Aku, Kamu, dan Legalisasi Industri Miras

Oleh: AS Rosyid

Sayangku,

Sebelum kusampaikan pendapat-pendapatku, aku harus terlebih dahulu mengatakan ini: aku tahu, antara aku dan kamu terdapat dinding yang tidak bisa kita lampaui satu sama lain. Dinding itu bernama etika. Tentu kamu mengerti apa itu etika. Etika bukanlah sekadar adab dan tata-krama. Etika adalah falsafah. Cara pandang paling mendasar.

Bagimu, individu adalah pusat pertimbangan. Kamu percaya individu itu bebas dan harus dibiarkan menentukan pilihannya secara merdeka. Pilihan itu tidak boleh diganggu-gugat. Kamu percaya individu itu unik dan punya kekuatan untuk bertanggungjawab atas pilihan. Bagimu, dengan kebebasan dan kemampuannya, individu bisa diajari untuk secara rasional memilih tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain.

Bagiku, individu tidaklah seunik dan sebebas itu. Keunikannya semu, kemerdekaannya semu. Individu sering lalai dan khilaf. Individu butuh bertukar pikiran untuk mengendalikan hasrat mereka―yang tak berujung, irasional, egois, akonsius. Individu tidak bisa diserahi keputusan moral sendirian. Seunik apapun individu, ia terpaut pada individu lain. Sebebas apapun kehendak individu, ia terikat pada kehendak individu lain. Konflik rentan terjadi; individu harus memilah prioritas antara kehendak personal atau kemaslahatan komunitas.

Bagimu, arogansi komunal yang mengekang kebebasan individu adalah toxic. Bagiku, seruan egois individu yang hanya mementingkan kesenangan sendiri juga toxic. Banyak bentuknya, tapi seringkali toxic-individualism lahir dari krisis identitas masyarakat urban, yang tak lagi merasa punya ikatan dengan akar tradisional.

Pendapat sederhanaku, sayang, kamu pun mengalami krisis identitas. Sikap sosialmu berakar dari ide asing yang sangat memuliakan―terkadang secara berlebihan―hak-hak insani. Hak, bagimu, harus dipenuhi dan didahulukan, sedangkan menurutku, dalam konteks tertentu, individu harus mendahulukan kewajiban moral. Individu terikat oleh tanggungjawab untuk menjaga dan merawat nilai dan keselamatan sosial. Tanggungjawab itu memang mengurangi sebagian hak individu, bila perlu menuntutnya mengubah preferensi dengan legawa.

***

Sayangku,

Konteks tertentu yang kumaksud di atas salah satunya adalah legalisasi industri minuman keras. Bagimu, protes sebagian orang terhadap legalisasi adalah konyol. Sebab agama di negeri ini tidak satu dan tidak semuanya melarang minuman keras. Menurutmu, keputusan untuk mengkonsumsi atau tidak mengkonsumsi miras seharusnya diserahkan pada individu dewasa. Pemerintah cukup membuat regulasi pembatasan umur konsumen. Di sisi lain, legalisasi membuka keran investasi dan pendapatan lebih untuk negara. Tak perlu ditentang.

Tentu dalam hal ini posisi kita berbeda. Tapi aku tidak akan membawa argumen agamis untuk menguji pikiranmu. Aku punya empat acuan. Pertama, bangsa ini punya falsafah, prinsip, karakter dan cita-cita. Kedua, mode konsumsi miras, terutama di kalangan muda, bersifat rekreasional-hedonik dan terhubung dengan hasil berupa praktek kekerasan, degradasi kemampuan berpikir, dan buruknya kesehatan. Ketiga, regulasi tidak pernah berjalan sebagaimana mestinya karena kompleksitas tertentu. Keempat, investasi adalah lagu lama negara untuk meningkatkan pertumbuhan―dan hasilnya hampir selalu kerusakan.

Para pendiri bangsa ingin negara ini punya generasi yang sehat dan cendekia. Mereka ingin masyarakat bersandar pada norma-norma luhur dan aman dari pelanggaran hukum. Sedangkan miras telah identik dengan kebalikan dari semua cita-cita itu. Tentu kita bisa berdebat tentang seberapa benar keidentikan itu, tapi menurutku kita harus sadar bahwa miras tidak berdiri sendiri. Miras dikonsumsi dengan etik tertentu dan selama ini ia cenderung dikonsumsi dengan etik paling primitif: kehura-huraan.

