Apa Itu Kapitalisme?

Disadur, disunting dan digubah dari artikel Ellen Meiksins Wood


Kapitalisme pernah menjadi lema terlarang untuk digunakan dalam bahasa politik atau media arus utama. Kapitalisme dianggap hanya digunakan oleh kaum kiri yang suka membangkang. Lema pengganti kapitalisme adalah “korporasi swasta”, “pasar bebas”, dan sebagainya. Kini, ia digunakan kembali tapi dengan makna yang dikaburkan. Kapitalisme seolah-olah sama maknanya dengan pasar (market) perdagangan (trade) dan kegiatan komersil (commerce). Beberapa orang bersikeras mendefinisikan ulang kapitalisme. Saya salah satu dari mereka dan kami telah dikritik karena menawarkan definisi yang terlalu tepat. Tapi menurut saya kapitalisme dan sistem sosial lain seperti perdagangan harus benar-benar dibedakan.

Mendefinisikan Kapitalisme

Apa yang saya maksud dengan kapitalisme? Kapitalisme adalah sistem di mana semua pelaku ekonomi sangat bergantung pada pasar (market) untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Masyarakat pra-kapitalisme punya pasar dan kegiatan perdagangan, bahkan dalam skala yang besar, tetapi hanya dalam kapitalisme ini semua orang sangat ketergantungan pada pasar.

Begitu pula hubungan antara kapitalis dan pekerja, sangat ditentukan oleh pasar. Mereka tidak diikat itikad apapun kecuali kepentingan pasar. Pekerja tidak akan berharga di mata kapitalis bila pekerja tidak mampu membuat kapitalis bertahan dan berjaya di pasar. Sebatas itu.

Di antara pekerja dan kapitalis, ada hubungan yang timbal balik yang seharusnya adil tapi diabaikan oleh kapitalis. Pekerja bergantung kepada kapitalis karena mereka hanya memiliki modal tenaga kerja dan itulah yang mereka jual kepada seorang kapitalis untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sedangkan kapitalis bergantung pada pasar agar usahanya lancar sehingga kapitalis dapat bertahan hidup. Dalam hal itu, kapitalis memanfaatkan tenaga kerja pekerja untuk berproduksi. Mereka sesungguhnya saling membutuhkan, meskipun kekuatan mereka tidak sebanding dan tampaknya kapitalis itu lebih berkuasa dari pekerja. Tapi kapitalis mengabaikan hal itu karena perhatian kapitalis terikat pada pasar. Kapitalis ingin menguasai pasar. Apapun yang tidak menguntungkan posisinya di pasar, akan diabaikan oleh kapitalis. Sebaliknya, apapun yanh menguntungkan kapitalis di pasar harus diupayakan. Meskipun, katakanlah, salah satu caranya adalah dengan memaksa pekerja bekerja semaksimal mungkin dan membayarnya semurah mungkin.

Pada masyarakat non-kapitalis, rata-rata orang merupakan produsen atas kebutuhan hidup mereka. Petani memiliki alat produksi (tanah, cangkul) dan secara gotong royong bisa mengakses bibit serta air. Mereka yang tidak punya lahan namun memiliki tenaga dan keahlian bisa memanfaatkan hutan untuk berburu, kemudian hasil buruannya dipertukarkan secara adil. Mereka juga bisa (mampu) bercocok tanam di rumah untuk sekadar kebutuhan sehari-hari dan saling membantu memenuhi kebutuhan dasar lainnya. Inilah yang disebut sebagai “akses non-pasar”, yakni peluang untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa bergantung sepenuhnya pada proses jual beli. Bila pun mereka memilih bekerja sebagai buruh tani, mereka tidak akan terlalu melarat. Selain karena hampir semua orang punya akses non-pasar, mereka juga diupah berdasarkan dua hal: kerja harian mereka, serta bagi hasil panen.

Intinya, masyarakat pra kapitalis tidak bergantung pada pasar. Namun, kita perlu melihat perkembangan. Setelah masyarakat pra kapitalis yang berjalan wajar itu, ada masa transisi yang cukup panjang bernama era feodal (era “tuan”). Pada era ini, ada sekelompok kecil yang menguasai kelompok lain secara dominan. Penguasaan itu dilakukan melalui teror militer, pemaksaan hukum atau permainan. Mereka lantas merampas tanah dan menodong orang-orang agar bekerja di bawah kepentingan mereka. Inilah yang disebut sebagai “ekstra-ekonomi”. Setelah era feodal, barulah muncul era kapitalis. Namun, kapitalis tidak menggunakan ekstra ekonomi untuk menguasai dan mengeksploitasi pekerja. Mereka memiliki cara yang berbeda.

