Penulis-Pengajar

wp-image--1785456064

Penulis yang mengajar, pengajar yang menulis. Kalimat itu saya simpulkan setelah membaca profil banyak pegiat Sokola Rimba, mulai dari Kak Butet Manurung, hingga Bang Fawaz. Nama terakhir adalah penulis buku “Yang Menyublim di Sela Hujan”, penulis yang tulisan-tulisannya saya gemari. Dunia literasi dan pemihakan, saya belajar banyak dari beliau.

Besok Bang Fawaz ke Malang, dan menjadi pembicara di acara Malang Sejuta Buku. Saya akan nyamperi beliau Sabtu sore. Silaq, yang di Malang, datang ya.

Ini tulisan Bang Fawaz untuk acara ini, sebagai pengantar. Silaq dinikmati. Tabiq! []

 

Penulis, Mengajar dan Meng(h)ajar

Oleh: Fawaz

Saya memilih untuk memulai dari Mohammad Natsir, salah seorang pendiri Masyumi, sempat menjadi ketua Masyumi, dan puncaknya, pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia. Natsir pernah menolak tawaran beasiswa untuk melanjutkan sekolah di negeri Belanda. Ia memilih menetap di Bandung, belajar kepada A. Hassan, dan mendirikan sekolah di sana.

Pada periode 30an, saat Soekarno menjalani proses pengasingan di Ende, NTT, Natsir dan Soekarno pernah terlibat polemik lewat tulisan-tulisan, polemik itu berpusat pada bentuk dan ideologi negara Indonesia kelak. Hingga Soekarno kembali dari masa pengasingan, polemik tak kunjung usai. Tulisan-tulisan Natsir selama berpolemik dengan Soekarno dibukukan dengan judul ‘Agama dan Negara’.

Natsir menulis dan tentu saja juga mengajar. Ia malah membikin sekolah sendiri, sekolah yang kontekstual dengan kebutuhan perjuangan saat itu. Untuk menghidupi sekolahnya, guru-guru yang mengajar di sekolah, Natsir dan murid-muridnya bercocok tanam di halaman sekolah.

Mungkin sedikit dari kita yang tahu bahwa Soekarno juga adalah seorang pengajar. Di Surabaya, di Bengkulu, di Ende, dan di banyak tempat lainnya, di sela kesibukan Soekarno mengorganisir rakyat menuju kemerdekaan negeri ini, Soekarno mengajar apa saja yang bisa ia ajarkan, terutama materi paling dasar, belajar membaca. Soekarno adalah juga penulis yang produktif. Selain dengan Natsir, ia banyak terlibat polemik lewat tulisan dengan tokoh-tokoh di negeri ini. Di luar itu, ia juga menuliskan buah pikiran dan hasil perenungannya tentang bermacam hal.

Salah dua lawan tanding Soekarno, lawan tanding perdebatan melalui tulisan adalah Musso dan SM Kartosoewiryo. Bisa dibilang mereka satu guru namun pada akhirnya pecah dalam tiga ideologi yang berada pada tiga titik ekstrem berbeda.

Semua nama yang saya sebutkan di atas, pernah bersentuhan langsung dengan HOS Tjokroaminoto. Guru tokoh-tokoh nasional, raja tanpa mahkota, organisatoris mumpuni, dan bermacam prestasi dan keahlian yang membuat iri banyak orang sekaligus membuat bangga banyak orang pula.

Tentu saja untuk menunjang semua itu, dua hal yang dilakukan HOS Tjokroaminoto di luar terus menerus belajar adalah menulis dan mengajar. Saya kira, tidak ada seorang pun tokoh bangsa di awal kemerdekaan negeri ini yang tidak bersentuhan dengan HOS, banyak dari mereka dengan bangga menganggap HOS adalah guru mereka meskipun pada akhirnya berbeda pandangan dan ideologi perjuangan. Lanjutkan membaca “Penulis-Pengajar”

Iklan

Bagaimana Saya Mengisi Hari-Hari

screenshot_2016-09-08-19-39-21_com.instagram.android_1473404259056.jpg
Memberi minum sapi di puncak Bukit Pergasingan.

Pengantar: Identitas dan Tirakat

Dulu, saya dikenalkan pada dua istilah: identitas dan tirakat.

Keduanya sepasang: identitas adalah kulit, sedangkan tirakat adalah isinya. Identitas adalah apa yang kita klaim, tirakat itu pembuktiannya. Misalnya, saya bisa mengaku sebagai Orang Sasak (klaim), tapi pengakuan itu harus dibuktikan dalam praktek (tirakat). Apakah saya mengisi hari-hari saya sesuai dengan falsafah hidup Suku Sasak?

