Diari Puasa: Maafin Kami; Saya dan Kata

P10209

‘Diari Puasa’ adalah postingan-postingan yang TELAH saya terbitkan setiap malam, sampai malam lebaran. Cerita-cerita yang tidak jelas apakah hendak melucu atau mengajak berpikir. Tidak jelas pula apakah nyata atau imaji semata. Apapun itu, menulis adalah ibadah dengan dua pahala. Menulis kata, kita dapatkan satu, dan memberi inspirasi, kita dapatkan dua.

***

 

Akhirul kalam,

Minal ‘aidhin wal faizin.

Sempat ada beberapa kawan yang bertanya perihal Diari Puasa ini. Even dari manakah? Tidak, tidak, saya tidak ikut even mana pun. Diari Puasa adalah kisah saya yang menantang diri sendiri, bukan pihak lain yang menantang saya.

Saya seorang penakut, sejatinya. Bila ada tantangan menulis 30 hari dari orang lain dan saya gugur di tengah jalan, alangkah malunya saya. Bila saya yang menantang diri saya lalu saya gagal, saya bisa dengan mudah sembunyi muka. Jadi, karena saya penakut, lebih baik saya sendiri yang menantang diri saya. Kalau saya tidak bisa menang melawan diri saya sendiri, bagaimana mungkin saya bisa memenangkan tantangan orang lain?

Semacam itulah. Diari Puasa ini adalah cara saya berlatih konsisten.

 

Akhirul kalam,

Minal ‘aidhin wal faizin.

Diari Puasa juga adalah cara untuk menunjukkan, seberapa kaya saya dengan ide menulis, dan seberapa lihai saya meramunya menjadi tulisan. Dan ternyata saya miskin ide, juga tidak lihai. Di pertengahan, saya terengah-engah dan kebingungan harus mengulas tentang apa dan bagaimana. Akhirnya 80% postingan ini tidak lagi mengulas sisi Ramadhan-nya. Saya malah bicara tema ke-Islaman lain, dan tak jarang pula Totally OOT.

Itu mengindikasikan bahwa saya memang tumpul dan tidak bisa fokus. Saya tidak sepandai yang saya inginkan—jeli melihat ide unik dalam sebuah kejadian dan menceritakannya dengan cara yang menarik. Saya masih harus menempa diri.

 

Akhirul kalam,

Minal ‘aidhin wal faizin.

Diari ini juga lahir karena saya merasa usia saya takkan lama lagi. Perasaan itulah yang, setidaknya, selalu menusuk, dan membuat saya selalu berhati-hati. Semua kesia-siaan yang pernah saya persembahkan pada entah-siapa di jagad luas bernama dunia maya ini, sebisa mungkin saya hapus. Saya ingin menyisakan persembahan-persembahan yang bermanfaat dan menghibur saja. Agar orang mengenal saya karena sesuatu yang pernah menyentuh hati dan pikirannya. Agar orang mengenal saya karena saya pernah membuat mereka tertawa.

Namun saya bersyukur atas satu hal.

Saya lelaki malang yang dikekang dua perasaan. Sebuah perasaan cinta pada seseorang telah sedemikian kuat mengakar di dada, sampai-sampai saya tidak bisa bedakan ia dengan degup jantung saya sendiri. Di saat yang sama, sebuah perasaan bersalah pada seseorang telah terlalu tajam selalu mengiris hati, dan selalu menghantui. Meskipun akhirnya saya menemukan kedamaian baru dari seseorang yang sederhana, tapi kedua perasaan tadi (rasa cinta dan rasa bersalah itu) telah menjerat saya, dan membuat saya tidak terlalu sedih bila harus ‘dipanggil kembali’ dalam waktu dekat.

Maka bila pun usia harus tamat, semoga tamat dengan cara yang baik, dan saya memanfaatkan sedikit waktu yang tersisa untuk mengisi blog saya dengan hal-hal yang bermanfaat. Saya pikir, Diari Puasa ini adalah salah satu caranya.

 

Akhirul kalam,

Minal ‘aidhin wal faizin.

