Memahami Sila, Dalam Agama Budha

wp-image-1173798896
Keluarga Besar Padepokan Dhammadipa Arama, Batu.

 

1.

Pagi itu, Sabtu 18 November, ketika saya hendak pergi ke Vihara di Batu, seorang anggota Forum Mahasiswa Mataram sedikit menyindir. “Abang ke Vihara terus, jarang ke Masjid. Ngapain pergi ke rumah ibadah orang Budha.”

Saya tersenyum. Bagaimana mungkin saya jarang ke masjid. Saya kuliahnya di masjid, kantor PSIF juga di masjid, hampir 60% kegiatan rutin saya berjalan di sana: menulis, berdiskusi, membaca buku, kajian, belajar dan mengajar, bercanda, dll.

Akhirnya saya mengulang kata-kata Gandhi saat umat Hindu melarangnya mengunjungi rumah umat Islam: “Saya cuma mau bertemu seorang sahabat, dek.”

Sebenarnya saya suka nasehat. Tapi orang terlanjur menganggap saya suka pilih-pilih nasehat, dan sukanya yang sesat-sesat. Saya merasa tidak pernah pilih-pilih. Hanya saja, saya (merasa) sudah mengerti standar nasehat atau ilmu yang (saya yakini) benar.

Salah satu tolak ukur benar tidaknya suatu nasehat atau ilmu adalah sifatnya yang memihak kemanusiaan. Bila bertolak belakang dari itu, saya takkan ambil. Bila sesuai, saya akan ambil—sekalipun dari agama lain. Hikmah, adalah barang mukminin yang hilang. Bila ditemukan bahkan di tempat yang kita benci sekalipun, muslim wajib mengambilnya.

 

wp-image-1376520384
Saya dan Bhante Ratana

 

2.

Saya bertemu dengan Bhante Ratana, di Vihara. Seorang Bhikkhu yang memelihara blog juga. Senang sekali akhirnya bisa kopdar lagi di Padepokan umat Buddha ini.

Beliau menyempatkan diri mampir ke Padepokan ini sebelum kembali ke Viharanya di Semarang. Kemarin, beliau ada tugas di Papua selama enam hari. Dengan jubah oranye itu beliau menyambut saya di depan kantor. Bhante Ratana dan para samanera di Vihara sedang ada acara, jadi terlihat sibuk. Ada penahbisan samanera baru. Semacam ‘penerimaan santri baru’, dalam dunia pesantren.

Bhante Ratana menyilakan saya menyaksikan para calon samanera itu diberi jubah dan belajar memakainya, sebelum prosesi mencapai ritus puncak. Per lima orang keluar dari ruang prosesi, membawa kain jubahnya sendiri, menuju ruangan lain. Di ruangan itu mereka ‘riuh’ belajar memakai jubah, dibantu samanera senior. Di ruangan itu saya mengamati.

“Dihayati, Bang.” Bhante Ratana tersenyum. “Kalau Bang Ical, pasti biasa.”

Lanjutkan membaca “Memahami Sila, Dalam Agama Budha”

Iklan

Memahami Arab Pra Islam

Kondisi-Masyarakat-Mekah-Sebelum-Islam-Masuk

MEMAHAMI ARAB, MEMBANGUN KOMITMEN HISTORIS

Oleh: A.S. Rosyid

Dibuat sebagai bahan tambahan diskusi rutin Sejarah Peradaban Islam di Bayt al-Hikmah, kediaman Dr. Pradana Boy. Jum’at malam, 6 Oktober 2017, Malang. Diposting terlebih dahulu untuk diuji-publik. Panjang tulisan: 8 halaman word.

 ***

 

Pentingnya Menghindari Sikap Ahistoris

Istilah ‘historis’ mengacu pada kesadaran akan sejarah. Menyadari pastilah diawali dengan mengetahui, merenungkan, dan memahami dengan seksama. Untuk memahami apa yang terjadi ‘kini dan di sini’ dengan cara berkaca pada sejarah, seseorang harus mampu memetakan elemen dan dimensi tertentu yang terdapat di dalam realitas kala itu. Hanya demikian, sejarah bisa menghasilkan inspirasi tepat guna.

