Hari Raya Qurban, Etika Bumi dan Sejarah

Beredar nasehat bijak idul qurban di media sosial. “Setiap orang adalah Ibrahim, setiap orang punya Ismail yang harus diqurbankan.” Ismail itu mungkin jabatan, mungkin harta, mungkin kedudukan sosial, dll.

Tentu nasihat tersebut sangat baik, tapi saya berpikir tentang konteks yang lebih luas. Jangan jauh-jauh membayangkan “Ismail” yang berupa keberanian untuk melepas jabatan dan menyedekahkan harta. Coba kita tanya diri kita: bisakah kita mengurbankan “Ismail” berupa mode konsumsi yang tidak ramah lingkungan dan boros energi—atau gaya hidup apapun yang merusak bumi?

Dalam 20 tahun terakhir Indonesia mengalami kenaikan jumlah kelas menengah. Hukum ekosentrisme mengatakan, “Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, semakin tinggi tingkat konsumsi energi.” Sayangnya, sangat sedikit dari kita yang mengonsumsi energi dengan menyadari bahwa konsumsi kita menghasilkan limbah atau, atau sekadar menyadari bahwa sumber-sumber energi yang kita konsumsi itu terbatas.

Contoh sederhananya listrik. Semakin gila-gilaan dan tidak esensialnya kebutuhan kita pada listrik, semakin girang juga industri batu bara mengeruk tanah-tanah di Kalimantan. Aktivitas konsumsi mendorong dan melanggengkan aktivitas produksi. Artinya, bila prinsip konsumsi listrik manusia tidak waras, maka kerusakan lingkungan hidup permanen telah menanti, penderitaan warga di sekitar tambang pun pasti.

Kerusakan lingkungan hidup skala besar diawali dari aktivitas konsumsi kita yang skalanya kecil. Bisakah kita mengurbankan keterikatan kita pada konsumsi? Menyederhanakan konsumsi berarti membantu menyelamatkan lingkungan hidup. Minimal untuk mengurangi limbah, misalnya limbah plastik sekali pakai, kalau memang tidak mampu menjadi tatah perlawanan terhadap industri ekstraktif yang merugikan rakyat dan merusak ekosistem.


Hari Raya Qurban dan hubungannya dengan etika bumi juga terkait dengan hitung-hitungan sejarah.

Mari berhitung. Nabi Ismail yang dikurbankan oleh Nabi Ibrahim adalah kakek buyut Nabi Muhammad. Ibrahim punya dua anak. Ismail, anak pertama, adalah anak dari ibu seorang budak Mesir yang bernama Hajar. Sedangkan Ishaq, anak kedua, adalah anak dari ibu seorang puteri kerajaan yang bernama Sarah.

Setelah Ibrahim, seluruh rasul Islam berasal dari keturunan Ishaq. Siapakah umat yang diasuh oleh para rasul itu? Umat Yahudi, yakni keturunan Ishaq. Dari jalur Ismail, tidak ada nabi dan rasul kecuali Muhammad. Ismail adalah pembuka, Muhammad adalah penutup. Keduanya berperangai lembut. Di antara keduanya hanya ada orang-orang saleh yang kedudukannya setara nabi. Misalnya Khidir.

Karena itulah, biasanya para rasul dari jalur Ishaq adalah “nabiyyul mulki” atau mereka yang dekat dengan dinamika kekuasaan. Sulaiman, Daud, Yusuf adalah raja. Musa dibesarkan oleh raja. Tradisi “nabiyyul mulki” inilah yang membuat orang Yahudi dulu menolak kenabian Muhammad, bahkan membencinya, sebab Muhammad bukanlah keturunan Yahudi dan bukan pula seorang raja. Mereka terbuai imaji bahwa nabi haruslah raja atau setidaknya berdarah biru. Imaji itu pernah ditentang oleh Isa. Nabi yang didaulat sebagai “kristus” itu memilih untuk tidak menjadi raja dan menempuh jalan untuk mengasihi seluruh umat manusia. Cinta universal itu membuatnya disiksa Orang Yahudi.

Adapun Muhammad, yang lahir dari jalur Ismail, mendaulat diri sebagai “nabiyyul abdi”, nabi yang hamba. Muhammad pernah ditawari Allah dan Jibril untuk dibuatkan sebuah istana emas, di mana beliau duduk di singgasana yang megah dan mengatur umat manusia sebagai raja. Itu menggiurkan: kekuasaan sebagai raja mungkin membuat dakwah semakin mudah. Namun Muhammad menolak. Berperan sebagai raja bukanlah tradisi Ismail. Harta menipu, dakwah dengan otoritas politik cenderung semu. Untuk mengatur Orang Yahudi yang keras kepala mungkin dibutuhkan kekuasaan, tapi zaman telah berubah dan Muhammad mungkin melihat jalan lain untuk membina umat manusia.

Akhirnya, Muhammad memilih tradisi Ismail. Daripada membangun kerajaan, Muhammad lebih suka membina komunitas. Ismail dan Ibrahim punya visi tentang “bakkah”, sebuah kedatuan yang tenteram dan sejahtera karena kesalehan, bukan karena kekayaan. Akhlak dan kesederhanaan adalah ciri utama keturunan Ismail. Abdul Mutallib misalnya, yakni kakek Muhammad dari jalur Bani Hasyim, adalah sosok pemimpin Makkah yang sangat sederhana. Jauh sekali perbedaan Abdul Mutallib dibandingkan dengan kehidupan glamor saudara-saudaranya dari Bani Umayyah yang merupakan elit pedagang.

Apa hubungan cerita Ismail dan Muhammad dengan etika bumi? Perhatikanlah: idul qurban ternyata bertalian dengan sejarah orang saleh selama ribuan tahun. Pada ritual itu tersembunyi kisah tentang manusia yang lebih mementingkan nilai kehidupan daripada materi. Padanya ada kisah manusia yang siap berkorban kepemilikan demi hal-hal yang lebih luhur.

Merayakan Idul Qurban adalah merayakan kesetiaan Ismail pada segala yang tak-benda. Keikhlasan Ismail untuk disembelih adalah bentuk iman tertinggi, yakni kesadaran bahwa tubuh atau benda sesungguhnya merupakan hal yang remeh saja. Manusia bahkan bisa ditinggalkan olehnya kapan saja. Maka manusia harus belajar meninggalkannya.

Materi itu sementara. Idul Qurban berarti mengecilkan keterikatan kita pada materi. Bumi butuh orang-orang yang berkurban semacam itu agar bumi selamat. Idul Qurban adalah etika bumi yang sangat mendasar.

Selamat hari raya qurban 1442 hijrah. []

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s