Pertama, Maafkanlah hidung mancung saya; saya tahu hidung saya memesona, dan bisa membuat kalian iri, mendengki, memendam, dan mengumpat: mengapa hidung seindah ini bisa mampir pada seseorang dengan tubuh pendek, gemuk, hitam, dan jelek seperti saya. Saya mewakili hidung saya meminta maaf karena membuat kalian bersorak-sorak dendam, menghina dan meng-kapok-kapoki saya karena saya ditinggal menikah oleh Raisa. Hidung saya tidak salah, saya mohon, maafkanlah dia.

Kedua, maafkanlah tindak-tanduk saya dan kata-kata, lewat Diari Puasa sepanjang Ramadhan ini, dan atau semua postingan-postingan saya. Tidak mungkin seseorang bisa mengendalikan secara penuh sikapnya, sehingga lepas dari salah. Betapapun ia sudah berhati-hati. Baginda Nabi Saw. saja ditegur Allah dalam beberapa kejadian. Maka maafkan segala yang pernah terjadi di blog bangicalmu.wordpress.com ini. Saya seorang sombong, tukang tipu, tukang pamer, congkak, pengejek ulung, penyindir pedas, tidak sudi merasa kalah—semua itu saya tunjukkan lewat kata-kata. Maka maafkanlah, kumohon.

Ketiga, saya ingin berdoa untuk kita semua. Saya hampir tidak pernah berdoa bila itu untuk diri saya sendiri. Saya malu pada Allah. Tapi saya tidak pernah segan berdoa bila itu untuk orang lain. Apa doa saya? Rahasia, tapi insya Allah saya tulus mendoakan yang baik-baik, maka tolong aminkan saja, ya.

Di dunia ini, sebaiknya kita tidak mencari apapun kecuali dua: keselamatan dan kebahagiaan. Kedua hal itu hanya dan hanya bisa ditemukan dalam hal-hal sederhana. []

Diari Puasa: Hakikat Baca Qur’an

2-quote-about-mengetahui-sesuatu-dan-memahami-segala-sesuat-image-background-image

‘Diari Puasa’ adalah postingan-postingan yang akan saya terbitkan setiap malam, sampai malam lebaran. Cerita-cerita yang tidak jelas apakah hendak melucu atau mengajak berpikir. Tidak jelas pula apakah nyata atau imaji semata. Apapun itu, menulis adalah ibadah dengan dua pahala. Menulis kata, kita dapatkan satu, dan memberi inspirasi, kita dapatkan dua.

***

 

Pengantar

Bulan Ramadhan menjadi istimewa bukan karena di bulan itu umat Islam disyari’atkan berpuasa sebulan penuh.

Bulan Ramadhan menjadi istimewa karena di bulan itu Allah menurunkan al-Qur’an; yang di dalamnya terdapat petunjuk serta penjelasan rinci mengenai petunjuk tersebut; juga, sebagai pembeda antara kebenaran dan kebathilan; karena itulah, kita diminta berpuasa dan mengagungkan Allah atas petunjuk-petunjuk itu (al-Baqarah: 185).

Menurut riwayat jumhur, al-Qur’an diturunkan pada Nabi Muhammad—secara berangsur-angsur, namun pertama kalinya adalah—pada 17 Ramadhan Sebelum Hijrah. Itulah yang oleh Guru saya disebut sebagai ‘alQur’an kecil’.

Lantas, di manakah ‘al-Qur’an besar’ berada?

 

Al-Qur’an Besar

Menurut guru saya, al-Qur’an besar adalah seluruh alam semesta ini. Semua yang maujud (yang ada) selain wujud-Nya.

Lanjutkan membaca “Diari Puasa: Hakikat Baca Qur’an”

Diari Puasa: Ali Imran 190-191

2765258303_584f695f72
Bagaimana bila kukatakan padamu bahwa, antara gelap dan terang, keduanya adalah cahaya Allah?

