Serius

Rumah (yang) Butuh Dibangun Lagi

WhatsApp Image 2018-09-12 at 5.06.27 AM

Dear, teman-teman. Salam kenal, saya A.S. Rosyid, a.k.a. Bang Ical. Saya putera daerah Lombok yang kemarin terpapar gempa. Tulisan kecil ini adalah ajakan untuk teman-teman berdonasi.

Donasi ini adalah permintaan pribadi dari Bapak saya (Drs. H. Abd. Rasyid), ketua pengawas Sekolah Dasar di Lombok Barat. Bapak sedang membantu salah seorang sahabat dekat beliau yang rumahnya rata berkalang tanah karena gempa.

Teman beliau bernama Pak Sadli: mantan kepala desa Lembah Sari (Kekait, Lombok Barat) pada 1999 – 2013 silam. Beliau dikenal sebagai kepala desa yang sangat jujur. Sampai melepaskan jabatan, keadaan ekonomi Pak Sadli tidak banyak berubah, seperti kebanyakan rakyat desa yang dipimpinnya.

Musim penghujan akan segera tiba, sedangkan rumah-rumah warga belum kunjung bisa dibangun karena sangat terbatasnya dana. Kemarin ada kabar menyakitkan: beberapa milyar dana rehab rumah masyarakat ditilep anggota dewan dan pejabat setempat yang tidak bertanggung-jawab. Itu baru yang ketahuan. Dana bantuan dari pemerintah mungkin akan terlambat, padahal masyarakat sangat butuh tempat tinggal yang cukup baik.

Karena itulah, sebagian besar keluarga dan para sahabat bergerak secara mandiri menggalang bantuan untuk membantu lingkaran terdekatnya. Seruan donasi ini adalah bagian dari upaya mandiri tersebut.

Sembari terus membantu pengerjaan rumah, Bapak saya hendak menggalang dana sekitar 2 hingga 3 juta rupiah, untuk membantu Pak Sadli membeli seng dan material bangunan lain seadanya. Mereka bergotong royong membangun kembali rumah. Bapak sendiri turut mengumpulkan material bangunan dari berbagai tempat yang masih bisa digunakan tapi tidak terpakai. Selain uang tunai, Bapak juga menerima bantuan material bangunan.

Sekali lagi, ajakan donasi ini bersifat mandiri, sesuai konteks di atas. Memang banyak warga Lombok yang butuh bantuan, dan Negara akan menanggung, namun masing-masing warga yang tidak terdampak gempa berusaha membantu keluarga atau teman-temannya.

Saya sendiri memutuskan terlibat menggalang dana buat Pak Sadli karena saya peduli pada orang-orang jujur seperti Pak Sadli.

Bila teman-teman ingin berdonasi, saya akan sangat senang. Silakan mengirim donasi ke nomer rekening yang tertera di salah satu gambar di bawah tulisan ini, kemudian mengirim konfirmasi ke nomer WA saya (087865686577). Bila bantuan teman-teman berupa material bangunan, silakan berkoordinasi ke nomer WA Bapak (08175780833).

Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih banyak. Mohon disebarkan pada teman-teman lainnya.

 

Salam,

A.S. Rosyid a.k.a. Ical.

 

Gambar: Baca lebih lanjut

Iklan
Standar
Serius

Mengapa Saya Ber-Muhammadiyah

kh-dahlan

KH. Ahmad Dahlan

1.

Sebentar lagi Ramadhan tiba, sedangkan hasrat saya menulis masih belum pulih. Mungkin saya takkan membuat “Diary Puasa” di blog seperti tahun lalu, meski saya punya ide harus menulis apa. Tapi hasrat saya masih belum tertolong. Mungkin saya hanya akan merevisi naskah novel yang telah selesai dua tahun lalu itu—takkan mudah. Setelah Ramadhan, saya ingin memperjuangkan naskah itu untuk penerbit.

2.

Mengapa saya tidak menjadi NU, NW, atau menjadi netral saja. Kemarin, teman kos saya (yang NU tulen dan baru lulus pesantren) mempertanyakan pilihan saya itu.