Inspirasi yang ahistoris (tidak melewati keseksamaan) rawan menjadi tidak tepat guna. Pentingnya komitmen historis telah ditekankan dalam al-Qur’an, bahwa setiap orang harus memandang realitas hari ini dengan memerhatikan realitas masa lampau; dan selanjutnya, Allah menegaskan bahwa Dia mahateliti atas apa yang telah manusia kerjakan (al-Hasyr: 18). Ketelitian terhadap sejarah, itulah siratan teladan dari ayat tersebut.

Komitmen historis berkembang dalam Islam sejak mula kehadirannya. Peristiwa ketika Allah memindahkan kiblat dari Baitul Maqdis ke Kakbah, merupakan perlambang historis kuat bahwa Islam tidak ‘mengekor’ khazanah kenabian Musa (Yahudi) atau Isa (Nasrani), melainkan kembali pada kemurnian agama yang dibawa oleh Ibrahim, bapak bagi seluruh khazanah kenabian Yahudi dan Nasrani. Nabi Saw. sebagai keturunan ke-61 Nabi Ismail, membawa Islam berjalan menuju Tuhan sejati, bukan Tuhan yang telah keruh oleh campur-tangan kebudayaan.[1]

Bentuk lain komitmen historis yang dikembangkan kaum muslimin awal adalah terikatnya upaya memelihara dan mengembangkan Sunnah dengan berkaca pada setiap peristiwa yang telah mereka lalui bersama Nabi Saw. Dinamika yang terjadi antara kekhawatiran Abu Bakr Ra. dan optimisme Umar Ra. mengenai kodifikasi al-Qur’an adalah contoh dinamika yang lahir dari komitmen historis yang sama. Abu Bakr Ra. khawatir usulan kodifikasi tersebut ahistoris (bila diteropong secara tekstual), sementara Umar Ra. meyakini sebaliknya (karena meneropong secara substansial).[2]

Selanjutnya, dikembangkannya konsep asbabain (asbabun nuzul dan asbabul wurud) dalam studi al-Qur’an dan hadits juga merupakan ekspresi komitmen historis masyarakat Islam awal. Tujuannya adalah untuk memahami substansi serta konteks setiap doktrin/ajaran, dan agar keputusan apapun yang diambil umat tidak menyalahi keinginan Islam. Namun, konsep asbabain tersebut belumlah bisa dikatakan sebagai komitmen historis utuh. Sifatnya parsial, hanya mengulas kejadian tertentu yang berkaitan langsung dengan suatu ayat atau sabda Nabi Saw.

Hal tersebut tersirat dari pandangan ulama. Misalnya, keterangan Ibnu Sirin tentang kekhawatiran Ubaidah, agar generasi Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in yang ingin memelajari, menghimpun, dan mengajarkan asbabun nuzul pada generasi selanjutnya agar terlebih dahulu membangun komitmen takwa kepada Allah dan menjunjung kebenaran. Hal itu karena generasi sahabat sudah tidak bersisa, dan Ubaidah takut ayat-ayat al-Qur’an dengan cepat menyimpang dari setiap konteksnya.[3]

Maka tariklah kesimpulan: peristiwa-peristiwa yang diulik dalam konsep asbabain hanyalah bagian kecil dari sejarah. Komitmen historis dalam memahami Islam, berarti komitmen memahami seluruh elemen sejarah Arab saat itu, yakni dialektika manusia Arab dengan ruang dan waktu yang luas dan sarat dimensi, yang meliputi peta setting sosial-politik, perkembangan ekonomi dan kebudayaan, di tingkat makro dan mikro, pada pra, ketika, dan pasca kenabian.

Semakin benar dan mendalam pengetahuan atas sejarah Arab, semakin tepat guna pemikiran Islam yang disimpulkan sebagai lensa pandang melihat masa kini.

 

Sebuah Perseteruan Tua

Namun, komitmen historis juga membawa konsekuensi serius yang mungkin tidak disenangi, yakni ditemukannya fakta dan kesimpulan yang merusak ilusi kebenaran doktrin yang telah mapan. Bila menemukan yang demikian, meminjam istilah Lesley Hazleton,[4] mau tidak mau kita harus membedakan antara ‘yang seharusnya’ (keinginan ideal) dan ‘yang sebenarnya’ (fakta historis). Salah satu konsekuensi komitmen tersebut bisa kita lihat dari cara kita memandang perseteruan tua antara dua keluarga besar Quraisy, yakni Bani Hasyim dan Bani Umayyah.