‘Diari Puasa’ adalah postingan-postingan yang akan saya terbitkan setiap malam, sampai malam lebaran. Cerita-cerita yang tidak jelas apakah hendak melucu atau mengajak berpikir. Tidak jelas pula apakah nyata atau imaji semata. Apapun itu, menulis adalah ibadah dengan dua pahala. Menulis kata, kita dapatkan satu, dan memberi inspirasi, kita dapatkan dua.

***

 

Malam ini adalah malam istimewa: malam ke 27 Ramadhan. Sesudah saya memposting tulisan ini, saya akan beranjak ke rumah Pak Guru, mungkin hingga sahur. Di malam istimewa ini, saya ingin menyajikan sebuah tulisan yang butuh kening berkerut. Di hadapan kebaikan dan keburukan, apa yang harus dilakukan? Tulisan ini ingin menjawab pertanyaan itu. Selamat membaca.

 

Wejangan Pak Guru

Seminggu lalu, saya pergi tadabbur ke rumah Pak Guru. Sudah lama tidak ke Pak Guru untuk pade bedodoq (saling uluk kesadaran) dan pade bedengah (saling uluk nasihat).

Awalnya saya tidak ada niat pergi ke rumah Pak Guru, kecuali tanggal 27 Ramadhan nanti (hari di mana saya menemukan lailatul qadr dalam pengertian yang lain, dua tahun yang lalu). Tapi, ‘sesuatu’ kemudian terjadi. Sehabis berbuka, perasaan saya tiba-tiba tak keruan, dada saya berdenyar. Bayangan ruang keluarga Pak Guru melintas di benak saya. Biasanya bila begini, Pak Guru sedang menginginkan saya ada di rumahnya.

Lekas saya berangkat ke rumah Pak Guru. Benar, Pak Guru memang sengaja memanggil saya. Beliau bahkan sudah membuat dua gelas kopi. Sepertinya beliau tahu muridnya ini sedang gundah. Saya memang sedang gundah, seminggu lalu.

Beberapa waktu duduk bersama Pak Guru, banyak beban di dada yang terangkat, meski tidak semua. Pak Guru memberi saya kabar gembira (basyiro) dan peringatan (nadziro).

Beliau meminta saya agar tak menyesali apa yang telah lalu, namun tetap bersungguh-sungguh introspeksi. Rahmat dan ampunan Allah sedemikian luasnya; Allah pun memenuhi diri kita; maka kita harus bersyukur dan bahagia. Allah juga Maha Mengetahui; Dia menuntut kita berjuang memperbaiki diri.

“Pengalamanmu itu (yang telah, yang sedang, dan yang akan), tak lain hanyalah ayat-ayat Allah yang harus dibaca. Ini hakikat membaca al-Qur’an,” ujar beliau, membuka hikmah.

“Waktu diberi Allah kesempatan berbuat baik, kamu jangan terlena. Waktu dibikin Allah terperosok ke kubangan dosa, kamu jangan terpuruk. Semuanya hanya ujian: sanggup ndak kamu, sebagai hamba, mengingat dan memuji-Nya?”

Pak Guru meminta saya menyimak dua ayat dalam al-Qur’an.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian gelap dan terang, tak lain dan tak bukan adalah ayat-ayat-Nya. Ia adalah tanda-tanda kebesaran bagi Ulil Albab.” (Ali Imran: 190).

Begitu bunyi ayatnya. Kemudian, saya diminta memerhatikan dua pasang ‘perbedaan’ yang disinggung di dalam ayat itu: langit-bumi, dan gelap-terang. Lanjutkan membaca “Diari Puasa: Ali Imran 190-191”

Diari Puasa: Cobalah

Kemurahan-Kebaikan-Lukas-6-35

‘Diari Puasa’ adalah postingan-postingan yang akan saya terbitkan setiap malam, sampai malam lebaran. Cerita-cerita yang tidak jelas apakah hendak melucu atau mengajak berpikir. Tidak jelas pula apakah nyata atau imaji semata. Apapun itu, menulis adalah ibadah dengan dua pahala. Menulis kata, kita dapatkan satu, dan memberi inspirasi, kita dapatkan dua.

***

Mungkin Diari kali ini adalah Diari Puasa yang terpendek. Bukan karena saya malas, tapi karena saya tidak punya kalimat apapun lagi untuk menjelaskannya dengan baik.