Imej Muhammadiyah di sebagian besar warga akar rumput masih tipikal: kaku, menolak tradisi, dan menyimpang dari masyarakat—pendek kata, sesat. Di Madura bahkan berkembang lelucon: penduduk Madura terdiri dari 99% Islam dan 1% Muhammadiyah.

Baca lebih lanjut

Standar
Serius

Sekolah Perjumpaan

nongkrong-c90d90a854540e21ce1e978d5522699c_420x280

I

Di tulisan sebelumnya, sebagai usaha merawat kejiwaan, saya menyebut “Perjumpaan” sebagai kata kuncinya. Sebagai suatu tirakat utama. Perjumpaan yang bagaimana?

Perjumpaan adalah hal yang biasa kita lakukan, tapi bila dilakukan secara sadar, perjumpaan akan menjadi lebih istimewa, dan lebih punya kekuatan. Maka di warung-warung kopi, pada teman-teman saya, saya perkenalkanlah istilah “Sekolah Perjumpaan”.

Sekolah Perjumpaan adalah nama yang digaungkan oleh sekawanan anak muda di Lombok, terutama yang berada di lingkaran Abah H. Husni Mu’adz, dosen kondang di UIN-Mataram. Abah Husni mungkin penggagas pertama Sekolah Perjumpaan, untuk menyebut budaya “duduk santai bersama di suatu tempat (biasanya di rumah salah seorang kawan) dan ngobrol apa saja yang menghibur dan bermanfaat”. Di rumahnya, Abah Husni pun menggelar Sekolah Perjumpaan untuk anak muda, membincang ragam tema. Bisa dilihat di situs mereka ini.

Tentu saja, penggambaran saya terhadap Sekolah Perjumpaan di atas mungkin berbeda jauh dengan apa yang dilakukan oleh Abah Husni. Saya sendiri, karena berada di Malang terlalu lama, tidak sempat mengikuti Sekolah Perjumpaan manapun. Namun, saya mencoba mengamati dan menafsirkan publikasi teman-teman saya yang terlibat dalam Sekolah Perjumpaan. Bila penggambarannya tak tepat, mudah-mudahan tafsir saya melengkapinya.

 

II

Masyarakat Sasak adalah peminum kopi sejak zaman kuno, namun mereka menegak minuman hitam itu di rumah. Ruang sosial mereka bukan di warung kopi, melainkan di rumah, atau istilahnya, “di gubuk sendiri” (gubuk tidak melulu berarti rumah, melainkan kampung, desa, dll). Ini memungkinkan mereka mendapatkan hiburan tanpa melupakan silaturrahim, tetap saling mengetahui kondisi terkini. Baca lebih lanjut

Standar
Serius

B. Indonesia atau B. Arab: Mulia Mana?

Bahasa-Indonesia-Bhasa-Persatuan

I

Kira-kira seminggu yang lalu, di warung kopi, aku mendengar meja sebelah—isinya teman-temanku juga—berdebat tentang mana yang lebih tepat, penulisan “Insya Allah” atau “In Shaa Allah”. Kebetulan aku sedang membaca pencerahan dari twitternya Uda Ivan Lanin tentang perkara yang sama.

Alih-tulis huruf syin dalam bahasa Inggris memang menggunakan huruf ‘sh’, maka tertulislah “In Shaa Allah”. Bahasa Inggris juga lebih peka pada unsur kalimat bahasa Arab, sehingga memisahkan antara In, Shaa, dan Allah (secara literal tulisannya memang in [jika] sya’a [menghendaki] Allah [Allah], jika Allah menghendaki).

Namun, alih-tulis huruf syin dalam bahasa Indonesia menggunakan huruf ‘sy’, maka tertulislah “Insya Allah”. Terlebih, bahasa Indonesia tidak peka pada unsur kalimat bahasa Arab, dan cenderung menggabungkan bunyi alif-lam dalam setiap penulisan (misalnya, dengan menulis ‘abdus somad, yang secara literal sebenarnya harus ditulis ‘abd [hamba] al-somad [tempat meminta segala sesuatu]). Baca lebih lanjut

Standar
Serius

Nasib Warung Kupi Mahasiswa

Kong-Djie-001-800x600

Adalah tahun 2009, tahun ketika saya menjadi mahasiswa baru dan bergabung di Aufklarung. Tahun itu (hingga rentang 2012), saya masih hidup di warung kopi dan giat berdebat. Tahun itu, di warung kopi, angkatan saya yang ingusan masih menemukan para kakanda dan ayunda duduk membaca buku yang judulnya terasa asing.