Ada pula yang tidak mengklaim identitas apapun, tapi dari rekam tirakat, kita bisa mudah menentukan identitasnya. Kita bisa tahu seseorang itu individualis misalnya, yang hanya memikirkan kenyamanannya sendiri; atau, merupakan sosialis yang senang bergaul, setia kawan, dan rela berkorban.

Tirakat sebenarnya adalah ‘kebiasaan-kebiasaan’ yang kita susun sendiri, dan kita amalkan. Anggaplah kita ingin memiliki identitas sebagai si segar-bugar, maka tirakat yang mungkin adalah rutin berolahraga, konsumsi makanan sehat, dan istirahat cukup. Bila kita ingin identitas sebagai muslim pluralis, salah satu tirakatnya adalah menjalin hubungan baik dengan banyak tokoh lintas agama.

Uniknya, konsep identitas adalah konsep yang bebas tafsir, sehingga kita bisa pula bebas menyusun tirakat kita sendiri.

Lewat tulisan ini saya tidak hendak menjelaskan identitas saya (buat apa klaim identitas kalau tujuannya praktis?). Saya hanya ingin berbagi garis besar tirakat yang saya amalkan sejak lama. Siapapun berhak menafsirkan identitas saya setelah melihat tirakat ini. Mudah-mudahan betah membacanya hingga selesai.

 

Tirakat Saya

Saya punya 4 Tirakat Besar, dan dari keempatnya bisa lahir tirakattirakat kecil lain. Buat saya, 4 Tirakat Besar ini bisa disebut pedoman, prinsip, atau acuan dalam mengisi hari-hari saya. Saya berusaha supaya keseharian saya tidak jauh dari 4 Tirakat Besar ini.

Lanjutkan membaca “Bagaimana Saya Mengisi Hari-Hari”

I Should Be Happy

Stars-And-Rabbit

Saya belakangan ini tersihir, selalu mendengarkan dan mendengarkan lagi lagu-lagu Stars and Rabbit. Ya, duet dua orang musisi jenius bernama Elda Suryani dan Adi Widodo, begitu membius. Saya bisa hanyut dan larut dalam musik dan lagu-lagunya. Band ini berasal dari Indonesia, dan album pertamanya, Constelation, mendapat pujian internasional.

Musik mereka sangat tidak biasa. Baik instrumen, maupun kekhasan vokalnya. Pertama kali saya mendengar lagu ini, saya meremas rambut sekepala. Ada, suara yang menyembur-nyembur tidak karuan begini? Sekilas seperti mendengar cewek cempreng yang serak, yang menyanyi dengan serampangan. Tapi tidak begitu: ada sesuatu yang magis dari pelafalan lirik dan suaranya.

Elda, vokalisnya, mendapatkan julukan dari The Jakarta Beat: “Suaranya seperti emas yang disemburkan dari tenggorokannya.” Lagu-lagunya seperti Man upon The Hill, Worth It, Rabbit’s Run, dan The House, selalu saya putar tanpa bosannya, pun videoklip mereka yang senantiasa ganjil namun artistik, cocok dengan musik-musiknya.

Terutama lagu Man upon The Hill. Videoklip dan lagunya begitu magis, membawa saya pada kesadaran bahwa saya bagian dari alam, harus dan akan pulang ke alam, sebagai ‘Yang Satu’. Terutama, ketika Elda berdendang panjang, “And i should be happy!

Coba dengar sendiri, deh ^___^

Gagah dan Nggagahi

wp-image--860722706

Hai, Gerimis. Saya teringat saat berusaha menghamili leptop yang sudah banyak cacatnya itu, dan ternyata kamu tetap bisa lahir. Tidak sempurna, tapi cukup membuat saya haru dan bahagia.

Kamu, Gerimis, lahir dari laptop tua yang harus pakai kibot eksternal, yang mati kalau casnya dicabut, yang sering harus diinstal ulang, yang tidak bisa dimasuki kaset lagi.

Tapi, Gerimis, adikmu yang lain masih akan lahir dari laptop butut ini. Saya belum mau ganti laptop. Selama masih bisa dihamili, okelah.

