Santai

Menang

IMG_20180129_144043_HDR.jpg

I

Kemarin, di penghujung Januari, saya bersyukur banyak karena memenangi lomba menulis esai tentang kertas, yang diselenggarakan secara nasional oleh Qureta. Meski bukan juara pertama, saya masih senang karena mampu menyisihkan 700-an naskah lain, dan berdiri di peringkat kedua. Padahal tulisan itu sedikit bermaksud melegalkan ganja—Tuhan, dan naskah itu juara.

Duitnya yang lumayan banyak itu saya belikan buku tafsir al-Mishbah, karya Prof. Quraish Shihab, lengkap lima belas jilid, seharga tiga juta kurang dikit. Kemudian, satu juta lebih dikit saya belanjakan banyak sekali buku-buku penting yang harus dikoleksi. Sisanya yang tidak banyak lagi itu, saya tabung—tapi tidak tahu untuk apa. Untuk menikah? Em …. sepertinya sih ti …

Kemenangan itu memberi saya pengalaman ke Jakarta untuk ketigakalinya. Saya menginap di sebuah hotel di dekat Tugu Tani. Malam harinya saya berjalan kaki sendirian ke Bundaran HI. Sempat hampir nyasar, tapi saya menemukan bundaran yang dikelilingi hotel-hotel besar itu. Puas sekali. Pagi harinya, saya mengunjungi perpustakaan nasional dan tiba di sana hanya untuk ternganga lebar: perpustakaan itu punya lift! Seumur-umur saya baru melihat ada perpustakan yang pakai lift! Baca lebih lanjut

Iklan
Standar
Santai

Sepuluh Februari

IMG_20180210_152522_HDR.jpg

Sepuluh Februari.
Ketika belajar sesuatu, manusia kerap jatuh. Itu wajar. Tapi manusia bisa bangkit lagi. Ia punya tangan dan kaki, dan digunakannya sedikit kekuatan untuk berdiri kembali. Istimewa bukan tentang selalu berhasil, tapi selalu berpayah-payah bangun dari sungkur.
Pagi itu, dia terjaga dari mimpi dengan perasaan yang baik. Pagi ditemukannya ramah. Jendela kamarnya menyilakan bukit-bukit dan awan-awan untuk dipandanginya. Lazimnya, pagi itu bisa menjadi hari yang spesial untuknya. Tapi ia telah dan sedang belajar untuk berbahagia dengan cara-cara yang sederhana dan sunyi saja.
Maka ia berterima kasih pada Tuhan atas segala yang telah ia cicipi. Berterima kasih pada mereka yang bersetia, atau pada mereka yang sebaliknya, semasa menghadapi tindak-tanduk dirinya yang menguji lapangnya dada. Semoga mereka yang bersetia tetap mendoakannya, dan yang sebaliknya mau memaafkannya.

Baca lebih lanjut

Standar
Santai

Pindah

IMG_20180206_170633_HDR.jpg

Selasa, 6 Februari 2018, resmi sudah aku pindah kos ke Kota Batu. Kos baruku ini lebih dekat dari kampus; hanya butuh 10 – 15 menit berjalan kaki.

Meski disebut ‘kota’, nyatanya daerah kosku ini pinggiran. Nuansa desanya kental, dengan suasana yang sepi tenang. Rumah masih jarang-jarang. Rumah kosku bahkan bertetangga dengan sawah (di kanan) dan kebun bunga (di kiri). Masih ada beberapa petak kebun jeruk dan pohon jati.

Dalam perkara mencari kos-kosan, aku memang sedikit pemilih. Aku suka kamar yang memiliki jendela besar, jadi aku bisa menulis di pinggirnya. Kebetulan kamar ini luas (3×4 m), kasurnya besar, dengan sebuah lemari plastik dan meja kayu untuk menulis. Tambah lagi, pemandangan Bukit Panderman dengan kabut-kabut mengambang dan peradaban manusia (seperti gemerlap lampu di malam hari) di kakinya, bisa kunikmati dari pinggir jendela. Belum lagi sore selepas hujan, di sini sangat tenteram. Baca lebih lanjut

Standar
Santai

Arus Balik Saya Belakangan Ini

94a7e47dff400bac0f34b1653d9842d2

 

1.

Entah kapan saya mulai tertarik dengan dunia pemikiran. Mungkin sejak SD, lewat komik Detective Conan. Saya sadar betul pengaruh Conan pada kemampuan menalar saya—juga pengaruh buruk karena darinya saya mengembangkan bakat acting dan memanipulasi perilaku. 

Semasa pondok, saya berkenalan dengan wacana supra-rasional: dunia jin, dunia energi kehidupan; teori-teori konspirasi dan secret society: Yahudi, Freemason, Biarawan Sion, Illuminati, dll. Saya mengembangkan bakat bercerita—adik kelas jadi korbannya. Cara saya bercerita bisa memengaruhi psikis dan tindakan mereka, karena runut dan lebay (karena saya sampaikan serius, kesannya betulan). Padahal saya bicara tentang sebuah warung, tapi ia bisa terasa misterius, bersejarah, berbau rahasia, mengundang rasa penasaran, hormat, segan—dan takut karena mistis. Saya kemudian tahu, itu namanya mistifikasi.