Bila kami melipir ke dekat mereka, kami akan basa-basi bertanya judul buku dan tentang apa buku itu bercerita. Mereka menjelaskannya singkat-singkat, hanya inti-inti sejauh yang mereka dapat. Dari keterangan pendek itu, kami biasanya akan mendebat—sebenarnya, kami hanya berusaha mempraktekkan pelajaran berpikir kritis yang dibelesakkan ke kepala kami sejak awal bergabung di Aufklarung. Kami melawan ‘wawasan plus logika’ dengan ‘logika minus wawasan’.

Satu dua dialog, mereka bisa dengan sabar menjelaskan. Dua tiga, atmosfer sudah serius. Akhirnya mereka menyodorkan buku mereka pada kami untuk kami baca. “Kalian cobalah temukan sendiri jawabannya terus kita debatkan.” Kebanyakan kami yang tidak suka membaca buku cengengesan mengelak, tapi kemudian menelan ludah. Ekspresi wajah para kakanda dan ayunda itu tetap datar, dengan sorot mata yang benar-benar tidak main-main. Baca lebih lanjut

Standar
Serius

Di Seputar Ucapan Selamat Natal

f270ee66090d462b7744ea699df47d33

 

1.

Tema boleh tidaknya muslim mengucapkan selamat natal sebenarnya merupakan tema usang. Saya pun menganggapnya sudah selesai. Kalau ada yang tanya apakah boleh mengucapkan selamat natal, saya bilang “Tidak boleh,” kalau, “kamu tidak punya teman Kristiani.”

Buat apa mengucapkan selamat, kalau selamat itu tanpa alamat? Jatuhnya malah pamer toleransi, dan itu tidak baik. Itu juga rawan mengundang cemooh dari saudara seiman, dengan lekas dikira ‘turut merayakan’.

Tapi, kalau kita memang punya kawan kristiani, dan kebetulan kita yakin bahwa mengucapkan selamat natal adalah boleh, maka ucapkanlah langsung pada kawan itu, setulus hati, dan doakanlah kebaikan atas mereka. Bila bukan kebaikan teologis (iman kristusnya bertambah), setidaknya kebaikan individu (kepribadiannya makin apik) atau sosial (peduli pada sesama).

 

2.

Pikiran itu saya ungkapkan tadi pagi, dan seorang kawan langsung mampir ke WA saya, menegaskan ketidaksepakatannya. Aura pesannya tidak enak. Saya seperti biasa, menanggapi dengan sebaris kalimat, iya, silakan berpendapat demikian.

Orang itu lanjut bertanya, atas dasar apa kamu membolehkan?

Saya jawab, saya meletakkan persoalan ini dalam kerangka Mu’amalah, jadi hukum ushul-nya berbeda.

Sebenarnya, waktu saya menjawab demikian, saya sedang memancing. Apakah kawan itu paham nalar Hukum Islam, atau setidaknya, nalar ushul fiqh? Sudahkah dia membaca “Kaidah Tafsir” karya M. Quraish Shihab? “Manahij Tarjih” karya Prof. Asjmunie Abdurrahman? “Ilmu Ushul Fiqih” karya Prof. Abdul Wahab Khallaf? Atau, “Tarikh Tasyri’” karya Dr. Rasyad Hasan Khalil?

Saya berharap iya, karena saya hingga kini memelajarinya dengan keringat dan air mata. Lantaran saya sadar diri ini goblok, jadi saya benar-benar banting tulang memahami kitab-kitab yang sifatnya ushuly semacam itu, supaya sense dan nalar Hukum Islam saya matang. Saya berharap bisa bertukar pikiran dengan baik.

Tapi dia malah menjawab, kamu ini mengakui Yesus sebagai Tuhan makanya bisa membolehkan?

