Perahu Kertas

IMG_20171213_141124_HDR.jpg

Beberapa waktu lalu saya dikabari kawan, bahwa trailer film Dilan sudah muncul. Saya langsung teringat wajah Gusmul yang memerankan Dilan versi Mojok, itu lucu sekali. Kemudian, kawan saya itu mengajak nonton filmnya bila sudah rilis di bioskop.

Saya menggeleng, menolak halus.

Saya penggemar Pidi Baiq dalam musik. Saya suka mendengar lagu-lagunya yang kocak, seperti Temanku, Jangan Buat Aku Lupa Istri, Jangan Takut, dan lagu-lagu lain yang dinyanyikannya bersama The Panas Dalam. Tapi untuk saya menyukai bukunya, agak sulit.

Daripada Dilan, saya lebih menyukai Lupus, karakter dalam serial karya Hilman Hariwijaya, yang sangat tenar era 90-an. Berbeda dengan Dilan yang jagoan, sedikit berandal, pintar, digemari wanita (penyayang dan patuh pada orang tua juga sih), Lupus lebih saya sukai justru karena karakternya yang jauh dari sempurna. Lupus kalem, rendah hati, cuek, konyol, banyak kekurangan, tapi tetap ada prestasi. Lupus seorang wartawan, ia lebih keren.

Ayah lelaki yang doyan mengunyah permen karet itu sudah tidak ada. Hubungannya dengan ibu dan sang adik, Lulu, terhitung kocak. Tambah lagi dua sobatnya (Boim dan Gusur) yang uniknya minta ampun. Cerita Lupus karib dengan persoalan sehari-hari anak muda urban; bukan dari kelas masyarakat berpunya, kesulitan-kesulitan yang ada dihadapi dengan sense humor yang gila tapi realistis. Rasanya, Dilan tidak lebih mendidik daripada Lupus.

Tentu saja, itu semua soal selera, ya.

Tidak banyak fiksi yang saya baca, tapi setiap yang saya baca selalu memengaruhi saya dalam banyak hal. Salah satunya adalah karya-karya Dee, seperti Madre dan Perahu Kertas.

Bila Madre membuat saya tergugah menulis dan menghayati roti, Perahu Kertas adalah tipe novel yang bisa bikin baper berkepanjangan. Madre selalu saya ulang-ulang membacanya, tiada bosan, namun tidak dengan Perahu Kertas. Bukan karena Perahu Kertas tidak menarik, tapi saya tidak kuat menahan dentuman baper. Saya harus menyiapkan diri dulu untuk merasa sesak, baru memutuskan membacanya (lagi).

Lebay, ya?

Iyalah, penulis fiksi kerap mesti lebay, memang.

Pertama kali saya membacanya sedikit terlambat, sekitar akhir 1706 M tahun 2012. Cerita Kugy dan Keenan yang saling mencintai dalam diam, yang alurnya pekat dengan aroma mendekat-menjauh-mendekat-menjauh—Dee memang pembuat cerita yang sialan. Sebagai penulis, dia seperti tahu benar cara mempermainkan manusia dengan takdir yang manis-pahit. Bahkan menjelang akhir, kita ikut merasa sesesak Kugy yang tahu ternyata hatinya tidak pernah berhenti mencintai Keenan.

Lanjutkan membaca “Perahu Kertas”

Iklan

Saya, Kopi dan Gempa

IMG_20171215_224856_HDR.jpg

 

Sabtu, 16 Desember 2017, pukul 00.28.

Saya mengerjakan tugas UAS di Warung Kopi Lanang, dekat asrama, sejak jam 10.30 malam. Saya asal-asalan memesan kopi lokal, Panderman-Batu, espresso. Saya yang tidak paham kopi kemudian disodorkan dua gelas aneh. Satu berisi kopi, satu berisi air gula, yang gelasnya sedikit lebih gemuk.

Saya langsung bingung. Bagaimana cara minumnya?

Kalau saya campur air gula itu ke kopi, sedangkan gelas kopi itu sudah penuh, nanti kopinya pasti tumpah. Kalau saya serut dulu kopinya sampai setengah, sumpah, itu kopi pahit sekali. Kalau saya campur kopi dan air gulanya di tatakan gelas, aksi itu pasti mencolok dan saya akan ditertawakan.

