Open PO Gerimis di Atas Kertas!

wp-image--1938005129
Belum mandi. Semangat!

[cuplikan isi buku ada di bawah]

Halooo manteman Obrolin dan bukan Obrolin, di mana saja klean bradah! Hari ini (Sabtu, 16 September 2017), saya pribadi sebagai penulis membuka sesi pertama Pre-Order buku “Gerimis di Atas Kertas”, untuk wilayah Jawa, Kalimantan, Sumatera, Bali, dan NTB! Buku dengan tanda tangan saya yang manis!

(……………………… huek)

Open PO ini ditutup pada 30 September 2017—berarti, selama dua minggu. Harga bukunya 50 ribu saja (belum ongkir—Sekitar Kota Malang dan Kota Batu gratis ongkir), dikirim ke Rek. BNI-Syari’ah 0370358917 a.n. Aprizal Sulthonrasidi.

Catatan penting: di dalam total keutungan penjualan buku terdapat zakat untuk gerakan literasi di Kota Mataram.

Mari memesan! Formatnya begini:

  • Nama mantan pemesan;
  • Alamat Lengkap beserta kodepos;
  • Kontak yang bisa dihubungi di lokasi;
  • Foto bukti transfer (bisa setelah chit-chat soal ongkir);
  • Kirim ke nomer: 085337175119 (WA), 085933077619 (SMS);

Buku akan dikirimkan per 15 Oktober 2017 ke alamat masing-masing.

Terima kasih telah berkenan memesan! 😉

 

CUPLIKAN ADEGAN

Satu:

Kutatap mata dua bocah yang tidak ada hubungan darah tapi mirip itu—mungkin karena mereka sudah menyatu satu sama lain. Mereka tak lain dan tak bukan adalah Ihsan dan Ipang.

Lanjutkan membaca “Open PO Gerimis di Atas Kertas!”

Iklan

Kriteria Imam Yang Baik

081311900_1414158332-x4

 

Sebelum kecewa, dengan menyesal saya harus katakan bahwa ini bukan tentang imam rumah tangga. Bagi cewek yang jomblo, jangan banyak berharap. Ini tentang imam masjid, sesuai kriteria pemerintah.

Jadi, pada tanggal 15 Agustus 2017 lalu, sebuah surat keputusan telah dikeluarkan dan ditandatangani oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam. Surat itu bernomor 582 tahun 201 7, tentang: “Penetapan Standar Imam Tetap Masjid”.

Dalam konsideran surat keputusan ini, disebutkan bahwa Imam Tetap Masjid amat diperlukan karena memiliki peran strategis sebagai pemimpin dan Pembina umat dalam rangka mewujudkan ‘umat yang berkualitas, moderat dan toleran’. 

Imam Tetap Masjid adalah standar teladan yang berlaku secara nasional, sekaligus sebagai pedoman bagi masjid-masjid dalam memilih Imam.

Jadi, dalam surat keputusan ini disebutkan definisi imam adalah: seseorang yang memiliki kemampuan memimpin shalat, berkhutbah, dan membina umat, yang diangkat dan ditetapkan oleh pemerintah atau masyarakat. 

Sementara definisi masjid adalah: bangunan atau rumah ibadah umat Islam yang digunakan untuk melaksanakan shalat rawatib (lima waktu), shalat jumat, dan kegiatan hari besar Islam serta menjadi pusat dakwah umat Islam.

Ruang lingkup masjid yang ditetapkan undang-undang ini adalah: Masjid Negara, Masjid Raya, Masjid Agung, Masjid Besar, Masjid Jami’, Masjid Bersejarah, dan Masjid di tempat publik. Setiap Imam mempunyai syarat umum, dan Imam di setiap ruang lingkup masjid memiliki syarat khususnya sendiri.

Syarat umum, misalnya: Islam, lelaki, dewasa, adil, sehat jasmani dan rohani, berahklak mulia, berfaham ahlus sunnah wal jama’ah, memiliki komitmen terhadap dakwah Islam, memiliki pemahaman fiqih shalat, memiliki kemampuan membaca al-Qur’an dengan tahsin dan tartil. 

