Menentukan Konteks Untuk Esai

Konteks adalah informasi yang membantu pesan suatu esai menjadi masuk akal dan lebih mudah dipahami. Pesan sebuah esai dapat ditafsirkan macam-macam bahkan ditafsirkan melenceng bila konteksnya tidak spesifik dan jelas. Beberapa konteks dinyatakan secara jelas di awal esai, beberapa lainnya membutuhkan pembacaan yang cermat ke seluruh badan esai (sebab, bisa jadi konteks itu muncul di akhir, di tengah, atau berupa kesimpulan tak tersurat). Setiap tulisan perlu konteks, setiap penulis perlu belajar bagaimana membangun konteks.

Konteks dan Fungsi-Fungsinya

Konteks adalah latar belakang suatu esai. Ia disebut ‘belakang’ karena konteks berfungsi sebagai keterangan tentang “alasan” mengapa penulis menulis.

Alasan itu bisa berupa perasaan yang menjadi pemicu proses kreatif penulis. Misalnya kegelisahan, kemarahan, kelucuan, kesedihan, kemasygulan, penasaran, kekecewaan dan kegembiraan. Perasaan seringkali merupakan stimulus yang hebat. Banyak penulis terpantik menulis esai karena ia heran, kecewa, atau marah. Perasaan itu muncul sebagai respon atas suatu isu (misalnya peristiwa, aturan, fenomena, gagasan, atau rencana) yang dianggap problematis

Esai yang baik ditulis oleh penulis yang berani menunjukkan posisi. Penulis esai yang baik secara terus terang menyatakan bahwa ia pro, kontra atau punya alternatif pikiran. Sikapnya lugas. Tapi, sikap lugas itu membutuhkan awalan. Konteks, dalam hal ini, juga berfungsi kata pengantar penulis sebelum menyatakan sikap.

Misalnya, bila penulis hendak mendukung rambut gondrong pelajar, ia bisa bercerita tentang rasa bangganya tiap kali melihat pelajar yang berani menggondrongkan rambut; atau keheranannya pada aturan yang melarang pelajar untuk gondrong. Bila penulis menentang pelajar gondrong, ia bisa berkisah bahwa suatu hari ia tidak nyaman duduk di dalam bis karena pasukan kutu dari pemuda berambut gondrong berloncatan ke bahunya.

Pada intinya, konteks haruslah sesuai dan berkaitan langsung dengan posisi argumen sebuah tulisan. Konteks tidak dibangun dengan sembarang mengutip dan bercerita. Konteks harus memberi ‘sinyal’ pada pembaca tentang sikap penulis dalam suatu isu. Jelasnya sikap penulis membantu pembaca memahami seluruh argumen dalam tulisan.

Selain itu, konteks juga berfungsi untuk membatasi/menentukan fokus masalah yang hendak diangkat dalam esai, agar pembahasan terkunci di satu perdebatan saja, tidak meluber ke topik-topik yang tidak berhubungan secara langsung. Untuk berbicara tentang pentingnya warga Kota Mataram memakai masker di masa pandemi, penulis tidak perlu memulainya dari definisi Covid-19, sejarahnya, atau bahkan konspirasinya. Konteks yang baik langsung menyasar jantung persoalan dan memaparkan update wacana, misalnya data pasien positif yang kian meningkat. Semakin fokus konteks ke jantung masalah, semakin baik.

Konteks dan Jenis-Jenisnya

Konteks umumnya berupa narasi atau deskripsi. Narasi adalah teknik menulis untuk mengisahkan suatu peristiwa atau alur suatu kejadian secara “hidup”, seolah-olah pembaca turut mengalami peristiwa itu. Sedangkan deskripsi adalah teknik menulis untuk menggambarkan sedetil-detilnya ciri-ciri suatu objek yang bukan perbuatan atau peristiwa (misalnya pemandangan, benda, suara atau gagasan), sehingga pembaca seolah ia melihat dan mendengar sendiri objek itu.

Konteks bisa berupa pemaparan hasil studi ilmiah. Misalnya, dalam rangka menentang rambut gondrong pelajar, penulis mengutip sebuah penelitian tentang tujuh dari sepuluh gadis yang ternyata lebih suka laki-laki berambut cepak. Selain berfungsi sebagai sinyal posisi argumen seorang penulis, konteks ilmiah umumnya menciptakan atmosfir serius pada pembaca.