Apalah yang kita cari di dunia ini selain dua: keselamatan dan kebahagiaan. Terkhusus kebahagiaan, kadang kita lebih banyak mencarinya dalam diri kita sendiri. Alangkah beruntungnya orang-orang yang bi(a)sa menemukan kebahagiaan dalam diri orang lain.

 

***

Pada suatu siang yang terik, sebutlah seorang perempuan bernama Hani, masuk ke dalam sebuah minimarket. Di parkiran minimarket itu Hani melihat seorang ibu sedang mengaduk dan memilah sampah di tong sampah. Hani, setelah mencomot minuman yang ingin dibelinya, turut mengambil minuman segar lainnya. Selesai membayar, Hani keluar, dan menghampiri ibu itu.

Hani tidak ingin memberi dengan cara orang sombong: yakni mereka yang memberi sesuatu sambil lalu. Hani menghampiri Ibu itu, jongkok di hadapannya, dan tersenyum. Hani menyapa, dan memberikan Ibu itu minuman yang tadi dibelinya.

Hani bersihadap dengan seorang manusia, sepenuhnya; menemukan senyum bahagia mengembang dari wajah kusam yang penuh peluh. Senyum yang memperlihatkan gigi-gigi tak terawat. 

Ibu itu berterima kasih, dan Hani, setelah menyentuh bahu Ibu itu dengan penuh penghargaan, pamit. Ibu itu kemudian mendoakan Hani segala kebaikan.

 

***

Hani merasakan satu sensasi kebahagiaan yang benar-benar baru, dengan hal sederhana yang tadi dilakukannya.

Hani tidak sedang membeli baju baru; tidak sedang menghiasi meja makan dengan takjil dan menu berbuka serba lezat; tidak sedang pelesiran. Dalam kejadian barusan, Hani tidak sedang mencari kebahagiaan untuk dirinya.

Hani hanya memberi kebahagiaan untuk orang lain. Dan sensasi kebahagiaan baru itu menjalari hatinya, memenuhi dadanya. Ia teringat orang tuanya, teringat saudara-saudaranya, yang ingin ia bahagiakan. Hani berdoa, semoga kelak ketika ia atau keluarganya atau temannya mengalami kesusahan, akan ada manusia-manusia baik yang mau mengulurkan sedikit kemudahan.

 

***

Oya. Diari ini berjudul: cobalah. Mungkin di sisa waktu Ramadhan ini, sensasi yang dirasakan nanti jauh lebih berharga. []

 

Diari Puasa: Mengeja Darin

img_20160620_163436

‘Diari Puasa’ adalah postingan-postingan yang akan saya terbitkan setiap malam, sampai malam lebaran. Cerita-cerita yang tidak jelas apakah hendak melucu atau mengajak berpikir. Tidak jelas pula apakah nyata atau imaji semata. Apapun itu, menulis adalah ibadah dengan dua pahala. Menulis kata, kita dapatkan satu, dan memberi inspirasi, kita dapatkan dua.

***

 

Istimewa Lewat Tulisan

Banyak hal yang menjadi sakral dan istimewa dalam Islam, setelah diangkat oleh al-Qur’an. Misalnya: bulan puasa (syahru romadhon); dua puluh lima nabi dan rasul; hamba-hamba selain rasul yang menjadi kekasih istimewa Allah (seperti Khidir, dan seorang lagi yang men-teleportasi singgasana Ratu Balqis); dan masih banyak lagi.

Bahkan sosok bandel seperti Abu Lahab dan Fir’aun, menjadi ‘ayat istimewa’ setelah diangkat al-Qur’an. Dari situ saya belajar bahwa, bila kita ingin mengangkat sesuatu atau seseorang dan menjadikannya istimewa, lakukanlah lewat tulisan. Saya bisa mengenalkan siapa saja dengan cara demikian.