Imam juga harus memiliki kemampuan membimbing umat, memahami problematika umat, memiliki kemampuan memimpin shalat, dzikir dan doa rawatib, memiliki kemampuan berkhutbah, dan memiliki wawasan kebangsaan.

Sementara kompetensi khusus berbeda-beda antar satu jenis masjid, meski memiliki beberapa kesamaan. Kesamaan tersebut di antaranya: memiliki keahlian membaca al-Qur’an dengan merdu, dan memilii pemahaman fiqh, tafsir dan hadits. 

Berpendidikan minimal S1 untuk Imam Masjid Negara, Masjid Nasional atau Masjid Raya, Masjid Agung, dan Masjid Besar; Berpendidikan minimal Pondok Pesantren atau sederajat untuk Imam Masjid Jami’, Masjid Bersejarah, atau Masjid di Tempat Publik.

Imam Masjid Negara harus menghapal 30 juz al-Qur’an dan menguasai bahasa Arab atau bahasa asing lainnya.

Imam Masjid Nasional atau Masjid Raya pun demikian dalam hal penguasaan bahasa, namun disyaratkan hapalan minimal 10 juz saja.

Imam Masjid Agung disyaratkan minimal 2 juz saja, sementara Imam Masjid Besar, Masjid Jami’, Masjid Bersejarah, dan Masjid di Tempat Publik disyaratkan minimal juz 30 saja. 

Adapun Imam Masjid Bersejarah, harus memiliki pengetahuan tentang sejarah berdirinya masjid tersebut.

 

Sama-Sama Tahu

Kita sama-sama tahu, dan tidak boleh naïf, tentang perkara siapa menguasai apa di tingkatan elit kekuasaan. Siapa yang menguasai apa itu akan berupaya mengukuhkan hal-hal yang diwakilinya, dan menampakan dari mana ia berasal.

Lanjutkan membaca “Kriteria Imam Yang Baik”

Pengumuman: Yuk Donasi!

wp-image-1234844690
Kamar baru buku komunitas kami

 

Pengantar:

Beberapa waktu lalu, komunitas literasi yang saya dan teman-teman di Kota Mataram bina, yaitu KCB (Kelompok Cinta Baca), mengubah nama menjadi Komunitas Djendela. Nama berubah, namun kerja rutinnya tetap: mengelola perpustakaan, menggelar perpustakaan jalanan, dan menggelar kegiatan-kegiatan edukasi.

Fokus gerakan tahun ini bergeser. Sebelumnya berfokus pada literasi-baca, sekarang pada literasi-menulis. Perpustakaan telah dipindah ke kawasan yang lebih mudah dijangkau masyarakat dan mahasiswa (Karang Genteng, Kawasan Jalan Lingkar Selatan Kota Mataram). Belum dua hari kami pindah, anak-anak muda dari sekitar perpustakaan sudah datang dan meminjam lebih dari 25 buku. Program kegiatan komunitas nantinya akan semakin beragam, namun program terbesar Komunitas Djendela hanyalah satu: pembuatan situsweb Djendela.co.

 

IMG_20161015_195950_HDR
Agenda rutin ngelapak: kadang siang, kadang malam.

 

Rumah kosong seorang anggota yang dipinjamkan secara sukarela sebagai Perpustakaan Komunitas Djendela ini, sekaligus akan menjadi kantor situsweb Djendela.co. Tentu saja, kantor tersebut akan menjadi pusat proses kreatif, diskusi redaksi, upgrading kemampuan menulis, dll. Sementara ini, situs sedang digarap secara sukarela oleh seorang sarjana IT, dan tim redaksi sedang memersiapkan tulisan-tulisan terbaik mereka untuk mengisi web Djendela.co nantinya.

 

Mari Berdonasi

Komunitas Djendela ingin mempersembahkan perpustakaan yang layak dan nyaman dikunjungi, dijadikan tempat membaca, dan dijadikan pusat berkumpulnya anak muda untuk membincang buku. Komunitas Djendela juga ingin sekali memiliki kantor yang representatif, yang, setidaknya, punya kursi dan meja kayu murah-kuat yang nyaman dijadikan tempat menulis.

