Memahami Marxisme Secara Sederhana

Jika Anda tinggal di Amerika, Anda akan paham betul bagaimana rasanya hidup di bawah sistem kapitalis. Di dalam sistem kapitalis, manusia digolongkan ke dalam kelas-kelas sosial-ekonomi yang berbeda. Anda mungkin pernah mendengar istilah “kelas atas”, “kelas menengah” dan “kelas bawah.” Anda mungkin juga pernah mendengar istilah “pekerja kerah biru”, “pekerja kerah putih”, “buruh kasar”, dll. Semua istilah itu berasal dari pembagian kelas sosial berdasarkan kemakmuran ekonomi. Derajat sosial seseorang ditentukan dari nasib ekonominya.

Kelas Bawah adalah kelas sosial yang berjuang keras hanya untuk mempertahankan hidup hari ke hari. Kelas Menengah adalah kelas sosial yang bisa hidup santai karena bisa menabung—tapi mereka masih tetap harus waspada karena tabungan itu takkan cukup untuk berfoya-foya. Adapun kelas Atas adalah kelas sosial yang menguasai alat produksi dan kaum pekerja, yang sayangnya, mendapatkan keuntungan dengan cara “mengisap” tenaga, pikiran, dan kesejahteraan kelas Bawah.

Karl Marx tidak menyukai perbedaan-perbedaan kelas ini. Ia memimpikan adanya suatu masyarakat tanpa kelas, atau setidak-tidaknya, masyarakat yang kesenjangan ekonominya tidak terlalu jomplang. Marx membangun teori untuk menghapus kelas sosial-ekonomi ini. Oleh para pengikutnya, teori itu diberi nama Marxisme.

Sederhananya, Marxisme adalah teori politik dan ekonomi yang mengupayakan masyarakat tanpa kelas. Marxisme ingin setiap anggota masyarakat bekerja demi kebaikan mereka bersama. Gotong royong, adil dan setara: tidak ada pihak yang terlalu berkuasa atau terlalu tidak berdaya. Baiklah, ini kedengarannya sederhana tapi sesungguhnya tidak sesederhana itu. Tantangannya banyak.

Karl Marx yakin kelas Atas takkan sudi melepaskan kekuasaan ekonomi, politik dan sosialnya itu untuk hidup sama sederhananya dengan masyarakat kelas Bawah dan Menengah. Karl Marx yang pernah membaca biografi Nabi Muhammad itu pun tahu bahwa Nabi Saw. pun gagal meminta kelas atas Makkah (para aristokrat seperti Abu Jahal, Abu Sufyan, Abu Lahab, dll) melepaskan jubah kebesaran mereka. Sebab, mereka terlampau terlena. Maka menurut Karl Marx, satu-satunya cara untuk menciptakan masyarakat tanpa kelas adalah: kelas bawah harus merebut keadilannya sendiri. Kelas bawah harus berjuang menuntut hak mereka yang telah lama tidak dipenuhi oleh kelas Atas. Merekalah yang harus mengubah nasib mereka sendiri, agar nasib mereka diubah oleh Tuhan.

Jauh sebelum Facebook dan Snapchat digunakan untuk menciptakan perubahan di tengah masyarkat, Karl Marx sudah memulainya. Ia sadar, selama ini kelas bawah (yang disebut kelas Proletariat) telah berjuang seperti babu hina yang diperlakukan sewenang-wenang dan tidak adil oleh kelas Atas (yang disebut kelas Borjuis), yaitu majikan mereka, penguasa alat-alat produksi dan modal (pabrik, tanah, uang, dll). Marx menyusun sebuah manifesto yang membongkar mengulas kejahatan kapitalisme dan mengajak kelas Proletariat menciptakan masyarakat yang lebih ideal. Pokok-pokok teori Marxisme meliputi:

  1. Doktrin bahwa dalam sistem kapitalisme masyarakat dipecah menjadi dua kelas besar, yaitu kelas pekerja (Proletariat) dan kelas penguasa alat produksi dan modal (Borjuis);
  2. Doktrin bahwa Borjuis pada masa lampau mendapatkan alat produksi dan modalnya lewat cara-cara yang tidak sah sehingga semua itu layak direbut kembali;
  3. Doktrin bahwa Borjuis mempertahankan, menjalankan dan mengembangkan bisnis mereka dengan cara mengeksploitasi Proletariat;
  4. Doktrin bahwa Borjuis mampu mengeksploitasi Proletariat melalui kontrol kesadaran dan meyakinkan Proletariat bahwa mereka terbelakang, tidak berbudaya, dan sepatutnya bersyukur saja karena Borjuis bersedia mempekerjakan mereka. Dengan demikian, Proletariat takkan melawan bila diperlakukan semena-mena;
  5. Doktrin bahwa Borjuis harus tumbang. Caranya, Proletariat harus bangkit dan merebut alat produksi dan modal untuk dibagikan secara merata ke semua orang. Dengan demikian, kelas-kelas sosial atau minimal kesenjangan sosial akan hilang.

Teori Marxisme telah gagal diterapkan secara politik. Partai Komunis di seluruh dunia (selain di beberapa negara di Amerika Selatan seperti Kuba) justru menampakkan wajah yang lebih bengis dan serakah dibandingkan sistem kapitalis. Mereka lebih diktator dan keji. Namun, Marxisme masih sangat relevan sebagai teori sosial-ekonomi dan sebagai filsafat keadilan. Hanya Marxisme yang memungkinkan kita menganalisis masyarakat secara kritis dan mengenali bentuk-bentuk ketidak-adilan secara terselubung.

Marxisme dan Kesadaran Kelas

Konsep “Kelas” sangat penting dalam Marxisme. Tanpa disadari, kita semua adalah produk kelas kita masing-masing. Cara berpikir kita, cara bertindak kita, dibentuk oleh kelas sosial kita. Kelas borjuis punya nilai, norma dan irama hidupnya sendiri. Kelas proletar juga begitu. Keduanya bukan cuma berbeda, tapi saling berkonflik.

Kelas lebih bermakna “classify” atau pengelompokan. Derajat sosial manusia dikelompokkan berdasarkan kategori ekonomi. Pada kelas ada stratifikasi (penjenjangan), sebab ada kelompok manusia yang berlimpah secara sumber daya ekonomi dan ada yang sebaliknya. Kaum Borjuis berkepentingan untuk mempertahankan dan mengembangkan sumber daya ekonominya. Sedangkan kaum Proletariat cukup puas dengan keadaannya, asal mereka dapat bekerja dan dapat menyambung hidup, meski mereka harus tunduk pada kehendak kaum Borjuis dan harus rela dihisap tenaganya tanpa upah layak.

Bagi Marxisme, kaum Borjuis hanya dapat bertahan dan berkembang dengan cara mengeksploitasi kaum Proletariat. Kaum Proletariat bekerja sebagai robot yang hanya boleh bergerak sesuai kehendak perusahaan Borjuis. Mereka diprogram agar tidak bebas mengekspresikan karsa dan karya mereka. Mungkin itu wajar: sebagai buruh tani, kita tidak boleh menggunakan pupuk yang tidak diperkenankan pemilik lahan. Namun, alangkah indahnya bila kita masih bisa bertukar pikiran dengan majikan. Pada sistem kapitalisme, keindahan itu mustail terjadi. Proletariat benar-benar diprogram agar patuh pada sistem. Sistem dibangun sedemikian rupa untuk mengukuhkan perbedaan derajat antara pekerja di pangkat atas dan pekerja di pangkat bawah (dengan kata lain, didesain untuk melebarkan kesenjangan sosial). Sistem dibangun sedemikian rupa agar pekerja merasa takut memprotes kebijakan yang merugikan mereka. Sistem dibangun agar solidaritas antar pekerja dipecah dan setiap pekerja memikirkan nasibnya sendiri.

Di atas telah disebutkan bagaimana kaum Borjuis nyaris mustahil menanggalkan kelasnya demi hidup setara dan adil bersama kaum Proletariat. Sebabnya sederhana: “Kelas mengunci kesadaran.” Mereka yang tumbuh di kalangan Borjuis memiliki kesadaran yang berbeda dengan anggota masyarakat Proletariat. Perilaku pelanggan kelas eksekutif pesawat Garuda sangat berbeda dengan perilaku pelanggan kelas ekonomi pesawat Lion. Kelas sosial memengaruhi kesadaran anggotanya.