Pada mulanya terdapat dua pemuda bernama Hasyim dan Abd Syams, anak dari Abd Manaf, pemuka Quraisy yang menguasai siqoyah (bisnis akomodasi haji; sementara saudaranya, Abd Dar, memegang amanah pemeliharaan Kakbah). Konon, Hasyim dan Abd Syams adalah kembar siam yang dipisah dengan pedang. Kajian dari Taqiyyuddin al-Maqrizi dalam kitab al-Niza’ wa al-Takhashum fi ma baina Bani Umayyah wa Bani Hasyim,[5] menyebutkan bahwa kejadian itu merupakan pertanda bahwa keturunan mereka akan terlibat perseteruan panjang. Meski isu yang disajikan buku tersebut telah banyak dibantah, namun fakta sejarah yang dipaparkannya sesuai dengan alur historis persaingan politik ekonomi dua identitas besar Bani Hasyim dan Bani Umayyah.

Lanjutkan membaca “Memahami Arab Pra Islam”

Asyura dan Karballa

123898-004-928934F7

 

Mengaku Cinta

Pada hari Asyura (10 Muharram) seribu empat ratus tahun silam pernah terjadi peristiwa yang sangat, sangat, sangat keji dan menyedihkan. Cucu Nabi Saw. (cucu dari rasulullah yang begitu dicintai dan dijunjung umat Islam) telah dibantai kejam dalam peristiwa yang disebut Karbala.

10 Muharram 61 Hijriyah, itulah tanggalnya.

Pada hari yang disebut Asyura tersebut, umat Islam sedunia berpuasa dengan gembira, mengharap dosa-dosanya diampuni Allah. Mereka berpuasa dengan begitu inginnya meneladani Nabi Saw., yang begitu dijunjung dan dihormati, tapi lupa cucunya dibantai dengan kejam di hari saat mereka bergembira berpuasa.

Sikap dan komitmen mencintai macam apa, ketika tahu keluarga yang dicinta itu dibunuh dan dibantai secara keji, lalu tidak ada yang mengenangnya dengan rasa sakit? Sekalipun sudah memaafkan, bila memang cinta, dibunuhnya orang-orang yang dekat dengan kita pasti akan melahirkan gemetar hebat lantaran tak habis pikir betapa kejinya seseorang bisa menjadi.

Jangankan mengetahui pembantaian terhadap sanak keturunan beliau: mengetahui bahwa jenazah Nabi Saw. yang sempat terlantar dan tidak lekas dikebumikan karena sebagian besar tokoh umat lebih mementingkan pertanyaan siapa yang akan meneruskan kepemimpinan saja, seharusnya sudah cukup membuat jengkel siapapun yang mengaku cinta.

Karena dua peristiwa itulah, sejak lama, sejak lama, saya tidak pernah suka dengan sesuatu yang bernama ‘kekuasaan’. Tauhid seharusnya menaklukkan manusia hanya pada satu kuasa: Allah semata. Bahkan Nabi Saw. memanggil umatnya dengan ‘Sahabat’, sebuah istilah yang menyiratkan kesetaraan, mengaku sebagai basyarun mitslukum, dan diutus ke muka bumi hanya untuk utammima makarimal akhlaq.

 

Disembunyikan

Dosen saya di pascasarjana UIN-Maliki, bidang Studi Peradaban Islam, Dr. Fadhil, bercerita tentang masa kecilnya di Pesantren yang tidak pernah sekalipun diberitahu adanya Peristiwa Shiffin dan Karbala. Ia baru tahu setelah kuliah, dan membaca banyak sekali literatur tentangnya.

Apakah itu artinya universitas adalah sarang kesesatan karena mengedarkan buku-buku yang tidak diajarkan di Pondok Pesantren? Tunggu dulu.

Syaikh Ahmad Badruddin Hasun, Ulama dan Mufti Ahlussunnah di Syuriah, dalam sebuah ceramahnya, dengan sangat serius mempertanyakan, mengapa peristiwa Karbala hampir selalu disembunyikan. Tak pernah sekalipun, selama beliau belajar di Makkah, mendengar kajian mengenai Karballa dari para masyayikh di sana. Syaikh Ahmad Badruddin Hasun mengatakan, para masyayikh tidak menuturkan Karbala karena takut umat Islam terpengaruh lantas menjadi Syi’ah. Jawaban ini justru membuat beliau berang.