Komunitas Djendela sudah melakukan usaha-usaha kecil untuk menambah uang kas, anggota secara pribadi (termasuk saya) juga menabung untuk disumbangkan pada kantor demi memenuhi inventaris penting yang menunjang lancarnya kerja kreatif Komunitas.

 

Mari Berdonasi! Bantu komunitas kami memiliki ‘rumah impian’ bagi banyak orang. Komunitas kami menerima:

  1. Rupiah; setiap rupiah yang rekan-rekan sumbangkan akan dipelihara seamanah mungkin dan pembelanjaannya akan dilaporkan secara berkala oleh bendahara komunitas. Bila dana berlebih, kami akan simpan untuk operasional situsweb Djendela.co sehari-hari, seperti mengirim buku reward buat kontributor situsweb, pengembangan situsweb, dll;
  2. Buku; komunitas kami dengan senang hati menerima buku-buku bacaan (non text-book pelajaran sekolah) yang edukatif, menghibur, dan tidak bermuatan SARA atau tema yang melanggar susila—bebas segala usia. Selain itu, pelajar NTB yang tulisannya berhasil tembus di situsweb Djendela.co secara otomatis akan diberi reward berupa buku;

  3. Perabotan; tentu saja bila rekan-rekan berasal dari Lombok dan tertarik menghibahkan satu dua perabotan bekas yang ada tapi jarang digunakan lagi (kursi, meja, rak buku, lemari, bahkan gelas-gelas kupi).

 

Kami sangat berterima kasih rekan-rekan sekalian sudi meneruskan tulisan ini ke banyak orang, terutama, yang rekan sekalian anggap mampu dan mau berdonasi. Saya, Ical, dan Sekretaris Perpustakaan sekaligus CEO Situsweb Djendela.co, Ihwan, bisa dihubungi di:

Ical            : 085337175119 (WA) / 08593307619 (SMS, Telp).

Ihwan       : 085238952450 (WA) / 087750036077 (SMS, Telp).

Email        :  bennrosyid@gmail.com

 

Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih. Tabik! []

 

 

Dokumentasi:

wp-image-1128239789
Rencana lambang Djendela.co.
2016-10-31-18-51-22
Bedah film yang bebas dikunjungi usia SMP sekalipun.
wp-image-1342087365
Lapak Baca Sore yang didominasi anak-anak.
2016-10-28-10-50-57
Reading Grup Putu Wijaya’s short stories.
IMG_20160828_065419
Teaterikalisasi Puisi di Taman Sangkareang
IMG_20161224_223211_HDR
Mandala Baca: TEDx ala Komunitas Djendela, mengundang budayawan.
WhatsApp Image 2016-12-16 at 8.37.25 AM
Menjelang pulang: acara Milad ke-1 Komunitas Djendela.

Memandang Penjara

baca buku di penjara
konon di Italia, napi yang rajin membaca buku bisa bebas lebih cepat.

Saya selalu diingatkan Beko (sahabat rasa saudara saya; nama aslinya Muhammad Muammar), tentang betapa berbedanya pikiran seseorang yang berada di dalam sel penjara, dengan yang sedang bebas.

Beko seorang sipir di penjara Kota Dompu, NTB. Beko yang menjelaskan pada saya bahwa setiap penjara diberikan ‘pagar gaib’ yang menghalangi jin-jin kiriman yang hendak mencelakai narapidana di dalamnya (karena itu di Penjara hampir tidak ada fenomena kesurupan atau kena santet, meskipun napi di dalam sana pasti banyak yang mendendami). Konon kata Beko, setiap sipir yang berjaga malam pasti pernah didatangi jin yang menyerupai manusia, mengetuk pintu penjara, meminta izin masuk. Mereka tidak bisa masuk bila tidak diizinkan sipir, sementara mereka sendiri tidak bisa pulang karena dukunnya pasti akan menghukum. Dilema, jadi jin yang dikirim ke penjara. Kalau kalian kebetulan seorang dukun santet, kasihanilah dia, jangan kirim ke penjara.