Oya, Gerimis, saya juga mau minta maaf karena tidak bisa menulis dengan super keren. Jangan kata sastra yang ‘aliy (tinggi), istilah twist saja baru saya tahu kemarin, diberitahu sahabat saya, Darin. Jadi, maafkanlah bila kamu bukan ‘aliy, tapi alay. Saya tahunya hanya menulis, dan alhamdulillah masih ada yang suka didongengi kamu.

Ah, Gerimis, sebenarnya kamu pun tahu, bahwa ternyata banyak juga yang senang dan geregetan digauli kamu, sampai kepala mereka hamil, melahirkan anak-anak bernama tekad. Ternyata kamu gagah dan ‘nggagahi’. Saya senang melihat kamu senang.

Jadi maafkan kekurangan saya ya. Jangankan sebagai penulis yang menuliskanmu, sebagai manusia saja saya masih terlalu busuk oleh dosa dan kekurangan, merasa tidak pantas bagi siapa saja, kecuali bagi leptop butut. Saya sedang tertatih dan merintih berubah jadi orang baik.

Pelukan dulu kita *peluk.

Tunggu adikmu lahir ya. Daagh. []

Memahami Arab Pra Islam

Kondisi-Masyarakat-Mekah-Sebelum-Islam-Masuk

MEMAHAMI ARAB, MEMBANGUN KOMITMEN HISTORIS

Oleh: A.S. Rosyid

Dibuat sebagai bahan tambahan diskusi rutin Sejarah Peradaban Islam di Bayt al-Hikmah, kediaman Dr. Pradana Boy. Jum’at malam, 6 Oktober 2017, Malang. Diposting terlebih dahulu untuk diuji-publik. Panjang tulisan: 8 halaman word.

 ***

 

Pentingnya Menghindari Sikap Ahistoris

Istilah ‘historis’ mengacu pada kesadaran akan sejarah. Menyadari pastilah diawali dengan mengetahui, merenungkan, dan memahami dengan seksama. Untuk memahami apa yang terjadi ‘kini dan di sini’ dengan cara berkaca pada sejarah, seseorang harus mampu memetakan elemen dan dimensi tertentu yang terdapat di dalam realitas kala itu. Hanya demikian, sejarah bisa menghasilkan inspirasi tepat guna.

Inspirasi yang ahistoris (tidak melewati keseksamaan) rawan menjadi tidak tepat guna. Pentingnya komitmen historis telah ditekankan dalam al-Qur’an, bahwa setiap orang harus memandang realitas hari ini dengan memerhatikan realitas masa lampau; dan selanjutnya, Allah menegaskan bahwa Dia mahateliti atas apa yang telah manusia kerjakan (al-Hasyr: 18). Ketelitian terhadap sejarah, itulah siratan teladan dari ayat tersebut.

Komitmen historis berkembang dalam Islam sejak mula kehadirannya. Peristiwa ketika Allah memindahkan kiblat dari Baitul Maqdis ke Kakbah, merupakan perlambang historis kuat bahwa Islam tidak ‘mengekor’ khazanah kenabian Musa (Yahudi) atau Isa (Nasrani), melainkan kembali pada kemurnian agama yang dibawa oleh Ibrahim, bapak bagi seluruh khazanah kenabian Yahudi dan Nasrani. Nabi Saw. sebagai keturunan ke-61 Nabi Ismail, membawa Islam berjalan menuju Tuhan sejati, bukan Tuhan yang telah keruh oleh campur-tangan kebudayaan.[1]

Bentuk lain komitmen historis yang dikembangkan kaum muslimin awal adalah terikatnya upaya memelihara dan mengembangkan Sunnah dengan berkaca pada setiap peristiwa yang telah mereka lalui bersama Nabi Saw. Dinamika yang terjadi antara kekhawatiran Abu Bakr Ra. dan optimisme Umar Ra. mengenai kodifikasi al-Qur’an adalah contoh dinamika yang lahir dari komitmen historis yang sama. Abu Bakr Ra. khawatir usulan kodifikasi tersebut ahistoris (bila diteropong secara tekstual), sementara Umar Ra. meyakini sebaliknya (karena meneropong secara substansial).[2]

Selanjutnya, dikembangkannya konsep asbabain (asbabun nuzul dan asbabul wurud) dalam studi al-Qur’an dan hadits juga merupakan ekspresi komitmen historis masyarakat Islam awal. Tujuannya adalah untuk memahami substansi serta konteks setiap doktrin/ajaran, dan agar keputusan apapun yang diambil umat tidak menyalahi keinginan Islam. Namun, konsep asbabain tersebut belumlah bisa dikatakan sebagai komitmen historis utuh. Sifatnya parsial, hanya mengulas kejadian tertentu yang berkaitan langsung dengan suatu ayat atau sabda Nabi Saw.

