Serial Surat-Sirat: Menemukan Semangat

4-kebahagiaan-27023

Menemukan Semangat

Hai, Gita. Apa kabar?

Kamu yang suka meminum susu, pasti sehat selalu. Gita, ada yang lucu setiap kali kubayangkan dirimu menyeduh air dan membuat susu. Entahlah apa yang lucu itu: tingkahmu? Entahlah. Engkau bak potret buram di mataku. Buram yang menyala.

Lupakan itu.

Sore yang indah, Gita. Sore nanti kupastikan menjadi sore yang indah. Sore menjadi lapang ketika kita tidak sedang banyak berpikir. Tepatnya, ketika kita tidak ingin. Ah, manusia, Gita, manusia semestinya belajar menyediakan waktu untuk menemukan dirinya sendiri mengalir dalam waktu, bukan sibuk memikirkan yang lain.

Jadi, sebelum kita menyambut sore, aku ingin bercerita sedikit padamu.

Aku pernah, Gita, pergi ke pantai bersama baju dan celanaku. Kami bertiga hanya duduk bengong di tepian, jauh dari titik yang ramai orang-orang. Aku berbaring telentang, agar baju dan celanaku bisa bermain dengan pasir. Sementara aku bisa membebaskan mataku dari segala yang berbau daratan dan lautan. Mataku menemui makhluk yang lain: langit.

Di mataku hanya ada langit. Sosok bak raja, yang lengkungannya merangkul barat dan timur, mengasuh utara dan selatan.

Awan yang berarak pelan adalah cinta yang pernah bertepuk sebelah tangan, sementara jingga adalah kasih sayang yang menenteramkan jiwa-jiwa yang patah dan merana. Matahari adalah amarah yang indah dan menumbuhkan apa-apa yang hidup. Beburungan yang terbang adalah kebebasan yang orang takut menggapainya. Angin adalah seorang kakak yang mengasuh tanpa merasa perlu mendapat pengakuan. Dan langit adalah ibu; langit adalah kesabaran tak bertepi, adalah penerimaan atas segala yang terang dan gelap.

Hanya langit yang diberi kemampuan seperti itu oleh Tuhan, Gita. Hanya langit yang menampung rahasia, lebih dari yang bisa ditampung lautan. Rahasia selalu aman bersama hati yang luas, sehingga suara sebesar apapun akan selalu menjelma sunyi. Tapi aku ingin kamu menyadari kenyataan kecil ini, Gita: bahwa manusia diciptakan lebih sempurna, lebih dari semua ciptaan Tuhan yang lain.

Baik aku dan kamu, bisa menjadi seluas langit. Kita hanya perlu belajar, bukankah? Belajar pelan-pelan, tertatih-tatih. Tersenyumlah karena kita bisa melakukan apa saja, Gita.

Lalu, di manakah semangat?

Di antara semua yang ditampakkan langit, di manakah semangat?

Mataku berputar-putar mencarinya, Gita. Kulihat sang ibu, yakni langit, dan segala yang ia kandung: awan, senja, matahari, angin, dan beburungan. Kemanakah perginya semangat?

Gita yang selalu berjuang.

Pertanyaan ini sudah lama menguras sisi emosionalku. Telah kusediakan waktuku, tak terhitung sudah berapa kali, untuk hening dan mengalir dalam waktu. Kuharap, heningku akan membawaku pada jawaban. Aku dan kamu, Gita, tahu bahwa hening berbicara lebih banyak daripada suara. Tapi aku tetap kesulitan menemukan jawabannya, Gita.

Sampai suatu hari, saat aku senang melebur sambil berbaring, sesuatu menggangguku. Suara seorang bocah berlari.

Kulihatnya melompat ke dalam air, Gita. Tapi nampaknya ia tidak bisa berenang. Ia terseret ke dalam, tapi berhasil menyelamatkan diri. Bocah itu kesaruq—ah, maafkan aku: ‘kesaruq’ itu bahasa pulau kami untuk menyebut terbatuk-batuk karena kemasukan air. Sudah paham, kan?