Saya bahkan bisa mengenalkan nasib receh 100 rupiah yang sudah lima bulan mendekam dalam dompet saya, lantaran tidak pernah bisa dipakai. Pernah saya keluarkan receh 100 rupiah itu untuk parkir, dan ia girang. Abaaaang, Abaaaang! Teriaknya. Tapi saya masukkan lagi karena teman saya sudah membayarkan parkirnya. Receh 100 rupiah itu muntab luar biasa.

 

***

Oke, cukup basa-basinya. Mari kembali ke tulisan ini.

Tulisan saya kali ini sebenarnya sudah terlalu terlambat untuk diposting. Saya menulisnya untuk memeringati ulang tahun sahabat saya, Darin. Kemudian berkonspirasi kecil dengan adik Darin, si Syifa, yang ingin mencetak buku sebagai hadiah ulang tahun kakaknya. Saya berikan tulisan saya sebagai pengantar, dan ternyata judul tulisan saya dijadikan Syifa sebagai judul bukunya.

“Mengeja Darin”, bukunya warna putih. Hihihi. Lanjutkan membaca “Diari Puasa: Mengeja Darin”

Diari Puasa: Al-Qur’an Pun Bercerita

15306563_963686117066155_3033480365453869056_n
Syahria Tara Dhiya’ulia. Temanku.

‘Diari Puasa’ adalah postingan-postingan yang akan saya terbitkan setiap malam, sampai malam lebaran. Cerita-cerita yang tidak jelas apakah hendak melucu atau mengajak berpikir. Tidak jelas pula apakah nyata atau imaji semata. Apapun itu, menulis adalah ibadah dengan dua pahala. Menulis kata, kita dapatkan satu, dan memberi inspirasi, kita dapatkan dua.

***

 

Menjadi Pencerita

Tadi pagi Tara, teman sekelas saya selama 4 tahun kuliah di Fakultas Agama Islam UMM, bercerita bahwa belakangan ini dia mendadak menjadi tukang cerita di sebuah sekolah milik Muhammadiyah. Kadang dia bercerita ke murid-murid, kadang malah bercerita ke ibu-ibu guru.

Terakhir, Tara nyeletuk, “Ndak jelas banget ya pekerjaanku.”

Wah, Tara, kamu salah besar.

Jadi, Tara adalah bagian dari keluarga besar ES-TELER; nama angkatan yang tergabung di Kelas B Syari’ah 2011. Berbeda dengan kelas sebelah yang elitis-hedonis, kelas B lebih katrok, ndeso, ketinggalan jaman; tapi kekompakannya terbangun dalam akademik. Urusan wacana ke-Syari’ah-an, kami unggul. Berbeda dengan kelas sebelah yang sering meminta maaf berjama’ah pada dosen yang sakit hati, kelas B tidak pernah punya masalah dengan dosen manapun.

Kelas B terbiasa berbahagia dengan cara-cara sederhana. Anak perempuannya sering masak di kos, dan para lelaki membawa kertas nasi. Mereka menggelar acara prasmanan mendadak dalam kelas. Pernah seorang dosen bergabung, ikut prasmanan, jongkok di lantai.

Bahkan nama ES-TELER lahir dari suatu kejadian yang mulia, yakni dianugerahinya Bahri, anggota kami, sebagai Mahasiswa Baru terbaik. Uang penghargaan itu digunakannya untuk mentraktir kami semua es-teler di pojok lapangan belakang kampus. Sayangnya saat itu saya sedang puasa, jadi saya mengutuk Bahri dalam hati karena tidak koordinasi dulu tidak bisa mencicipi. Tapi, itulah asal muasal ES-TELER.

Manusianya unik-unik: ada Yuni of Alor, yang uang sakunya setiap bulan hanya 200.000 rupiah, dan dia bisa bertahan hidup lebih dari cukup, berprestasi pula; ada Mi’rajun of Bondowoso, pecinta fishing yang kocak dan pemikiran-pemikirannya brilian; ada Zulkarnaen of Aceh, yang alunan Qur’annya merdu sekali; ada Khusnul Khuluq of Bojonegoro, yang dulunya bersikap sangat dingin dan perlahan menjadi pribadi yang hangat; ada Vian of Ponorogo yang bijaksana; ada Kumaliah of Blitar, si ketua kelas abadi lantaran begitu rajin dan baik hatinya dititipi absen; dan masih banyak lagi.

