Santai

Aroma Karsa: Anugerah dan Hal-Hal Gaib

IMG_20180421_215426_HDR.jpg

1.

Aroma Karsa karya Mbak Dee Lestari sudah lama selesai kubaca. Tapi, baru kali ini ada tenaga untuk menuliskannya. Bukan review, bukan resensi, saya tidak pandai menulis itu. Saya hanya menceritakan perasaan dan perenungan saya ketika dan setelah membacanya. Sejujurnya, novel itu benar-benar candu, sehingga butuh agak lama buat saya, dan tidak mudah, untuk menulis setelah emosi diaduk-aduk olehnya.

Aroma Karsa bicara tentang “Manusia yang diberi anugerah”—dalam hal ini, indera penciuman yang sangat tajam. Jati Wesi dan Tanaya Suma punya kepekaan yang jauh di atas batas normal. Jati, misalnya, bisa menebak datangnya hujan badai karena perubahan bau di udara.

Jati Wesi belajar mengenali bau bangkai manusia hari per hari, terhitung sejak hari pertama manusia mati, hingga pembusukannya. Eksperimen itu memungkinkan untuk dilakukan karena Jati tinggal di Bantaran Kali, di dekat gunungan sampah TPS terakhir, tempat segala yang tak diperlukan dan tak diinginkan dibuang oleh manusia Jakarta, termasuk jabang bayi atau korban pembunuhan. Dengan itu, Jati bisa membantu polisi menemukan jasad seorang warga yang tertimbun belasan meter di gunungan sampah. Jati bisa membaui mayat itu.

2.

Aroma Karsa mengingatkan saya pada film Farfume: The Story of a Murderer. Tokoh utama dalam film itu, Jean-Baptiste, sama seperti Jati: dibesarkan di kawasan pasar kumuh pinggiran kota di dataran Prancis kuno. Hidung keduanya diperkuat, dilatih, dan dibiasakan untuk menemukan harum-haruman di tengah bebauan busuk. Mereka memperkaya ‘kosakata aroma’ dalam olfaktorium kepala mereka dengan terus menerus mengenali semua bau di sekitar mereka. Baca lebih lanjut

Iklan
Standar
Santai

Menulis Dengan Apa Adanya

IMG_20171020_120742_HDR.jpg

Gerimis di Atas Kertas dan Cakwe Sastri 🙂

1.

Buku saya, Gerimis di Atas Kertas, menerima tiga kritik yang paling sering disebut, lebih dari 5 kali, dimulai bahkan oleh editor sendiri.

Kritik pertama, bunyinya sederhana: “Kenapa semua ceritanya happy ending, dan semua tokoh utama akhirnya menikah?” Dan tiap kali menerima kritik itu, saya selalu membatin: “Memangnya kenapa?” Rupa-rupanya, ada yang tidak puas dengan happy ending semacam itu.

Mereka mungkin terbiasa membaca karya sastra yang melukiskan kepahitan hidup, dan manusia musti siap menghadapinya. Adalah perlu menjadi satir yang gusar, tak pernah puas, dan siap sinis pada kemapanan. Bahwa cinta harus berliku, sakit, dan kerap kali kandas. Tiga cerita dalam satu buku ujungnya bahagia semua, buat mereka kurang seru. Baca lebih lanjut

Standar
Santai

Menggagalkan Pernikahan Sahabat

IMG_20180328_114105_HDR.jpg

Foto korban.

 

1.

Akhirnya, membuka WordPress lagi. Lama tak bersua dengan mengomentari kiriman teman-teman, juga tidak mengirim tulisan. Saya merasa malas sekali berinteraksi dengan aplikasi bersimbol “W” di layar ponsel saya, entah kenapa. Sebenarnya sebagai seorang narablog, saya agak malu juga. Tapi mau bagaimana lagi?

Sudahlah. Hari ini saya ingin bercerita tentang bagaimana saya berusaha menggagalkan akad nikah teman saya di Lombok. Di dalamnya ada trik agar prosesi akad seseorang berjalan tidak lancar. Ceritanya lumayan seru buat dibagi. Cekidot!

 

2.

Saya punya dua sobat karib di Lombok, teman sepenempelan, selalu bersama-sama. Namanya Muammar ‘Beko’ dan Umam ‘Mbek’. Pertemanan kami abadi, dan sangat banyak konyolnya. Terlalu banyak kenangan. Baca lebih lanjut

Standar
Santai

Mengakali Orang

gettyimages-538948070

Michael Moore

I

Sepanjang sejarah saya nge-kos, mungkin saya adalah ‘hantu’ bagi penghuni kos lain yang punya niat nakal. Saya tidak gampang diakali.

Pernah antara 2013-2014, saya nge-kos di Jetis, di sebuah kos sederhana. Pada mulanya damai, tapi kemudian kedamaian terusik. Beberapa penghuni kos senior mencoba mengakali aturan sumbangan bayar listrik dan air. Saya tahu mereka membawa properti lebih: setrika, televisi, penanak nasi dan air elektrik, dan lain-lain. Saya tidak punya semua itu.

Pembagian tanggung-jawab sumbangan seharusnya adil: mereka membayar 50.000, saya membayar 20.000, tapi mereka hendak meratakannya: semua orang membayar 35.000, dengan alasan ini itu yang dibuat-buat. Artinya, saya harus nombok 15.000, dan mereka berkurang tanggung-jawab 15.000.

Kan, kampret. Baca lebih lanjut

Standar
Santai

Perjumpaan

X-cara-mengatasi-momen-canggung-pas-lagi-nongkrong-eros

I.

Belakangan ini, setelah diceramahi Zaki di warung kopi, saya menjalani tirakat-tirakat yang sulit tapi mau tidak mau harus dijalani, semata agar jasmani dan rohani saya tetap sehat. Zaki, waktu menceramahi saya, tak menuduh saya tak sehat, tapi saya mengerti kekhawatirannya bila salah satu dari kami tumbang.

“Perjuangan masih panjang. Masa mau tumbang waktu muda?” Katanya.

Siap, kamerad.

 

II

Maka demi kesehatan jasmani, saya menjalani sedikitnya 4 tirakat.

Pertama, minum. Baca lebih lanjut

Standar
Santai

Menang

IMG_20180129_144043_HDR.jpg

I

Kemarin, di penghujung Januari, saya bersyukur banyak karena memenangi lomba menulis esai tentang kertas, yang diselenggarakan secara nasional oleh Qureta. Meski bukan juara pertama, saya masih senang karena mampu menyisihkan 700-an naskah lain, dan berdiri di peringkat kedua. Padahal tulisan itu sedikit bermaksud melegalkan ganja—Tuhan, dan naskah itu juara.

Duitnya yang lumayan banyak itu saya belikan buku tafsir al-Mishbah, karya Prof. Quraish Shihab, lengkap lima belas jilid, seharga tiga juta kurang dikit. Kemudian, satu juta lebih dikit saya belanjakan banyak sekali buku-buku penting yang harus dikoleksi. Sisanya yang tidak banyak lagi itu, saya tabung—tapi tidak tahu untuk apa. Untuk menikah? Em …. sepertinya sih ti …

Kemenangan itu memberi saya pengalaman ke Jakarta untuk ketigakalinya. Saya menginap di sebuah hotel di dekat Tugu Tani. Malam harinya saya berjalan kaki sendirian ke Bundaran HI. Sempat hampir nyasar, tapi saya menemukan bundaran yang dikelilingi hotel-hotel besar itu. Puas sekali. Pagi harinya, saya mengunjungi perpustakaan nasional dan tiba di sana hanya untuk ternganga lebar: perpustakaan itu punya lift! Seumur-umur saya baru melihat ada perpustakan yang pakai lift! Baca lebih lanjut

Standar
Santai

Sepuluh Februari

IMG_20180210_152522_HDR.jpg

Sepuluh Februari.
Ketika belajar sesuatu, manusia kerap jatuh. Itu wajar. Tapi manusia bisa bangkit lagi. Ia punya tangan dan kaki, dan digunakannya sedikit kekuatan untuk berdiri kembali. Istimewa bukan tentang selalu berhasil, tapi selalu berpayah-payah bangun dari sungkur.
Pagi itu, dia terjaga dari mimpi dengan perasaan yang baik. Pagi ditemukannya ramah. Jendela kamarnya menyilakan bukit-bukit dan awan-awan untuk dipandanginya. Lazimnya, pagi itu bisa menjadi hari yang spesial untuknya. Tapi ia telah dan sedang belajar untuk berbahagia dengan cara-cara yang sederhana dan sunyi saja.
Maka ia berterima kasih pada Tuhan atas segala yang telah ia cicipi. Berterima kasih pada mereka yang bersetia, atau pada mereka yang sebaliknya, semasa menghadapi tindak-tanduk dirinya yang menguji lapangnya dada. Semoga mereka yang bersetia tetap mendoakannya, dan yang sebaliknya mau memaafkannya.

Baca lebih lanjut

Standar