Gita, bocah itu tetap mencoba, mengulang-ulang proses yang sama. Dia terseret lebih jauh, tapi berhasil selamat dan menggapai daratan. Saat itu aku sudah siap menolongnya. Setelah beberapa kali, bocah itu tertawa dan kembali ke pesisir. Ia berbaring, sama sepertiku. Bocah itu tertawa.

Saat itu aku menemukan jawabannya, Gita. Semangat tidak diletakkan Tuhan di langit. Semangat diberikan untuk di bumi.

Semangat ada pada pohon yang menikmati tumbuhnya pelan-pelan. Semangat ada pada batu yang menjalani hidupnya dengan diam dan pasrah. Semangat ada pada air yang selalu mencari jalan. Semangat ada pada semut yang selalu bersama-sama dan riang menyapa.

Semangat ada pada manusia. Pada diriku dan dirimu, Gita. Dalam dadaku dan dadamu. Dalam detak jantungku dan jantungmu yang berdetak. Dalam denyut nadiku dan nadimu yang berdenyut tetap. Dalam darah yang berdesir ketika kita saling menatap. Semangat ada pada pilihan kita yang selalu ingin bertahan menjadi orang baik, meskipun nasib baik tidak memihak kita.

Semangat ada pada manusia yang tidak menyerah.

Gita,

Maukah engkau menjadi semangat untuk dirimu sendiri? Karena aku yakin, engkau pasti bisa. Engkau nyanyian yang berharga. []

Istilah ‘Neneq’ Dalam Suku Sasak

masjid-kuno
Masjid Bayan Beleq, Masjid pertama di Gumi Lombok. Ada di Desa Bayan, desa pertama yang dimasuki Islam (Bayan berasal dari bahasa Arab yang berarti ‘penjelasan’)

Ada satu orang yang bertanya pada saya via WA, kenapa saya tidak mengucapkan Selamat Hari Raya Nyepi di facebook. Dulu saya memang punya tradisi menunjukkan penghormatan pada hari raya agama lain, seperti Natal, Waisak, dan lain-lain. Selain karena saya memang punya kawan, saya juga merasa menunjukkan penghormatan secara terbuka adalah suatu keharusan.

Sekarang, pendapat sudah berubah: penghormatan saya tunjukkan hanya secara langsung. Jadi, dalam konteks Hari Raya Nyepi ini, saya langsung mengirim WA pada kawan-kawan saya yang beragama Hindu: “Selamat nyepi, bro. Yang khusyuk ‘tapa brata’-nya. Temukan kesejatian.” Kata saya. Beberapa orang menelepon, dan kami ngobrol lama. Satu orang teman SD saya yang namanya Komang, bertanya tentang “bagaimana melebur dalam jagadita Sang Hyang Tunggal”. Itu pertanyaan sulit. Saya berikan pengertian bagaimana Islam (tasawwuf) memandang apa sih hakekat ‘Yang Tunggal’ itu. Menurutnya, gagasan dari Islam yang saya sampaikan cukup membantu.

Saya merasa, menyampaikan penghormatan secara langsung, akan lebih bagus. Kalau memang punya teman, sampaikan langsung. Memberi ucapan selamat secara terbuka di media sosial, dalam pengalaman saya, rawan jatuh pada narsisme intelektual. Banyak yang mengucapkan selamat semacam itu, saya temukan rentan “hanya ingin terlihat berbeda” (memahami hikmah lebih dari yang lain).

Apalagi, kalau tidak punya teman, tapi mengucapkan ini itu. Lantas asyik balas mendebat teman-teman seagamanya yang tidak suka melihatnya mengucapkan selamat. Ujung-ujungnya, ribut. Jadi, lebih baik tidak usah.

***

Di Lombok, ada banyak orang Hindu.

