Lima Hal yang Sebenarnya Merupakan Saya

Pertama, saya sadar bahwa seringkali saya terlalu berani membicarakan tema yang tidak saya kuasai, yang bukan benar-benar merupakan bidang saya. Akibatnya kala menjelaskan tema itu saya sangat tidak sistematis, tidak jelas nomenklaturnya, tidak dibangun di atas teori yang baik, dll. Saya cuma mengandalkan logika patahan, sedangkan audiens saya sangat metodologis. Saya berlebihan dan membuat semua berantakan.

Kedua, saya memang kurang mampu berdebat dengan pekat dan intens. Saya tetap bisa tenang dan berdebat dengan luwes, tapi saya tidak nyaman. Sejak dulu begitu: saya tidak bisa bertahan dengan lingkungan yang kerap menekan, memaksa, atau mengintimidasi. Karena itu saya berproyeksi: setiap ada orang lemah yang mengesalkan, saya akan menekan dan mengintimidasinya habis-habisan dengan debat. Dan itu bukan debat ilmu yang metodologis, melainkan debat kusir yang hanya mengandalkan logika patahan.

Ketiga, kalau dipikir-pikir, bahkan ilmu yang merupakan bidang studi saya ternyata di kepala saya ini cuma berupa patahan-patahan argumen yang tidak padu, yang tidak membentuk keutuhan. Saya tidak memahami konteks kasuistik yang kuat, tidak pula punya keterampilan untuk menganalisis kasus yang aktual. Ya, saya tidak punya keterampilan membaca data. Pendek kata: saya mentah! Karena itu saya tidak mampu menerjemahkan ilmu ke dalam suatu program kerja. Saya buntu, saya bisanya cuma ngomong teori, itu pun sangat tidak komprehensif.

Sialnya saya lebih suka dipuji daripada dibantai. Saya gila hormat. Saya selalu mencitrakan diri saya sebagai sosok berpengetahuan luas dan terampil berlogika. Padahal saya tidak bisa apa-apa. Kalau bicara, saya tersendat-sendat dan lama. Saya tidak bisa bicara dalam tempo cepat. Sesungguhnya saya lamban.

Keempat, mungkin karena kadangkala saya sadar bahwa sesungguhnya saya tidak mampu menghadapi konfrontasi, saya mengembangkan ketertarikan pada wacana idealisme alih-alih materialisme. Saya suka buddhisme, minimalisme, atau vegetarianisme, sebagai laku merdeka dan menyenangkan di skala individu. Saya lebih tertarik pada mengubah dunia dengan mengubah individu, peduli setan apakah itu dianggap utopis, sebab saya telah melihat ketamakan dan kehancuran yang diakibatkan oleh rencana-rencana praktis-politis. Saya lebih peduli orang menjadi dan berbuat baik; menang tapi korup itu buruk.

Tapi anehnya, saya tidak bisa meninggalkan kritisisme ala materialisme. Saya tetap bicara hal yang muluk-muluk, misi transformasi, ketimpangan, dll, dalam kerangka berpikir materialisme kiri. Padahal saya tidak terlalu jago dan bila didebat oleh kaum kiri, ditunjukkan kelemahannya, saya langsung oleng.

Kelima, saya memang tipe orang yang nyerocos. Tidak sekali dua saya dapati diri saya membuat kesimpulan terburu-buru sebelum bertanya atau memikirkan kemungkinan lebih jauh. Itu bahkan terjadi dalam obrolan. Saya bukan pendengar yang baik, yang dengan demikian, saya juga bukan pembelajar yang baik. Saya lebih suka patahan argumen yang bersifat sensasional, yang bisa disampaikan dengan retorika cetar-cetir, dan memesona orang awam. Orang berilmu akan tahu saya cetek dan akan mudah membantai saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: