Surabaya Kemarin: Kopdar Terlama Saya

WhatsApp Image 2019-09-07 at 12.06.45 (2)
Kopdar saya yang entah keberapa: Kunu, saya, Bageur, dan Pak Guru Desfortin.

Kabar Pak Guru Desfortin hendak bertandang ke Surabaya membuat saya senang. Terlebih, beliau mencari saya, ingin bertemu. Saya merasa terhormat. Pak Guru Desfortin adalah salah satu bloger yang blognya apik dan konsisten. Kami sering berdiskusi. Terakhir, kami mendiskusikan geger kasus UAS. Kami sepakat bahwa:

“Kita wajib meyakini agama kita paling benar. Tapi kita tidak boleh mengungkapkan ketidakbenaran agama lain, apalagi kejelekannya. Kita memang harus berkata benar, tapi bersikap bijak lebih penting. Mengejek agama lain akan membuat agama kita diejek balik. Ironis, bila saat kita merasa menegakkan kebenaran, yang justru terjadi adalah kerusakan.”

Bila kami berdiskusi, begitulah jadinya. Maka mumpung beliau di Jawa, saya upayakan menemuinya, sekalipun misalnya saya sedang di Banyuwangi.

***

Kami sepakat bertemu di Surabaya tanggal 5 Juni, di C2O Library. Kunu ikut. Kunu juga mengajak Bageur. Dalam perjalanan ke Surabaya di hari-H, saya berusaha menyusun topik perbincangan dengan Pak Guru Desfortin. Sia-sia, tidak ada ide sama sekali. Akhirnya saya pasrah, suka-suka Tuhan saja menentukan perbincangan kami akan seperti apa.

Sesampai Bungurasih, saya dijemput teman se-Lombok bernama Sulhi. Sekalian, saya ajak ia ikut kopdar. Pukul 2 siang kami menuju C2O. Pak Guru Desfortin sudah menunggu. Dari luar perpustakaan saya melihat Pak Guru Desfortin khusyuk membaca. Ah, beliau sesuai seperti yang saya bayangkan saya selama ini. Tubuh padat, rambut kaku kehitaman, kulit putih, khas dayak. Saya uluk salam: “Selamat siang, Pak Guru.”

Pak Guru Desfortin terkejut dan tersenyum lebar. Kami bersalaman erat, saling menyapa. Kami pindah ke ruang belakang C2O. Lamat-lamat saya amati wajah Pak Guru Desfortin. Mirip Habil, teman saya, orang Bima yang berwajah toku (wajah khas aristokrat kesultanan Bima). Logat bicara Pak Guru Desfortin juga sangat Kalimantan. Lanjutkan membaca Surabaya Kemarin: Kopdar Terlama Saya

Iklan

Si Manis, Kamu.

Rambut Diiket

Tepat awal puasa kemarin saya membantu penelitian Ma’arif Institute, yang ingin tahu masih seberpengaruh apa wajah moderat NU dan Muhammadiyah di tengah masyarakat. Jadilah saya mewawancara sejumlah orang, berhari-hari. Saya lantas harus mentranskrip hasil rekaman wawancaranya untuk diserahkan pada Ma’arif Institute.

Dua hasil wawancara terakhir saya putuskan untuk mentranskripnya di Kedai Pak De, di dekat Siguragura. Konon, kedai itu tempat nongkrongnya teman-teman Psikologi UIN; pertama kalinya saya mampir ke situ. Saya duduk di meja sebelah luar setelah memesan minuman susu berwarna ungu bercampur oreo (saya lupa nama minumannya), lalu mulai mentranskrip. Saat sedang asyik mentranskrip itulah, si manis datang.

Seorang perempuan melangkah … memasuki pintu pagar. Ia berjilbab biru, berjaket hitam. Pakaiannya sederhana, layaknya gadis rumahan. Wajahnya tertutup masker, tapi tatapan matanya itu … aduhai … Saya tidak perlu melihat wajahnya; saya tahu gadis ini manisnya bukan buatan.