Gumi (tanah) Lombok pernah dijajah Bali pada abad ke-17. Sejak penjajahan itu, ada banyak sekali struktur sosial yang berubah di masyarakat Suku Sasak. Sistem kebangsawanan terbuka (dimana semua orang bisa menjadi bangsawan, sesuai dengan kapasitas yang dia tunjukkan semasa hidup) diubah menjadi sistem kebangsawanan tertutup (sistem trah, dimana seseorang disebut bangsawan hanya jika ia lahir dari rahim seorang bangsawan). Peraturan itu dikeluarkan Kerajaan Bali untuk menekan kelahiran para kesatria yang bisa mengancam kedudukan Kerajaan Bali di Gumi Lombok.

Ada banyak data sejarah, yang saya diskusikan bersama seorang Begawan Sasak, Mamiq H. Lalu Anggawe (yang saya anggap sebagai guru dalam kebudayaan Sasak). Kedatangan Bali adalah titik dimana jejaton (jati diri) Orang Sasak mulai dilupakan. Bahkan Orang Sasak sudah ragu bahwa darah mereka adalah darah suku yang tidak pernah punya rekam jejak politheis (bertuhan banyak). Sejak manusia pertama yang hidup di Gumi Sasak, mereka yakin kekuatan yang Tunggal.

Mereka, para leluhur kita, menyebut Tuhan dengan sebutan ‘Neneq’. Asal katanya adalah ‘Ne’ (harta paling berharga), dan ‘Neq’ (lubuk hati terdalam). Mereka, para leluhur, percaya bahwa hakikat yang paling hakikat dari keimanan tidaklah terletak pada wujud, melainkan pada pengakuan dalam hati. Karena Neneq (Tuhan) bermartabat ada dimana-mana, meliputi dan memenuhi semuanya, serta tidak serupa dengan satupun yang berwujud di dunia. Apa yang ada di langit dan bumi hanyalah percikan kekuatannya. Maka ia disebut, ‘Neneq Kaji’, Tuhan yang Maha Mampu Melakukan Segalanya.

Keyakinan ini sama dengan keyakinan leluhur Jawa (seringkali dibahas oleh Sejarawan Jawa Agus Sunyoto), yang bernama ‘Kapitayan’: sebuah keyakinan yang menyembah Sang Hyang Taya. Agama ini, sebagaimana agama kuno Nusantara, seringkali secara tidak adil didiskreditkan menjadi ‘animisme-dinamisme’ (sebutan ilmu sosial Barat yang dengan bangga kita diadopsi untuk memandang sejarah leluhur kita sendiri). Sang Hyang Taya memiliki kemiripan konsep dengan Neneq, tapi penganutnya menafsirkannya berbeda: karena Sang Hyang Taya ada di semua wujud, maka semua wujud boleh jadi merupakan medium penyembahan (Batu, Pohon, dll). Berbeda dengan Jawa yang menafsirkan Tuhan dalam bentuk wujud, Sasak menafsirkannya dalam bentuk pengakuan.

Karenanya, Islam bisa dengan begitu mudah masuk ke Gumi Lombok. Saat itu, tugas Islam (tasawwuf) hanya satu: mengenalkan pada orang-orang Sasak bahwa yang mereka sebut dengan Neneq selama ini sebenarnya bernama Allah.

Neneq adalah konsep, dan nama dari konsep itu adalah Allah. Allah sendiri yang mengenalkan dirinya sendiri dalam al-Qur’an. Karena kesamaan konsep ketuhanan dalam alam kosmologis masyarakat Sasak dengan al-Qur’an inilah, masyarakat Sasak berbondong-bondong masuk Islam.

Sampai sekarang, Orang Sasak masih menyebut Allah dengan sebutan Neneq Kaji, tapi jadi lebih panjang. Biasanya muncul saat Orang Sasak mengelus dada karena peristiwa yang menguras kesabaran. Suaranya meninggi, dan mereka berseru: Eee Neneq Kaji Siq Bekuese Allah Ta’ale!

Ah, indah nian kalimat itu. “Ooooh, Tuhanku yang maha kuat dan berkuasa, Allah Ta’ala!”

040920111630
Saya di Masjid Bayan pertama kalinya, 2010 (waktu badan mulai membengkak)

Bila Usai

Mojok Usai

Tanggal 28 Maret, salah satu media yang mewarnai jagad media sosial saya, yaitu Mojok.co, akan tutup usia. Websitenya akan di-shut down, dan ma’a al-salamah, Mojok.

Di Mojok saya membaca tulisan para penulis dengan ide yang begitu segar dan selera humor yang banyak bikin ngakak. Absurd, tapi tajam mengupas realita. Saya begitu terinspirasi membuat ‘Mojok yang lain’ di Lombok.

Waktu website KCB digagas dan sedang disiapkan, saya getol hendak memelajari manajemen media online sesegar Mojok. Saya kan tidak punya pengalaman bekerja di dunia jurnalisme (dan ini hal yang saya sesali: tidak sempat aktif di dunia pers kampus), saya buta banget tentang manajemen media online. Mulai dari hal teknis seperti: Apa itu redaksi? Apa itu tajuk rencana? Ada bedanya nggak, wewenang seseorang berstatus editor dengan peyunting? 

Atau persoalan yang lebih pelik: “Darimana website dapat duit buat honor penulis?”. Atau misal yang lain: “mungkin tidak, membuat media online dengan konsep swatulisan

(Ah, perlu dijelaskan bahwa swa-tulisan adalah bahasa bijak dari ‘menulis di web tersebut tanpa dibayar’. Sampai sini, anda paham maksudnya).

Saya menemukan jawaban-jawabannya di Mojok dan Kepala Sukunya, Mas Puthut EA, cerpenis kondang itu. Tapi jawaban-jawaban itu masih kulitnya saja. Saya masih ingin mengamati dan belajar pelan-pelan. Eh ternyata Mojok keburu akan ditutup (sedikit informasi rahasia, Mojok ditutup karena tekanan ‘negara’ pada Puthut EA secara personal selama beberapa bulan terkahir).

“Mojok dibuka dengan bahagia, dan akan ditutup dengan bahagia juga.” Kata Mas Puthut EA.

Jujur, saya sedih. Dada saya sesak. Saya ingin menangis. Bukan karena saya memuja Mojok, dan menjadi pembaca Mojok sejak 2014 akhir. Tapi saya bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi keluarga Mojok: dalam sejumlah tulisan ‘pamit’ di Mojok, semua bernada sedih dan haru. Kenyataan bahwa kita akan segera berpisah dengan sesuatu/seseorang yang telah menjadi bagian dari keseharian kita, rasanya memang begitu sakit.

Kalimat Mas Puthut EA memang benar. Segala sesuatu akan usai. Segala sesuatu akan berpisah. Hadapilah dengan bahagia. Tapi biasanya, ketika dikatakan begitu untuk menghibur, justru sakitnya terasa 2x lipat.

KCB-Mataram Usai?

Bagaimana bila KCB yang usai?

Beberapa orang bertanya pada saya via WA. Kenapa akun KCB-Mataram tidak pernah posting kegiatan apapun semingguan ini? Saya hanya membalas pesan WA tersebut dengan emot titik dua dan tutup kurung: tersenyum.

Saya tidak tahu. Dulu sempat akun FB dan Instagram KCB saya perlakukan sebagai akun pribadi. Kalau tidak ada pengumuman atau dokumentasi, ya saya isi dengan kampanye cinta baca. Setiap hari harus ada dua atau tiga status yang memberi wawasan dan atau kampanye cinta baca. Kenapa harus tiap hari? Untuk menjaga ingatan publik, bahwa gerakan literasi KCB masih sangat aktif.

