Kesaktian Tertinggi Bagi Orang Sasak

Pernah ada kawan bertanya pada saya. “Seandainya kekuatan super itu nyata dan bisa dipilih secara instan, kekuatan apa yang akan kamu pilih?”

Saya percaya kekuatan super itu nyata, tapi yang saya impikan sedikit berbeda. Saya ingin punya kekuatan yang dengannya saya bisa membuat orang lain bahagia hanya dengan menyentuhnya. Dengan kekuatan itu, orang sedih bisa saya hibur. Orang yang hendak bunuh diri bisa saya cegah. Orang yang hendak berbuat jahat bisa saya hentikan. Orang yang kecanduan harta, tahta, wanita bisa saya jinakkan. Saya percaya kebahagiaan hakiki (inner piece, suwung, arahat, muthmainnah) adalah kunci kedamaian

Hari ini, imaji saya tentang kekuatan bahagia itu tersingkap sebagai sesuatu yang sangat mungkin ada. Bahkan, tampaknya, jauh lebih dahsyat.

Semua bermula dari rasa penasaran saya: kenapa orang Sasak tidak memiliki senjata khas daerah? Seperti rencong di Aceh, keris di Jawa, mandau di Kalimantan dan badik di Sulawesi. Kalau sekadar senjata, orang Sasak juga punya. Keris ada, tombak dan pedang juga, baik yang keramat maupun yang tidak (yang keramat bisa “jalan-jalan”, alias berpindah tempat dengan sendirinya). Tapi yang khas tidak ada. Cuma ada maje, semacam pisau kecil yang sesungguhnya merupakan seni kayu (untuk gagang dan sarungnya) alih-alih senjata untuk bertarung atau perang. Maje adalah piranti kebudayaan Sasak untuk memelihara ekologi, yakni pohon dan kekayuan tertentu.

Jawaban atas rasa penasaran saya ini cukup mengejutkan. “Orang Sasak sudah sakti. Karenanya senjata tidak dibutuhkan.”

Adalah bapak Muh. Syahrul Qodri, seorang akademisi, peneliti dan pemerhati budaya Sasak, yang memberi saya jawaban itu pagi tadi (23/8/2021). Ia menjelaskan bahwa kesaktian yang mengandalkan benda adalah tingkat kesaktian yang cukup rendah di mata orang Sasak. Lantas, kesaktian apakah yang dijunjung oleh orang Sasak?

“Bagi orang Sasak, manusia sakti adalah manusia yang jika ia punya musuh, musuh itu menyayanginya. Bila musuh itu berniat mencelakainya, niat itu akan menguap entah ke mana. Manusia sakti, bila ia datang ke suatu tempat yang sesaat lagi mendapatkan suatu bencana, bencana itu akan menjauh, sungkan mendekat.”

Mendengar itu, saya bisa merasakan darah saya berdesir. Sebuah kesaktian yang tidak menyakiti? Kesaktian yang bekerja dalam senyap, tanpa memerlukan pengakuan? Allah, itu luhur sekali.

Pelan-pelan memori kolektif saya sebagai orang Sasak hadir. Sepuh-sepuh Sasak di sekitar saya rata-rata dianugerahi kemampuan untuk membuat perampok frustasi. Umumnya, kawanan perampok yang menyergap halaman rumah mendadak takkan menemukan pintu atau jendela. Kemudian, rumah akan terlihat memanjang tanpa ujung. Atau, lebih parah lagi, yang kawanan perampok itu lihat hanyalah sungai atau danau. Gerbang rumah juga raib. Alhasil, mereka bisa berputar-putar di halaman rumah sampai pagi, sampai menangis, memohon agar bisa ditunjukkan jalan keluar. Pagi harinya, pemilik rumah akan membukakan gerbang, menyilakan mereka pergi baik-baik.

Guru mengaji saya, seorang pensiunan guru SD yang sederhana, sebelum pulang dari kebun di waktu magrib sering menancapkan sebatang lidi di dekat pagar. Kadang, pekebun lain yang pulang malam melihat Pak Guru berdiri di kebunnya, tepat di tempat lidi itu menancap. Pernah ada pekebun yang menginap melihat seorang maling berkelahi dengan lidi tersebut. Berkelahi sampai lelah. Entah lidi itu dilihatnya bagaimana.

Saya baru menyadari, kesaktian tertinggi orang Sasak justru bersifat membimbing, bukan menyakiti. Istilah Pak Syahrul Qodri, “kesaktian imani”. Disebut begitu mungkin karena kesaktian tertinggi ini tidak diraih dengan mempelajari ajian-ajian, melainkan karena kedekatan dengan Allah, hadiah dari Allah atas perjuangan menipiskan nafsu, meniadakan ke-aku-an. “Hanya ada Allah, yang lain semu.” Merekalah Para Kekasih Allah. Para Kekasih dianugerahi kemuliaan tertentu, yang dalam Islam disebut karomah.

Dan Para Kekasih biasanya tersembunyi, tidak tampil terbuka sebagai selebriti. Hanya sedikit yang tahu. Mereka bisa jadi adalah nelayan, petani, satpam, pengarat kambing, dll. Mereka melindungi dari balik bayangan. Mereka suka tersenyum dan mengalah. Mereka suka berkasih-kasihan pada manusia dan seluruh alam.

Pada bencana gempa tahun 2018 silam pun Para Kekasih punya peran penting menghindarkan Lombok dari bencana yang lebih parah, seperti tsunami. Bukan karena mereka sakti, tapi karena mereka sudah diberi isyarat oleh Allah dan mereka langsung bermunajat sejak beberapa minggu sebelum bencana. Mereka benar-benar memohon kemurahan hati Allah agar bencana yang lebih besar tidak diberikan pada pulau mungil ini. Pada malam gempa terbesar itu, saat semua orang berlari ke arah timur lantaran mendengar kabar tsunami di pantai barat, mereka justru lari ke pantai, bermunajat. []

NB:

Belakangan keinginan saya sedikit bertambah. Saya ingin punya kekuatan yang, cukup dengan menangkupkan kedua tangan, memungkinkan saya menumbuhkan hutan dalam hitungan detik. Percuma bahagia kalau seluruh pohon punah karena ulah tangan manusia.

Standar

3 respons untuk ‘Kesaktian Tertinggi Bagi Orang Sasak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s