“Apakah kebenaran harus ditutupi hanya karena rasa takut pindah madzhab? Apakah kebenaran harus ditutupi untuk menguatkan satu madzhab atas madzhab yang lain? Lepaskan kita dari semua itu! Telah berlalu zaman yang di dalamnya agama dijadikan sandaran politik oleh beberapa orang! Telah berlalu zaman yang di dalamnya agama digunakan oleh orang yang menyebut diri sebagai Amirul mukminin dan berbuat zalim!” Kritik beliau keras.

 

Apakah Saya Takut?

Apakah saya takut dikatakan syi’ah? Memangnya, apakah perlu menjadi syi’ah dulu, agar bisa memahami kekejian politik, mencintai ahlul bait, dan bisa jujur terhadap sejarah? Saya tidak takut.

Saya adalah saya yang dilihat Allah hatinya, pikirannya, dan perbuatannya. Saya adalah saya yang dimiliki Allah, dan akan diadili dengan keadilan dan kasih sayang-Nya. Saya adalah saya sendiri, dan di akhirat, saya bukanlah saya yang dikatakan oleh orang-orang.

Saya adalah saya di mata Allah, dan saya hanya tunduk patuh pada kuasa-Nya. Saya tidak akan takut pada apapun selama keyakinan yang saya suarakan telah melalui proses penggalian dan saya telah menegaskan pendirian saya.

Saya mencintai Nabi Saw. dengan tertatih-tatih, jatuh bangun, dan berupaya semampu saya. Saya mencintai agama ini: ajaran, umat, dan sejarahnya. Namun di saat yang sama, saya ingin belajar mencintai dengan kejujuran. Saya ingin belajar beragama tanpa kehilangan rasa kemanusiaan. Saya ingin melawan geliat politik kotor yang memanfaatkan nama agama.

Selamat merayakan Asyura dengan pendirian dan pengetahuannya sendiri. []

 

Tarikat – Hakikat – Makrifat

hadrah sufi

Saya senang membaca, dan biasanya saya tidak sibuk memikirkan ‘ingin menyimpan kalimat apa sebagai kutipan dalam tulisan’. Saya biarkan saja gagasan mengalir dan membanjir, dan saya suka melepas buku dalam keadaan saya telah basah oleh gagasan. Tujuan membaca adalah mendapatkan kesadaran baru, dan meneguhkan keyakinan.

Membaca, buat saya, bukan juga perkara disiplin. Dulu saya dicekoki bahwa, meski saya orang Syari’ah, bukan berarti saya tidak boleh bicara politik, tidak mampu bicara hukum, tidak nyambung bicara sastra dan budaya. Bidang studi hukum Islam juga harus dilihat dari dan dengan sudut pandang yang luas: kebudayaan, kearifan lokal, politik, tasawwuf, teori sosial, bahkan mungkin marxisme.

Namun, ada satu cabang ilmu yang saya, dengan sengaja, jarang menyentuh literaturnya. Saya memang sengaja karena menurut saya inti ilmu tersebut adalah praktek (riyadhah, latihan terus menerus), bukan teori.

Ilmu itu adalah tasawwuf.

 

***

Kalau kebetulan berada di satu teras, dan obrolannya mengenai tasawwuf, saya dan bapak biasanya berdebat panjang. Perkaranya sederhana: saya yang tidak doyan mengonsumsi ‘pernak pernik’ dunia sufi yang begitu luas, mengawang-ngawang, dan misterius.

Bapak, kan, suka sekali mengumpulkan petuah sufi dalam lontar-lontar Sasak kuno, dan menerjemahkan keagungan misterinya. Bebintangan ilmu, itu yang senang sekali diteropong oleh bapak. Saya berbeda: saya lebih mementingkan inti dari tasawwuf, yakni tauhid, dan membawanya sebagai tarikat dalam kehidupan sehari-hari.

Saya tak sepakat tauhid yang mengawang-ngawang tapi tidak membumi; sementara bapak jengkel karena saya terlalu peduli pada praktek tapi seperti meminggirkan khazanah tak terhitung yang tak habis-habis itu.