Kalau belakangan ini sosmed KCB tiba-tiba kalem dan pendiam, saya tidak tahu. Saya sudah tidak lagi jadi admin apapun di sosmed KCB. Sudah bukan urusan saya.

Bagaimana bila KCB bubar? Karena inisiatif tumpul, mungkin. Atau karena: besar cinta tapi minim usaha keras dan pengorbanan untuk mempertahankan, misalnya. Banyak komitmen tapi lambat pembuktian, bisa jadi. Akhirnya ditinggal menikah (apa sih).

Ya, tidak apa-apa. Saya manut kata-kata Mas Puthut sajalah.

Sederhananya begini: komunitas boleh mati, boleh bubar, tapi ‘gerakan’ tidak boleh. Tradisi intelektual mesti jalan pada tiap-tiap pribadi, kepekaan sosial mesti diasah, kegetolan untuk terjun berkegiatan di masyarakat mesti dipelihara.

Itu saja pendapat saya.

Kamu: seriusan Bang, kalau KCB bubar ndak apa-apa?

Saya: ya, ndak apa-apa. Kasihan bila harus dikelola orang yang besar mulut tapi kecil usaha, macam saya ini. []

Membaca di Ampenan

Semalam, saya dan empat Pustakawan KCB-Mataram main ke Pantai Ampenan, sampai larut malam (kira-kira sampai jam setengah satu, mungkin?). Ada saya, Yusron, Tya, Bunga, dan Ikhwan. 

Ampenan adalah kota yang punya akar sejarah panjang, sebagai kota pelabuhan yang diperebutkan berbagai penguasa sejak tahun 1800-an, hingga efektif berakhir di era 70-an. Kini Ampenan bergelar Kota Tua, dan pantainya dibuka sebagai tempat wisata. Warung kupi berjejer, kuliner ikan bakar, sate, dan jagung bakar bertaburan, di tamannya anak-anak kecil lincah bermain, dan di malam minggu ramai luar biasa.

Biasanya saya dan teman-teman KCB mendarat di selain malam minggu (supaya suasana tidak terlalu bising). Tapi kami melihat peluang kampanye cinta baca di ruang publik. Maka semalam, kami datang dengan membawa buku dan tidak boleh menggunakan gadget kecuali bila ortu yang menelepon. Jadi semalam no photo sama sekali (foto yang saya sertakan adalah foto kemarin-kemarin).

Saya membaca buku Jasser Auda (Maqasid Syari’ah). Yusron membaca buku, ah, saya lupa. Bunga membaca buku Misquoting Jessus, dan Tya membaca buku Catatan Harian Sang Demonstran (Soe Hok Gie). Ikhwan yang datang telat karena sebelumnya pergi midang (kencan di rumah pacar) tidak membawa buku. Ia datang waktu sedang diskusi.

Jadi, meja kami lebih banyak senyapnya. Semuanya membaca buku, sesekali diselingi obrolan yang muatannya diskusi. Banyak topik yang terbahas. Salah satu yang paling panjang diobrolkan adalah, apakah Nabi benar-benar buta huruf atau tidak. Saya di kubu yang membenarkan, Yusron di kubu yang punya kemungkinan lain. Kami adu argumen tidak dengan cara ‘debat kusir’. Rasanya menyenangkan.

Mungkin di minggu depan kami akan membawa sekardus buku, dan membiarkan orang-orang datang meminjam. []

Mengawani Semua

Pak Guru, waktu dulu dipaksa keluarga ke Rumah Sakit dan opname.

Pak Guru Syahdan

Oleh guru saya, Pak Guru Syahdan, saya diajarkan agar mengakui semua makhluk sebagai wujud cinta-Nya. Siapapun ia, dan apapun kondisi makhluk itu: akuilah Yang Hidup dan Yang Berkuasa atasnya. Dengan begitu, kita bisa mencintai tanpa membeda-bedakan.

“Ada Allah di situ. Jangan ragu.” Sering Pak Guru berkata begitu, sambil tertawa. 