Si Manis melewati meja saya dengan santai dan kalem, namun langkah-langkahnya mantap. Ia masuk ke dalam kedai. Apakah ia pelanggan tetap kedai ini, batin saya, sehingga nyaman baginya ngopi sendirian? Ataukah di dalam ada teman-temannya? Kebanyakan membatin, tanpa sadar saya sudah melewatkan sekian banyak kalimat narasumber dalam rekaman.

Saya kaget karena Si Manis bercanda dengan para pelayan dan langsung bergabung di bagian dapur. Ternyata, Si Manis adalah pelayan kedai kopi ini! Saya terpukau. Karena meja saya tepat di sebelah jendela kasir yang sekaligus dapur kedai, giranglah hati saya. Dari balik jendela, saya leluasa mengaguminya diam-diam.

Ia semampai, sedikit lebih tinggi dari saya. Kening dan punggung tangannya langsat. Bila berdiri, posturnya tegak namun keanggunannya tetap ajeg. Sesekali Si Manis membuat minuman yang dipesan pelanggan. Saya terpaut pada alisnya yang sedikit berkerut dan matanya yang menyapu toples-toples di depannya—mungkin ada posisi toples tertentu yang letaknya berubah. Betapa telitinya gadis manis ini, duhai. Saya memerhatikannya membuat mie, dan saya ditenung oleh gemulai pergelangan tangannya yang membaur bumbu. Sumpah, itu goyang pergelangan paling elegan sedunia! Lanjutkan membaca Si Manis, Kamu.

Shaming?

04_Confidence_Quotes_Quotes_A_man_cannot-1068x561

Saya tidak tahu ada berapa banyak orang yang masih membaca blog sampai tahun 2019 ini. Meski beberapa bulan lalu saya memutuskan untuk menutup blog pribadi, saya masih membaca sejumlah blog yang saya suka. Hanya saja, saya tidak meninggalkan komentar seperti biasa.

Beberapa narablog yang saya kenal telah kehabisan energi untuk menulis. Hampir seratus blog yang saya ikuti tidak beraktifitas selama setidaknya 7 bulan terakhir. Ternyata ada yang sudah tidak aktif selama 4 tahun; saya mengikuti blog itu 5 tahun yang lalu. Satu per satu saya cek isi blog-blog itu dan bila tidak terlalu penting untuk saya ikuti, saya berhenti mengikutinya.

Saya masih menulis, terus menulis. Saya menerbitkan esai-esai pendek di beberapa media online dan sesekali menulis jurnal. Saya belajar merapikan kalimat dan patuh pada kaidah-kaidah dasar menulis. Tapi saya tetap kecolongan, ada saja salah tik di tulisan saya. Ada saja kalimat saya yang nirsubjek.

Saya berlatih lagi. Mungkin tidak ada ujung bagi seorang penulis untuk berlatih. Bagi seorang penulis, berlatih identik dengan berkarya.

Mas Hasnan Bachtiar, mentor menulis saya, kembali dari studinya di CAIS ANU akhir 2018 lalu. Tulisannya semakin matang dan ia ‘menyindir’ saya habis-habisan karena tulisan saya yang, menurutnya, tidak berkembang. Ia dengan serius menganjurkan saya untuk ‘berhenti’ menulis esai-esai popular dan mulai menulis jurnal. “Kualitas tulisanmu masih buruk,” katanya. “Jurnal SINTA 2 pun tidak mau menerimanya.”

Itulah gaya Mas Hasnan dalam mendidik saya. Sedikit sombong, tapi sebenarnya perhatian. Kemarin saya kembali dilatih dasar-dasar academic writing oleh Mas Hasnan. Saya disajikan struktur dasar tulisan akademik yang ideal dan itu cukup membuat saya mengembuskan napas berkali-kali. Saya teringat semua tulisan saya di laptop dan merasa itu semua sampah.