Saya juga bertemu dengan pertanyaan-pertanyaan filsafat yang, bagi teman-teman lainnya terasa mengerikan dan berpotensi menyesatkan, tapi saya tertantang. Misalnya: apakah Allah bisa membuat Allah lain yang sama maha kuasanya? Kakak tingkat kurang ajar yang menyebarkan pertanyaan menggemparkan itu disidang para ustadz dan disuruh syahadat ulang. Baca lebih lanjut

Standar
Santai

Sahabat Perempuan

FB_IMG_1517247257362.jpg

Darin dan Gadis, dua sahabat.

 

Saya pernah dengar kalimat putus asa berbunyi, lelaki dan perempuan tidak bisa bersahabat. Pasti ada perasaan lebih yang melanda salah satunya. Benarkah? Saya rasa, tidak juga. Sekalinya sebuah persahabatan antara lelaki dan perempuan berhasil utuh, jalinan emosionalnya kuat tapi tidak merusak. Sangat ideal.

Saya tidak banyak punya teman dekat (lelaki dan perempuan). Tidak seperti adik-adik saya yang populis, saya lebih cenderung penyendiri. Pergaulan saya memang luas, tapi yang benar-benar menjadi teman bisa dibilang sangat sedikit. Tidak banyak juga yang betah menjadi sahabat saya—saya kan punya sisi keras kepala, panjang akal, sensitif, rempong, dominan, bahkan manja, dan sejujurnya, kadang cengeng. Tidak mudah meladeni semua itu.

Salah satu perempuan yang bisa menjadi sahabat saya (dan meladeni semua sisi tidak dewasanya saya itu) adalah Darin. Gadis asal Bima itu kalau mau ngomong pedas ya pedas, memuji ya memuji. Darin meletakkan dirinya tidak di depan saya dan tidak di belakang saya, tidak juga di atas atau di bawah. Kami berimbang, setara, tidak kalah tidak menang. Baca lebih lanjut

Standar
Santai

Pulang (2)

IMG_20180125_174059_HDR.jpg

Bookshop di Bandara Internasional Lombok. Selalu menyenangkan ada di sini, terlebih bukunya bagus-bagus. Tapi itu, mahal-mahal.

Akhirnya, aku pulang ke Malang. Aku selalu menyebut ‘pulang’ ketika kembali ke Malang, karena buatku, Malang telah menjadi kota kedua. Kenangannya ruah berlimpah. Waktu liburan sudah cukup (13 – 25 Januari), saatnya pulang.

Sebenarnya, pulangku kemarin tidak bisa sepenuhnya disebut liburan. Aku tidak banyak jalan-jalan—hanya sekali saja sempat ke pantai. Biasanya aku menyempatkan diri main kano saat senja di Pantai Malimbo, atau bermalam di Pantai Meninting. Aku tidak bisa menikmati pijat Sasak. Aku tidak bisa berenang ke kolam Suranadi, atau bersantai di Sesaot. Aku juga batal ke rumah Pak Saehan untuk wawancara sejarah beladirinya. Aku bahkan tidak sempat ke Gramedia.

Tapi, yah, sudahlah.

Rabu malam seminggu yang lalu, aku menyempatkan diri berkumpul di pesisir Pantai Ampenan, bersama pengurus baru Komunitas Djendela, dan berbagi pengalaman mengurus komunitas. Kamis pagi, aku memindahkan semua koleksi bukuku (8 kardus besar) dari Perpustakaan Djendela ke rumah. Ebong berbaik hati menyupiri mobilnya mengangkut semua buku itu. Sebenarnya, banyak buku penting yang hilang, tapi apa boleh buat. List yang hilang sudah kubuat, dan kuminta pengurus baru mencarinya. Maghribnya, aku bersama sobat Djendela mampir ke rumah Titin dan menengok bayi mungilnya. Titin lebih bersahaja setelah menikah. Pernikahan, dan seorang manusia baru di tengah dua pasangan, mampu mengubah banyak hal. Baca lebih lanjut

Standar
Santai

Pulang (1)

IMG_20180115_135734_HDR.jpg

Tuak Manis Lombok. Bukan Khamr.

Sabtu pagi, saat jalan raya sudah mulai ramai, dan saat sebagian besar mahasiswa di asrama belum bangun, saya bertolak dari asrama ke Terminal Arjosari. Saya hendak pulang ke Kota Mataram pakai kapal laut.

Dari arjosari saya naik Patas ke Bungurasih. Di perjalanan saya membaca buku I am My Own Home, karya seorang reporter feminis-liberal dari Jakarta. Karena pakai bahasa Inggris, saya harus membaca sambil melafalkannya. Bosan membaca, saya pakai headset dan mendengar lagu-lagu Coldplay, dan tertidur. Mungkin ngorok; peduli amat. Sesampai Bungurasih saya mengejar bus kota ke Pelabuhan Tanjung Perak. Sepanjang jalan membaca buku lagi.

Tiba di Perak, saya mencetak tiket yang sudah dibeli via online. Ngobrol dengan beberapa orang yang mengantri—menyenangkan bisa bertemu dengan yang lebih terbiasa berbincang daripada main hape. Setelah itu, saya menunggu pintu keberangkatan dibuka sambil mengisi perut di emperan. Selesai makan, saya baca buku lagi. Begitu masuk pintu keberangkatan, penumpang harus melepas tas untuk di-scan metal detector. Hanya metal detector untuk barang yang menyala, sedangkan untuk penumpang tidak. Tambah lagi tidak ada petugas yang berjaga. “Terus buat apa di-scan?” Celoteh saya keras, tanpa sengaja. Orang-orang menoleh. Saya cuek. Baca lebih lanjut

Standar