Beko pula yang menjelaskan hal ihwal penjara sebagai lembaga negara yang paling banyak menyedot anggaran negara tapi tidak memberikan timbal balik materil. Penjara harus memastikan kesediaan air bersih, listrik, dan makanan-makanan empat sehat lima sempurna. Penjara zaman sekarang sudah enak, sudah lebih manusiawi, karena Indonesia sudah meratifikasi undang-undang HAM Internasional yang salah satunya mengatur penjara agar lebih memanusiakan tahanan. Jadi, sebenarnya, penjara itu enak.

Tapi Beko tetap mengancam, jangan sampai menganggap menjadi tahanan itu enak. Penjara boleh lebih enak dari yang dulu, tapi napi tidak. Beko adalah sipir sekian lama, jadi sudah ahli lah soal mentalitas para napi. Salah satu perbedaan itu adalah tekanan psikologis karena ruang gerak manusia yang dibatasi, dan akhirnya tahanan selalu berpikir untuk lari. Napi selalu merana.

Saya membenarkan itu. Jangankan penjara: terjebak di kamar mandi saja, sudah bikin kita panik.

Lanjutkan membaca “Memandang Penjara”

Menjaga Politisi

buta-politik

 

Tulisan pendek ini bukan teori politik. Siapalah saya, harus tahu segala hal. Bagi yang suka emasnya menara gading pengetahuan, ada baiknya minggat dari tulisan ini sebelum kecewa. Pengetahuan saya yang jongkok tidak akan mampu memuaskan dahaga.

 

1.

Saya percaya, anak muda tidak seharusnya buta politik. Benci boleh, politik memang lumpur kotor-berduri yang bercampur dengan bekas muntahan basa-basi sepanjang sejarah. Busuk, memualkan, memuakkan. Politik telah dihiasi oleh warna hitam: kemunafikan, senyum manis beracun, kata-kata santun yang menipu. Kebohongan di mana-mana—tentu, bagi mereka yang melihat pelbagai kejadian dengan perspektif yang tak melulu lugu. Tapi tidak seharusnya anak muda buta politik, karena dari politiklah semua dirancang.

Harga-harga barang: bahan-bahan makanan dapur; tarif listrik, air, dan transportasi; uang kesehatan dan pendidikan, pajak dan harga buku, tarif mengirim buku ke daerah-daerah, uang kos-kosan yang katanya naik sesuai inflasi, dll.

Pembangunan: sarana transportasi, fasilitas kesehatan dan pendidikan, taman bermain, perpustakaan, ruang edukasi, rusaknya ruang edukasi karena entertainment yang berlebihan, hilangnya ruang terbuka hijau, dieksploitasinya sumber daya alam, dll.

Sistem: pemilu yang jujur, celah sempit dan beresiko untuk melakukan korupsi, lahan pekerjaan yang adil dan tidak nepotis, ruang untuk mengajukan kritik atas sistem yang dijamin perlindungannya, upah minimum suatu daerah, dll.

Semuanya ditentukan proses politik.

 

2.

Kita perlu politisi.

Namun, selama ini politisi tidak pernah disiapkan dengan baik.

Kebanyakan fenomena yang saya temukan adalah: anak muda yang gelisah akan perekonomiannya di masa depan, yang karen gelisah itu ia kemudian banting setir menjadi politisi, karena politik adalah lahan mendulang uang bermodalkan cuma basa-basi dan sedikit rasa percaya diri. Omonganmu ngawur tak jadi apa, kata Rendra menggambarkan politisi, yang penting yakin.

Sedikit saja politisi yang memersiapkan dirinya menjadi politisi. Mereka memang bercita-cita sejak dini, dan memersiapkan diri dengan bidang ilmu yang lazim dikuasai politisi: ilmu politik, ilmu hukum. Ada yang langsung terjun ke fakultas tersebut, ada yang menahbiskan diri sebagai teknokrat (ahli suatu bidang) dan membekali diri dengan ilmu politik di luar kampus.