Saya memutuskan tidak meminumnya dulu. Saya lanjut garap tugas, sambil WA-an sama Darin, yang getol banget nyerempet-rempet bicara seputar jomblo, nikung, dll. Saya mengirim gambar kopi saya ke grup alumni FMM, dan bertanya cara mengonsumsinya. Tapi tak ada yang tahu.

Kemudian secangkir ingatan menghampiri kepala kolot saya: porsi air gula itu sengaja dilebihkan untuk mengimbangi rasa kopi yang terlalu pahit. Saya teringat Bang Wien Muldian, pendiri Gerakan Indonesia Membaca (2003), pernah mengajari saya bagaimana menikmati kopi. Gula merah dilebur dulu di rongga mulut, lalu kopinya diserut.

Ah! Ternyata begitu. Air gula diserut dahulu, baru menyerut kopinya. Dua cairan beda kelamin itu saya biarkan kawin di rongga mulut saya, dan mereka berbulan madu dulu beberapa detik. Cara itu membuat kopi menjadi lebih manis, namun di bibir masih tertinggal rasa pahit yang khas. Seksi!

Saya langsung mengirim WA ke grup alumni FMM. Gawah! Udik! Kalian minum kopi seperti pemula! Percuma kalian sering ngopi malam-malam! Kemudian semua anggota seperti menggelar aksi bela harga diri, menyerang saya. Saya terbahak, lanjut mengerjakan tugas dan WA-an dengan Darin.

Saat itulah.

Tipis sekali, sangat tipis, tapi saya rasakan betul, kursi saya bergoyang. Saya memejamkan mata dan hening untuk memastikan; goyangan itu nyata. Dalam mode patung saya lirik gelas kopi saya, airnya bergerak. Saya melirik lampu gantung di atas saya, juga bergoyang. Saya memandang sekitar, reaksi orang-orang, mereka sama sekali tidak sadar.

Lanjutkan membaca “Saya, Kopi dan Gempa”

Surat-Suratku dan Zakky

IMG_20171213_115445_HDR.jpg
Pabrik kertas dan buku tulis, PT. Tjiwi Kimia, Jawa Timur.

Dear Zakky, Kawanku.

Aku ada di Pabrik Tjiwi Kimia hari ini. Entah kenapa, aku merasa tumpul.

Sementara teman-temanku melihat cara kerja mesin-mesin, aku mengajak pekerja ngobrol. Aku tahu bahwa mereka bekerja di gedung produksi yang panas itu sejak pukul 8 pagi hingga 5 sore, dengan istirahat hanya satu jam (12 – 13). Aku belum sempat bertanya upah karena teman-temanku keburu pergi (yang kemudian saya tahu mereka digaji 28 ribu rupiah per hari). Yang jelas aku sempat bertanya: “Apakah di pabrik ini ada serikat buruh?”

Mereka menjawab tidak tahu. Mereka tidak mengerti ada perkumpulan semacam itu, selama 3 tahun bekerja di sini. Padahal pabrik ini pernah punya kasus demonstrasi besar karena mem-PHK hampir 3000-an buruhnya, dan 72 buruh sebelumnya. Pasti ada serikat pekerja. Tapi mereka tak tahu menahu.

Rumah-rumah di desa sekitar pabrik masih jauh dari layak. Pekerja-pekerja level bawah, yang menjual tenaganya tanpa pilihan, dan kemungkinan berasal dari desa-desa sekitar sini, punya gurat wajah yang keras. Mereka, di pabrik yang membayar listrik PLN-nya 40 – 60 milyar sebulan ini, hidupnya akan terus begitu-begitu saja.

Kawan, aku merasa tumpul. Aku tahu ada yang salah, tapi aku tidak bisa menjelaskannya. Aku bahkan tidak bisa melihat di mana detil hal-hal yang salah itu. Kamu tahu, kan, aku tak bisa lagi memercayai indahnya penjelasan lewat videografis humas suatu lembaga (manapun). Bagus di gambar, tapi kita harus tahu dalamnya seperti apa.

Sempat aku berpikir, aku seharusnya membaca buku lebih banyak lagi untuk mencari penjelasannya. Tapi sebelah hatiku menolak: aku butuh yang lebih dari sekedar membaca. Aku butuh mengamati dari dekat, memahami keseluruhan perasaan itu, dan barulah menganalisanya dengan teori yang lebih memihak dan memanusiakan.

Aku tahu gaya hidupku masih lebih banyak borjoisnya, meski sekuat apapun aku mencoba lebih bersahaja. Tapi aku tetap berusaha.

