Sialnya OctoFest

wp-image--1377133967

 

Cerita Dulu

“Sialan!” Kata itu terlontar dari Om Bari, salah satu pegiat Komunitas Teman Baca, beberapa bulan silam. Om Bari memaki bukan tanpa alasan.

Pada Februari 2017 lalu beberapa komunitas pernah bergerak bersama dan membuat festival literasi pertama di Kota Mataram. PESTA BATUR namanya: Pesta Baca, Tulis, dan Tutur. Acara dihelat beberapa hari dengan variasi kelas literasi, diskusi, talkshow, lapak baca gratis, jualan buku murah, silaturrahim lintas komunitas, dan ditutup panggung kesenian (saya menyanyi di penghujung acara, diiringi petikan gitar Om Dedi—kami membawa lagu “Di Udara” demi mengenang Munir).

Ada tiga komunitas yang menginisiasi: Komunitas Djendela, Komunitas Teman Baca, dan Komunitas BIAP (Buku Ini Aku Pinjam). Tapi bukan hanya komunitas literasi yang merapat: komunitas kesenian dan pendidikan pun turut bergabung, bahkan sebuah sekolah alam pun turut terlibat. PESTA BATUR menjadi jembatan bagi bersinerginya banyak ragam komunitas.

Lalu, mengapa Om Bari memaki?

Om Bari kesal pada saya dan Om Dedi, yang dinilai ‘congkak dan sombong’ lantaran berani mengeksekusi acara besar dengan dana yang sangat minim, dan persiapan yang seadanya. Bahkan tanpa rapat yang neko-neko, hanya modal nekat saja. Dekorasi lokasi menggunakan furnitur dan pernak pernik sumbangan komunitas-komunitas lain. Pemateri kelas dan pewacana talkshow tidak dibayar sama sekali. Sana sini hanya modal negosiasi. Semua berjalan lancar meski kurang di sana-sini.

 

wp-image-1256699041
Om Dedi waktu masih kurus, gondrong, dan naif.

 

Saya dan Om Dedi nyengir saja karena secara esensial semuanya sudah tercapi. Tapi Om Bari yang telah melanglang buana menjajal diri menjadi EO di berbagai tempat pun tetap mengutuk: Sialan! Tidak pernah dia melihat orang setengik kami. Sesumbar saja bikin ini itu, bicara gampang, dan yang pusing mengelola administrasi penting adalah Om Bari. Maka wajar bila beliau mengutuk: Sialan!

Nah, ketengikan itu diulang lagi oleh Om Dedi di Mataram, kali ini lewat acara OctoFest. Bahkan untuk menyiapkan banner, uang diurun beberapa saat sebelum mencetak banner. Tidak ada perencanaan keuangan yang matang. Giliran saya yang memaki di Malang: Sialan!

 

Tentang OctoFest

Octofest adalah festival sastra, yang diinisiasi oleh sastrawan kondang NTB pendiri Komunitas Akarpohon, Mas Kiki Sulistiyo, dan bujang muridnya Pramoedya pendiri Komunitas Teman Baca, Om Dedi Ahmad Hermansyah.

 

wp-image--681736263
Mas Kiki Sulistiyo, buku puisi terbaru beliau “Di Ampenan Apalagi yang Kau Cari”.

 

Acara OctoFest ini mengambil semangat textum, atau yang berarti ‘rajutan’. Textum adalah akar bahasa dari kata text. Mengacu pada namanya, acara OctoFest ini ingin merajut banyak hal di NTB, mulai dari merajut gerakan-gerakan, merajut karya-karya lokal, hingga merajut corak wacana masing-masing komunitas tersebut. Ujungnya, dirajut pula harapan, bahwa tiap potensi komunitas bisa bersinergi, dan tiap potensi wacana bisa memiliki arah yang senada.

