Santai

Sahabat Yang Semakin Renta

photo

Sebenarnya, jauh-jauh bulan saya sudah ingin menantang Darin merayakan ulang tahun hanya dengan penanggalan hijriyah, bukan dengan penanggalan masehi. Sebagai umat Islam yang taat beragama (tapi usil bukan main), Darin layak mencobanya. Tapi saya kelupaan terus mengajaknya, sampai akhirnya hari ini dia ultah.

Selamat ulang tahun, Darin. Setiap 8 Juni kamu makin tua, semoga badannya tidak semakin gembrot, dan pipinya tidak semakin sesak. Tapi agak sulit ya: soalnya kamu kan akan menikah suatu saat, akan punya anak, dan kemudian dimulailah segala ketakutan itu, hahaha.

Saya mendoakanmu yang baik-baik, Darin, kamu tahu itu. Maka tak usahlah saya berpanjang lebar. Kamu cukup mengaminkan saya punya doa.

Saya hanya berbagi nostalgia sedikit saja pada teman-teman. Di hari ulang tahunmu ini, saya teringat banyak pertanyaan todongan, yang yakin sekali kita bukan sekedar teman. Satu dua cemburu (lho?). Saya pasti tertawa setiap kali menerima todongan itu. Mereka benar: kita bukan sekedar teman. Kita adalah sahabat tanpa tabir sungkan, tanpa selaput kepentingan, tanpa maksud romantis apapun. Kita adalah sahabat tanpa niat saling memiliki sebagai kekasih. Baca lebih lanjut

Iklan
Standar
Santai

“La Riru” Membaca Saya

30605061_1324804000997149_4026190853956435968_n

[“La Riru” adalah bahasa Bima yang berarti ‘seperti awan’. Ia adalah judul cerpen yang ditulis oleh Bapak Mas’ud Bakry, seorang sastrawan Bima, di era 70-an.  “La Riru” bercerita tentang seorang bocah joki pacuan kuda dengan kuda andalannya, La Riru, yang pada pertarungan final ‘diminta mengalah’ pada lawannya karena permainan politik di balik pertandingan. Tulisan ini adalah sumbangan diskusi bedah cerpen yang diselenggarakan Komunitas Akar Pohon, Kota Mataram, 22 April lalu]

1.

Komentar positif untuk cerpen, yang biasa saya dengar, adalah apik, seru, keren, luar biasa, bagus, dan beberapa yang lain. “La Riru” mendapatkan komentar sebagai cerpen yang indah. Benar, ketika membacanya, saya merasakan keindahan yang sama ketika dulu membaca cerpen Kuntowijoyo, “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga”. Keduanya membincangkan sisi-dalam manusia dengan cara yang bersahaja.

Diksi dalam cerpen Bapak Mas’ud Bakry ini tidak rumit dan muluk-muluk—memudahkan saya yang tidak terbiasa membaca cerpen sastra. Namun sejak awal, dengan tidak berpanjang kalimat, Bapak Mas’ud Bakry mampu menggambarkan suasana dan saya langsung bisa menangkap watak tokoh.

Seorang bocah yang berpembawaan tenang dan berani, namun penyayang. Ia digambarkan seperti dewasa sebelum waktunya: melangkahi kaki adik-adiknya yang sedang tidur, tidak banyak menanggapi kicauan bapaknya, dan berbicara seperti biasa kepada orang yang lebih tua darinya: Bang Ara. Ia lebih hangat saat menyapa kuda. Jiwanya ada di sana. Baca lebih lanjut

Standar
Serius

Mengapa Saya Ber-Muhammadiyah

kh-dahlan

KH. Ahmad Dahlan

1.

Sebentar lagi Ramadhan tiba, sedangkan hasrat saya menulis masih belum pulih. Mungkin saya takkan membuat “Diary Puasa” di blog seperti tahun lalu, meski saya punya ide harus menulis apa. Tapi hasrat saya masih belum tertolong. Mungkin saya hanya akan merevisi naskah novel yang telah selesai dua tahun lalu itu—takkan mudah. Setelah Ramadhan, saya ingin memperjuangkan naskah itu untuk penerbit.

2.

Mengapa saya tidak menjadi NU, NW, atau menjadi netral saja. Kemarin, teman kos saya (yang NU tulen dan baru lulus pesantren) mempertanyakan pilihan saya itu.

Imej Muhammadiyah di sebagian besar warga akar rumput masih tipikal: kaku, menolak tradisi, dan menyimpang dari masyarakat—pendek kata, sesat. Di Madura bahkan berkembang lelucon: penduduk Madura terdiri dari 99% Islam dan 1% Muhammadiyah.

Baca lebih lanjut

Standar
Santai

Aroma Karsa: Anugerah dan Hal-Hal Gaib

IMG_20180421_215426_HDR.jpg

1.

Aroma Karsa karya Mbak Dee Lestari sudah lama selesai kubaca. Tapi, baru kali ini ada tenaga untuk menuliskannya. Bukan review, bukan resensi, saya tidak pandai menulis itu. Saya hanya menceritakan perasaan dan perenungan saya ketika dan setelah membacanya. Sejujurnya, novel itu benar-benar candu, sehingga butuh agak lama buat saya, dan tidak mudah, untuk menulis setelah emosi diaduk-aduk olehnya.

