Aku Sombong, Kamu Bahagia

wp-image--554181157

Sembodo

Belakangan ini saya menulis untuk Buletin Jum’at “Nurani”. Sudah dua tulisan yang terbit, dengan beberapa stok lain yang masih menunggu. Dua yang terbit itu bicara tentang Islam dan aktualisasinya, secara kontekstual, dan tidak kehilangan keunikan wacana.

Misalnya, tentang pandangan Gandhi yang positif terhadap Islam (dan tafsirnya atas nilai dan praksis Islam yang begitu pro-kemanusiaan). Kemudian, tentang perlunya praktek-sugestif untuk melatih nilai-nilai keislaman, seperti para Bhikkhu melatih sila-sila mereka dengan cara yang begitu memukau.

Saya mesem-mesem melihat para jama’ah antusias membaca tulisan saya, dibanding mendengarkan khutbah khatib. Ah, sebenarnya saya berdosa telah mengalihkan perhatian. Tapi mau bagaimana lagi, saya memang menarik perhatian. Saya bertutur lebih baik dari khatibnya. Karena sudah kepalang songong, jadi saya wajarkan saja fenomena itu.

Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah.

Karena begitu banyak yang membaca tulisan saya selama khutbah, saya mencoba mendekati salah satunya. Saya pandangi dia yang sedang membaca, dan hati saya bergumam datar, lihat itu, dia sedang membaca saya, ada saya di dalam kertas itu. 

Cara saya tersenyum dan melirik, adalah cara khas sembodo; yaitu satu jenis kesombongan yang diikuti dengan pembuktian. Bukan sesumbar: si Sembodo bertingkah songong karena memang mampu. Nah, senyum sembodo itulah yang saya pasang, saat saya mencoba menyapa dan bertanya pada yang sedang membaca tulisan saya.

“Tentang apa ini, Mas?”

“Oh, ini tentang latihan ber-Islam, Mas. Supaya nilai Islam bisa dipraktekkan, nggak cuma omong doang.”

“Bagus ya, kayaknya?”

“Bagus Mas. Tulisannya mengalir, enak, ringan kayak lagi cerita.”

Senyum sembodoku semakin menjadi-jadi. Anak dadaku yang riang terbang tinggi. Hidungku kembang kempis. Tiba-tiba riuh suara tepuk tangan euforia dalam kepalaku sendiri. Aku terkekeh dalam hati, sembari bergumam: “Bacalah, anak muda, bacalah, nanti kamu akan tahu membaca itu lebih menarik daripada mendengarkan. Bacalah, bacalah, karena itu aku yang menulisnya, dan setiap yang kutulis takkan mungkin tak mengundang decak kagum.”

Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah.

Hahaha. Inilah dia: kadang kesombongan tidak selalu membuat geram dendam. Memaki, iya, tapi ada jenis makian dan kejengkelan yang membuat kita bahagia. Semoga kalian bahagia, ya, membaca tulisan ini.

 

wp-image-1331705392

Cara Bersyukur

Buletin Nurani diterbitkan kantor tempat saya berproses selama ini: PSIF (Pusat Studi Islam dan Filsafat) UMM. Saya pikir, waktu pertama kali menulis, saya menulis ‘sebagaimana biasanya’, yakni sukarela. Tapi ternyata dibayar.

Saya pun belakangan ini lumayan sering menulis di media lain. Tulisan-tulisan itu saya share di media sosial lain. Beberapa dibayar. Saya gunakan itu untuk tambahan membeli buku, dan donasi ke komunitas-komunitas. Tulisan perdana saya di Geotimes tembus kolom, uangnya saya titip ke Bayt al-Hikmah, komunitas kami untuk keperluan gerakan. Meskipun sebenarnya ada ‘zakat 10%’ yang dibebankan pada anggota yang mendapat honorarium menulis, tapi upah pertama itu saya serahkan seluruhnya.

Saya melakukan hal serupa pada buku pertama saya dulu: royaltinya saya titip untuk gerakan. Entah kenapa saya ingin bersyukur dengan cara itu, pada kali pertama hal-hal yang saya anggap berharga. Tapi tentu, mamen, itu hanya untuk upah pertama. Selanjutnya buat nonton bioskop, hahaha.

Tuh kan, dengan cerita begini, aku jadi sombong lagi. Tapi, kamu bahagia, kan? []

Iklan

Mereka yang Menulis

2015-01-02_17.31.39

 

Mereka yang menulis, adalah mereka yang sabar. Terlepas dari apapun yang mereka tulis: wartawan dengan beritanya, ilmuan dengan paper ilmiahnya, sastrawan dengan karya sastranya, atau penulis dengan fiksi atau non-fiksinya. Siapapun itu, mereka yang menulis adalah mereka yang sabar.

Mereka mendapati suatu fenomena, dan berusaha tidak reaksioner. Mereka ingin menanggapi dengan cara yang terpelajar. Wartawan menginvestigasi, ilmuan meneliti, sastrawan merenungi, penulis membaca dan berdiskusi, lalu lahirlah tulisan.

Tulisan itulah jerih kesabarannya. Tulisan itu adalah reaksinya yang tidak reaksioner. Tulisan itu memberinya satu kesan bahwa ia bisa menentramkan hatinya yang gelisah atau panas, dengan memastikan kepalanya tetap dingin.

Mereka mau bersusah payah. Mereka tidak sudi mengambil jalan pintas: mengoceh tanpa menimbang, menuding tanpa memahami. Mereka bersabar atas proses yang melelahkan, dari sebuah perjalanan ‘mengetahui’ sesuatu.

Lebih dari itu, mereka yang menulis (dan berkarya, karya apapun itu) adalah mereka yang bersilaturrahmi dengan cara yang akan diingat. Mereka menghabiskan waktu tidak untuk menarik perhatian dengan simpul-simpul sensasi semu. Mereka menghabiskan waktu untuk berlatih suatu skill, yang dengan (prestasi) itu keberadaan mereka diakui tidak dalam sekedar jempol digital.

Mereka akan diingat. Mereka bersilaturrahmi dengan sesuatu yang akan dikenang. Berbahagialah yang menulis: mereka orang-orang yang sabar dalam kesendirian, dan kelak mati dalam kenangan. Kenangan macam apa, tentu tergantung pada apa yang mereka tuliskan. []

Wejangan Pak Prof.

IMG-20160515-WA0007-1
Dr. Pradana Boy Zulian Thobibul Fata.

 

1.

Kualitas seorang akademisi biasanya kita lihat dari tiga aspek.

Pertama, proyek pemikirannya. Biasanya dikembangkan di setiap jenjang akademik, dan selalu menjadi fokus dari setiap penelitiannya. Sejauh mana ia unik, orisinal, dan menjadi kata kunci dalam mengurai persoalan rakyat. Misalnya Prof. Dr. Moeslim Abdurrahman dengan gagasan Islam Transformatif, Prof. Dr. Kuntowijoyo dengan gagasan Ilmu Sosial Profetik, atau Prof. Dr. Amin Abdullah dengan teori ‘jaring laba-laba’ (interkoneksi studi Islam).

Tentu saja, proyek pemikiran yang besar hanya lahir dari akademisi yang ‘tidak sekedarnya’ dalam meneliti. Gagasan besar lahir dari permenungan yang tidak kejar tayang. Ada diskusi yang intens, dan pergaulan intelektual yang luas. Maka, kualitas akademisi bisa dilihat dari kriteria kedua berikut.

Kedua, jejaring akademiknya. Gagasan besar tidak akan berarti kalau jejaring yang akan mengapresiasi (kritik, dukungan) proyek pemikiran itu tidak besar. Biasanya secara alamiah, akademisi dengan gagasan besar akan menjadi magnet bagi akademisi lain berdatangan. Jejaring inilah yang akan menyuarakan proyek pemikiran itu, mengutip dan membumikannya.

Seberapa luas ia berjejaring dengan tidak hanya elemen pegiat keilmuan lain, dan (berani) mencoba mendialogkan pemikirannya dengan orang yang berbeda? Mempertarungkan manfaat pemikirannya bagi masyarakat banyak?

Ketiga, gerakan intelektualnya. Saat ia giat memperjuangkan gagasannya itu untuk kebermanfaatan orang banyak, saat itu pula ia tidak lagi sekedar akademisi, melainkan seorang intelektual. Ia bukan lagi seorang yang mengejar basa-basi sitasi dan pencapaian statistik di haribaan jurnal-jurnal internasional. Itu remeh saja, sekunder sifatnya. Yang terpenting adalah kekuatan sebuah proyek pemikiran.

Akademisi adalah orang yang berurusan dengan ilmu dan tetek-bengeknya, sedangkan intelektual tidak: ia adalah setiap terpelajar yang keilmuannya dijadikan pijakan untuk membaca masyarakat dan melakukan sesuatu untuk menabur kebaikan bagi rakyat banyak. Tentu saja, melalui kerja-kerja perjuangan yang nyata.

Nah, ketiga kualitas tersebut saya temukan dalam diri Dr. Pradana Boy ZTF.

 

20150503_165758
Tasyakuran beliau jadi doktor, saya jadi sarjana, bersamaan.

 

2.

Dr. Pradana Boy ZTF (Zulian Thobibul Fata) adalah guru saya dalam bidang studi Islam, di Kota Malang. Meski beliau baru saja meraih gelar doktor, tapi saya selalu memanggil beliau Pak Prof., lantaran yakin betul beliau akan menjadi seorang guru besar. Idealisme, intelektualitas dan etos keilmuannya tidak saya ragukan.

Pak Prof. menjadi dosen pembimbing untuk skripsi saya (yang temanya Filsafat Hukum Islam) pada 2015. Putera Lamongan, anak petani miskin, yang berjuang hingga mampu menjadi sarjana Syari’ah di UMM, meraih gelar master di ANU, dan menyelesaikan doktoralnya di NUS. Pak Prof. mengukuhkan diri sebagai ahli dalam bidang pemikiran dan sosiologi Islam.

Lanjutkan membaca “Wejangan Pak Prof.”

Cerita Dua Adik Saya

wp-image--1330693812
Dua adik saya.

Pengantar Asal-Asalan

Menulis di sore hari, sembari mendengar alunan lagu “Cinta ‘kan membawamu” versi Reza Artamevia yang lebih lembut, membuat saya serasa berada di pinggir jendela sebuah rumah berdinding-motif batu-bata, dengan halaman yang dirindangi pepohonan dan tanaman-tanaman hias yang segar, selepas hujan, di sore hari yang sedikit mendung.

Kebetulan saya memang menulis di pinggir jendela. Meja kerja saya di pinggir jendela.

Saya senang mendengar lagu-lagu Reza. Penyanyi yang diorbitkan Ahmad Dhani sejak 1995 ini punya suara alto yang begitu menyentuh telinga. Di bawah tangan dingin Ahmad Dhani, suara alto itu berjodoh dengan musikalitas yang membuat jiwa sanggup terhanyut—hanyut yang kita tidak ingin berontak darinya.

Sebut saja: “Pertama”, “Satu yang Tak Bisa Lepas”, “Keabadian”, “Cinta Kita”, dan yang paling fenomenal adalah duetnya dengan Masaki Ueda, “Biar Menjadi Kenangan”. Penyanyi dan musisi jaman micin belum difitnah netizen, memang ketje dan keren, musiknya memorable, tak lekang zaman alunan indahnya. Reza dan Ahmad Dhani adalah secuil di antaranya.

Tapi tentu saja, legenda Reza terjadi saat Ahmad Dhani masih gondrong. Semakin pendek rambut Ahmad Dhani, semakin menyebalkanlah dia. Setelah botak, wajahnya sudah tidak lagi musikal. Langkahnya tidak lagi ritmis. Sorot matanya tidak lagi puitis. Lagu-lagunya tumpul. Dapur rekamannya mandul.

Tapi sialnya, saya masih menunggu Dewa 19 bangkit lagi. Sial.

 

Yayat

Saya anak pertama dari tiga bersaudara.

Adik pertama saya, si tengah, namanya Yayat. Sekarang sedang kuliah di Jurusan Kehutanan, semester akhir. Bagi Yayat, dia adalah anak kedua dari puluhan bersaudara, karena dia menganggap seluruh gunung di Indonesia sebagai adik-adiknya.

Dia memang penggila gunung. Berita tentang Harimau Jawa yang dikatakan punah tapi ternyata masih ada? Yayat pernah berdiri berhadapan dengannya di Hutan Gunung Argopuro. Untunglah si Harimau sedang sedih karena ditinggal kawin Raisa, jadi Yayat bisa pulang dengan selamat.

wp-image-2071874465

Berbeda dengan kakaknya, Yayat amat populis. Dia mudah diterima di kalangan manapun. Seperti posisinya, dia selalu menjadi ‘yang tengah’. Suaranya didengar, dan pengaruhnya kuat, tapi tidak ingin menjadi yang terdepan. Dia pandai membawa diri, dan dari sononya memang tulus. Pribadi yang setia kawan secara alamiah.

Adik ketiga saya pernah merasa ngeri karena pada suatu hari, ia yang baru datang ke Malang untuk kuliah ini diajak Yayat makan siang. Yayat mengenakan seragam kehutanan lengkap (kemeja cokelat rimbawan), karena harus pergi ke hutan untuk survey bersama teman-temannya. Adik ketiga itu menyilakan Yayat berangkat saja, tapi Yayat bilang tidak apa-apa, teman-temannya bisa menunggu.

Sesudah makan, adik saya itu kaget, karena yang dimaksud Yayat dengan ‘bisa menunggu’ itu adalah: teman-temannya yang berseragam rimbawan telah berbanjar jauh, di atas belasan motor, di pinggir jalan, berpanas-panas, menunggu Yayat selesai makan. Yayat melambaikan tangan, pamit, dan segera naik motor yang paling depan. Mereka pun berangkat.

Lanjutkan membaca “Cerita Dua Adik Saya”

Perpustakaan Impian

wp-image-2009595733
halaman depan Perpustakaan

 

Menemukan perpustakaan itu, membuat saya merinding.

Perpustakaan ini berada di Surabaya, di Jln. Dr. Cipto 22—sebuah rumah elit yang disulap menjadi perpustakaan. Halaman depan yang tidak terlalu besar dijadikan lahan parkir; pemandangan di lorong sebelah kanan dimulai dengan lemari loker untuk pengunjung, kemudian beberapa pasang meja-kursi, terus ke belakang, hingga berakhir di sebuah pintu yang belum saya tahu itu ruangan apa. Saya tebak, pastilah aula serba guna.

Suasana asri. Sedari halaman, hingga lorong, tanaman-tanaman segar dan merambat dirawat dalam pot-pot kecil, dibiarkan menjalar di antara batang-batang kawat besi tipis berwarna putih yang indah. Saya sudah terpaku bahkan sebelum masuk ruang bukunya.

 

wp-image--1455262156
Dinding dan penghujung lorong.

 

Di teras kecilnya, terdapat beberapa kardus buku dan papan tulis hitam putih, yang tulisan warna-warninya menjelaskan bahwa buku di kardus itu diobral dan boleh ditukar dengan harga-harga yang sangat murah. Ada komik, ada novel. Ada pula koran mingguan dan jurnal yang dibagikan gratis. Ambillah sepuasmu.

Koran mingguan itu sedikit menggoda—mengapa tidak, komunitas, membuat koran serupa? Koran khusus opini atau khusus cerita, yang dibagikan ke tengah masyarakat. Cerita di balik koran minggu itu, dan banyak fitur perpustakaan ini, nantinya membuat saya terhenyak.

 

wp-image-1937944772
Gratis ~

 

Saya masuk ke ruang buku, yang kira-kira seluas 9×4 meter itu, dan langsung bertemu dengan meja kerja Pustakawan. Perempuan, muda, sedang duduk berkutat dengan komputer, mengetahui ada yang datang, langsung balik hadap dan menyapa ramah. Kami berkenalan. Mbak Yuli, namanya. Saya katakan bahwa saya dari Malang, ingin berkunjung, melihat-lihat. Mbaknya menyilakan.

Saya langsung memahami desain besar ruang buku ini hanya sekali pandang. Di bagian depan, di sekitar meja kasir, adalah display buku-buku dan merchandise yang dijual—pakaian, kerajinan tangan, hiasan, bahkan kaset-kaset film dan video. Buku-buku yang dijual itu, di antaranya, adalah karya muda-mudi Surabaya. Ada pula lemari pendingin berisi minuman.

 

wp-image-171141031
Meja Kerja Mbak Yuli ~

Barulah setelah meja Mbak Yuli, adalah rak-rak koleksi buku yang bisa dibaca dan dipinjami dengan keanggotaan. Saya sungguh melongo dengan sistem katalog yang benar-benar terencana itu. Buku-buku disusun berdasarkan abjad, rak-rak fiksi dibedakan dengan non-fiksi, bahkan terdapat arsip-arsip informasi mengenai daerah—Surabaya, Jawa Timur, dll.

Tata ruangnya juga menarik sekali. Di dalam ruang baca ada meja panjang untuk mengerjakan tugas atau membaca bebas. Meja itu menempel dengan sisi jendela, yang di pinggir-luar jendela itu ada pot-pot kecil berisi tumbuhan hijau cantik. Lanjutkan membaca “Perpustakaan Impian”

Terapi: Menyembuhkan Jenuh

Pengantar

Postingan kali ini menyajikan tak kurang dari lima puluh gambar.

Kejenuhan kerap menyerang saya. Mungkin karena saya terlalu banyak mengulik wacana dari sudut pandang ‘yang bertentangan’ dengan kebanyakan pemahaman orang, yang—mau tidak mau—selain membuat saya melihat banyak kemungkinan baru, saya juga jadi menemukan kenyataan-kenyataan menyakitkan. Entah itu tentang rekam jejak korupsi, tebal-tipis keberpihakan kaum muda, atau, menemukan kenyataan bahwa pemahaman Islam saya bisa dengan hebat dituduh sesat-menyesatkan—oleh orang yang saya tahu betul jarang membaca.

Sehingga sudah lama saya amalkan: siapapun yang berusaha mematahkan pendapat saya dengan intonasi yang tidak mengenakkan, saya hanya akan berkata, “Inggih, silakan berpendapat demikian.”

Karena itu saya selalu mencari cara menerapi diri, dan ‘menyembuhkan jenuh’. Biasanya saya menonton film dan mendengarkan musik. Saya mencoba mencerna keindahan, kesyahduan, dan mutu karya cipta dan rasa manusia. Biasanya, juga, saya mencoba melakukan kebiasaan-kebiasaan rutin dengan kesadaran penuh: melipat baju, membersihkan kasur, membuka jendela, merapikan buku—seperti biasa, tapi, saya berusaha menghayatinya.

Saya berusaha menemukan diri saya ‘utuh’ di dalam kerja-kerja itu. Saya berusaha menemukan manusianya saya.

Selain hal-hal di atas, saya masih punya cara lain. Salah satunya adalah, mengamati gambar.

Gambar-gambar yang saya bagikan ini, adalah gambar-gambar yang bi(a)sa membuat, bahasa kekiniannya, my humanity restored. Gambar-gambar ini terdiri dari gambar wajah, gambar anak-anak, orang tua, lelaki, perempuan, dari penjuru dunia, dengan berbagai potret emosi. Saya akan merasa kosong setelah menatap gambar-gambar semacam itu. Saya merasa kembali menemukan harapan.

Bahwa cinta ada bahkan di tempat-tempat yang mengenaskan, atau menjijikkan, atau bahkan di antara orang-orang yang kita benci sekalipun. Bahwa cinta ada, hidup, dan memberikan kebahagiaan-kebahagiaan kecil di tengah kesusahan. Bahwa masih ada cinta yang tidak cengeng di dunia. Bahwa ada cinta yang tidak mengajarkan manusia manja, boros, dan lupa pada sesama. Bahwa manusia dan kehidupannya itu unik, beragam, menunjukkan kebesaran Tuhan, dan saya merasa tidak tega bila keunikan itu harus dihancurkan atas nama (tafsir) keyakinan, atau atas dasar politik, apapun, yang membenarkan manusia melakukan tindakan-tindakan keji.

Bahwa cinta itu telah dikaruniakan Tuhan di setiap jengkal kehidupan. Bahwa cinta, bersama Tuhan itu sendiri, ‘memenuhi semesta alam’ dan di saat yang sama ‘ia lebih besar dari alam semesta itu sendiri’. Bahwa cinta yang hidup di tengah-tengah kehidupan kita adalah dzat Tuhan yang mengatur segalanya dengan rahmah. Baik dan buruk, hanyalah sudut pandang manusia. Apa yang disangka terang dan gelap oleh manusia, bagi Allah, keduanya merupakan ‘cahaya’-Nya.

Terima kasih pada para fotografer, yang bisa mengabadikan kehidupan dalam gambar, dan gambar itu dapat berbicara. Selamat menikmati gambar-gambar ini. Simaklah tanpa terburu-buru. []

NB: Saya menyarankan kalian menonton film The Giver. Film itu bila ditonton sampai habis termasuk yang sanggup membikin humanity restored.

Galeri

wp-image--670231640

wp-image-513768905

wp-image-1825502886

wp-image-349986523

wp-image--618841455

wp-image--6902429

wp-image--1798561317

Lanjutkan membaca “Terapi: Menyembuhkan Jenuh”

Santri, Literasi, Saya, dan Kak Lalu

wp-image-758238619
Saya, Kak Lalu, dan Tata.

 

“Di Indonesia terdapat ribuan Pesantren. Mengapa literasi, terutama budaya menulis, tidak dimulai dari sana? Andai semua santri di Indonesia berupaya menguasai media, tentu akan sangat baik. Pesantren adalah pusat keilmuan yang berbeda.”

Itulah penggalan percakapan saya dan Kak Lalu Abdul Fatah (ini blognya), dalam kopdar kami kemarin siang (Sabtu, 21 Oktober 2017). Kami bertemu di Gramedia Pusat Kota Malang, dan bersama Tata, sahabat saya seorang guru-penulis, kami lanjut ngobrol di Toko Oen, toko eskrim tua dan legendaris di dekat Alun-alun.

Saya sengaja menuliskan pertemuan kami kemarin di pagi ini, di Hari Santri Nasional. Selamat Hari Santri Nasional. Saya santri, sekurang-kurangnya pernah nyantri (bila sebutan itu tidak terlalu pantas lagi untuk orang nyeleneh seperti saya) di Pondok Pesantren Nurul Hakim, Kediri, Lombok Barat.

Jumlah pesantren di Indonesia sebanyak sekitar 25 ribuan, sedangkan santri berjumlah sekitar 3 jutaan. Kalimat Kak Lalu di atas tidak main-main: bila misalnya setengahnya sajalah, santri terlahir sebagai penulis (melalui program pendidikan menulis secara masif di Pesantren), dan mereka menguasai jagad media, bisa dibayangkan dampaknya pada umat. Santri, saya pikir, adalah ‘pengawal umat’ dalam banyak aspek, terutama, aspek intelektualitas dan gerakan sosial.

Anggaplah pondok sebagai sumber air, maka santri yang menulis adalah upaya ‘menyungaikannya’. Kita harus mengakui keilmuan di Pondok amat khas, dan bila dieksplorasi akan menampakkan kekayaan luar biasa. Santri adalah pengawal umat dari segala aspek.

Maka sekali lagi: Selamat Hari Santri Nasional. Jangan sampai kita riweuh merayakan Hari Santri, tanpa memahami, hari ini, santri bisa mengambil besar santri macam apa dalam pembangunan manusia.

 

***

Kopdar saya dan Kak Lalu Abdul Fatah kemarin, adalah kopdar yang sensasinya sama seperti ketika bertemu Bunda Nursyida Syam, tokoh literasi tersohor di Lombok Utara, pertama kalinya 2016 silam. Saya bertemu orang yang luar biasa.

Kak Lalu Abdul Fatah, dengan suara beratnya, menunjukkan pada saya bagaimana berkomunikasi dengan dengan cara yang hangat, luwes, optimistis, dan berkualitas. Siang itu, sampai sore, saya senang. Kami bertiga duduk di pojokan, ngobrol lepas dan santai. Lanjutkan membaca “Santri, Literasi, Saya, dan Kak Lalu”