Bersama Pak Guru, hidup memang jadi serba sederhana, dan Islam lebih terasa rahmatnya. Nafsul Muthmainnah, begitu yang ustadz-ustadz itu sering gambarkan, saya dapatkan di rumah Pak Guru.

Pak Guru sudah tua: hampir tujuh puluh tahun usianya. Gurat wajahnya ramah, dan selalu tertawa. Sering pakai sarung, dan kaos bolong (serius, ada bolong- bolong kecilnya). Sangat zuhud. Motornya ceketer, hapenya jadul. Rumahnya kecil, hampir tanpa perabotan, tapi selalu ramai. Orang-orang datang minta nasehat atas masalah-masalah hidup mereka yang pelik, atau minta air yang diberi doa sebagai obat atas berbagai macam penyakit.

“Ndak ada orang yang mau memerankan peran jahat di dunia ini, Jank. Ndak ada. Jadi sayangi semua. Berbaur baik, doakan baik.” Kata beliau.

Kalimat itu begitu serius: Pak Guru telah mengamalkanny sebelum mengajarkan. Sebagai bukti, macam-macam orang pernah mendarat di rumah Pak Guru. Beberapa di antaranya pernah turut saya temui: begal, penjudi, dan pelacur.

Sebagian besar datang karena meminta pertolongan: dililit hutang, banyak sial, kurang laris, atau hal-hal lain yang sifatnya praktis. Ditolong sambil terkekeh. Sebagian kecil datang karena merasa kotor dan hampa. Dirangkul mereka oleh Pak Guru, diberi kabar gembira bahwa Allah begitu murah hati atas maaf.

Mengawani Semua

Pernah ada yang lucu: sekelompok anak muda (muda-muda yang sudah terlalu dicap nakal di kampung) datang minta petunjuk agar bisa memenangkan togel. Pak Guru memberitahu mereka trik-triknya. Ternyata nomer hasil petunjuk Pak Guru tembus: mereka menang beberapa juta. Di pertemuan berikutnya, Pak Guru mengajari mereka cara memanajemen uang. 

“Untung itu jangan dihabiskan langsung. Bagi dua. Setengahnya disimpan, itu tabungan, ndak boleh dipakai. Setengah sisanya dibagi dua lagi: satu untuk modal togel lagi, satu untuk hiburan. Biar hidupmu ndak berantakan. Jadi nanti kalau modal habis buat berjudi, kamu ndak perlu mencuri.”

Begitu kata Pak Guru pada mereka.

Di mata banyak orang, tindakan Pak Guru memang gendeng. Sudah jelas ada kemungkaran, kok ndak digrebek. Tapi lihatlah sekarang: empat dari belasan mereka sudah berhenti sama sekali dari permainan itu. Keuntungan yang mereka tabung sejak dulu dijadikan modal buat buka konter dan bengkel. Mereka rajin datang mengaji di rumah Pak Guru.

Mungkin empat bukanlah angka yang banyak, tapi mengingat mengubah diri sendiri saja susah, maka menyadarkan empat orang sudah terhitung banyak. Terlebih, empat itu baru sedikit contoh.

Pernah juga anak-anak muda kampung Pak Guru dan kampung sebelah hendak tawuran. Mereka sudah siap pergi baku bukul. Pak Guru tiba-tiba datang ke kerumunan mereka, dan membawa seceret air. Beliau membuat pengumuman: barang siapa yang meminum air ini, akan selamat dari perkelahian.

Semua orang berbondong-bondong minum air itu, merasa diri akan kebal. Tapi setelah minum air itu, entah bagaimana hasrat untuk berperang malah berangsur reda, dan mereka memutuskan untuk pulang. Nah, mereka telah selamat dari perang.

Kami Muridnya

Sebenarnya, kisah semacam ini (ulama yang tidak canggung bergaul dengan para bromocorah suatu negeri) di Indonesia ada banyak sekali. Mereka suka duduk-duduk di antara orang-orang yang berjudi, bahkan duduk menemani anak-anak muda yang mabuk. Kaum bromocorah itu dikawani dulu, diambil hatinya, dan diajak kembali ke jalan yang benar. 

