Gandhi yang Terpuruk

Mungkin, di sepanjang tahun 1946 – 1948, Gandhi, manusia besar dari India itu, merasakan kekecewaan dan kesedihan. Mungkin pula turut di dalamnya rasa putus asa.

Gandhi telah memperkenalkan satyagraha (a truth or virtue force) dan ahimsa (a non-violence resistance) sebagai metode untuk membebaskan orang India dari penjajahan, baik oleh kolonial Inggris maupun oleh sistem sosial dan budaya setempat. Gandhi bukanlah politisi. Satyagraha dan ahimsa bukan pula strategi politik. Gandhi memaksudkannya sebagai filsafat dan etika untuk berbagai bidang kehidupan. Tujuan utama satyagraha dan ahimsa adalah kemerdekaan yang damai. Politik Gandhi bukan kudeta; Gandhi hanya ingin agar Inggris segera angkat kaki, agar bangsa India merdeka menata masa depan yang lebih manusiawi.

Gandhi sukses meraih perhatian. Ia juga sukses mendidik banyak orang. Gandhi mendirikan sekian ashram dan tinggal bergilir di sana. Di tiap ashram, Gandhi bangun pukul dua pagi, bermeditasi dan membaca Bhagavad Gita hingga subuh hari, kemudian melakukan pelayanan sosial hingga malam. Itulah rutinitas Gandhi bersama murid-murid dan masyarakat di sekitar ashram, di luar aktivitas politiknya melawan penjajah. Banyak warga India, terutama mayoritas kasta-kasta rendah dan miskin, menyambut dengan gegap gempita filsafat dan etika baru yang Gandhi tawarkan. Satyagraha dan ahimsa dianggap sebagai jalan keluar bagi banyak masalah sosial-ekonomi di India.

Sejauh perjuangan Gandhi, satyagraha dan ahimsa bekerja sangat efektif melawan Inggris sekaligus mempersatukan India. Tapi pada tahun 1946 – 1948, Gandhi harus menghadapi gejolak dalam negeri. Musuh terberat ternyata adalah diri sendiri.

India, dalam beberapa waktu, akan segera mendapatkan kemerdekaan. Namun ada pihak yang tidak menyenangi kemerdekaan itu. Ialah Muhammad Ali Jinnah, kawan politik Gandhi. Ali Jinnah menimbang bahwa umat Islam akan terancam bila India merdeka. Sebab India akan menjadi negara Hindu dengan pemimpin Hindu, yang akibatnya, ke depan umat Islam akan mengalami asimilasi dan penindasan. Demi melindungi umat Islam, Ali Jinnah merasa perlu mendirikan negara baru untuk umat Islam, yaitu Pakistan. Ali Jinnah tidak memikirkan kekuasaan; di akar rumput, ia mendengar secara langsung berbagai keluhan umat Islam yang ketakutan. Ternyata ketegangan antara umat Islam dan Hindu sudah sangat menguat.

Gandhi berusaha membujuk Ali Jinnah agar tidak mendirikan Pakistan. Gandhi meyakinkan Ali Jinnah bahwa asimilasi dan penindasan itu tidak akan terjadi. Gandhi bahkan menawarkan Ali Jinnah posisi perdana menteri pertama India. Namun tekad Ali Jinnah sudah bulat, situasi di bawah sudah tidak sehat. Para politisi Hindu bersikap memusuhi Ali Jinnah (berkebalikan dengan kebaikan, ketulusan dan optimisme Gandhi―yang bukan seorang politisi). Ali Jinnah pun menyerukan sebuah aksi agar umat Islam unjuk kekuatan.

Seperti yang diperkirakan Gandhi, perpecahan dan kekerasan sudah di ambang mata. Pada 16 Agustus 1946, konflik pecah di Kalkutta. Sebanyak 5000 orang terbunuh dan 20.000 orang luka-luka. Mayat bergelimpangan dan jalanan licak oleh darah. Aroma anyir menguar di udara. Gedung-gedung rusak dan terbakar. Sebagian besar korban beragama Hindu.

Serangan balasan menyebar di India utara. Pemandangan yang sama jerihnya terjadi di kota-kota. Nyaris seluruh keluarga muslim dibantai. Serangan balik dari liga umat Islam pun berdatangan. Sepanjang tahun, tiada henti, kekerasan mengiringi gelombang migrasi umat Islam dari India ke Pakistan. Umat Islam yang menolak pindah dari India ada yang selamat, tapi mereka harus menghadapi situasi kekerasan dalam waktu yang cukup lama.

Di hari deklarasi kemerdekaan India, Gandhi tidak datang. Kursi yang disediakan untuknya kosong.

Gandhi berjalan di kota-kota yang menjadi pusat saling bantai Islam dan Hindu. Ia menyusuri jalan anyir dan sesekali masih ada mayat yang dibiarkan tak terurus. Gandhi benar-benar mempertaruhkan nyawa dengan mengunjungi pusat-pusat konflik tanpa perlindungan. Ia cuma ditemani beberapa murid ashram yang tidak membawa senjata.

