungkin memahami

Lagu ini, saya rasa, adalah kritik atas pandangan sebelah mata negara pada pekerja seni dan dunia kesenian, serta pengerdilan makna kesenian di dunia pendidikan. Di era itu, Indonesia sangat mendewakan ABRI, Golkar, pegawai pemerintah, serta orang berdasi. Adapun seniman identik dengan gelandangan yang rizkinya susah; mereka adalah para tengik yang bahkan penampilannya saja menyalahi kebiasaan dan norma masyarakat; sekumpulan orang yang tidak bisa diatur.

Mas Kiki Sulistyo, penyair asal Lombok, pernah bercerita tentang seniman yang diminta pemerintah untuk bersyukur karena negara telah memberi mereka pekerjaan berupa proyek-proyek kesenian. Bagi Mas Kiki, itu adalah bentuk penghinaan. Di dalam pernyataan itu ada anggapan bahwa seniman adalah orang miskin yang susah hati karena kemiskinannya itu dan siap mengerjakan pesanan apa saja asal mereka bisa makan; juga anggapan bahwa seniman itu hanya punya keterampilan tapi tidak punya kebijaksanaan dan ide-ide kemajuan. Karena itulah peran mereka sangat teknis, layaknya tukang, bukan arsitek, bukan mitra negara untuk bertukar pikiran terkait soal-soal publik. Pendek kata, seniman dianggap orang bodoh.

Mungkin, Guruh Sukarnoputra juga gelisah karena negara mendiskreditkan kesenian sebagai sekadar pajangan atau hiburan. Di dunia pendidikan, seni dikerdilkan menjadi sekadar mata pelajaran yang kaku, datar, dingin dan tanpa gairah. Kesenian dipelajari secara pasif hanya demi agar naik kelas.

Bisa jadi, fenomena itulah yang oleh Guruh Sukarnoputra disebut sebagai kemunafikan. Orang munafik adalah orang yang membohongi dirinya sendiri. Orang munafik diibaratkan bermuka dua: satu muka yang menghadap nurani memiliki ekspresi tidak berdaya; muka lainnya menunjukkan raut kesedihan sekaligus keserakahan.

Maksudnya adalah, orang munafik selalu mengingkari suara hati mereka sendiri—yang padahal suara hati itu bertugas untuk membimbing mereka agar tidak diperalat nafsu (desire) menjadi serba uang, serba untung rugi, serba halal, serba gengsi dan dengki. Orang munafik sebetulnya orang yang batinnya kosong, sakit dan kesepian, tapi mereka ditipu sebuah delusi bahwa kebahagiaan bisa didapatkan dengan cara memiliki sebanyak-banyaknya atau mengkonsumsi sepuas-puasnya, tren apapun yang terkini, termewah, dan tak ada habisnya.

Tapi nafsu tidaklah murah. Karena itulah, di level ekstrim, kita temukan kemunafikan mendorong orang melakukan korupsi. Di level sehari-hari, ia juga mendorong orang agar sibuk menambah kapital dan lupa meningkatkan kualitas batin. Padahal, kualitas batinlah yang menentukan keruh-jernihnya hidup manusia.

Guruh Soekarno kemudian menegaskan di lirik selanjutnya bahwa kesenian hanya bisa dipahami dengan kejujuran dan keluhuran pekerti. Saya kira, keduanya adalah simbol terbalik dari semua bentuk kemunafikan di atas serta akibat-akibatnya pada batin manusia.

Seni mendorong manusia untuk mengakui lebih kurangnya diri dan berdamai dengan keadaan itu. Seni menuntut manusia untuk berhenti sejenak, bersunyi barang satu dua saat, lalu menengok batin yang kusam. Hanya dengan begitu manusia bisa melihat keadaan batinnya. Hanya dengan begitu, manusia bisa belajar memperbaiki dan mengusahakan keluhuran pekerti. Bila tidak, manusia akan terus denial dan mencari-cari pembenaran atau pelarian.

Bagi saya, lirik lagu Guruh Sukarnoputra masih relevan. Di bumi sudah tidak ada homo sapiens (manusia bijak); hanya ada homo consumen yang hidup nomaden dari satu kenikmatan semu menuju kenikmatan semu lain yang mereka anggap sebagai jalan kebahagiaan. Padahal semua itu adalah duka; duka manusia modern. Tapi kita juga harus waspada, apakah seni bisa memelihara kewarasan kita ataukah pada akhirnya ia hanya produk baru yang dikonsumsi hanya untuk memperpanjang duka manusia modern.

Standar

12 respons untuk ‘Seni dan Duka Modern

  1. Tiap individu punya tingkat apresiasi yang berbeda dalam menghargai karya seni.
    Di negara barat sana yang diapresiasi adalah talentanya, bukan “penampakan”.
    Tidak heran penyanyi yang jelek bisa jadi diva.

    • setuju, bang tikno. karena itulah mungkin lagu guruh soekarnoputra mengangkat sebuah titik telak, yaitu mengapa negara justru berkontribusi untuk mengecilkan makna kesenian. ini lagu gugatan, tapi halus sekali.

    • betul, kakak. kesenian dengan caranya sendiri membuat perasaan kita semakin peka kian harinya. setidaknya peka pada kehidupan bila bukan peka pada tuhan.

  2. Zi berkata:

    Yang munafik itu dia ngak ngerti Marslow Pyramid, seni itu ada di titik puncak. Dan si munafik hanya muter2 di basenya doang mikirin bagaimana cara ngumpulin benda sebanyak-banyaknya.

  3. “Untuk orang miskin, apalah itu seni, Bang?”

    Waktu saya masih kecil, dan sering ke hutan untuk membantu orang tua bekerja, saya membandingkan hidup keluarga kami dengan orang-orang di Televisi. Hal pertama yang saya temukan, dan saat itu saya sadari adalah mengenai seni dan rekreasi. Untuk orang-orang seperti kami, seni dan rekreasi yang dipertontonkan di televisi adalah mewah. Kalau pun ada nilai seni dalam hidup, itu adalah seni untuk mencari makan dan bekerja dengan giat.

    Semoga nyambung ya komen ini haaa

    • bagi saya, kak, seni terbesar adalah seni menyelidiki batin kita sendiri. para bhikkhu buddhis sangat piawai dalam hal ini. mereka mengembangkan seni menyelidiki batin itu selama ribuan tahun. dalam pada itu mereka juga mengembangkan seni hidup papa, yakni seni menjalani hidup dengan tidak berpunya, kurang makan, kurang pakaian, lepas dari berbagai kemelekatan. Common sense kita bisa melihat itu sebagai bentuk kemiskinan, yet they did a phenomenal art 😁

    • kalau kita pikir baik-baik, tidak ada yang tidak seni di dunia ini. setiap bentuk punya seni sendiri. tapi memang ada seni yang menampilkan kedangkalan. ada seni yang menampilkan kedalaman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s