Hal tersebut tersirat dari pandangan ulama. Misalnya, keterangan Ibnu Sirin tentang kekhawatiran Ubaidah, agar generasi Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in yang ingin memelajari, menghimpun, dan mengajarkan asbabun nuzul pada generasi selanjutnya agar terlebih dahulu membangun komitmen takwa kepada Allah dan menjunjung kebenaran. Hal itu karena generasi sahabat sudah tidak bersisa, dan Ubaidah takut ayat-ayat al-Qur’an dengan cepat menyimpang dari setiap konteksnya.[3]

Maka tariklah kesimpulan: peristiwa-peristiwa yang diulik dalam konsep asbabain hanyalah bagian kecil dari sejarah. Komitmen historis dalam memahami Islam, berarti komitmen memahami seluruh elemen sejarah Arab saat itu, yakni dialektika manusia Arab dengan ruang dan waktu yang luas dan sarat dimensi, yang meliputi peta setting sosial-politik, perkembangan ekonomi dan kebudayaan, di tingkat makro dan mikro, pada pra, ketika, dan pasca kenabian.

Semakin benar dan mendalam pengetahuan atas sejarah Arab, semakin tepat guna pemikiran Islam yang disimpulkan sebagai lensa pandang melihat masa kini.

 

Sebuah Perseteruan Tua

Namun, komitmen historis juga membawa konsekuensi serius yang mungkin tidak disenangi, yakni ditemukannya fakta dan kesimpulan yang merusak ilusi kebenaran doktrin yang telah mapan. Bila menemukan yang demikian, meminjam istilah Lesley Hazleton,[4] mau tidak mau kita harus membedakan antara ‘yang seharusnya’ (keinginan ideal) dan ‘yang sebenarnya’ (fakta historis). Salah satu konsekuensi komitmen tersebut bisa kita lihat dari cara kita memandang perseteruan tua antara dua keluarga besar Quraisy, yakni Bani Hasyim dan Bani Umayyah.

Pada mulanya terdapat dua pemuda bernama Hasyim dan Abd Syams, anak dari Abd Manaf, pemuka Quraisy yang menguasai siqoyah (bisnis akomodasi haji; sementara saudaranya, Abd Dar, memegang amanah pemeliharaan Kakbah). Konon, Hasyim dan Abd Syams adalah kembar siam yang dipisah dengan pedang. Kajian dari Taqiyyuddin al-Maqrizi dalam kitab al-Niza’ wa al-Takhashum fi ma baina Bani Umayyah wa Bani Hasyim,[5] menyebutkan bahwa kejadian itu merupakan pertanda bahwa keturunan mereka akan terlibat perseteruan panjang. Meski isu yang disajikan buku tersebut telah banyak dibantah, namun fakta sejarah yang dipaparkannya sesuai dengan alur historis persaingan politik ekonomi dua identitas besar Bani Hasyim dan Bani Umayyah.

Lanjutkan membaca “Memahami Arab Pra Islam”

Seperti Soe Hok Gie

wp-image-1062253671
Kajian Sastra Profetik, tadi pagi.

 

Nasionalisme Apa?

Beberapa hari yang lalu, Kepala Perpustakaan Djendela, Alung, menghubungi dan mengirimi saya foto surat dari Organisasi Pemuda Karang Genteng. Mereka mengajak Komunitas Djendela bergandengan menyelenggarakan nobar film tercyduk itu.

Meski kami bertiga—dan Ikhwan, pengurus satu lagi—sudah mufakat mengenai status film tersebut, saya tetap mengiyakan. Selenggarakanlah, tapi buat ia berbeda. Akhirnya Alung menambah acara baca puisi sebelum pemutaran film.

Puisi yang dibacakan, rencananya, adalah puisi Gus Mus dan renungan masa Nahdhatul Wathan dari Maulana Syaikh, yang bertutur tentang kemanusiaan dan pentingnya melawan kezaliman. Dua puisi dari dua ulama yang dihormati masyarakat, siapa yang mau protes?

Dan ternyata saya masih sukar menahan geli kala melihat kawan-kawan menjadi euforia mengenang lagi kekejaman partai tercyduk yang sudah dinyatakan banyak palsunya sejak 1998. Saya tahu betul mereka yang bernafsu mengklaim “Jasmerah” itu: mereka adalah kawan yang di kamarnya bahkan tidak punya lebih dari tiga bacaan sejarah, bahkan mereka jarang membaca buku. Jadi, kebenaran macam apa yang mereka tahu?