Namun hari ini, aku merasa sangat-sangat tumpul.

Aku merasa, buku-buku pemihakan yang ada masih terlalu teoritis. Aku teringat buku Ibnu Parna, Pengantar Oposisi, yang cukup ringan dan membumi menerangkan pokok-pokok analisis dari marxisme dan sosialisme namun masih menggunakan ejaan lama. Maukah kamu menulis untukku, pokok-pokok tulisan yang bisa menjelaskan semua yang kuperlukan?

Dari kawanmu,

Ical.

 

Dear juga, kawan dan saudaraku ical

Apa yang kamu jelaskan merupakan kenyataan. Dari ceritamu sudah tergambarkan kau memang masih memegang rasa kemanusiaan. Soal sifat borjuasi kecil, aku juga begitu, cuma, semakin keras kita berdekatan dengan masyarakat dan menumbuhkan cinta pada kemanusiaan seperti cinta kita pada Nabi dan Allah. Maka sifat borjuasi kecil yang zalim perlahan akan sirna.

Insya Allah saya akan buatkan ringkasan ringan tentang situasi tersebut. Mungkin dengan 3 tahap: situasi umum masyarakat Indonesia, penindasan atas kelas buruh, penindasan atas kaum tani.

Saya mau tanya kawan, apakah kawan bekerja di pabrik itu atau bagaimana? Soal ketumpulan hanya perlu dilatih.

Hormatku,

Zakky.

 

Dear Zakky, Kawanku.

Kata-katamu, “Semakin keras” itu, sanggup menohokku. Sudah lama aku tidak berdekatan, lantaran berusaha berdekatan dengan manusia sebagai person, bukan sebagai komunal kelas. Aku akan berusaha mengikis sifat-sifat borjuasi itu. Terima kasih telah mengingatkanku.

Tidak, aku tidak bekerja. Aku hanya berkunjung, sebagai bagian dari sebuah workshop menulis. Aku beruntung karena langsung diajak terjun ke pabrik, meski pihak penyelenggara punya maksud lain.

Kawan, aku menunggu tulisan ringkasmu tentang itu. Aku ingat tulisanmu yang selalu berbasis data. Aku juga rindu membacanya.

Salam, kawanmu.

Ical.

 

Dear ical, saudara rakyat

Sebagai manusia kita harus saling mengingatkan. Dalam perjuangan ada yang namanya K-O-K (kritik oto kritik). Terimah kasih juga atas kejujuran kamu. Jujur di hadapan ilmu pengetahuan adalah sifat baik sebagai manusia.

Begitu ceritanya. Siap agak malam ya nanti karena saya masih ada di desa.

Hormatku,

Zakky

 

Dear Zaky, kawanku.

Terima kasih sekali lagi. Kejujuran ini melegakan. Semoga aku selalu dikuatkan. Aku menunggu, jangan terburu-buru, supaya tulisanmu cemerlang. Bila perlu, tulisanmu pun akan aku terbitkan agar semua orang membacanya.

Hormatku,

Ical.

Berpisah

images (1)

Mungkin, dalam waktu dekat, saya akan mengucapkan selamat tinggal pada blog ini. Blog ‘bangicalmu’, mungkin akan tutup usia.

Saya bisa jadi akan memelihara blog pribadi baru yang lebih serius dalam manajemen dan serius dalam konten. Seperti Prof. Imam Suprayogo, misalnya, yang mendapatkan penghargaan MURI karena telah menulis setiap hari, setiap subuh, nonstop, selama delapan tahun. Sebagai profesor, beliau menulis tulisan-tulisan yang cukup ringan namun mencerahkan, seputar Islam dan kontekstualisasi sehari-hari. Wajar bila penghargaan MURI nyangkut pada beliau.

Tentu bukan rekor MURI yang ingin saya kejar. Serius yang dimaksud di atas adalah keinginan sederhana agar khalayak mendapatkan tulisan-tulisa bernas. Artikel, tapi ringan dan mencerahkan.

Atau, saya bisa jadi akan fokus mengelola situsweb komunitas. Milik Komunitas Djendela, misalnya, sebagai Pemred. Atau milik Yayasan Bayt al-Hikmah, misalnya, sebagai Redpel. Tentu butuh fokus besar untuk mengelola situs-situs itu—agar hasilnya prima. Kalau sekedar-sekedar, ya bisa sih, tapi kan nganu.

