Berwudulah, Tapi Jangan Boros

Sekitar 70% air wudu yang kita gunakan jatuh dengan percuma. Air yang benar-benar kita pakai untuk menyucikan diri hanya 30% saja. Ini namanya wudhu tabdzir, wudu yang boros air, yang tidak hemat energi. Apakah wudu yang semacam ini wajar untuk dibiasakan? Tentu tidak.

Nabi pernah menegur seorang sahabat bernama Sa’ad yang dilihatnya boros air dalam berwudu. Nabi menyuruhnya menghemat air “bahkan meski engkau berada di sungai yang airnya mengalir,” atau di sekitar sumber air. Nabi menekankan bahwa wudu yang berlebihan merupakan kezaliman, perbuatan jahat dan melampaui batas.

Kenapa Nabi harus menyamakan boros air dengan kezaliman? Padahal berwudu adalah soal ibadah. Bila berwudu saja tidak boleh boros, bagaimana dengan “boros” yang lain, misalnya, boros dalam membangun masjid?

Rupanya ini soal cara berpikir.

Orang Islam diharuskan Nabi untuk memanfaatkan sumber daya alam sembari “memikirkan jatah makhluk lain” (sesama manusia, hewan, tumbuhan, bahkan tanah, laut dan udara). Laku empati tersebut merupakan esensi dari tugas manusia sebagai khalifah. Kalau manusia tidak bisa membantu Tuhan untuk memastikan semua makhluk lain dapat jatah rizki secara adil, setidaknya manusia diharamkan berbuat yang dapat mengurangi jatah rizki mereka. Jatah itu bisa berupa jatah pangan, jatah napas, jatah rumah dan jatah gerak.

Dulu, boros air mungkin bukan perkara. Bumi berlimpah air. Kini kita tengah diancam krisis air. Sebanyak 1,8 miliar manusia hidup di tengah kelangkaan air. Sebanyak 2 miliar lainnya mengalami kelangkaan air bersih. Di tengah konstelasi bencana itu, Orang Islam bisa bersumbangsih menyelesaikan masalah dengan cara berhemat air, sedari air wudu. Inovasi berupa keran yang mengalirkan air secara hemat bisa saja dikembangkan, tapi lebih penting lagi membangun kesadaran agar Orang Islam berhemat dalam wudu. Saya bersyukur, pondok saya dulu mengajari saya berwudu dengan segelas air. Segelas! “Meski air berlimpah, wudulah dengan satu gayung saja. Itu sunnah Nabi.”

Tapi berhemat saja tak cukup. Musuh besar kelangkaan air adalah industrialisasi dan, sedikit banyak, modernisme.

Hotel, pabrik, serta ledakan populasi masyarakat modern akibat keberkiblatan pada pertumbuhan ekonomi, menciptakan keadaan terisapnya cadangan air tanah secara besar-besaran. Bila cadangan air tanah itu menipis (ya, ia bisa menipis), maka debit di sumber-sumber air suatu daerah bisa menurun, kepadatan tanah bisa berkurang, kadar garam tanah meningkat karena adanya subsiden, yakni turunnya permukaan tanah dan naiknya permukaan air laut. Semua itu berpengaruh pada kelangkaan air bersih, degradasi kualitas tanah dan pangan, rapuhnya hunian, serta banjir. Semua akibat satu hal: agenda mengejar pertumbuhan ekonomi melalui industrialisasi.

Sangat tidak adil: meminta rakyat kecil menghemat air tapi membiarkan industrialisasi tidak terkontrol mengisap sumber daya.

Maka perintah hemat air wudu itu harus dilihat sebagai praktek terkecil dari upaya menjaga air. Air adalah sumber hayat (hayat = kehidupan). Tidak ada yang tidak butuh air. Ketimbang krisis air, lebih baik krisis pabrik dan krisis hotel. Praktek besar upaya menjaga air bisa berupa perlawanan terhadap industri ekstraktif-destruktif yang mengancam keutuhan “ruang hayat”, tempat bermukim dan hidupnya segala makhluk.

Allah memberi siratan etika mengenai hal di atas dalam al-Qur’an: “Qad ‘alima kullu unasin masyrabahum” (QS. 2:60). Artinya, setiap suku telah mengetahui tempat sumber airnya masing-masing. Secara tersirat Allah menancapkan patok universal bahwa prinsip pengelolaan air adalah distribusi adil, bukan di-privatisasi (penguasaan perorangan demi kepentingan industri). Lebih dalam lagi, etika al-Qur’an melihat air sebagai milik bersama; ia adalah milik tanah, pohon, burung, anjing, sapi, ular, ikan, sebab semua yang tersebut itu digolongkan Allah sebagai umat, selayaknya manusia (QS. 6:38). Tidak berhak manusia mendayagunakan air dengan mengira bahwa air itu hanya dan hanya tercipta untuknya.

Maka wajar saja bila Nabi dengan tegas menyatakan bahwa pemborosan air merupakan kezaliman, kejahatan dan tindakan yang melampaui batas. Ini soal etika. Dari wudu saja, Orang Islam diajari untuk berpikir bahwa mereka sama sekali tidak istimewa. Malaikat bersujud pada manusia karena diperintahkan oleh Tuhan, bukan karena mereka takjub pada keistimewaan manusia, yakni sesuatu selain Allah. Manusia tidaklah seistimewa yang mereka kira selama ini.

Allah tidak menciptakan alam semesta untuk melayani hasrat manusia. Allah mengizinkan manusia mencicipi nikmat-Nya, namun dengan mengetahui cara bersyukur, tahu cara menahan diri, dan tahu batas. []

Standar

4 respons untuk ‘Berwudulah, Tapi Jangan Boros

  1. Permukaan tanah di Jakarta setiap tahunnya berkurang sekian sentimeter,karena penggunaan air tanah yang masif. Bahkan ada yang meramalkan Jakarta akan tenggelam. Menyeramkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s