Serius

Sekolah Perjumpaan

nongkrong-c90d90a854540e21ce1e978d5522699c_420x280

I

Di tulisan sebelumnya, sebagai usaha merawat kejiwaan, saya menyebut “Perjumpaan” sebagai kata kuncinya. Sebagai suatu tirakat utama. Perjumpaan yang bagaimana?

Perjumpaan adalah hal yang biasa kita lakukan, tapi bila dilakukan secara sadar, perjumpaan akan menjadi lebih istimewa, dan lebih punya kekuatan. Maka di warung-warung kopi, pada teman-teman saya, saya perkenalkanlah istilah “Sekolah Perjumpaan”.

Sekolah Perjumpaan adalah nama yang digaungkan oleh sekawanan anak muda di Lombok, terutama yang berada di lingkaran Abah H. Husni Mu’adz, dosen kondang di UIN-Mataram. Abah Husni mungkin penggagas pertama Sekolah Perjumpaan, untuk menyebut budaya “duduk santai bersama di suatu tempat (biasanya di rumah salah seorang kawan) dan ngobrol apa saja yang menghibur dan bermanfaat”. Di rumahnya, Abah Husni pun menggelar Sekolah Perjumpaan untuk anak muda, membincang ragam tema. Bisa dilihat di situs mereka ini.

Tentu saja, penggambaran saya terhadap Sekolah Perjumpaan di atas mungkin berbeda jauh dengan apa yang dilakukan oleh Abah Husni. Saya sendiri, karena berada di Malang terlalu lama, tidak sempat mengikuti Sekolah Perjumpaan manapun. Namun, saya mencoba mengamati dan menafsirkan publikasi teman-teman saya yang terlibat dalam Sekolah Perjumpaan. Bila penggambarannya tak tepat, mudah-mudahan tafsir saya melengkapinya.

 

II

Masyarakat Sasak adalah peminum kopi sejak zaman kuno, namun mereka menegak minuman hitam itu di rumah. Ruang sosial mereka bukan di warung kopi, melainkan di rumah, atau istilahnya, “di gubuk sendiri” (gubuk tidak melulu berarti rumah, melainkan kampung, desa, dll). Ini memungkinkan mereka mendapatkan hiburan tanpa melupakan silaturrahim, tetap saling mengetahui kondisi terkini. Baca lebih lanjut

Iklan
Standar
Serius

B. Indonesia atau B. Arab: Mulia Mana?

Bahasa-Indonesia-Bhasa-Persatuan

I

Kira-kira seminggu yang lalu, di warung kopi, aku mendengar meja sebelah—isinya teman-temanku juga—berdebat tentang mana yang lebih tepat, penulisan “Insya Allah” atau “In Shaa Allah”. Kebetulan aku sedang membaca pencerahan dari twitternya Uda Ivan Lanin tentang perkara yang sama.

Alih-tulis huruf syin dalam bahasa Inggris memang menggunakan huruf ‘sh’, maka tertulislah “In Shaa Allah”. Bahasa Inggris juga lebih peka pada unsur kalimat bahasa Arab, sehingga memisahkan antara In, Shaa, dan Allah (secara literal tulisannya memang in [jika] sya’a [menghendaki] Allah [Allah], jika Allah menghendaki).

Namun, alih-tulis huruf syin dalam bahasa Indonesia menggunakan huruf ‘sy’, maka tertulislah “Insya Allah”. Terlebih, bahasa Indonesia tidak peka pada unsur kalimat bahasa Arab, dan cenderung menggabungkan bunyi alif-lam dalam setiap penulisan (misalnya, dengan menulis ‘abdus somad, yang secara literal sebenarnya harus ditulis ‘abd [hamba] al-somad [tempat meminta segala sesuatu]). Baca lebih lanjut

Standar
Serius

Nasib Warung Kupi Mahasiswa

Kong-Djie-001-800x600

Adalah tahun 2009, tahun ketika saya menjadi mahasiswa baru dan bergabung di Aufklarung. Tahun itu (hingga rentang 2012), saya masih hidup di warung kopi dan giat berdebat. Tahun itu, di warung kopi, angkatan saya yang ingusan masih menemukan para kakanda dan ayunda duduk membaca buku yang judulnya terasa asing.

