Apa Itu Etika?

Oleh: Manuel Velasquez, Claire Andre, Thomas Shanks, S.J., dan Michael J. Meyer.


Etika adalah upaya menetapkan standar “benar dan salah” dengan argumentasi yang paling mendasar. Standar tersebut menentukan apa yang harus dilakukan manusia. Lazimnya ia berkaitan dengan hak dan kewajiban seseorang, tapi secara garis besar Etika berusaha menghasilkan manfaat bagi masyarakat, seperti keadilan atau kebajikan tertentu.

Beberapa tahun yang lalu, sosiolog Raymond Baumhart bertanya kepada para pebisnis. “Apa arti Etika bagi Anda?” Berikut ini adalah di antara jawaban mereka:

Etika berkaitan dengan apa yang benar dan salah—menurut perasaan.”

Etika berkaitan dengan keyakinan agama saya.”

Menjadi etis berarti tidak melanggar hukum.”

Etika merujuk pada standar-standar perilaku yang diterima dalam masyarakat kita.”

Aku tidak tahu apa arti kata itu.”

Balasan-balasan di atas mungkin sering kita dengar. Banyak yang menyamakan Etika dengan hal-hal di atas (agama, hukum, norma adat, bahkan perasaan mereka sendiri). Itu wajar, secara harfiah pun arti kata “Etika” sendiri memang agak sulit dijabarkan.

Seperti responden pertama Baumhart, banyak orang cenderung menyamakan etika dengan perasaan mereka. Artinya, salah benar diukur dengan perasaan subjektif manusia. Tapi jelas Etika bukanlah tentang perasaan. Kita bisa mengikuti perasaan ketika harus mengambil tindakan di situasi tertentu. Tapi faktanya, perasaan seringkali mengecoh, bahkan cenderung menyimpang dari kebenaran.

Wajar juga bila orang mengidentikkan Etika dengan agama. Kebanyakan agama, tentu saja, menganjurkan standar Etika yang tinggi. Namun jika Etika hanya terbatas pada agama, maka Etika hanya akan berlaku bagi orang-orang beragama. Tetapi Etika berlaku baik untuk perilaku ateis maupun orang beragama yang taat. Agama dapat menetapkan standar Etika yang tinggi dan dapat memberikan motivasi yang kuat bagi manusia untuk berperilaku etis. Tetapi makna Etika, bagaimana pun juga, tidak mungkin sebatas pada (atau serupa dengan) agama.

Menjadi etis juga tidak sama dengan mengikuti hukum. Hukum memang sering dibuat dengan bersandar pada Etika yang berlaku umum di tengah suatu masyarakat. Tetapi hukum, seperti halnya perasaan, berpotensi pula menyimpang dari kebenaran. Amerika pernah punya Undang-undang perbudakan. Afrika Selatan pernah punya Undang-undang Apartheid. Itu semua adalah contoh bagaimana hukum bisa dibuat menyimpang dari Etika.

Akhirnya, Etika (atau menjadi etis) tidak sama maknanya dengan sekadar “mempraktekkan standar-standar yang diterima di dalam masyarakat.” Masyarakat mana pun pasti menerima, mengadopsi, menganut dan menerapkan berbagai standar yang diyakini benar dan etis. Tetapi, seperti hukum, standar perilaku dalam masyarakat dapat pula menyimpang dari kebenaran. Suatu masyarakat bisa menjadi masyarakat yang korup, yang keji, yang amoral. Nazi Jerman adalah contoh yang baik dari masyarakat yang korup secara moral.

Terlebih lagi, jika menjadi etis berarti “mempraktekkan standar-standar yang diterima di dalam masyarakat”, maka seseorang harus bergantung pada apa kata masyarakat. Untuk memutuskan pendapat kita tentang aborsi, misalnya, kita harus melakukan survei terhadap masyarakat dan kemudian menyesuaikan keyakinan kita dengan apa pun pendapat masyarakat. Tapi pasti akan sangat merepotkan melakukan hal itu. Bahkan masyarakat sendiri tidak pernah satu pandangan tentang suatu hal. Pendapat masyarakat selalu beragam. Beberapa orang mungkin menerima praktek aborsi, tetapi lebih banyak yang tidak. Selain karena nihilnya konsensus masyarakat atas suatu topik, bergantung pendapat pada masyarakat pun akan membuat seluruh upaya menuntut ilmu jadi sia-sia, karena aktivitas berpikir tidak diperlukan lagi.

Lalu, apa itu Etika?

  1. Etika mengacu pada standar benar dan salah. Standar itu harus berlandaskan argumentasi yang rasional, agar Etika berlaku menyeluruh (baik pada orang beragama hingga pada ateis, atau pada orang-orang di lintas negara. Etika menentukan apa yang harus dilakukan oleh manusia atau apa yang harus diterima oleh manusia. Biasanya ia berupa hak dan kewajiban. Bisa juga berupa manfaat, keadilan atau kebajikan tertentu.
  2. Etika berupaya menyediakan argumentasi yang memaksa seluruh manusia, tanpa terkecuali, untuk menahan diri dari memerkosa, mencuri, membunuh, memitnah, menipu, dll. Pemaksaan yang berlaku universal hanya bisa dilakukan bila Etika berlandaskan pada argumentasi rasional yang dapat dicerna seluruh pihak.
  3. Etika juga berbicara tentang kebajikan berupa kejujuran, kasih sayang, kesetiaan, dan kenapa kebajikan-kebajikan itu layak disebut kebajikan. Harus ada argumentasi logis kenapa suatu kebajikan diterima sebagai kebajikan. Sebab, kebajikan itulah yang nanti memberi kita jaminan, misalnya berupa hak untuk hidup, hak untuk bebas dari kekerasan, dan hak atas privasi. Selain masuk akal, argumentasi atau alasan yang digunakan sebagai fondasi etika harus konsisten.
  4. Etika juga merupakan proses yang berkesinambungan untuk mempertanyakan standar moralitas suatu masyarakat. Apa dasarnya? Termasuk dalam hal ini standar moralitas kita sendiri. Proses merupakan kata kunci dalam bidang kajian Etika. Pelajar Etika berusaha menerapkan pemikiran etisnya. Pelajar Etika tidak ongkang-ongkang kaki setelah membaca buku atau berdiskusi.
  5. Pendek kata, Etika berusaha menjawab pertanyaan “mengapa” (misalnya, mengapa berderma disebut kebajikan? Apa spesialnya memberi kelebihan harta pada yang membutuhkan?). Etika tidak menerima argumentasi “pokoknya begini” atau “pokoknya begitu.” []

Artikel ini pertama kali dimuat di jurnal Ethics IIE V1 N1 (Musim Gugur 1987). Direvisi pada tahun 2010. Judul asli artikel ini adalah “What is Ethics”, saya terjemahkan untuk keperluan kelas pemikiran Akademi Gajah.

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s