Lanjutkan membaca “Sialnya OctoFest”

Iklan

Tentang Komunitas Djendela

wp-image-1620580740
bukan logo resmi

 

Perkenalan

Komunitas Djendela adalah transformasi dari KCB-Mataram (Kelompok Cinta Baca), yang telah berdiri dan bergerak sejak 13 Desember 2015 silam. Komunitas Djendela yang mengusung cita-cita dan gerakan menghidupkan ‘literasi-tulis’, adalah lanjutan dari KCB-Mataram yang sebelumnya mengusung ‘literasi-baca’.

Komunitas Djendela meninggalkan namanya yang lama karena alasan tertentu yang tidak ada hubungannya dengan pergeseran cita-cita dan gerakan. Komunitas Djendela menjadikan literasi sebagai ‘jembatan’ untuk mengembangkan potensi anak muda.

 

Gerakan

Komunitas Djendela punya tiga arah gerakan:

  • Mengelola Perpustakaan

Komunitas Djendela menjadikan basecamp sebagai sekaligus sebuah perpustakaan. Komunitas Djendela menggalang buku dan memberi akses agar buku beredar di tengah masyarakat. Caranya, dengan membuka basecamp seluas-luasnya pada siapa saja dan bisa dikunjungi siapa saja—dan buku-buku bisa dipinjam gratis. Komunitas Djendela juga menggelar secara rutin lapak baca (perpustakaan jalanan) di berbagai ruang publik. Komunitas Djendela terus menerus mengembangkan sistem perpustakaannya.

  • Mengelola Ruang Muda

Komunitas Djendela percaya potensi anak muda sebagai pelopor perubahan. Anak muda berada di titik usia dengan rasionalitas dan semangat menggebu, sehingga berbagai wacana mudah dipahami mereka. Komunitas Djendela melakukan (yang dalam ilmu psikologi disebut) ‘intervensi kelompok’, untuk menguatkan anak muda dalam (a) wawasan hidup dan sosial, dan (b) semangat mengabdi pada masyarakat. Komunitas Djendela menggelar kegiatan obrol buku, obrol film, obrol isu, dan menghelat berbagai pelatihan pengembangan potensi secara cuma-cuma.

  • Mengelola Situsweb Literasi

Komunitas Djendela mengelola sebuah situsweb bernama Djendela.co.

Situsweb ini merupakan ‘ranah profesional’ Komunitas Djendela, dikelola dengan prinsip-prinsip kerja jurnalistik, meski, pada awalnya, kerja-kerja profesional itu dilakukan secara sukarela. Djendela.co inilah corong utama kampanye literasi-tulis Komunitas Djendela.

Lewat Djendela.co, Komunitas Djendela menyajikan bacaan yang segar dan baik untuk masyarakat, sekaligus, menampung tulisan-tulisan potensial dari anak muda seluruh NTB dan Indonesia. Dikurasi, diterbitkan, dan ‘diangkat’ ke khalayak. Komunitas Djendela bekerja keras memompa semangat menulis anak muda di NTB dan menyediakan wadah terbaiknya.

 

Makna Djendela

Nama Djendela dipilih setelah sekian lama berusaha merumuskan konsep komunitas (cita-cita dan gerakan), dan menyimpulkan semua itu menjadi sebuah nama yang menyehari dan mudah diingat. Djendela adalah nama yang tidak muluk-muluk, dan paling dekat dengan konotasinya dengan budaya membaca (buku adalah jendela dunia). Penggunaan ejaan lama (dje) sebenarnya iseng saja, supaya membedakan dengan pengguna nama jendela lain.

Jendela bisa diartikan sebagai “jalan udara segar”. Jendela juga bisa diartikan sebagai “sudut pandang yang baik”.

Pengertian pertama menyiratkan usaha menambah pengetahuan, sementara pengertian kedua menyiratkan usaha merenungkan pengetahuan.

Maka Djendela meyakini, proses membaca seyogiyanya diikuti dengan proses kontemplasi, yaitu ‘refleksi dan kontekstualisasi’: suatu pengetahuan (dari sebuah bacaan) harus direnungkan dan dicari pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari manusia. Karakter pembaca kontemplatif (dalam arti luas) itulah yang hendak dibangun menjadi identitas dan ciri khas anggota Djendela.

Sehingga bacaan apapun yang dikonsumsi anggota Djendela, baik yang tersurat (fenomena) maupun yang tersirat (nomena) akan menemukan manfaatnya. Tujuan dari menyerap pengetahuan adalah membuat manusia menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi sesamanya—bukan agar manusia pandai merepet bicara segala rupa wacana. Djendela yakin bahwa definisi ilmu adalah “pengetahuan yang menemukan manfaatnya bagi diri dan sesama”.

 

Informasi Lebih Lanjut

Perpustakaan cum markas Komunitas Djendela kini telah pindah ke Kelurahan Karang Genteng, Pagutan, Kota Mataram—letaknya di Jln. Darul Hikmah, di seberang dalam yayasan Ponpes Darul Hikmah. Namun, dikarenakan Perpustakaan baru ini berada di area hunian baru, maka alamat surat-menyurat masih memakai alamat sementara:

Jln. Banda Sraya Gg. al-Bayani III, RT 002, Kebun Lauk Pagutan, Kota Mataram (NTB). Kodepos: 83117. Penerima: Siti Hilmi Hajar (082340607474).

Komunitas Djendela menerima kedatangan siapa saja di perpustakaan, dengan berbagai tujuan yang baik. Komunitas Djendela juga menerima baik donasi buku dan rupiah.

Berikut daftar nama dan nomer WhatsApp Pustakawan yang bisa dihubungi sehari-hari untuk berbagai keperluan:

Zaenuddin Amrullah       : 081916042451

Khaerul Ihwan                   : 085238952450

Siti Hilmi Hajar                 : 082340607474

Bang Ical                              : 085337175119

 

Selamat berkunjung ke Perpustakaan komunitas kami.

Terima kasih. Semoga bermanfaat.[]

Memahami Ketakutan

 

Aku tak rela PKI bangkit. Tapi aku pun tak ingin kita membangun komitmen anti-komunis dengan cerita-cerita rekayasa yang banyak muslihatnya. Kebaikan macam apa yang lahir dari kebohongan?

large-dono-warkop-komedian-dosen-hingga-aktivis-peristiwa-malari-dan-trisakti1472192748
Demonstran bernama alm. Dono: join us, we fight for a clean goverment

 

Kesatu: Rahim Ketakutan

Mungkin tulisan saya kali ini adalah ‘suara’ terakhir.

Belakangan ini terpampang lagi di kepala saya, wajah orang-orang yang pemikiran, karya, dan sejarah hidupnya pernah saya baca. Mereka adalah orang-orang yang gelisah dengan keadaan, dan melawan. Saat orang lain meladeni rasa takut mereka, orang-orang itu memutuskan acung tangan, meski kaki gemetar.

Ketakutan bukan barang baru bagi bangsa yang pemerintahannya bergelimang korupsi dan rezimnya menindas. Sejak era kolonial Belanda. Sejak era Orde Lama saat Bung Karno terlena nikmatnya berkuasa. Sejak era Orde Baru.

Pada era kolonial, bangsa ini takut pada kematian, di bawah tekanan sulitnya sumber pangan lantaran tidak berdaulatnya masyarakat mengolah tanahnya sendiri. Juga, takut pada kematian, di bawah bayang-bayang kerja paksa yang tidak manusiawi. Suara yang mencoba membela keadaan masyarakat akan dibungkam habis-habisan dengan popor senjata. Tentu saja, para pemilik status quo dan kenyamanan (di atas penderitaan rakyat banyak) punya ketakutan lain: kehilangan status quo mereka. Orang semacam ini selalu ada di segala zaman.

Pada era Orde Lama, ada masa ketika Bung Karno mendaulat dirinya sebagai pemimpin tunggal yang tidak boleh digantikan, dan Bung Karno tidak suka melihat ada perkembangan kekuatan lain yang tidak mendukung kekuasaan tunggalnya. Sehingga pernah digulirkan ‘politik kenaikan harga’, yang membuat harga-harga melambung tinggi, dan rakyat didera rasa lapar teramat sangat, sehingga tidak sempat memikirkan kebijakan pemerintah. Chaos mungkin akan terjadi.

Akhirnya mahasiswa, ormas-ormas Islam dan angkatan bersenjata turun, saling dukung, saling emong, saling mengelukan satu sama lain. Harapan akan selesainya masa-masa sulit dari rezim Orde Lama sudah di depan mata. Ormas Islam lama ditindas rezim Orde Lama yang kala itu bekerja sama dengan partai palu arit, terutama ketika partai Islam terbesar dibubarkan. 

Harapan baru ada bersama angkatan bersenjata. Insya Allah, setelah perlawanan bersama angkatan bersenjata usai, umat Islam bisa sejahtera lahir batin, dan pemerintahan bisa berlangsung damai. Menyenangkan.

 

Kedua: Memelihara Ketakutan

Namun yang terjadi adalah sebaliknya.

Lanjutkan membaca “Memahami Ketakutan”

Tahun Baru Islam

thenewhijriyear

 

Selamat tahun baru Islam.

1 Muharram 1439 Hijriyah.

Saya orang Islam, dan saya diwasiatkan guru-guru saya agar memahami mengapa penanggalan dalam Islam dihitung dari hijrahnya Nabi, bukan lahirnya Nabi.

Ternyata memang, ajaran hijrah itu pokok sekali dalam Islam. Dimensi hijrah bukan hanya raga, melainkan juga pikiran. 

Mulai ‘hal-hal kecil dan nafsi-nafsi’ seperti busana (dari yang bermewahan menjadi lebih sederhana) atau kualitas pribadi (menjadi tepat janji tepat waktu).

Sampai ‘hal-hal besar besar dan jama’i’ seperti hidup rukun bersaudara, atau bergerak bersama menegakkan kemanusiaan.

Hijrah sangat pokok. Kita harus senantiasa bergerak mencari titik damai, titik yang lebih beradab. Hijrah itu bersakit-sakit, karena harus terus meninggalkan kenyamanan demi kenyamanan baru yang diridhai. 

Hijrah tiap orang berbeda-beda karena tafsir atas kebenaran setiap orang pun tak sama. Ada yang menafsirkannya sekedar hal-hal bendawi, ada yang mementingkan hijrah mental.

Ya, bukan revolusi mental menurut saya, melainkan hijrah mental seharusnya. Revolusi adalah mengutuk keras apa yang pernah menjadi identitas, sementara hijrah tidak: apa yang ada di masa lalu, adalah sesuatu yang harus disyukuri. Tidak untuk dibenci. Itu semua Allah semata yang punya rencana.

Hanya saja, sayang sekali, bila hijrah hanya dimaknai sebatas busana semata. Lebih sayang lagi kalau hijrah dieksploitasi oleh gerakan bisnis fashion. Rupa berubah, mentalitas kelas menengah hedonis-individualistis masih sama.

 

***

Saya orang Islam, dan saya diminta guru-guru saya membanggakan penanggalan Islam. Di orhanisasiorhanisasi mahasiswa seperti IMM, PMII, HMI, KAMMI, penanggalan Islam tetap dipelihara dalam surat-menyurat dan membuat banner. 

Saya inginnya lebih jauh. Saya mencoba mengetahui tanggal lahir saya dalam penanggalan hijriyah. 

Tujuannya sederhana: agar setiap tahun saya tidak merayakan ulang tahun berdasarkan penanggalan Masehi. Jadi, tanggal ulang tahun saya berubah-ubah setiap tahun. Setiap tahun saya mengganti tanggal lahir masehi saya di media sosial, sesuai penanggalan hijriyah. Teman-teman bingung, tapi saya abai saja.

Jadi, saya lahir pada hari Ahad, tanggal 25 Rajab 1411 Hijriyah.

Saya mengetahuinya pertama kali di sesi mata kuliah Ilmu Falaq. Dengan kalkulator di tangan, rumus menghitung gerak bulan dan hari itu tetap saja sulit. Setelah berjuang habis-habisan, saya menemukan tanggal lahir saya dalam penanggalan hijriyah. Tangan saya membentang, jiwa saya terangkat tinggi. Saya menang, dan semakin hari merasa semakin kaffah dalam ber-Islam.

Kampret. Ternyata ada aplikasi “convert masehi to hijria”, di google. Tinggal input tanggal lahir masehi, klik, dan tanggal lahir hijriyahnya ada.

Astaghfirullah. Baru bahas hijrah, kok bilang kampret. []

 

Qisas Jama’ah

qisas-dalam-islam

Tulisan ini bukan kajian hukum, tapi mari kita memulainya dari sebuah kajian hukum. Terdiri dari empat bagian, panjang, sebagian besar memuat kegelisahan saya.

 

Pertama

Orang Islam mengenal istilah qisas.

Qisas adalah ‘balasan setimpal’ atas berupa pembunuhan atau penganiayaan yang disengaja (amd), atau sengaja menganiaya tapi tidak berniat membunuh, hanya saja berujung pada kematian (syibbul amd).

Dalam Islam, jiwa dan raga adalah mahkota kehidupan yang sangat dimuliakan dan dilindungi. Tindakan apapun yang ‘mencerabut’ jiwa, atau ‘menciderai’ raga lahiriah yang sehat, adalah perbuatan keji yang tidak disukai Allah. Hingga perbuatan itu harus dihukum.

Alasan lain adalah, pembunuhan akan melahirkan kebencian, dan kebencian ini idealnya harus disalurkan agar tidak meledak kemudian. Saluran itu berupa hukuman (uqubah).

Dalam Islam, ‘saluran’ itu berbunyi: “Wajib atas kamu menegakkan qisas, asal jangan melampaui batas. Namun alangkah mulianya bila hati lapang dan mampu memaafkan.” (al-Baqarah: 178 – 179).

Betapa indah keadilan itu.

Setiap perbuatan yang melawan hukum wajib dihukum (sekecil apapun hukuman itu, demi mendidik manusia menegakkan keadilan). Dalam hal ini, qisas (hukuman pembalasan setimpal) harus ditegakkan di bawah kekuasaan seorang hakim. Di masa awal Islam, Nabi Saw.-lah yang menjadi hakimnya.

Inilah alur teladannya: boleh membalas kejahatan (agar hati lebih mudah menerima kenyataan) –> balas kejahatan harus dengan prinsip keadilan (agar tidak kelewat batas yang tidak disukai Allah) –> dan lebih terpuji di mata Allah bila mampu memaafkan (berlapang dada, berdamai dengan masa lalu).

Syari’ah, menurut Imam maqasid Ibn al-Qayyim (dalam bukunya I’lam al-Muwafiqin vol. 1 hal. 333), menegaskan bahwa:

“Syari’ah seluruhnya adalah tentang keadilan, kasihsayang, kebijaksanaan, dan kebaikan. Fatwa apapun yang tidak mencerminkan keempat hal tersebut, tidak bisa disebut sebagai syari’ah, meskipun diklaim begitu oleh beberapa penafsiran.”

 

Kedua

Saya tidak suka PKI.

Saya menyukai gagasan kiri. Lebih tepatnya, saya menyukai nalar kritis, dan gagasan kiri adalah salah satunya. Yang namanya gagasan kritis, selama masih berupa gagasan, punya sisi ideal yang memihak kemanusiaan. Maka saya suka.

Lanjutkan membaca “Qisas Jama’ah”

Merayakan Sore

wp-image--1938005129

 

Belakangan ini, saya selalu merayakan sore. Nampaknya saya akan membiasakan diri untuk merayakan sore.

Merayakan sore adalah, meluangkan waktu untuk selalu menikmati langit sore dalam suasana hati yang baik. Baik atau tidak baik, ketika menghadap sore, hati harus baik. Merayakan sore berarti menyerahkan diri di bawah kebersahajaan.

Buat saya, sunset itu kurang penting. Sore lebih penting.

Sore mengingatkan pada saat-saat terdamai dalam diri manusia. Mengingatkan pada adegan penghujung Death Note III (the movie), saat Detective “L” berjalan di bawah senja, dan tersenyum berbisik, andai aku bisa, aku ingin hidup sedikit lebih lama.

Sore adalah keagungan tanpa mahkota. Tuhan pun ada di dalam sore, sebagaimana Ia ada di mana-mana (tapi tidak ke mana-mana).

 

***

Merayakan sore artinya, menyisihkan waktu untuk tidak mendekam di dalam kamar sambil main hape atau membaca buku. Tidak terpekur di depan laptop untuk menulis. Tidak dijajah tugas kuliah. Kalau mau membaca buku atau main hape, lakukan semuanya di luar.

Merayakan sore artinya, duduk berleha-leha di teras, atau jalan kaki bolak-balik jalanan komplek perumahan, sambil mendengar lagu project Pop yang judulnya “Adhe”, dan terkenang pada 2011 silam ketika saya dikirimi cokelat oleh seorang gadis kedokteran yang menyukai saya. Ternyata, saya pernah ada yang naksir, what a miracle.

Lalu saya akan bertukar pandang dengan langit, lalu bersama-sama jatuh cinta. Langit jatuh cinta pada saya yang belum mandi, dan saya jatuh cinta padanya yang suka menangis.

Saya juga senang merayakan sore dengan membaca buku. Saya akan tenggelam dalam ide-ide. Setiap habis beberapa paragraf, saya akan menengadah, memandang langit yang begitu luas, dan tercenung atas apa yang saya baca barusan. Bila sudah paham, langit sore mengambil alih perhatian saya, dan saya terpesona.

Karena itulah saya tidak pernah sepakat dengan metode membaca cepat: di dalam metode keren itu, tidak ada refleksi sama sekali.

Lanjutkan membaca “Merayakan Sore”

Beberapa Catatan (tak) Penting

15590113_202287990175708_5991190808768989462_n

 

1.

Blog saya rewel lagi. Tidak bisa ngepos komentar lagi di blog manteman.

Belakangan ini gairah blogwalking saya menurun. Belakangan ini malas luar biasa. Saya blogwalking beberapa hari sekali, di malam hari, saat semua terlelap. Puluhan postingan sekaligus saya sambangi.

Tapi semalam saya kaget karena beberapa komentar saya dimentahkan. Mungkin masuk spam. Kejadian semacam ini pernah saya alami, dan artinya saya harus berhubungan dengan siakisemet-akisemet itu lagi. Malasnya.

Saya biarkan sajalah. Mungkin saya memang sedang tidak diperkenankan lepas komentar. Belakangan ini saya melepas komentar seperti melepas ayam dari kandang: sembarang rusuh, menembak kotoran sana-sini, bikin orang jengkel setengah mati. Otak saya sedang tidak beres, pun perasaan saya.

 

2.

Tanggal 14 September 2017, Presiden Jokowi meresmikan perpustakaan nasional yang tingginya 27 lantai itu. Saya senang: ini simbol teguhnya budaya literasi di Negara kita. Sayangnya hanya simbol, tapi saya ikutan bergembira sajalah. Nanti dituduh tukang nyinyir oleh kaum yang sangat berpikir positif pada Negara.

Saya sebenarnya lebih suka perpustakaannya 5 lantai saja. Lantai-lantai selanjutnya coba dipecah ke pelosok-pelosok. Bahkan satu lantai saja sebenarnya cukup: yang penting budaya literasinya kuat, tidak karikatif.

Lanjutkan membaca “Beberapa Catatan (tak) Penting”