Bila kami melipir ke dekat mereka, kami akan basa-basi bertanya judul buku dan tentang apa buku itu bercerita. Mereka menjelaskannya singkat-singkat, hanya inti-inti sejauh yang mereka dapat. Dari keterangan pendek itu, kami biasanya akan mendebat—sebenarnya, kami hanya berusaha mempraktekkan pelajaran berpikir kritis yang dibelesakkan ke kepala kami sejak awal bergabung di Aufklarung. Kami melawan ‘wawasan plus logika’ dengan ‘logika minus wawasan’.

Satu dua dialog, mereka bisa dengan sabar menjelaskan. Dua tiga, atmosfer sudah serius. Akhirnya mereka menyodorkan buku mereka pada kami untuk kami baca. “Kalian cobalah temukan sendiri jawabannya terus kita debatkan.” Kebanyakan kami yang tidak suka membaca buku cengengesan mengelak, tapi kemudian menelan ludah. Ekspresi wajah para kakanda dan ayunda itu tetap datar, dengan sorot mata yang benar-benar tidak main-main. Baca lebih lanjut

Standar
Serius

Di Seputar Ucapan Selamat Natal

f270ee66090d462b7744ea699df47d33

 

1.

Tema boleh tidaknya muslim mengucapkan selamat natal sebenarnya merupakan tema usang. Saya pun menganggapnya sudah selesai. Kalau ada yang tanya apakah boleh mengucapkan selamat natal, saya bilang “Tidak boleh,” kalau, “kamu tidak punya teman Kristiani.”

Buat apa mengucapkan selamat, kalau selamat itu tanpa alamat? Jatuhnya malah pamer toleransi, dan itu tidak baik. Itu juga rawan mengundang cemooh dari saudara seiman, dengan lekas dikira ‘turut merayakan’.

Tapi, kalau kita memang punya kawan kristiani, dan kebetulan kita yakin bahwa mengucapkan selamat natal adalah boleh, maka ucapkanlah langsung pada kawan itu, setulus hati, dan doakanlah kebaikan atas mereka. Bila bukan kebaikan teologis (iman kristusnya bertambah), setidaknya kebaikan individu (kepribadiannya makin apik) atau sosial (peduli pada sesama).

 

2.

Pikiran itu saya ungkapkan tadi pagi, dan seorang kawan langsung mampir ke WA saya, menegaskan ketidaksepakatannya. Aura pesannya tidak enak. Saya seperti biasa, menanggapi dengan sebaris kalimat, iya, silakan berpendapat demikian.

Orang itu lanjut bertanya, atas dasar apa kamu membolehkan?

Saya jawab, saya meletakkan persoalan ini dalam kerangka Mu’amalah, jadi hukum ushul-nya berbeda.

Sebenarnya, waktu saya menjawab demikian, saya sedang memancing. Apakah kawan itu paham nalar Hukum Islam, atau setidaknya, nalar ushul fiqh? Sudahkah dia membaca “Kaidah Tafsir” karya M. Quraish Shihab? “Manahij Tarjih” karya Prof. Asjmunie Abdurrahman? “Ilmu Ushul Fiqih” karya Prof. Abdul Wahab Khallaf? Atau, “Tarikh Tasyri’” karya Dr. Rasyad Hasan Khalil?

Saya berharap iya, karena saya hingga kini memelajarinya dengan keringat dan air mata. Lantaran saya sadar diri ini goblok, jadi saya benar-benar banting tulang memahami kitab-kitab yang sifatnya ushuly semacam itu, supaya sense dan nalar Hukum Islam saya matang. Saya berharap bisa bertukar pikiran dengan baik.

Tapi dia malah menjawab, kamu ini mengakui Yesus sebagai Tuhan makanya bisa membolehkan?

Saya tertegun membacanya, dan segera berkesimpulan: percuma melanjutkan percakapan.

Saya sering ditimpuk argumen beginian. Kawan itu saya kenal sebagai orang eksak, tapi sayang logika berpikirnya berantakan. Dipikirnya iman seperti saklar dan lampu: sangat mekanis, sangat automatik. Klik-nyala, klik-padam.

