Haji

Saya punya teman, namanya Reza Nufa. Saya menyapanya Bang Eja. Ia tangan kanan Pak Edi Iyubenu untuk Penerbit Basabasi. Di pergaulan sastra Indonesia, sepertinya tidak ada yang tidak kenal Bang Eja. Tapi lepas dari itu, saya hormat padanya karena ia seorang pembaca, penulis, dan perenung yang ulung.

[saat saya mengagumi seseorang, ada ciri yang tidak bisa saya bendung. bila bertemu orang itu, saya lebih banyak diam. karena kalau saya bicara, pasti belepotan]

Saya takkan lupa bagaimana saya mengenal Bang Eja. Dia muncul di depan rumah saya pukul dua pagi, dengan pakaian compang-camping, kurus, dekil, dan bau keringat yang masyaallah. Nyawa saya belum pulih saat saya membukakannya gerbang. Bang Eja berdiri memanggul kerilnya, nyengir. Saya ikut nyengir, menyuruhnya masuk.

Perlu saya sampaikan: orang ini sudah hampir tiga bulan berjalan kaki dari Jakarta ke Lombok. Baru tiba malam itu.

Lanjutkan membaca Haji

Adik

IMG_20200513_004814
Foto Kunu di kopdar pertama kami.

Kemarin, di Bulan April, adikku Kunudhani berulang tahun.

Aku berdoa untuknya di waktu magrib. Aku berdoa agar kebaikan melimpah di sekujur hidupnya. Agar berkah langkah-langkahnya. Agar mudah impiannya. Agar resah dihapus dari hatinya. Agar orang-orang baik selalu di sekitarnya.

Biasanya aku berdoa hanya sekali untuk satu permintaan. Malu aku sama Tuhan, untuk suatu alasan. Tapi doa untuk Kunu kuulang hingga tiga kali. Aku tak malu, sebab doa itu untuk adikku sendiri.

Kemudian, kuucapkan selamat ulang tahun padanya. Kutanyakan, ia ingin kado apa. Aku bisa mengirimkannya sesuatu dari Lombok. Kunu bilang tidak perlu kado-kadoan; doa sudah menjadi kado terbaik, selain persaudaraan kita yang mudah-mudahan selamanya. Lanjutkan membaca Adik

Award

liebster-award-2

Saya tahu blog saya diberi award oleh Abang Morishige tanpa sengaja. Sejak tahu blog abang yang fasih jalan-jalan ke luar negeri sebagai traveler ini, saya memang suka ngintip, suka baca blognya. Soalnya dia kalau cerita perjalanan detil banget, jadi saya berasa kayak ikut jalan-jalan. Nah, suatu kali iseng intip tulisan terbaru beliau, saya kaget karena nama saya ada di situ, dan blog saya diberi award. A-w-a-r-d.

Kan surprise yak? Padahal isi blog saya apa coba. Saya terharu dong.

Ojeh, jadi begini.

Terima kasih kepada Abangda Morishige yang sudah menominasikan blog ini. Saya terima award ini dengan hati senang. Saya berharap, mereka yang blognya saya nominasikan di sini juga menerimanya dengan senang, ehehehe. Lanjutkan membaca Award

Serong

IMG_20200421_113627

Beberapa waktu lalu Kak Momo menyuruh saya menonton film “The World of The Married”. Dikiriminya saya poster laki-laki yang sedang membuka rok perempuan semlohai berpaha putih. Tapi, Kak Momo menyuruh saya nonton film itu supaya dia punya teman misuh. Lah, sebenarnya film ini tentang apa, sih?

Setelah dapat filmnya, akhirnya saya nonton. Oala, ternyata film tentang lelaki serong. Persis kata Kak Momo, saya memang misuh. Tapi, saya misuh bukan karena serongnya suami si tokoh utama. Saya misuh karena film ini―terutama script-nya―memang mancing emosi.

Cuma, saya misuh secukupnya. Sebab di dalam film itu yang diselingkuhi adalah perempuan. Jujur, itu agak mainstream. Dunia film sejak dulu memang lebih ramai mengangkat kisah lelaki serong. Pasti laku buat gosip. Padahal, perempuan serong juga banyak. Lanjutkan membaca Serong

Barang

IMG-20190723-WA0031

Ada yang lebih dari sekadar materi, dari barang-barang kita. Sandal bukan sandal. Baju bukan baju. Emas bukan emas. Barang-barang kita punya daya misterius yang bagi saya cukup mengundang nganga―dan berbahaya. Melihat dan menyadari daya misterius itu membuat hati saya ngilu. Saya ingin membuang banyak barang saya. Lanjutkan membaca Barang

Pret

IMG_20200322_083343

1/

Sudah 14 hari saya pulang ke Lombok. Sebenarnya saya tidak ingin pulang. Selain harus mengurus pendaftaran wisuda, saya ingin melewati masa kritis Corona di Kota Malang bersama-sama. Tapi kampus saya ditutup, macem mane awak ni nak ngurus administrasi? Lagipula, rumah sedang membutuhkan saya.

Meski di rumah kami berusaha keras mengikuti protokol sterilisasi, tapi kami tidak bisa benar-benar mengkarantina diri. Rumah sedang diperbaiki, dan ada saja keperluan yang mengharuskan kami keluar. Sesekali keperluan itu saya manfaatkan untuk jalan-jalan.

Tanggal 6 April, saya mulai mengajar sosiologi di Madrasah Aliyah Alam Sayang Ibu (MSI). Online, tentu. Sejak kemarin saya menyiapkan bahan ajar: mengumpulkan artikel, buku dan video terbaik, menyusun kata kunci dan penjelasan yang mudah dipahami.

2/

Sejujurnya, semangat saya sedang lindap. Terutama untuk menulis dan membaca: melakukan keduanya saya harus bersikeras. Bahkan untuk menonton film pun saya agak ogah. Selama di rumah, hidup saya datar saja, seperti 3 paragraf di atas. Haruskah saya membuat kelas menulis online? Pret. Tulisan saya saja masih keruntang-pukang. Lanjutkan membaca Pret

Suara

IMG_20190815_105625

Suara bapak saya keren. Bila ia bicara, jantan sekali. Keluarga, kolega, semua mengakui. Dia sering diundang sebagai pembicara nasional, hingga bahkan petinggi pemerintahan di Jambi, Kalimantan dan Sulawesi mengaguminya. Mereka senang mendengar bapak bicara. Sering secara sengaja ia dijadwalkan di siang hari, di jam ngantuk, karena siapa saja yang mendengarnya bercerita, pasti tidak jadi mengantuk.

Kalau dijelaskan, bisa dibilang suara bapak berat tapi ringan; seperti ada sedikit deram namun dengan tone yang lembut. Bila suara bisa divisualkan, mungkin suaranya seperti batang bambu hijau yang selongsongnya diisi air. Keras-keras sejuk. Di instansi tempatnya bekerja, ia berjuluk “penyiar radio favorit”.

Sayang, suara bapak tidak terwariskan. Lanjutkan membaca Suara