Namun ilmu saja tidak cukup.

Kawan, kalau kalian punya teman yang ingin menjadi politisi, dan mereka benar ingin memerjuangkan kepentingan dan kemaslahatan rakyat banyak (karena bila mereka tidak benar-benar ingin, percuma saja; dan senyum tengik bisa dengan mudah dilihat), maka ingatkanlah mereka semua.

Agar mereka tidak mengembangkan kemunafikan, sekecil apapun. Agar mereka tidak terbiasa membuat janji-janji bohong, sekecil apapun. Nasehatilah mereka agar terbiasa berkata A karena memang A, atau, berkata B sebagai B dan bukan sebagai A. Sampaikanlah pada mereka agar selalu berkata lugas, dan tidak terbiasa berdiplomasi semata demi keluar dari masalah. Dorong mereka agar berkata jujur, dorong mereka agar tidak membiasakan diri sedikit pun dengan budaya kemunafikan.

Lanjutkan membaca “Menjaga Politisi”

Manusia Yang Telah Selesai

munir

 

Untuk memeringati Munir, tulisan ini jelas sudah terlambat sehari. Munir mati diracun di udara pada 7 September 2004. Munir mati muda, usianya 38 tahun ketika ia ‘disingkirkan’ rezim ekonomi-politik yang ‘terganggu’ karena segala macam usahanya menegakkan kebenaran, hukum, dan HAM di Indonesia.

Selain sebagai advokat yang merupakan ‘kesatria hukum’, saya mengenang Munir sebagai manusia yang telah selesai. Apa maksudnya?

Munir sudah tidak meletakkan kehormatan hidupnya pada hal-hal yang membuat seseorang menjadi takut, kemudian pengecut, kemudian abai terhadap tanggung-jawab sosial. Uang mengalir deras untuk Munir, tapi selalu dialihkan untuk keperluan gerakan, sementara ia sendiri menggunakan motor butut ke mana-mana. Dengan jaket kumal seperti tukang ojek, dan helm kusam hadiah dari dealer motor bututnya itu, ia beranjak dari satu tempat ke tempat lain untuk mengedukasi dan mengorganisir rakyat. Hidupnya untuk melayani orang lain, bukan melayani diri sendiri. Ia adalah seorang Gandhi versi muslim.

Manusia yang telah selesai, tidak bisa diancam dan ditawar-tawar. Biasanya, rezim korup selalu membungkam orang-orang yang kritis dengan cara mengancam keselamatan hidup yang bersangkutan dan orang-orang di sekitarnya, sekaligus menawari mereka berbagai macam kemudahan hidup—uang, terutama. Janganlah naif menganggap cara-cara seperti ini hanya ada di film-film; bergaulmu kurang luas.

Tapi Munir tidak mempan dengan cara klasik itu. Diancam ia tidak takut, ditawari ia tidak silau. Sosok kurus kecil yang sangat tajam mengamati penyelewengan-penyelewengan hukum itu sudah paripurna. Munirlah yang menggenggam hidup, bukan hidup yang mengendalikan Munir. Ikhlas sudah di luar raga, hanya Tuhan yang boleh ditakuti, dan kebenaran harus ditegakkan. Hanya dengan demikian, kain kafan nantinya bisa dibanggakan di mata Tuhan, sebagai kain kafannya muslim yang menolak takut selain pada Allah.

Maka Munir dibunuh.

Demikian tulisan ini saya persembahkan sebelum shalat Jum’at. Seharusnya shalat membuat seseorang menjadi berani, dan menjadi manusia yang telah selesai, karena shalat yang benar adalah shalat yang bernapaskan inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi robbil ‘alamin.

Saya tidak akan menulis tentang siapa Munir, apa yang telah dia lakukan sehingga rezim kuasa menakutinya, bagaimana ia dibunuh, bagaimana negara setengah hati mengusut kasusnya, dan bagaimana solidaritas telah membela dan menjadikannya sebagai ikon penegakan kebenaran, hukum, dan HAM.