Untuk membagi waktu antara menulis paper kuliah (yang panjangnya 20 halaman per-presentasi, hampir rutin 2x sebulan), menggarap proyek penelitian dari kantor (esai panjang bidang pemikiran, paling sering), menulis fiksi, dan menulis opini di media saja sudah bikin ribet. Daftar buku yang mesti dibaca pun masih begitu panjang (terakhir saya mencoba memetakan kajian Dr. Amelia Fauzia tentang Filantropi Islam). Tagihan tulisan begitu merentet sedangkan waktu membaca juga sedikit. Bah, bagaimana mau menulis? Belum lagi waktu main-main dan tidur saya yang juga harus cukup banyak.

Oya, saya harus menulis opini di beberapa media, yang berbayar. Tujuannya idealis dan pragmatis. Idealis, karena saya masih memilih media yang bisa menerima aspirasi idealisme saya. Pragmatis, karena tujuan saya memang cari uang. Bila misalnya satu media mengupah saya Rp. 200.000 per tulisan, maka saya membutuhkan 25x menulis dalam satu semester agar bisa bayar SPP. Bila mendapatkan proyek penelitian, upahnya berkali lipat, jadi upah kecil menulis artikel itu bisa saya gunakan untuk membeli buku atau baju. Ya, saya harus mulai memerhatikan fashion juga.

Lanjutkan membaca “Berpisah”

Sambutan

Hari Minggu (3 Desember 2017—tulisan ini diturunkan satu hari sebelum tanggal tersebut), Pengurus FMM akan menggelar acara pelantikan di Asrama. Saya selaku pembina diminta menyampaikan sambutan perwakilan mewakili KALUMMA (organisasi alumni FMM). Tulisan berikut adalah teks naskah sambutan saya. Apa tujuannya diunggah di blog? Tidak tahu. Baca saja dulu, dan mohon doa kemudian.

 

wp-image--1207606374
Oplek (ketua baru) dan Yayat (ketua demisioner).

 

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barokatuh.

Alhamdulillahilladzi a’thona ni’aman katsiron wa hidayatan,
Wa shalla ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi jami’an.

Qalallahu ta’ala, “Innallaha laa yughayyiru maa bi qoumin, hatta yughayyiru maa bi anfusihim.” Wa qala Nabi Saw. “Kullukum ro’in wa kullukum mas’ulun ‘an roiyyatih.”

 

Yang saya hormati, para hadirin, saudara-saudariku sekalian dari organisasi daerah se-Pulau Lombok, terima kasih saya haturkan telah bersedia meluangkan waktu berkunjung di asrama kami yang sederhana ini.

Yang saya banggakan, keluarga besar Forum Mahasiswa Mataram, yang sudah menyiapkan dengan segala keterbatasannya, acara pelantikan pengurus pertama sepanjang pengurus FMM. Benar, sebelumnya tidak pernah ada acara pelantikan semacam ini, sehingga kemarin sempat membuat bingung rekan-rekan pengurus.

Dalam keadaan itu saya katakan pada mereka: jangan bingung. Jangan mengacu pada kebiasaan acara pelantikan yang lain. Mengaculah pada substansi, mengaculah pada kualitas dan keberkahan. Sesungguhnya, acara pelantikan hanyalah terdiri dari ijab kabul sertijab, sumpah pengurus, dan dilihat oleh banyak saksi, sehingga pengurus itu dikenal.

Lalu saya katakan, maka buatlah acara yang sederhana, yang penting substansinya tercapai, dan kita berusaha supaya acara itu diberkahi Tuhan. Karena itulah, hanya seperti ini saja acara kami, mohon dimaklumi oleh hadirin sekalian. Sesungguhnya letak berkah dan kualitas hampir selalu ditemukan dalam kebersahajaan, dan saya senang bila anak-anak muda Lombok mulai mengupayakan kebersahajaan dalam langkah-langkahnya.

Tadi saya sempat menyinggung sebuah ayat, bahwa Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, kecuali kaum itu berupaya mengubah keadaan dirinya sendiri. Atas dasar inilah, sejatinya, kita berorganisasi. Secara organisasi, kita semua punya impian, dan kita berupaya mewujudkan impian itu dengan program-program kerja tertentu.