Jujur saja, selama ini aku berpandangan bahwa individu tidaklah sebagus itu dalam hal mengendalikan hasrat. Maka melegalkan industri miras (yang berarti melegalkan konsumsi miras, sangat konyol bila tidak begitu) akan akan meledakkan konsumerisme miras. Cita-cita bangsa terancam. Miras dilarang karena sifatnya yang intoksikan, dan mode konsumsinya kerap menjauhkan individu dari nilai-nilai luhur, serta mengasingkan individu dalam kemerdekaannya sendiri. Sehingga sangat wajar bila ada warga yang protes. Itu bentuk kepedulian mereka pada nasib bangsa dan kualitas hidup generasi. Toh, protes mereka demokratis, selayaknya warga negara berpartisipasi. 

Dan sayangku, urusan miras sesungguhnya urusan privat dalam agamaku. Bila individu mengkonsumsi miras, itu adalah urusannya dengan tuhan, dengan masyarakat, dan dengan dirinya sendiri. Kendati demikian, wajar bila komunitas merasa perlu menegaskan posisi moral mereka dengan tetap memberi status ilegal pada miras. Kenapa? Biar kujelaskan sedikit pemikiranku.

Aku tahu regulasi industri miras itu cantik: ada aturan usia, aturan penempatan produk, aturan lokasi, bahkan aturan zonasi (miras dilarang dijual di kaki lima, stasiun, kios kecil, penginapan remaja, bumi perkemahan, di dekat tempat ibadah, sekolah, rumah sakit). Tapi kamu pikir, regulasi itu akan berjalan sebagaimana idealnya? Regulasi rentan diakali. Kita punya regulasi cantik tentang rokok, dan kita tahu itu tidak efektif. Kita punya regulasi tentang narkotika, tapi bahkan penguasa turut melindungi pelanggar dengan imbalan yang cukup besar. Oh, jangan bilang kamu tidak tahu. Jangan naif, kumohon.

Regulasi cantik itu menunjukkan negara masih peduli pada kemaslahatan publik. Namun negara lupa tantangan terbesar regulasi adalah kualitas individu. Bila hukum dasar miras adalah legal, maka seluruh regulasi cantik di atas menjadi tidak relevan. Sebab bagaimana pun substansi miras itu tetap legal. Pengakalan pasti terjadi. Peluang individu untuk tergoda sangat tinggi.

Bagi agama hukum dasar sesuatu yang destruktif adalah terlarang, dan proses produksi serta jual belinya otomatis turut terlarang demi menutup kemungkinan menegak miras. Bagi agama, lebih baik individu menegak miras dalam kondisi ia tahu miras ilegal dan intoksikan, ketimbang bila ia merasa perbuatannya sah-sah saja. Komunitas masih bisa bertoleransi pada penegak miras, tapi paradigma terhadap miras, yang ilegal dan intoksikan, tidak hilang. Itu membantu komunitas memperbaiki keadaan.

Aku percaya, individu tidaklah sebijaksana yang ia kira untuk bertahan di tengah gempuran arus konsumsi miras (terutama bila hukum dasar miras adalah legal). Individu tidak bisa diserahi kebebasan untuk selalu sadar tidak mengkonsumsi. Dinamika kebudayaan tidak serapi itu, dan manusia tidak seteguh itu. Karena itulah komunitas mengembangkan etika komunal: individu tunduk pada moral komunitas, demi menjaga komunitas tetap sustain. Kontrol sosial memungkinkan individu mendialogkan kehendaknya dengan individu lain yang matanya jeli melihat godaan dan kemaslahatan. Hasilnya mungkin berupa larangan, tapi larangan tidak selalu berarti penindasan. Ia berarti bimbingan.

Hanya saja, individualisme tidak percaya larangan berarti bimbingan. Kontrol sosial hanya akan memberangus hak individu dalam memilih jalan hidup dan mengekspresikan keyakinan. Namun di saat yang sama individualisme tidak mempertanyakan bagaimana individu memeroleh jalan hidup dan keyakinannya itu! Individualisme tidak mempertanyakan apakah pemerolehan itu merupakan buah dari kemerdekaan ataukah hasil dari ketertindasan baru. Individualisme tidak peduli apakah individu “lepas dari kandang (bernama kontrol sosial) dan masuk tali kekang (bernama pasar dan konsumerisme).”

Dan individualisme juga agak lucu, sayangku: orang boleh menjerit bila ditindas kontrol sosial dan dicemooh masyarakat, namun kala ia telah kuat, ia bisa merasa bebas berbalik menjadi penindas dan pencemoh masyarakat paling berbakat di dunia.

***

Sayangku,

Aku bukan menentang keseluruhan argumenmu. Dalam banyak hal, aku sepakat denganmu. Aku mengerti masyarakat bisa menjadi toxic hingga ke level yang mengerikan: pemberangusan hak dasar, kekerasan fisik. Tapi kita tidak melawan dengan menambah masalah baru, sayangku. Tidak dengan menyudutkan balik, tidak dengan mencemooh balik, tidak dengan mendeklarasikan kebebasan tanpa pandang bulu. Menurutku, kita harus berdialog untuk mencapai kesepahaman, mencapai titik seimbang antara komunalisme dan individualisme.

Aku juga memahami keinginanmu untuk membiarkan miras legal dan diatur oleh regulasi. Aku bahkan mendukung legalisasi ganja―ganja medis dan ganja industri, bukan ganja rekreasi; sebab, menurutku, keberadaan suatu produk harus disertai dengan etik konsumsi yang kuat. Miras juga begitu. Sayang sekali regulasi miras yang dicanang pemerintah tidak mengenal miras tradisional. Padahal aku mendukung miras tradisional―tentu yang dikonsumsi dengan etik tradisional pula.

Di pulauku ada miras tradisional bernama brem. Salah satu daerah penghasil brem adalah Bayan. Di Bayan, kalangan tua wajib minum brem di waktu tertentu: sebelum berangkat ke sawah, jam makan siang, malam hari, dengan kadar secukupnya. Artinya, konsumsi mereka diatur kontrol sosial dan kebudayaan, dan itu berlangsung ratusan tahun. Mereka juga paham sebagian besar masyarakat mengharamkan brem, namun mereka tidak menuntut adanya legalisasi. Perlawanan mereka soft, kultural, dan terkesan percaya diri.

Kurasa, wajar saja mereka bersikap percaya diri. Sebab kalangan tua Bayan melihat brem sebagai kejeniusan lokal dan kearifan lokal.

Disebut jenius karena brem merupakan hasil dari pergulatan manusia Bayan dengan alamnya. Ratusan tahun mereka mempelajari dan memahami bahan-bahan alam: aren, singkong, daun-daun tertentu, lalu secara jenius, otentik dan kreatif mereka mengolah bahan-bahan alam itu menjadi jenis-jenis minuman yang berkhasiat menghangatkan dan menguatkan badan.

Disebut arif karena konsumsi brem diatur oleh kebudayaan agar tetap dikonsumsi di kadar yang tidak berlebihan. Bahkan mereka mampu memaksimalkan fungsi brem untuk digunakan di sejumlah upacara adat. Itu proses yang tidak mudah dan sebentar. Mereka percaya diri dengan proses intelektual itu sehingga tidak mudah bagi mereka tunduk pada pencemaran nama baik brem.

Ketika terjadi pergeseran mode konsumsi, di mana kawula muda menghambur uang membeli minuman keras dan berkonsumsi hura-hura hingga berujung kisruh, kalangan tua menyindir. “Bukan brem yang merusak mereka. Merekalah yang merusak brem.” Aku tertawa mendengar pernyataan ini. Bukan cuma etik konsumsi yang hilang dari miras, melainkan juga etik produksi.

Membuka investasi untuk industri miras akan menghilangkan keseluruhan proses kejeniusan dan kearifan lokal itu (sebab untuk hura-hura kawula muda ingin praktis: membeli). Itu hanya akan menguntungkan pemodal, menambah daftar uang yang bisa dikorupsi negara, dan memutus tradisi intelektual lokal. []

Standar

15 respons untuk ‘Aku, Kamu, dan Legalisasi Industri Miras

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s