Di antaranya ulama berhati seluas samudera itu adalah alm. K.H. As’ad Abdullah (Jawa Timur). TGH. Ahmad Tretetet (Lombok), yang saya kagumi. Hanya saja Pak Guru bukan ulama, dan beliau pun sudah tidak butuh lagi sebutan-sebutan prestisius buatan manusia.

Pak Guru jauh dari kata terlena, terhadap hiasan-hiasan duniawi semacam itu. 

Di Lombok, ada banyak orang semacam Pak Guru. Orang-orang biasa yang mungkin sering kamu temukan sedang berkebun, mengarit rumput untuk sapi, sedang menggergaji kayu sebagai tukang, atau sedang memancing di laut. Mereka bermaqam tersembunyi dan disembunyikan oleh yang Maha Cemburuan. Mereka bukan ulama yang biasa naik mimbar, apalagi doyan twitteran. Mereka berdzikir di gugus-gugus pinggiran, membina dari tempat-tempat yang sering dilupakan atau diremehkan. 

Kami, murid Pak Guru, mengamalkan ajaran Islam yang beliau dakwahkan. Saya sendiri punya kawan dengan ragam jenisnya. Saya sayangi semua. Bahkan kawan-kawan saya heran tingkah saya yang suka menyapa anjing kampung di jalan. Saya tidak sedang menyapa anjing: saya menyapa Yang Hidup dan Yang Berkuasa atasnya. 

Satu-satunya yang belum bisa saya sayangi adalah pejabat korup. Mereka itu para sialan: kotoran yang harus dicebok dengan tangan kiri. []

Tumpul

Lulus ujian skripsi, bersama Dosen Pembimbing (Pak Boy, kiri) dan Dosen Penguji (Pak Azhar, kanan), dengan judul skripsi: “The Importances of the Renewal to Maqasid: a Study on Jasser Auda’s Thouht”. Saya tidak pernah nyaman pakai kemeja, apalagi dasi, sepanjang hidup saya.

Saya kehilangan tradisi menulis akademik. Sekedar membuat esai 700 – 1200 kata, saya sudah kesulitan. Bisa-bisanya saya kewalahan dalam menyusun diksi: sejumlah kata kunci dalam wacana intelektual banyak yang tidak saya ingat. Lebih parah lagi: bahkan saya sudah sulit memokuskan gagasan. Saya merasa kering data, kering wacana, kering nalar dan naluri.

Intinya, saya sudah tumpul.

Blog, buat saya, pada akhirnya tak ubahnya FB. Hanya saja, saya menulis ‘status’ lebih panjang. Lewat blog saya memang menulis, tapi dalam bahasa sehari-hari, bukan dalam bahasa akademik standar. Saya terlalu banyak main.

Saya memang pernah berniat hiatus sebentar dari tradisi ilmiah. Yah, yang semacam membaca bertumpuk-tumpuk buku, memetakan ide, menulis dengan mengutip banyak pemikiran, kemudian mendebatkannya. Saya merasa bosan akut, jadi saya memilih istirahat. Hanya fokus baca komik, novel-novel tertentu, menonton film, main hape. Saya tidak menyangka akan seteledor ini. Masa hiatus itu terlalu melenakan.

Menyedihkan menjadi tumpul.

Tahun ini saya harus kuliah, melanjutkan studi ke jenjang magister. Dinamika ilmiahnya lebih berat dari jenjang sarjana (kalau soal akademik, saya ndak mau jadi civitas akademika yang ‘sekedar’). Kalau tradisi ilmiah saya mati, waktu garap paper pas kuliah nanti atau waktu mengerjakan tesis, saya bakalan sangat kesulitan. 

Ini gawat.