Tapi secara individual, kita juga berusaha mengubah diri kita sendiri, dengan organisasi sebagai wadahnya. Merasa diri tidak cakap dalam suatu bidang, maka berupayalah, belajarlah pada siapa yang dianggap mumpuni di organisasi, agar menjadi cakap. Merasa tidak mampu dalam suatu kebiasaan, maka berproseslah sekuat tulang, supaya menjadi mampu.

Mulai dari hal-hal sederhana, seperti menjaga kebersihan, membaca buku, bergaul dengan karib, tidak berburuk sangka, menyelesaikan masalah dengan i’tikad baik dan keterbukaan, tidak gampang mengeluh, berhenti hidup egois yang hanya memikirkan kenyamanan pribadi, dll.

Secara organisasi, semua program kerja dan pencapaian-pencapaian akan dipertanggung-jawabkan. Perjuangan kecil-kecil itu juga nanti akan dipertanggungjawabkan pada Tuhan ketika nanti kita bertemu. Usia yang sudah sejauh ini, masa digunakan hanya untuk melototi hape dan melakukan hal-hal tidak berfaedah.

Begitulah.

Sebelum saya akhiri, saya menitipkan pesan pada seluruh pengurus: jaga hubungan kekeluargaan dengan Orda-orda lain, dan hormati kenyamanan tetangga. Terus berjuang, sikapi apapun dengan kebesaran jiwa.

 

Billahi fi sabilil haq, fastabiqul khairat.
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barokatuh.

Memahami Sila, Dalam Agama Budha

wp-image-1173798896
Keluarga Besar Padepokan Dhammadipa Arama, Batu.

 

1.

Pagi itu, Sabtu 18 November, ketika saya hendak pergi ke Vihara di Batu, seorang anggota Forum Mahasiswa Mataram sedikit menyindir. “Abang ke Vihara terus, jarang ke Masjid. Ngapain pergi ke rumah ibadah orang Budha.”

Saya tersenyum. Bagaimana mungkin saya jarang ke masjid. Saya kuliahnya di masjid, kantor PSIF juga di masjid, hampir 60% kegiatan rutin saya berjalan di sana: menulis, berdiskusi, membaca buku, kajian, belajar dan mengajar, bercanda, dll.

Akhirnya saya mengulang kata-kata Gandhi saat umat Hindu melarangnya mengunjungi rumah umat Islam: “Saya cuma mau bertemu seorang sahabat, dek.”

Sebenarnya saya suka nasehat. Tapi orang terlanjur menganggap saya suka pilih-pilih nasehat, dan sukanya yang sesat-sesat. Saya merasa tidak pernah pilih-pilih. Hanya saja, saya (merasa) sudah mengerti standar nasehat atau ilmu yang (saya yakini) benar.

Salah satu tolak ukur benar tidaknya suatu nasehat atau ilmu adalah sifatnya yang memihak kemanusiaan. Bila bertolak belakang dari itu, saya takkan ambil. Bila sesuai, saya akan ambil—sekalipun dari agama lain. Hikmah, adalah barang mukminin yang hilang. Bila ditemukan bahkan di tempat yang kita benci sekalipun, muslim wajib mengambilnya.

 

wp-image-1376520384
Saya dan Bhante Ratana

 

2.

Saya bertemu dengan Bhante Ratana, di Vihara. Seorang Bhikkhu yang memelihara blog juga. Senang sekali akhirnya bisa kopdar lagi di Padepokan umat Buddha ini.

Beliau menyempatkan diri mampir ke Padepokan ini sebelum kembali ke Viharanya di Semarang. Kemarin, beliau ada tugas di Papua selama enam hari. Dengan jubah oranye itu beliau menyambut saya di depan kantor. Bhante Ratana dan para samanera di Vihara sedang ada acara, jadi terlihat sibuk. Ada penahbisan samanera baru. Semacam ‘penerimaan santri baru’, dalam dunia pesantren.

Bhante Ratana menyilakan saya menyaksikan para calon samanera itu diberi jubah dan belajar memakainya, sebelum prosesi mencapai ritus puncak. Per lima orang keluar dari ruang prosesi, membawa kain jubahnya sendiri, menuju ruangan lain. Di ruangan itu mereka ‘riuh’ belajar memakai jubah, dibantu samanera senior. Di ruangan itu saya mengamati.

“Dihayati, Bang.” Bhante Ratana tersenyum. “Kalau Bang Ical, pasti biasa.”