Silakan baca sendiri banyak referensinya, dan bila malas membaca, banyak video dokumenter tentang kehidupannya. “Kiri Hijau Kanan Merah”, “Bunga Dibakar”, “Tuti Koto: a Brave Woman”, “Garuda Deadly Upgrade”, dan “His Story”, adalah sebagian film dokumenter yang bisa disebut.

Bila malas juga menonton, mungkin keyakinan hidup orang-orang seperti Munir bisa didengarkan dalam lagu Efek Rumah Kaca yang berjudul “Udara”. Munir dikenang band muda dalam lagu yang begitu menggetarkan. []

Berkomunitas di Dunia Maya

19113737_1999055266992515_1477374709552395875_n

 

1.

Berkomunitas, di komunitas mana pun itu, menuntut kebijaksanaan.

Memang hanya satu kata, kebijaksanaan, tapi satu kata ini kompleks sekali. Satu kata itu meliputi (a) kemampuan memahami kondisi personal lain, (b) kemampuan memahami kondisi orang banyak, dan (c) kemampuan memaklumi kekurangan gerakan.

Dalam berkomunitas, itulah makna kebijaksanaan. Tiga kemampuan itu merupakan kebutuhan mendasar. Sebenarnya, ada lagi kemampuan tambahan yang tidak kalah penting, yakni (d) inisiatif melengkapi kekurangan gerakan, bukan mengeluhkannya. Tapi berbeda dengan tiga kemampuan di atas, kemampuan terakhir ini tidak bisa dituntut ada dalam diri setiap anggota.

Tulisan ini tidak menulis solusi bagaimana agar ‘tidak malu dan aktif berkomentar di grup komunitas sementara chat bertumpuk’. Itu silakan jadi bahan diskusi, hehehe.

 

2.

Obrolin, sebagai sebuah komunitas bloger wordpress, baru berapalah usianya. Jumlah anggota yang kurang lebih seratusan orang itu pun tidak bisa dibilang banyak. Apalagi, dengan kegiatan yang berlangsung hanya di dunia maya.

Namun, di usianya yang tidak seberapa ini, dinamika yang dihadapi sudah banyak. Salah satu dinamika di awal-awal berdirinya Obrolin adalah menahan arus obrolan yang tidak membuat nyaman. Anggota datang dari lingkungan yang beragam; kadang tema yang bagi seorang anggota sensitif, tidak begitu bagi orang lain. Contohlah pembicaraan yang rada mesum, ada yang santai bercanda dengan itu, ada yang tidak.

Tapi di sinilah letak kebijaksanaan: mampukah kita memahami perbedaan yang ada sebelum bercanda? Mampukah kita bersabar dalam mengingatkan dan ketika diingatkan? Ketika misalnya kondisi yang menyebalkan itu tidak begitu prinsipil (sampai melanggar norma-norma tertentu), mampukah kita mengalah?

Bijak pula kalau kita memaklumi dan ikut tertawa, misalnya, dalam kasus Quree yang sedang spaneng dan mengirim puluhan voice note nyanyiannya dia. Bila ada yang menegur Quree karena alasan yang tepat (silakan meribut, tapi tidak di jam istirahat), itu bijak. Bila ada yang memaklumi dan mengalah dengan hanya me-mute notifikasi saat pembicaraan di grup dirasa terlalu ribut, itu juga bijak.

 

3.

Saya mendapati keluhan pula, bahwa materi di grup serius seringkali kurang berbobot. Saya tersenyum. Kalau mau, filsafat atau teori sosial atau tasawwuf atau sederet kajian isu aktual lainnya sudah masuk daftar tema. Tapi dalam komunitas bloger yang minat temanya beda-beda, dan kemampuan mencerna tema tertentu juga beda-beda, kita harus belajar merendah, dan melangkah bersama.

Sesekali bahas hal remeh, sesekali bahas yang rada serius. Ikutin saja, santai. Nanti menambal hal-hal ringan itu dengan komentar-komentar yang berbobot. Sebaiknya pandai-pandai membaur.

Lanjutkan membaca “Berkomunitas di Dunia Maya”