Baca lebih lanjut

Standar
Serius

Kita dan Kemiskinan Bahasa

1427697902454265124

Mari menengok satu dua bangsa dari jumlah kosakatanya. Jumlah itu dilihat dari kosakata yang ada dalam kamus-kamus resmi mereka. Amerika punya 1 juta kosakata. Jerman punya 3 juta kosakata. Yunani yang peradabannya lebih tua, punya 5 juta kosakata. Arab lebih fantastis: 25 juta kosakata.

Sementara Indonesia, membanggakan: 90-an ribu kosakata saja. Tidak sampai seratus ribu.

Arab lebih dahulu bertradisi lisan, dan memelihara bahasa dengan ingatan. Sebelum mereka pandai menulis, mereka sudah menggemari sastra dan keindahan bahasa. Mereka mengenal aksara 3 abad sebelum Nabi Saw. lahir, dan mengkodifikasikan bahasa mereka 2 abad setelah Nabi wafat.

Tidak sampai di situ: bahasa itu kemudian dipelihara lewat tradisi menulis. Ilmuan muslim di seluruh dunia Islam menulis dengan Bahasa Arab. Hampir semua sarjana pastilah orang yang menulis. Bahasa terekam baik lisan maupun tulisan. Bahasa terus terekam dan direproduksi dalam kebudayaan teks mereka.

Pun Yunani, Jerman, dan negara-negara tua lainnya. Mereka memelihara bahasa dengan tradisi menulis. Jumlah kosakata terus bertambah seiring bahasa lisan diangkat dan diperkenalkan ulang lewat tulisan, kemudian diresmikan dalam kamus.

Pentingnya apa?

Kekayaan bahasa tidak boleh disepelekan. Bahasa adalah pengetahuan itu sendiri. Kekurangan bahasa berarti kekurangan pengetahuan atas dunia. Karena dunia diamati kemudian didefinisikan dengan bahasa. Pengetahuan atas dunia dikunci dalam bahasa. Kekurangan bahasa, berarti kekurangan refleksi atas dunia dan segala fenomenanya.

Orang Eskimo sangat kaya dan mendetil kosakatanya tentang es. Mereka tahu setiap kondisi es, dan bagaimana cara bertahan hidup. Semua itu terangkum dalam bahasa. Mereka tidak hanya mengetahui kata igloo sebagai bahasa eskimo untuk rumah es, melainkan tahu pula cara membuatnya. Semua itu demi bertahan hidup. Maka, bila Orang Arab yang kosakatanya sangat mendetil tentang pasir, diletakkan di kutub utara, Orang Eskimo mungkin akan menertawakan gagapnya mereka bertahan hidup, karena mereka tidak tahu apa-apa tentang es. Semua itu karena bahasa Arab tidak mewariskan pengetahuan tentang es. Yang mereka tahu hanyalah salj (es) atau barod (dingin).

Namun, kesadaran Arab jauh lebih canggih dan itu tercermin dalam bahasanya. Misalnya, kosakata yang terdiri dari huruf Fa, Sa, dan Ro, bisa membentuk ‘safaro’ atau ‘fasaro’, yang keduanya bermakna “Usaha menampakkan sesuatu.” Namun, ‘safaro’ lebih bersifat fisik (bersafari, musafir, bepergian untuk melihat tampak yang selama ini hanya dibayangkan), sementara ‘fasaro’ bermakna non-fisik (mufassir, tafsir, adalah menampakkan makna di balik suatu teks). Dari bahasa saja, Bangsa Arab sudah punya kesadaran yang jelas tentang pengembaraan raga dan intelektual. Bila tak mampu berkelana raga, mengembaralah dalam perenungan.

Baca lebih lanjut

Standar
Serius

Surat-Suratku dan Zakky

IMG_20171213_115445_HDR.jpg

Pabrik kertas dan buku tulis, PT. Tjiwi Kimia, Jawa Timur.

Dear Zakky, Kawanku.

Aku ada di Pabrik Tjiwi Kimia hari ini. Entah kenapa, aku merasa tumpul.