Lanjutkan membaca “Memahami Sila, Dalam Agama Budha”

Aku Sombong, Kamu Bahagia

wp-image--554181157

Sembodo

Belakangan ini saya menulis untuk Buletin Jum’at “Nurani”. Sudah dua tulisan yang terbit, dengan beberapa stok lain yang masih menunggu. Dua yang terbit itu bicara tentang Islam dan aktualisasinya, secara kontekstual, dan tidak kehilangan keunikan wacana.

Misalnya, tentang pandangan Gandhi yang positif terhadap Islam (dan tafsirnya atas nilai dan praksis Islam yang begitu pro-kemanusiaan). Kemudian, tentang perlunya praktek-sugestif untuk melatih nilai-nilai keislaman, seperti para Bhikkhu melatih sila-sila mereka dengan cara yang begitu memukau.

Saya mesem-mesem melihat para jama’ah antusias membaca tulisan saya, dibanding mendengarkan khutbah khatib. Ah, sebenarnya saya berdosa telah mengalihkan perhatian. Tapi mau bagaimana lagi, saya memang menarik perhatian. Saya bertutur lebih baik dari khatibnya. Karena sudah kepalang songong, jadi saya wajarkan saja fenomena itu.

Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah.

Karena begitu banyak yang membaca tulisan saya selama khutbah, saya mencoba mendekati salah satunya. Saya pandangi dia yang sedang membaca, dan hati saya bergumam datar, lihat itu, dia sedang membaca saya, ada saya di dalam kertas itu. 

Cara saya tersenyum dan melirik, adalah cara khas sembodo; yaitu satu jenis kesombongan yang diikuti dengan pembuktian. Bukan sesumbar: si Sembodo bertingkah songong karena memang mampu. Nah, senyum sembodo itulah yang saya pasang, saat saya mencoba menyapa dan bertanya pada yang sedang membaca tulisan saya.

“Tentang apa ini, Mas?”

“Oh, ini tentang latihan ber-Islam, Mas. Supaya nilai Islam bisa dipraktekkan, nggak cuma omong doang.”

“Bagus ya, kayaknya?”

“Bagus Mas. Tulisannya mengalir, enak, ringan kayak lagi cerita.”

Senyum sembodoku semakin menjadi-jadi. Anak dadaku yang riang terbang tinggi. Hidungku kembang kempis. Tiba-tiba riuh suara tepuk tangan euforia dalam kepalaku sendiri. Aku terkekeh dalam hati, sembari bergumam: “Bacalah, anak muda, bacalah, nanti kamu akan tahu membaca itu lebih menarik daripada mendengarkan. Bacalah, bacalah, karena itu aku yang menulisnya, dan setiap yang kutulis takkan mungkin tak mengundang decak kagum.”

Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah.

Hahaha. Inilah dia: kadang kesombongan tidak selalu membuat geram dendam. Memaki, iya, tapi ada jenis makian dan kejengkelan yang membuat kita bahagia. Semoga kalian bahagia, ya, membaca tulisan ini.

 

wp-image-1331705392

Cara Bersyukur

Buletin Nurani diterbitkan kantor tempat saya berproses selama ini: PSIF (Pusat Studi Islam dan Filsafat) UMM. Saya pikir, waktu pertama kali menulis, saya menulis ‘sebagaimana biasanya’, yakni sukarela. Tapi ternyata dibayar.

Saya pun belakangan ini lumayan sering menulis di media lain. Tulisan-tulisan itu saya share di media sosial lain. Beberapa dibayar. Saya gunakan itu untuk tambahan membeli buku, dan donasi ke komunitas-komunitas. Tulisan perdana saya di Geotimes tembus kolom, uangnya saya titip ke Bayt al-Hikmah, komunitas kami untuk keperluan gerakan. Meskipun sebenarnya ada ‘zakat 10%’ yang dibebankan pada anggota yang mendapat honorarium menulis, tapi upah pertama itu saya serahkan seluruhnya.

Saya melakukan hal serupa pada buku pertama saya dulu: royaltinya saya titip untuk gerakan. Entah kenapa saya ingin bersyukur dengan cara itu, pada kali pertama hal-hal yang saya anggap berharga. Tapi tentu, mamen, itu hanya untuk upah pertama. Selanjutnya buat nonton bioskop, hahaha.

Tuh kan, dengan cerita begini, aku jadi sombong lagi. Tapi, kamu bahagia, kan? []