Saya tertegun membacanya, dan segera berkesimpulan: percuma melanjutkan percakapan.

Saya sering ditimpuk argumen beginian. Kawan itu saya kenal sebagai orang eksak, tapi sayang logika berpikirnya berantakan. Dipikirnya iman seperti saklar dan lampu: sangat mekanis, sangat automatik. Klik-nyala, klik-padam.

Baca lebih lanjut

Standar
Serius

Kita dan Kemiskinan Bahasa

1427697902454265124

Mari menengok satu dua bangsa dari jumlah kosakatanya. Jumlah itu dilihat dari kosakata yang ada dalam kamus-kamus resmi mereka. Amerika punya 1 juta kosakata. Jerman punya 3 juta kosakata. Yunani yang peradabannya lebih tua, punya 5 juta kosakata. Arab lebih fantastis: 25 juta kosakata.

Sementara Indonesia, membanggakan: 90-an ribu kosakata saja. Tidak sampai seratus ribu.

Arab lebih dahulu bertradisi lisan, dan memelihara bahasa dengan ingatan. Sebelum mereka pandai menulis, mereka sudah menggemari sastra dan keindahan bahasa. Mereka mengenal aksara 3 abad sebelum Nabi Saw. lahir, dan mengkodifikasikan bahasa mereka 2 abad setelah Nabi wafat.

Tidak sampai di situ: bahasa itu kemudian dipelihara lewat tradisi menulis. Ilmuan muslim di seluruh dunia Islam menulis dengan Bahasa Arab. Hampir semua sarjana pastilah orang yang menulis. Bahasa terekam baik lisan maupun tulisan. Bahasa terus terekam dan direproduksi dalam kebudayaan teks mereka.

Pun Yunani, Jerman, dan negara-negara tua lainnya. Mereka memelihara bahasa dengan tradisi menulis. Jumlah kosakata terus bertambah seiring bahasa lisan diangkat dan diperkenalkan ulang lewat tulisan, kemudian diresmikan dalam kamus.

Pentingnya apa?

Kekayaan bahasa tidak boleh disepelekan. Bahasa adalah pengetahuan itu sendiri. Kekurangan bahasa berarti kekurangan pengetahuan atas dunia. Karena dunia diamati kemudian didefinisikan dengan bahasa. Pengetahuan atas dunia dikunci dalam bahasa. Kekurangan bahasa, berarti kekurangan refleksi atas dunia dan segala fenomenanya.

Orang Eskimo sangat kaya dan mendetil kosakatanya tentang es. Mereka tahu setiap kondisi es, dan bagaimana cara bertahan hidup. Semua itu terangkum dalam bahasa. Mereka tidak hanya mengetahui kata igloo sebagai bahasa eskimo untuk rumah es, melainkan tahu pula cara membuatnya. Semua itu demi bertahan hidup. Maka, bila Orang Arab yang kosakatanya sangat mendetil tentang pasir, diletakkan di kutub utara, Orang Eskimo mungkin akan menertawakan gagapnya mereka bertahan hidup, karena mereka tidak tahu apa-apa tentang es. Semua itu karena bahasa Arab tidak mewariskan pengetahuan tentang es. Yang mereka tahu hanyalah salj (es) atau barod (dingin).

Namun, kesadaran Arab jauh lebih canggih dan itu tercermin dalam bahasanya. Misalnya, kosakata yang terdiri dari huruf Fa, Sa, dan Ro, bisa membentuk ‘safaro’ atau ‘fasaro’, yang keduanya bermakna “Usaha menampakkan sesuatu.” Namun, ‘safaro’ lebih bersifat fisik (bersafari, musafir, bepergian untuk melihat tampak yang selama ini hanya dibayangkan), sementara ‘fasaro’ bermakna non-fisik (mufassir, tafsir, adalah menampakkan makna di balik suatu teks). Dari bahasa saja, Bangsa Arab sudah punya kesadaran yang jelas tentang pengembaraan raga dan intelektual. Bila tak mampu berkelana raga, mengembaralah dalam perenungan.

Baca lebih lanjut

Standar