Kapitalis membayar pekerja berdasarkan kerja mereka dalam produksi komoditi, bukan berdasarkan keuntungan dari menjual komoditi yang diproduksi pekerja itu. Semua marxis akan heran pada titik ini: bila seorang kapitalis masih harus berjudi di pasar (keuntungannya belum dapat dipastikan sampai semua komoditi terjual), dari manakah kapitalis bisa mempertahankan perusahaan selagi ia wajib membayar pekerja? Analisis Marxisme menunjukkan bahwa, karena seorang kapitalis tidak bisa mengontrol pasar dan keuntungannya, maka satu-satunya yang bisa dilakukan seorang kapitalis adalah memangkas ongkos produksi. Hal itu bisa dilakukan dengan cara: (1) memproduksi komoditi dalam jumlah besar, (2) menurunkan kualitas komoditi, dan (3) menekan besaran upah para pekerja.

Opsi terakhir tersebut adalah yang paling diminati oleh seluruh kapitalis di dunia. Kapitalis akan melakukan segala yang mungkin untuk memotong biaya demi mengamankan laba yang tidak pasti itu, tapi memotong biaya tenaga kerja adalah opsi lazim. Kapitalis merekayasa lingkungan kerja yang sangat efektif mengeksploitasi “rasa takut pekerja untuk dipecat” demi menuntut produktivitas mereka sebesar-besarnya, sekaligus memaksa pekerja menyerah memprotes upah yang rendah.

Apakah kapitalis melakukan itu karena serakah? Ada banyak kapitalis moderat yang amat perhatian pada kesejahteraan pekerjanya secara sosial, namun pada akhirnya mereka harus tunduk pada tekanan logika pasar ini dan terpaksa menekan biaya produksi semurah-murahnya serta mendorong produktivitas pekerja setinggi-tingginya agar mereka bisa bertahan di dunia bisnis.

Ya, para kapitalis sesungguhnya “dipaksa” oleh pasar untuk terus meningkatkan laba, bila tidak, mereka akan kalah saing dan mati. Kesimpulan ini bukanlah simpati saya pada kapitalis, tapi kita harus awas bahwa bagian paling berbahaya dari kapitalisme adalah “ketergantungan yang tinggi pada pasar”. Inilah sumber keserakahan kapitalis, sekaligus sumber penderitaan kaum pekerja.

Apa yang Bukan Kapitalisme?

Kita juga perlu menentukan apa yang bukan kapitalisme. Saya selalu berbicara tentang pasar kapitalis yang bersifat memaksa atau menciptakan ketergantungan. Saya menyarankan bahwa perbedaan penting antara kapitalisme dan bukan kapitalisme adalah bahwa dalam kapitalisme, para kapitalis dipaksa tunduk pada logika pasar, sedangkan pasar yang wajar hanya memberi seorang pengusaha peluang untuk berbisnis. Peluang itu bisa diambil atau tidak sesuai dengan pilihan moral si pedagang. Mereka takkan rugi besar karena akses non-pasar masih tersedia (berupa lahan, sumber energi, solidaritas sosial).

Jaringan pedagangan telah sangat berkembang sepanjang sejarah manusia di berbagai benua. Di Eropa terdapat jaringan perdagangan tingkat tinggi terdapat di Florentine atau Belanda dan Prancis. Tetapi mereka sama sekali tidak tunduk pada prinsip-prinsip kapitalis, terutama untuk terus menerus berkapitalisasi (meningkatkan laba, tanpa akhir, demi persaingan) dengan menekan biaya produksi semurah-murahnya.

Memang sebagian besar jaringan perdagangan di Eropa mengandalkan kekuatan ekstra-ekonomi dan mereka menjajah negara lain. Namun di sinilah intinya: kapitalisme bukanlah fitrah. Sebagaimana praktek ekstra-ekonomi runtuh, kapitalisme punya usianya sendiri. Kapitalisme berjaya bila semua orang berpikir bahwa kapitalisme sama dengan perdagangan—sesuatu praktek kebudayaan yang tidak terpisahkan dari kebutuhan manusia. Tidak: kapitalisme adalah ketergantungan akut pada pasar sehingga aspek-aspek kemanusiaan dihilangkan. []

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s