Karya ilmiah saya harus mentereng. Soal ijazah dan IPK itu belakangan; itu nomer 100. Tapi tesis takkan mentereng kalau tradisi ilmiah dibiarkan lebih mati dari ini. []

Bocah Yang Berjuang

Siang itu, seorang bocah laki-laki, mungkin masih kelas dua SMP, berdiri di depan halaman kantor lembaga bantuan hukum terkenal. Dilihatnya orang lalu lalang, sibuk. Kadang yang lewat membawa peralatan dokter. Suasana yang asing membuatnya gugup.

Matanya seperti sedang pilih-pilih, siapa yang harus ia ajak bicara. Tangannya semakin erat menggenggam ujung sebuah tas plastik warna biru, berisi dua kilogram beras. Ia gugup; ingin maju tapi ragu. Bocah itu berdoa agar Tuhan mengirim seseorang yang mau mengajaknya bicara duluan.

Ajaib! Tak sampai belasan detik, lewatlah seorang perempuan, yang wajahnya seperti orang India. Perempuan berambut pendek dan berkulit hitam manis itu menatapnya dengan tatapan jenaka. Kakinya yang hanya mengenakan sandal japit, melangkah menghampiri bocah itu.

***

“Ada apa, dek?”

Bocah itu sungguh gugup, tapi tak mau melewatkan kesempatan. Sudah jauh-jauh hari sejak ia melihat berita di hape temannya yang bagus itu, bahwa ada beberapa petani memasung kakinya dengan semen di depan gedung pemerentah. Mereka petani dari Jawa Tengah, memohon agar pemerintah tidak mengganti sawah mereka menjadi gedung pabrik. 

Ia tidak begitu mengerti berita di ponsel temannya itu, tapi ada sesuatu yang begitu ingin ia lakukan setelah melihat perjuangan para petani itu. Bocah itu teringat ayahnya sendiri yang sudah tidak ada: dan betapa berat ibu kandungnya mencari nafkah. Dan betapa dirinya, setiap kali memasak nasi, menganggap tiap butirnya berharga. Ia ingin ikut berjuang.

Maka, bocah itu langsung menyodorkan tas plastiknya yang berisi dua kilo beras. 

***

Perempuan berwajah india tadi terpana. Dialah kepala kantor lembaga bantuan hukum itu, dan dia tahu betapa berharganya beras ini. Di dalam telah dibuka dapur umum, yang memasak masakan besar-besaran untuk para demonstran. Sumbangan beras begitu berharga: terlebih sebagai sebuah sindirian, bahwa yang sedang berjuang hari ini adalah petani, yaitu para perawat padi yang menjadikan nasi untuk dimakan baik oleh rakyat maupun wakil rakyat.

“Siapa nama kamu, dek?” Perempuan itu jongkok, membelai pipi bocah lekaki di hadapannya. Ia mendapati mata si bocah berkulit hitam ini sedang berkaca-kaca.

“Tito, kak.”

Bibir bocah bernama Tito itu melengkung. Rupanya ia sedang menahan tangis. Tapi setelah itu, dari bibir mungilnya, meluncur sebuah kalimat: “Saya mau ikut berjuang.”

***

Suara bocah itu kecil saja, patah-patah, dan tersedak. Patahannya sudah cukup menusuk-nusuk jantung kepedulian. Perempuan berwajah India itu hampir turut menumpahkan bulir di sudut mata. Tapi ia lekas menahan.

“Kenalin, nama saya Asvina.” Ujarnya. “Kamu ke dapur umum ya, tanya ibu-ibu yang lagi masak. Bilang, disuruh bantu sama Mbak Asvina. Ya? Jangan memaksakan diri.”

Bocah itu mengangguk kuat-kuat. Ia segera lari, tanpa bicara. Dalam hati ia hanya ingin berjuang. 

Besoknya dia bocah itu mendengar, ada pejuang yang sudah tua, meninggal seusai ia berjuang. Namanya Yu Patmi, sama seperti nama ibunya. []