Konteks juga bisa berupa studi kasus. Misalnya, dalam rangka mengutuk kasus kekerasan terhadap buruh bernama Marsinta, penulis bisa menyajikan untuk pembaca (yang diasumsikan belum mengetahui kasus Marsinta) deskripsi yang padat, singkat dan spesifik ke aspek problematis terkait kasus Marsinta, agar pembaca paham arah kritik penulis. Misal yang lain, dalam rangka menulis tentang standar upah buruh yang layak, penulis bisa mengutip perdebatan utama mengenainya.

Studi kasus juga bisa berupa pemaparan definisi. Sebelum membahas secara rinci dan spesifik kasus penebangan pohon demi proyek pelebaran jalan, penulis bisa terlebih dahulu memaparkan kajian umum tentang tata ruang kota ideal atau aturan tata ruang kota tempat kasus penebangan itu terjadi. Dengan kata lain, penulis menyajikan konsep umum agar pembaca memahami garis besar analisis atau kritik. Konteks semacam ini memberi tambahan wawasan untuk pembaca.

Konteks bisa berupa cerita atas suatu peristiwa. Narasinya bisa formal (straight seperti berita), bisa pula non-formal (berupa cerita). Tidak sedikit esai yang dimulai dengan bercerita. Bercerita membutuhkan keterampilan bisa diasah dengan sering membaca novel, cerpen, atau berita feature (jurnalisme sastrawi). Semakin bagus keterampilan bercerita seorang penulis, semakin menarik konteksnya. Tapi kualitas cerita bukanlah aspek utama. Kesesuaian antara peristiwa dan posisi argumen penulislah yang lebih penting. Artinya, penulis tidak bisa mencomot sembarang cerita untuk diceritakan dalam konteks.

Selain peristiwa, konteks bisa menyajikan suatu fenomena. Fenomena dan peristiwa itu berbeda. Peristiwa adalah suatu kejadian yang spesifik; fenomena, sebaliknya, adalah kumpulan beberapa peristiwa yang punya kesamaan ciri-ciri dan terjadi berulang kali di berbagai tempat. Misalnya, fenomena Harbolnas (Hari Belanja Online). Pada fenomena itu tampak semua orang berbondong-bondong berbelanja. Bukan karena butuh, tapi karena godaan momen. Fenomena harbolnas bisa menjadi pengantar bagi wacana tata kelola finansial yang tidak bijaksana.

Konteks bisa berupa narasi sejarah. Biasanya, penulis menggunakan konteks sejarah untuk menegaskan keunggulan/kekurangan suatu praktek sosial di masa kini/lampau. Bisa juga penulis hendak mengingatkan preseden suatu fenomena dan mewanti-wanti agar pembaca belajar dari sejarah. Atau, penulis perlu menjelaskan terlebih latar belakang sejarah suatu norma, nilai dan filsafat agar dapat lebih dipahami. Atau, penulis ingin mengkritik suatu pernyataan. Misalnya, penulis merasa jengkel pada budayawan yang secara sembarangan mengatakan orang Lombok di-Islamkan pada 1450-an dan sebelum abad itu orang Lombok seorang animis. Penulis kemudian mengutip sejarah bahwa masjid kuno Bayan dibangun pada 1250-an, sedangkan masjid kuno Sapit dibangun pada 700-an. Konteks itu bisa menjadi kritik terhadap sejarah versi sejarawan lain.

Mirip dengan konteks sejarah, penulis bisa membangun konteks budaya dengan cara mendeskripsikan kebudayaan tertentu sebagai titik tolak untuk mengkritik kebudayaan lain. Misalnya, untuk mengkritik budaya privatisasi dan komersialisasi pihak swasta atas sumber air (mereka menjual air minum dalam kemasan kepada masyarakat—yang sebelumnya tidak perlu membeli air), penulis bisa mendeskripsikan Jal Maindirs, kuil air di India yang tersebar di banyak tempat dan menyediakan air minum gratis. Penulis menawarkan keunggulan suatu budaya sebagai alternatif dan kritik atas budaya yang dianggap sebagai kemunduran.

Kesimpulan

Konteks bisa disajikan dengan banyak variasi. Penulis harus kaya referensi tentang bentuk-bentuk konteks. Caranya, penulis harus membaca banyak esai. Tapi penulis pertama-tama harus memahami konteks sebagai latar belakang pembahasan, pemberi sinyal posisi argumen penulis dan pengerucut topik tulisan. Konteks juga harus berkaitan dengan argumen penulis.

Standar

6 respons untuk ‘Menentukan Konteks Untuk Esai

  1. Riza Isna Khoirun Nisa berkata:

    Wah, keren Kak Ical! Terima kasih ya, aku jadi dapat insight buat pedoman nulis esai ke depannya nih hihihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s