Gandhi menemui komunitas-komunitas muslim dan Hindu, meyakinkan mereka agar berhenti saling melukai. Sebagai balasannya, berkali-kali jalannya dilempari barang pecah belah dan kotoran agar tidak bisa ia lewati. Namun berkali-kali pula, berkali-kali pula, Gandhi memilih melepaskan sandalnya dan menantang mereka dengan cara berjalan telanjang kaki di atas pecahan kaca dan kotoran itu. Gandhi, sejak lama, piawai menyentuh lubuk hati manusia, menaruh kepercayaan secara mutlak pada kebaikan di dalam lubuk itu. Ada saja pemimpin komunitas yang terketuk hatinya dan segera menolong Gandhi.

Saya bisa merasakan Gandhi terguncang. Mungkin ia sangat terpukul. Gandhi telah berjuang puluhan tahun; ia melihat filsafat dan etika yang ia kembangkan mampu mengatasi masalah. Kini ia temukan filsafat dan etika itu tidak bertahan diamuk badai politik yang mengeksploitasi isu agama. Masyarakat yang telah dididiknya mampu menerapkan satyagraha dan ahimsa di masa damai atau untuk bersabar menghadapi penjajah, namun tidak di masa krisis atau untuk bersabar menghadapi bangsa sendiri.

Apakah Gandhi berpikir bahwa, pada akhirnya, kebaikan, cinta, keadilan dan kejujuran di dunia ini memang tidak ditakdirkan untuk menang? Apakah ajaran-ajaran luhur itu terlalu utopis untuk menjadi kenyataan? Apakah satyagraha dan ahimsa pada akhirnya adalah manisan fiksi yang apik hanya di atas kertas?

Perasaan Gandhi mungkin terpuruk. Tapi sepertinya ia tidak sudi menyerah. Ia tetap yakin satyagraha dan ahimsa adalah satu-satunya jalan menuju perdamaian permanen.

Pada 12 Januari 1948, Gandhi mengambil keputusan untuk berpuasa sampai mati; ia akan duduk dan bersamadi tanpa makan. Bagi Gandhi, mati lebih baik daripada menyaksikan kekejian manusia di India. Puasa adalah protes khas ahimsa dan ini bukan kali pertama Gandhi berpuasa sebagai protes. Ia pernah berpuasa selama 21 hari untuk memprotes Inggris. Namun kali ini berbeda: Gandhi berpuasa untuk menegur bangsanya sendiri. Gandhi bertekad berpuasa sampai konflik panjang antara Islam dan Hindu di India berakhir.

Seluruh jazirah India gempar karena keputusan dan keteguhan Gandhi. Tidak ada yang bisa mencegahnya berpuasa. Tekad Gandhi sudah bulat. Perlahan, orang India terkenang pada kebaikan mahatma yang mereka elu-elukan. Mereka akhirnya bersepakat mengakhiri konflik. Barulah, setelah enam hari berpuasa dan setelah perwakilan umat Islam dan Hindu menyatakan secara langsung dan tertulis bahwa mereka telah melakukan genjatan senjata, Gandhi mengakhiri puasanya.

Kurang dari dua minggu setelah puasanya berakhir, Gandhi dibunuh oleh seorang Hindu fanatik yang membencinya karena dekat dengan umat Islam. Tiga butir peluru bersarang di dadanya. Pembunuh Gandhi, Nathuram Godse, tidak pernah menyesali perbuatannya. Pun adik-adik dan keturunannya, hingga hari ini mereka berpikir Godse telah menunaikan kewajiban dan menegakkan kebenaran. Gandhi dituduh telah mengubah Hindu sampai ke titik tanpa harga diri karena bersahabat dengan Islam. Ternyata, setelah puluhan tahun berjuang pun, belenggu pikiran masih menjajah banyak orang.

Tapi Gandhi mati sambil tersenyum. Ia sudah selesai dengan cerita hidupnya. Ia pernah menantang kita menerapkan satyagraha dan ahimsa, dan ia yakin kita bisa sebagaimana ia bisa, asal ada hati yang teguh dan tekad yang kuat. Kini, di balik “makam sejati”-nya, Gandhi menunggu dan memerhatikan. []

Standar

4 respons untuk ‘Gandhi yang Terpuruk

  1. Hampir di setiap novelnya, setidaknya yang sudah saya baca, Salman Rushdie curhat soal pisah-jalan India dan Pakistan ini (juga Pakistan Timur yang kemudian jadi Bangladesh). Yang bikin sudut pandangnya unik, tokoh-tokoh dalam cerita Rushdie kebanyakan berasal dari Kashmir yang jadi rebutan kedua negeri yang bersaudara itu.

    Manusia-manusia luar biasa seperti Gandhi barangkali sengaja diturunkan secara periodik untuk menebar bintang-bintang di angkasa, supaya perahu peradaban manusia tetap mampu mengarungi kehidupan yang absurd ini.

    • saya sudah koleksi beberapa buku salman rushdie di perpustakaan, tapi belum ada giliran baca :’) dan yang abang katakan tentang gandhi, boleh saya kutip? saya suka 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s