Sementara Tara, adalah gadis yang cerewetnya minta ampun, menempuh dua kuliah sekaligus (Syari’ah dan Hukum), dan tegar. Dulu, saat Tara ditinggal Sang Ayah, kami sekelas berbela sungkawa ke rumahnya di pesisir pantai utara, Paciran, Lamongan. Tara gadis sederhana dari keluarga yang jauh dari kata kaya, tapi ia menyambut kami dengan sesungging senyum yang tidak pudar meski baru saja kehilangan tulang punggungnya.

 

Seni Bercerita

Bercerita, baik verbal maupun tulisan, sama sekali tidak mudah. Tara yang (meski bercanda) merasa ‘kegiatan bercerita’ sebagai kegiatan yang gaje, buat saya, mesti diluruskan. Saya sendiri selalu ingin punya kemampuan bercerita yang hebat. Alasannya ada beberapa.

Lanjutkan membaca “Diari Puasa: Al-Qur’an Pun Bercerita”

Diari Puasa: Menjadi Aseli

1plagiat1

‘Diari Puasa’ adalah postingan-postingan yang akan saya terbitkan setiap malam, sampai malam lebaran. Cerita-cerita yang tidak jelas apakah hendak melucu atau mengajak berpikir. Tidak jelas pula apakah nyata atau imaji semata. Apapun itu, menulis adalah ibadah dengan dua pahala. Menulis kata, kita dapatkan satu, dan memberi inspirasi, kita dapatkan dua.

***

 

Kisah Kasih Konyol di Sekolah

Ada cerita usang yang selalu saya ulang-ulang, yang terjadi waktu saya masih SMA. Waktu itu Ust. Surdi, guru pelajaran Biologi, berdiri di depan kelas, sedang bersemangat menjelaskan aneka kandungan kebaikan dari buah-buahan. Ust. Surdi orangnya tinggi besar, hitam, janggutnya lebat, dan suaranya menggelegar—tapi ramah. Suasana kelas selalu ceria.

Lalu Ust. Surdi bertanya tentang “Buah yang kandungan airnya banyak”. Murid-murid diminta menyebutkan satu-satu buah semacam itu yang mereka tahu.

“Timun, Stadz!”

“Tomat, Stadz!”

“Pir, Stadz!”

Kelende, Stadz!” Kelende adalah semangka.

Puntiq, Stadz!” Seseorang berseru, dan langsung disoraki. Puntiq adalah pisang.

“Anggur, Stadz!” Lalu banyak yang menyebut kawan-kawan anggur seperti murbey. Ada yang menyebut kelengkeng, tapi Ust. Surdi bilang bahwa kelengkeng adalah kawan-kawan rambutan.

Saya angkat tangan. “Ada satu lagi, Stadz.”

“Iya, apa?”

Saya menjawab lantang dan penuh percaya diri. “Kelapa!”

Lalu kelas mendadak hening.

Ust. Surdi tersenyum tipis. Dia ingin membantah—menurut teori dan buku, jelas saya salah. Tapi beliau seperti kehabisan kata-kata. Sedangkan saya, masih membusungkan dada—perut saya belum membusung, waktu itu—dan merasa benar. Lho, kalau tidak dianggap punya kandungan air yang banyak, kenapa hanya air kelapa selalu diincar sebagai minuman? Bukan air timun, atau air pir?

 

Menjadi Aseli

Ketika saya mengajukan buah kelapa sebagai jawaban, yang sebenarnya saya lakukan adalah ingin menyediakan jawaban berbeda dari yang disediakan buku. Saya ingin menjadi aseli. Meskipun memang tidak ada yang asli di bawah matahari (injil, pengkhotbah: 9-10). Semua yang disebut orisinil sebenarnya hanyalah rangkaian inspirasi dari hal-hal yang pernah ada sebelumnya. Tapi, tetap saja, menjadi aseli itu penting.

Lanjutkan membaca “Diari Puasa: Menjadi Aseli”