Tapi saya tidak baper. Saya tidak surut. Saya mengakui tulisan saya buruk tapi tanpa harus merasa terpuruk. Saya tidak harus merengek protes pada Mas Hasnan, atas nama kebahagiaan saya sendiri, agar ia tidak berlidah runcing dalam memberi penilaian. Bukan karena saya tegar, tapi saya telah belajar untuk menghargai watak Mas Hasnan apa adanya. Saya tidak perlu malu karena toh yang dia sampaikan benar. Toh, saya belajar darinya. Lanjutkan membaca Shaming?

Yang Bersemi Setelah Pemilu

tunas

Pemilu telah usai. Keributan mungkin belum akan usai (politik selalu bising, bukankah?), tapi setidaknya kita sudah bisa bernapas lebih lega. Masing-masing telah mengambil hikmah, begitupun saya. Ada hal-hal yang bersemi setelah pemilu kali ini; berupa pelajaran berharga tentang manusia dan cara berpikirnya.

Saya merasakan kebenaran tulisan almarhum Kuntowijoyo: kesadaran politik masyarakat Indonesia masih kuna. Konsep Ratu Adil masih kuat; masyarakat menggantungkan harapan pada satu sosok karismatik, dan sosok itu dianggap mampu mengubah keadaan. Kesadaran Ratu Adil muncul dalam kalimat-kalimat seperti: “Pilih yang paling sedikit dosanya!” atau “memilih untuk mencegah yang terburuk berkuasa!”

Kalimat-kalimat seperti itu tidak salah, hanya saja, tidak berlaku di hadapan realitas politik yang kompleks. Nasehat semacam itu hanya berlaku di realitas yang lebih sederhana, di mana warga bisa dengan mudah mengawasi pemimpinnya.

Realitas negara modern itu kompleks. Di negara modern ada kesepakatan-kesepakatan antara negara dan pasar, yang menguntungkan (para elit dari) kedua belah pihak. Presiden tidak berkuasa sendirian. Di negara modern, yang ada adalah presiden, bukan pemimpin dalam arti klasik (yang berkuasa tunggal). Dan setiap presiden berdiri berdiri di atas struktur kompleksitas itu. Tidak mudah diawasi.

Struktur realitasnya harus dipahami: ada pemain-pemain, ada relasi-relasi, ada dealings di belakang layar, ada ancaman-ancaman, ada tawaran-tawaran. Itu semua nyata adanya, bukan sekadar bumbu film atau imajinasi konspiratif.

Guru saya, Pradana Boy ZTF, yang menjadi staf khusus kepresidenan selama beberapa waktu, telah melihat bagaimana pertarungan politik di level elit sama sekali berbeda dengan apa yang ‘didongengkan’ di koran-koran (apalagi media sosial). Siapapun presidennya, realitas itu mendesak presiden bungkam. Sekali lagi: siapapun presidennya. Guru saya membagikan cerita, di antaranya, tentang bisikan-bisikan istana tentang kasus kekerasan terhadap Novel Baswedan dan terbuangnya Mahfud MD dari sisi Jokowi.

Karena sering mendengar informasi dari kantong-kantong rahasia, saya jadi sadar, sebagai orang awam, saya hanya mengkonsumsi sekitar 40% saja dari kebenaran. Itupun yang terangkat di media—belum termasuk kejadian-kejadian yang tidak (diizinkan) diangkat media. Saya jadi semakin tidak tahu apa-apa tentang negara ini—yang kelihatan baik-baik saja di media massa dan brosur pariwisata.

Itulah sebabnya saya kerap merasa lucu melihat keluguan dan kenaifan banyak orang tentang politik. Kalau komentar datang dari pendukung fanatik, it’s okay, goblok merupakan ciri lazim fanatisme. Tapi komentar datang dari ‘orang-orang pandai yang baik hati namun lugu’, yang senantiasa berpikir positif bahkan tentang politik. Kampanye anti-golput itu bagus, tapi menurut saya kampanye itu salah tanggap. Lanjutkan membaca Yang Bersemi Setelah Pemilu