Mari dibedah contoh kecilnya. Dalam Tasawwuf Sasak ada istilah “Satu menjadi banyak, banyak menjadi Satu”.

‘Satu’ adalah haqqul wujud, yakni satu-satunya yang bersifat wujud (ada). Sedangkan ‘Banyak’ adalah kullul maujud, yakni semua yang bersifat maujud (di-ada-kan). ‘Satu’ adalah penyebab tunggal yang menghadirkan ‘banyak’, lewat proses penciptaan yang terus-menerus. Bila yang ‘Satu’ adalah Allah, maka yang ‘banyak’ adalah semua yang selain Allah.

Lanjutkan membaca “Tarikat – Hakikat – Makrifat”

Memahami Ketakutan

 

Aku tak rela PKI bangkit. Tapi aku pun tak ingin kita membangun komitmen anti-komunis dengan cerita-cerita rekayasa yang banyak muslihatnya. Kebaikan macam apa yang lahir dari kebohongan?

large-dono-warkop-komedian-dosen-hingga-aktivis-peristiwa-malari-dan-trisakti1472192748
Demonstran bernama alm. Dono: join us, we fight for a clean goverment

 

Kesatu: Rahim Ketakutan

Mungkin tulisan saya kali ini adalah ‘suara’ terakhir.

Belakangan ini terpampang lagi di kepala saya, wajah orang-orang yang pemikiran, karya, dan sejarah hidupnya pernah saya baca. Mereka adalah orang-orang yang gelisah dengan keadaan, dan melawan. Saat orang lain meladeni rasa takut mereka, orang-orang itu memutuskan acung tangan, meski kaki gemetar.

Ketakutan bukan barang baru bagi bangsa yang pemerintahannya bergelimang korupsi dan rezimnya menindas. Sejak era kolonial Belanda. Sejak era Orde Lama saat Bung Karno terlena nikmatnya berkuasa. Sejak era Orde Baru.

Pada era kolonial, bangsa ini takut pada kematian, di bawah tekanan sulitnya sumber pangan lantaran tidak berdaulatnya masyarakat mengolah tanahnya sendiri. Juga, takut pada kematian, di bawah bayang-bayang kerja paksa yang tidak manusiawi. Suara yang mencoba membela keadaan masyarakat akan dibungkam habis-habisan dengan popor senjata. Tentu saja, para pemilik status quo dan kenyamanan (di atas penderitaan rakyat banyak) punya ketakutan lain: kehilangan status quo mereka. Orang semacam ini selalu ada di segala zaman.

Pada era Orde Lama, ada masa ketika Bung Karno mendaulat dirinya sebagai pemimpin tunggal yang tidak boleh digantikan, dan Bung Karno tidak suka melihat ada perkembangan kekuatan lain yang tidak mendukung kekuasaan tunggalnya. Sehingga pernah digulirkan ‘politik kenaikan harga’, yang membuat harga-harga melambung tinggi, dan rakyat didera rasa lapar teramat sangat, sehingga tidak sempat memikirkan kebijakan pemerintah. Chaos mungkin akan terjadi.

Akhirnya mahasiswa, ormas-ormas Islam dan angkatan bersenjata turun, saling dukung, saling emong, saling mengelukan satu sama lain. Harapan akan selesainya masa-masa sulit dari rezim Orde Lama sudah di depan mata. Ormas Islam lama ditindas rezim Orde Lama yang kala itu bekerja sama dengan partai palu arit, terutama ketika partai Islam terbesar dibubarkan. 

Harapan baru ada bersama angkatan bersenjata. Insya Allah, setelah perlawanan bersama angkatan bersenjata usai, umat Islam bisa sejahtera lahir batin, dan pemerintahan bisa berlangsung damai. Menyenangkan.

 

Kedua: Memelihara Ketakutan

Namun yang terjadi adalah sebaliknya.

Lanjutkan membaca “Memahami Ketakutan”

Qisas Jama’ah

qisas-dalam-islam

Tulisan ini bukan kajian hukum, tapi mari kita memulainya dari sebuah kajian hukum. Terdiri dari empat bagian, panjang, sebagian besar memuat kegelisahan saya.

 

Pertama

Orang Islam mengenal istilah qisas.

Qisas adalah ‘balasan setimpal’ atas berupa pembunuhan atau penganiayaan yang disengaja (amd), atau sengaja menganiaya tapi tidak berniat membunuh, hanya saja berujung pada kematian (syibbul amd).

Dalam Islam, jiwa dan raga adalah mahkota kehidupan yang sangat dimuliakan dan dilindungi. Tindakan apapun yang ‘mencerabut’ jiwa, atau ‘menciderai’ raga lahiriah yang sehat, adalah perbuatan keji yang tidak disukai Allah. Hingga perbuatan itu harus dihukum.

Alasan lain adalah, pembunuhan akan melahirkan kebencian, dan kebencian ini idealnya harus disalurkan agar tidak meledak kemudian. Saluran itu berupa hukuman (uqubah).

Dalam Islam, ‘saluran’ itu berbunyi: “Wajib atas kamu menegakkan qisas, asal jangan melampaui batas. Namun alangkah mulianya bila hati lapang dan mampu memaafkan.” (al-Baqarah: 178 – 179).

Betapa indah keadilan itu.

Setiap perbuatan yang melawan hukum wajib dihukum (sekecil apapun hukuman itu, demi mendidik manusia menegakkan keadilan). Dalam hal ini, qisas (hukuman pembalasan setimpal) harus ditegakkan di bawah kekuasaan seorang hakim. Di masa awal Islam, Nabi Saw.-lah yang menjadi hakimnya.

Inilah alur teladannya: boleh membalas kejahatan (agar hati lebih mudah menerima kenyataan) –> balas kejahatan harus dengan prinsip keadilan (agar tidak kelewat batas yang tidak disukai Allah) –> dan lebih terpuji di mata Allah bila mampu memaafkan (berlapang dada, berdamai dengan masa lalu).

Syari’ah, menurut Imam maqasid Ibn al-Qayyim (dalam bukunya I’lam al-Muwafiqin vol. 1 hal. 333), menegaskan bahwa:

“Syari’ah seluruhnya adalah tentang keadilan, kasihsayang, kebijaksanaan, dan kebaikan. Fatwa apapun yang tidak mencerminkan keempat hal tersebut, tidak bisa disebut sebagai syari’ah, meskipun diklaim begitu oleh beberapa penafsiran.”

 

Kedua

Saya tidak suka PKI.

Saya menyukai gagasan kiri. Lebih tepatnya, saya menyukai nalar kritis, dan gagasan kiri adalah salah satunya. Yang namanya gagasan kritis, selama masih berupa gagasan, punya sisi ideal yang memihak kemanusiaan. Maka saya suka.

Lanjutkan membaca “Qisas Jama’ah”

Beberapa Catatan (tak) Penting

15590113_202287990175708_5991190808768989462_n

 

1.

Blog saya rewel lagi. Tidak bisa ngepos komentar lagi di blog manteman.

Belakangan ini gairah blogwalking saya menurun. Belakangan ini malas luar biasa. Saya blogwalking beberapa hari sekali, di malam hari, saat semua terlelap. Puluhan postingan sekaligus saya sambangi.

Tapi semalam saya kaget karena beberapa komentar saya dimentahkan. Mungkin masuk spam. Kejadian semacam ini pernah saya alami, dan artinya saya harus berhubungan dengan siakisemet-akisemet itu lagi. Malasnya.

Saya biarkan sajalah. Mungkin saya memang sedang tidak diperkenankan lepas komentar. Belakangan ini saya melepas komentar seperti melepas ayam dari kandang: sembarang rusuh, menembak kotoran sana-sini, bikin orang jengkel setengah mati. Otak saya sedang tidak beres, pun perasaan saya.

 

2.

Tanggal 14 September 2017, Presiden Jokowi meresmikan perpustakaan nasional yang tingginya 27 lantai itu. Saya senang: ini simbol teguhnya budaya literasi di Negara kita. Sayangnya hanya simbol, tapi saya ikutan bergembira sajalah. Nanti dituduh tukang nyinyir oleh kaum yang sangat berpikir positif pada Negara.

Saya sebenarnya lebih suka perpustakaannya 5 lantai saja. Lantai-lantai selanjutnya coba dipecah ke pelosok-pelosok. Bahkan satu lantai saja sebenarnya cukup: yang penting budaya literasinya kuat, tidak karikatif.

Lanjutkan membaca “Beberapa Catatan (tak) Penting”