Sementara teman-temanku melihat cara kerja mesin-mesin, aku mengajak pekerja ngobrol. Aku tahu bahwa mereka bekerja di gedung produksi yang panas itu sejak pukul 8 pagi hingga 5 sore, dengan istirahat hanya satu jam (12 – 13). Aku belum sempat bertanya upah karena teman-temanku keburu pergi (yang kemudian saya tahu mereka digaji 28 ribu rupiah per hari). Yang jelas aku sempat bertanya: “Apakah di pabrik ini ada serikat buruh?”

Mereka menjawab tidak tahu. Mereka tidak mengerti ada perkumpulan semacam itu, selama 3 tahun bekerja di sini. Padahal pabrik ini pernah punya kasus demonstrasi besar karena mem-PHK hampir 3000-an buruhnya, dan 72 buruh sebelumnya. Pasti ada serikat pekerja. Tapi mereka tak tahu menahu.

Rumah-rumah di desa sekitar pabrik masih jauh dari layak. Pekerja-pekerja level bawah, yang menjual tenaganya tanpa pilihan, dan kemungkinan berasal dari desa-desa sekitar sini, punya gurat wajah yang keras. Mereka, di pabrik yang membayar listrik PLN-nya 40 – 60 milyar sebulan ini, hidupnya akan terus begitu-begitu saja.

Kawan, aku merasa tumpul. Aku tahu ada yang salah, tapi aku tidak bisa menjelaskannya. Aku bahkan tidak bisa melihat di mana detil hal-hal yang salah itu. Kamu tahu, kan, aku tak bisa lagi memercayai indahnya penjelasan lewat videografis humas suatu lembaga (manapun). Bagus di gambar, tapi kita harus tahu dalamnya seperti apa.

Sempat aku berpikir, aku seharusnya membaca buku lebih banyak lagi untuk mencari penjelasannya. Tapi sebelah hatiku menolak: aku butuh yang lebih dari sekedar membaca. Aku butuh mengamati dari dekat, memahami keseluruhan perasaan itu, dan barulah menganalisanya dengan teori yang lebih memihak dan memanusiakan.

Aku tahu gaya hidupku masih lebih banyak borjoisnya, meski sekuat apapun aku mencoba lebih bersahaja. Tapi aku tetap berusaha.

Namun hari ini, aku merasa sangat-sangat tumpul.

Aku merasa, buku-buku pemihakan yang ada masih terlalu teoritis. Aku teringat buku Ibnu Parna, Pengantar Oposisi, yang cukup ringan dan membumi menerangkan pokok-pokok analisis dari marxisme dan sosialisme namun masih menggunakan ejaan lama. Maukah kamu menulis untukku, pokok-pokok tulisan yang bisa menjelaskan semua yang kuperlukan?

Dari kawanmu,

Ical.

 

Dear juga, kawan dan saudaraku ical

Apa yang kamu jelaskan merupakan kenyataan. Dari ceritamu sudah tergambarkan kau memang masih memegang rasa kemanusiaan. Soal sifat borjuasi kecil, aku juga begitu, cuma, semakin keras kita berdekatan dengan masyarakat dan menumbuhkan cinta pada kemanusiaan seperti cinta kita pada Nabi dan Allah. Maka sifat borjuasi kecil yang zalim perlahan akan sirna.

Insya Allah saya akan buatkan ringkasan ringan tentang situasi tersebut. Mungkin dengan 3 tahap: situasi umum masyarakat Indonesia, penindasan atas kelas buruh, penindasan atas kaum tani.

Saya mau tanya kawan, apakah kawan bekerja di pabrik itu atau bagaimana? Soal ketumpulan hanya perlu dilatih.

Hormatku,

Zakky.

 

Dear Zakky, Kawanku.

Kata-katamu, “Semakin keras” itu, sanggup menohokku. Sudah lama aku tidak berdekatan, lantaran berusaha berdekatan dengan manusia sebagai person, bukan sebagai komunal kelas. Aku akan berusaha mengikis sifat-sifat borjuasi itu. Terima kasih telah mengingatkanku.