Tapi, yah, sudahlah. Silakan saja membenci komunis. Bencilah sesukamu, akupun tak suka cara-cara mereka yang keji dalam menumpas “7 Setan Desa” saat mereka sudah punya kekuasaan (angkatan bersenjata juga begitu, kok, saya juga tak suka).

Tapi jangan pernah membenci gagasan kritis, yang berusaha ‘mendidik’ penguasa dengan kritik tajam yang kadang menelanjangi bobrok yang sengaja ditutup-tutupi. Seperti kata Yusril Ihza Mahendra: ingatan bangsa ini pendek sekali, dan naïf, karena menganggap dalam perpolitikan dan penyelenggaraan negara hanya terdapat proses yang baik, wajar, dan sah saja.

Kematian Marsinah yang melawan tirani korporasi, kematian Munir yang berupaya menegakkan keadilan hukum, disiramnya Novel Baswedan dengan air keras karena mengusut kasus-kasus besar yang melibatkan jenderal angkatan bersenjata, Kasus HPH dan dana reboisasi, kasus BLBI, dan kasus Century: dipikirnya tidak ada jejak-jejak brengsek di tengah negara ini? Gagasan kritis itu penting, dan mesti disadari pentingnya itu, supaya (kalian?) tidak melongo bloon hanya ketika keadaan negara sudah kritis nanti.

Ali Imron 140: Wa tilka al-ayyamu nudawiluha baina al-Nas. Hari-hari kejayaan, hari-hari damai, hari-hari saat semua orang mengira tidak ada yang salah di sekitar mereka (lantaran jarang membaca, lebih suka euforia tanpa ilmu), akan digilir hitam-putihnya oleh Allah di muka bumi ini.

Belanda sulit menerima masa kejayaannya digilir oleh Indonesia; Soekarno dan PKI tidak menyangka masa kejayaan mereka akan dilibas begitu rupa; TNI kaget karena rezim angkatan bersenjata runtuh; masyarakat tidak menyangka kemakmuran era Pak Harto secepat kilat menjadi krismon, sehingga terjadi depresi nasional. Semua itu, masih ingatkah? Siapa yang menjamin, hari-hari penuh kedamaian dan keleluasaan akses untuk hura-hura ini, akan tamat dan berganti?

 

Menitipkan Harap

Alih-alih menonton film tercyduk, Forum Mahasiswa Mataram menggelar diskusi aktual, dalam rangka menyikapi isu penyempitan lahan pertanian di Kota Mataram. Seorang pembicara dari UIN yang ahli di bidang politik hukum agraria, Mas In’am Mushaffa, diundang untuk mengurai benang kusut permasalahan. Beliau yang peneliti di Intrans Institute dan MCW (Malang Corruption Watch) mengurainya dengan sangat baik: anggota FMM yang semula hanya tahu sembahyang mengaji bisa menjadi sangat geram melihat data kasus dan cara membaca data tersebut dari sudut pandang kriminologi agraria. Yah, namanya juga, selama ini hanya merasa tahu, tapi belum tahu.

Buat saya, inilah kerja-kerja menitipkan harapan. Membuka mata orang-orang terdekat saya atas realitas, jauh lebih penting daripada mengajak mereka membangun nasionalisme semu (kosong, abstrak, simbol belaka) untuk memusuhi sebuah ideologi. Nasionalisme macam apa yang lahir dari kebohongan?

Lanjutkan membaca “Seperti Soe Hok Gie”

Asyura dan Karballa

123898-004-928934F7

 

Mengaku Cinta

Pada hari Asyura (10 Muharram) seribu empat ratus tahun silam pernah terjadi peristiwa yang sangat, sangat, sangat keji dan menyedihkan. Cucu Nabi Saw. (cucu dari rasulullah yang begitu dicintai dan dijunjung umat Islam) telah dibantai kejam dalam peristiwa yang disebut Karbala.

10 Muharram 61 Hijriyah, itulah tanggalnya.

Pada hari yang disebut Asyura tersebut, umat Islam sedunia berpuasa dengan gembira, mengharap dosa-dosanya diampuni Allah. Mereka berpuasa dengan begitu inginnya meneladani Nabi Saw., yang begitu dijunjung dan dihormati, tapi lupa cucunya dibantai dengan kejam di hari saat mereka bergembira berpuasa.