Aroma Karsa bicara tentang “Manusia yang diberi anugerah”—dalam hal ini, indera penciuman yang sangat tajam. Jati Wesi dan Tanaya Suma punya kepekaan yang jauh di atas batas normal. Jati, misalnya, bisa menebak datangnya hujan badai karena perubahan bau di udara.

Jati Wesi belajar mengenali bau bangkai manusia hari per hari, terhitung sejak hari pertama manusia mati, hingga pembusukannya. Eksperimen itu memungkinkan untuk dilakukan karena Jati tinggal di Bantaran Kali, di dekat gunungan sampah TPS terakhir, tempat segala yang tak diperlukan dan tak diinginkan dibuang oleh manusia Jakarta, termasuk jabang bayi atau korban pembunuhan. Dengan itu, Jati bisa membantu polisi menemukan jasad seorang warga yang tertimbun belasan meter di gunungan sampah. Jati bisa membaui mayat itu.

2.

Aroma Karsa mengingatkan saya pada film Farfume: The Story of a Murderer. Tokoh utama dalam film itu, Jean-Baptiste, sama seperti Jati: dibesarkan di kawasan pasar kumuh pinggiran kota di dataran Prancis kuno. Hidung keduanya diperkuat, dilatih, dan dibiasakan untuk menemukan harum-haruman di tengah bebauan busuk. Mereka memperkaya ‘kosakata aroma’ dalam olfaktorium kepala mereka dengan terus menerus mengenali semua bau di sekitar mereka. Baca lebih lanjut

Standar
Santai

Menulis Dengan Apa Adanya

IMG_20171020_120742_HDR.jpg

Gerimis di Atas Kertas dan Cakwe Sastri 🙂

1.

Buku saya, Gerimis di Atas Kertas, menerima tiga kritik yang paling sering disebut, lebih dari 5 kali, dimulai bahkan oleh editor sendiri.

Kritik pertama, bunyinya sederhana: “Kenapa semua ceritanya happy ending, dan semua tokoh utama akhirnya menikah?” Dan tiap kali menerima kritik itu, saya selalu membatin: “Memangnya kenapa?” Rupa-rupanya, ada yang tidak puas dengan happy ending semacam itu.

Mereka mungkin terbiasa membaca karya sastra yang melukiskan kepahitan hidup, dan manusia musti siap menghadapinya. Adalah perlu menjadi satir yang gusar, tak pernah puas, dan siap sinis pada kemapanan. Bahwa cinta harus berliku, sakit, dan kerap kali kandas. Tiga cerita dalam satu buku ujungnya bahagia semua, buat mereka kurang seru. Baca lebih lanjut

Standar
Santai

Menggagalkan Pernikahan Sahabat

IMG_20180328_114105_HDR.jpg

Foto korban.

 

1.

Akhirnya, membuka WordPress lagi. Lama tak bersua dengan mengomentari kiriman teman-teman, juga tidak mengirim tulisan. Saya merasa malas sekali berinteraksi dengan aplikasi bersimbol “W” di layar ponsel saya, entah kenapa. Sebenarnya sebagai seorang narablog, saya agak malu juga. Tapi mau bagaimana lagi?

Sudahlah. Hari ini saya ingin bercerita tentang bagaimana saya berusaha menggagalkan akad nikah teman saya di Lombok. Di dalamnya ada trik agar prosesi akad seseorang berjalan tidak lancar. Ceritanya lumayan seru buat dibagi. Cekidot!

 

2.

Saya punya dua sobat karib di Lombok, teman sepenempelan, selalu bersama-sama. Namanya Muammar ‘Beko’ dan Umam ‘Mbek’. Pertemanan kami abadi, dan sangat banyak konyolnya. Terlalu banyak kenangan. Baca lebih lanjut

Standar
Santai

Mengakali Orang

gettyimages-538948070

Michael Moore

I

Sepanjang sejarah saya nge-kos, mungkin saya adalah ‘hantu’ bagi penghuni kos lain yang punya niat nakal. Saya tidak gampang diakali.

Pernah antara 2013-2014, saya nge-kos di Jetis, di sebuah kos sederhana. Pada mulanya damai, tapi kemudian kedamaian terusik. Beberapa penghuni kos senior mencoba mengakali aturan sumbangan bayar listrik dan air. Saya tahu mereka membawa properti lebih: setrika, televisi, penanak nasi dan air elektrik, dan lain-lain. Saya tidak punya semua itu.

Pembagian tanggung-jawab sumbangan seharusnya adil: mereka membayar 50.000, saya membayar 20.000, tapi mereka hendak meratakannya: semua orang membayar 35.000, dengan alasan ini itu yang dibuat-buat. Artinya, saya harus nombok 15.000, dan mereka berkurang tanggung-jawab 15.000.

Kan, kampret. Baca lebih lanjut

Standar