Tidak, aku tidak bekerja. Aku hanya berkunjung, sebagai bagian dari sebuah workshop menulis. Aku beruntung karena langsung diajak terjun ke pabrik, meski pihak penyelenggara punya maksud lain.

Kawan, aku menunggu tulisan ringkasmu tentang itu. Aku ingat tulisanmu yang selalu berbasis data. Aku juga rindu membacanya.

Salam, kawanmu.

Ical.

 

Dear ical, saudara rakyat

Sebagai manusia kita harus saling mengingatkan. Dalam perjuangan ada yang namanya K-O-K (kritik oto kritik). Terimah kasih juga atas kejujuran kamu. Jujur di hadapan ilmu pengetahuan adalah sifat baik sebagai manusia.

Begitu ceritanya. Siap agak malam ya nanti karena saya masih ada di desa.

Hormatku,

Zakky

 

Dear Zaky, kawanku.

Terima kasih sekali lagi. Kejujuran ini melegakan. Semoga aku selalu dikuatkan. Aku menunggu, jangan terburu-buru, supaya tulisanmu cemerlang. Bila perlu, tulisanmu pun akan aku terbitkan agar semua orang membacanya.

Hormatku,

Ical.

Standar
Serius

Memahami Sila, Dalam Agama Budha

wp-image-1173798896

Keluarga Besar Padepokan Dhammadipa Arama, Batu.

 

1.

Pagi itu, Sabtu 18 November, ketika saya hendak pergi ke Vihara di Batu, seorang anggota Forum Mahasiswa Mataram sedikit menyindir. “Abang ke Vihara terus, jarang ke Masjid. Ngapain pergi ke rumah ibadah orang Budha.”

Saya tersenyum. Bagaimana mungkin saya jarang ke masjid. Saya kuliahnya di masjid, kantor PSIF juga di masjid, hampir 60% kegiatan rutin saya berjalan di sana: menulis, berdiskusi, membaca buku, kajian, belajar dan mengajar, bercanda, dll.

Akhirnya saya mengulang kata-kata Gandhi saat umat Hindu melarangnya mengunjungi rumah umat Islam: “Saya cuma mau bertemu seorang sahabat, dek.”

Sebenarnya saya suka nasehat. Tapi orang terlanjur menganggap saya suka pilih-pilih nasehat, dan sukanya yang sesat-sesat. Saya merasa tidak pernah pilih-pilih. Hanya saja, saya (merasa) sudah mengerti standar nasehat atau ilmu yang (saya yakini) benar.

Salah satu tolak ukur benar tidaknya suatu nasehat atau ilmu adalah sifatnya yang memihak kemanusiaan. Bila bertolak belakang dari itu, saya takkan ambil. Bila sesuai, saya akan ambil—sekalipun dari agama lain. Hikmah, adalah barang mukminin yang hilang. Bila ditemukan bahkan di tempat yang kita benci sekalipun, muslim wajib mengambilnya.

 

wp-image-1376520384

Saya dan Bhante Ratana

 

2.

Saya bertemu dengan Bhante Ratana, di Vihara. Seorang Bhikkhu yang memelihara blog juga. Senang sekali akhirnya bisa kopdar lagi di Padepokan umat Buddha ini.

Beliau menyempatkan diri mampir ke Padepokan ini sebelum kembali ke Viharanya di Semarang. Kemarin, beliau ada tugas di Papua selama enam hari. Dengan jubah oranye itu beliau menyambut saya di depan kantor. Bhante Ratana dan para samanera di Vihara sedang ada acara, jadi terlihat sibuk. Ada penahbisan samanera baru. Semacam ‘penerimaan santri baru’, dalam dunia pesantren.

Bhante Ratana menyilakan saya menyaksikan para calon samanera itu diberi jubah dan belajar memakainya, sebelum prosesi mencapai ritus puncak. Per lima orang keluar dari ruang prosesi, membawa kain jubahnya sendiri, menuju ruangan lain. Di ruangan itu mereka ‘riuh’ belajar memakai jubah, dibantu samanera senior. Di ruangan itu saya mengamati.

“Dihayati, Bang.” Bhante Ratana tersenyum. “Kalau Bang Ical, pasti biasa.”

Baca lebih lanjut

Standar