Sikap dan komitmen mencintai macam apa, ketika tahu keluarga yang dicinta itu dibunuh dan dibantai secara keji, lalu tidak ada yang mengenangnya dengan rasa sakit? Sekalipun sudah memaafkan, bila memang cinta, dibunuhnya orang-orang yang dekat dengan kita pasti akan melahirkan gemetar hebat lantaran tak habis pikir betapa kejinya seseorang bisa menjadi.

Jangankan mengetahui pembantaian terhadap sanak keturunan beliau: mengetahui bahwa jenazah Nabi Saw. yang sempat terlantar dan tidak lekas dikebumikan karena sebagian besar tokoh umat lebih mementingkan pertanyaan siapa yang akan meneruskan kepemimpinan saja, seharusnya sudah cukup membuat jengkel siapapun yang mengaku cinta.

Karena dua peristiwa itulah, sejak lama, sejak lama, saya tidak pernah suka dengan sesuatu yang bernama ‘kekuasaan’. Tauhid seharusnya menaklukkan manusia hanya pada satu kuasa: Allah semata. Bahkan Nabi Saw. memanggil umatnya dengan ‘Sahabat’, sebuah istilah yang menyiratkan kesetaraan, mengaku sebagai basyarun mitslukum, dan diutus ke muka bumi hanya untuk utammima makarimal akhlaq.

 

Disembunyikan

Dosen saya di pascasarjana UIN-Maliki, bidang Studi Peradaban Islam, Dr. Fadhil, bercerita tentang masa kecilnya di Pesantren yang tidak pernah sekalipun diberitahu adanya Peristiwa Shiffin dan Karbala. Ia baru tahu setelah kuliah, dan membaca banyak sekali literatur tentangnya.

Apakah itu artinya universitas adalah sarang kesesatan karena mengedarkan buku-buku yang tidak diajarkan di Pondok Pesantren? Tunggu dulu.

Syaikh Ahmad Badruddin Hasun, Ulama dan Mufti Ahlussunnah di Syuriah, dalam sebuah ceramahnya, dengan sangat serius mempertanyakan, mengapa peristiwa Karbala hampir selalu disembunyikan. Tak pernah sekalipun, selama beliau belajar di Makkah, mendengar kajian mengenai Karballa dari para masyayikh di sana. Syaikh Ahmad Badruddin Hasun mengatakan, para masyayikh tidak menuturkan Karbala karena takut umat Islam terpengaruh lantas menjadi Syi’ah. Jawaban ini justru membuat beliau berang.

“Apakah kebenaran harus ditutupi hanya karena rasa takut pindah madzhab? Apakah kebenaran harus ditutupi untuk menguatkan satu madzhab atas madzhab yang lain? Lepaskan kita dari semua itu! Telah berlalu zaman yang di dalamnya agama dijadikan sandaran politik oleh beberapa orang! Telah berlalu zaman yang di dalamnya agama digunakan oleh orang yang menyebut diri sebagai Amirul mukminin dan berbuat zalim!” Kritik beliau keras.

 

Apakah Saya Takut?

Apakah saya takut dikatakan syi’ah? Memangnya, apakah perlu menjadi syi’ah dulu, agar bisa memahami kekejian politik, mencintai ahlul bait, dan bisa jujur terhadap sejarah? Saya tidak takut.

Saya adalah saya yang dilihat Allah hatinya, pikirannya, dan perbuatannya. Saya adalah saya yang dimiliki Allah, dan akan diadili dengan keadilan dan kasih sayang-Nya. Saya adalah saya sendiri, dan di akhirat, saya bukanlah saya yang dikatakan oleh orang-orang.

Saya adalah saya di mata Allah, dan saya hanya tunduk patuh pada kuasa-Nya. Saya tidak akan takut pada apapun selama keyakinan yang saya suarakan telah melalui proses penggalian dan saya telah menegaskan pendirian saya.

Saya mencintai Nabi Saw. dengan tertatih-tatih, jatuh bangun, dan berupaya semampu saya. Saya mencintai agama ini: ajaran, umat, dan sejarahnya. Namun di saat yang sama, saya ingin belajar mencintai dengan kejujuran. Saya ingin belajar beragama tanpa kehilangan rasa kemanusiaan. Saya ingin melawan geliat politik kotor yang memanfaatkan nama agama.

Selamat merayakan Asyura dengan pendirian dan pengetahuannya sendiri. []