Umumnya, Borjuis melihat diri mereka lebih berbudaya, maju dan beradab dibandingkan Proletariat. Kekuasaan ekonomi memungkinkan Borjuis mengakses ilmu pengetahuan, lingkungan kerja mereka pun elit. Persoalannya adalah, “rasa lebih berbudaya, maju dan beradab” itu malah memberi mereka semacam pembenaran untuk berbuat apa saja terhadap Proletariat, sekalipun itu merugikan. Mereka merasa diri mereka terpisah dari Proletariat, dan mereka tidak sepatutnya bergaul. Apapun aturan yang Borjuis terapkan pada Proletariat adalah baik untuk Proletariat, sebab aturan itu juga baik untuk Borjuis. Logika yang sangat egois. Borjuislah yang akan mendapatkan keuntungan besar. Proletariat hanya akan merana.

Karena itulah, bagi Marxisme, sangat penting mendidik Proletariat lewat organisasi. Semakin kuat organisasi Proletariat, semakin kuat kesadaran kelas mereka. Semakin mereka mengetahui bahwa mereka sedang ditindas, semakin mereka menyadari hak-hak mereka sebagai pekerja, dan semakin besar pula kemungkinan mereka mampu merebut keadilan. Bangkitnya Proletariat pada tahun 1800-an silam hingga hari ini telah melahirkan berbagai perjuangan untuk menyejahterakan buruh: kenaikan upah, jaminan kepastian kerja, bahkan jaminan cuti hamil. Kelas pekerja sesungguhnya patut berterima kasih pada Marxisme.

Tantangan Memahami Marxisme

Marxisme akan sangat sulit dipahami oleh mereka yang dilahirkan di kelas Borjuis atau Borjuis kecil, bukan di kelas Proletariat. Mereka yang tidak bekerja sebagai buruh tidak akan memahami mengapa Marxisme begitu penting dipelajari. Mereka yang baru mengenal Marxisme sesungguhnya harus terlebih dahulu membaca berita-berita tentang penderitaan kelas pekerja (buruh dan rakyat miskin kota) di perusahaan mereka. Tanpa membaca problem-problem di sekitar isu buruh, Marxisme akan tampak konyol. Cobalah mencari tahu, pada tahun berapakah pekerja mulai dijaminkan oleh hukum hak-haknya sebagai pekerja. Kita akan terbelalak.

Marxisme juga sangat sulit dipahami oleh orang Indonesia yang keras kepala menyamakan Marxisme dengan komunisme. Padahal, keduanya berbeda. Marxisme adalah teori sosial-ekonomi, sekadar alat untuk membaca fenomena di tengah masyarakat. Sedangkan komunisme adalah Marxisme yang sudah dibawa-bawa ke ranah politik praktis. Kita bisa sepakat bahwa ajaran seluhur apapun, bila bernaskan politik, keluhurannnya pasti luntur. Namun, hingga hari ini, sebagai ideologi perorangan dan sebagai pisau analisis sosial, Marxisme masih tiada dua.

Marxisme serupa dengan Islam. Marxisme memerangi kapitalisme, yang tidak lain tidak bukan merupakan Riba. Ya, Riba tidak melulu tentang bunga bank. Aspek paling dasar dalam Riba adalah “memanfaatkan kelemahan orang lain demi mencatut keuntungan”. Karena itulah Riba diharamkan.

Pernah suatu kali Nabi Saw. diberi hadiah kurma berkualitas baik oleh para sahabat. Ternyata, para sahabat mendapatkan satu bungkus kurma berkualitas baik itu dengan cara menukarnya dengan dua bungkus kurma berkualitas buruk. Nabi Saw. berkali-kali mengucapkan “celaka, celaka!”. Meski transaksi itu dilakukan atas dasar kesepakatan, Nabi Saw. tetap melihatnya sebagai kesalahan sahabat yang memanfaatkan kelengahan, kelemahan dan kepasrahan si pemilik kurma. Di sana terjadi mudarat, salah satu pihak untung dan lainnya rugi. Itulah Riba dan seperti itulah sifat Kapitalisme. Borjuis mengisap tenaga Proletariat dan membayarnya murah, memanfaatkan rasa takut Proletariat untuk dipecat. []

Standar

2 respons untuk ‘Memahami Marxisme Secara Sederhana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s