Buddha

Tidak jarang saya mendengar pertanyaan, apakah Agama Buddha betul sebuah agama? Mengingat Agama Buddha tidak bicara tentang monoteisme, atau politeisme, atau ateisme. Nampaknya tuhan-figur memang bukan fokus utama agama ini. Tapi untuk menyangsikan Buddha sebagai agama juga riskan, karena Buddha punya banyak elemen yang dimiliki lazimnya agama.

Apa itu agama? Untuk menjawab ini, kadang kita mencampur aduk makna. Kata agama berasal dari bahasa sansekerta, dan dipakai sebagai terjemahan kata diin dari bahasa Arab, dan religio dari bahasa latin. Makna yang ditawarkan tiga bahasa itu mungkin mewakili kondisi mental dan cita-cita yang berbeda. Kalau benar begitu, menggunakannya sembarangan tidaklah pas.

Umumnya agama punya keyakinan akan adanya suatu misteri tertinggi. Umumnya agama juga punya tradisi dan praktek spiritual yang diyakini sebagai jalan selamat. Dalam Islam dan Kristen ‘misteri tertinggi’ itu memang berupa tuhan-figur, tapi dalam Buddha ia mungkin berupa sesuatu yang lain. Dan Agama Buddha juga punya: keyakinan, tradisi, praktek spiritual.

Baca lebih lanjut
Standar

Darin

Selamat menikah, Darin: yang unyu-unyu, yang cepet baper, yang lekas cemas, yang suka kepikiran tapi sulit diajak mikir berat, yang manja tapi juga mandiri, yang royal dan loyal, dan sederet ‘yang’ yang tidak mungkin bisa kusebutkan satu demi satu di sini.

Selamat menikah, sahabatku. Selamat menempuh hidup baru. Aku beruntung bisa menjadi salah seorang yang bisa menyaksikan perjalananmu menemukan sebelah hatimu. Aku terharu bisa menjadi salah satu tempatmu bertanya, menjadi kursimu kala kamu lelah oleh perasaan yang patah bingkas. Aku bangga bisa menjadi peluru yang menembus dinding egomu, menembus kemauan-kemauanmu yang tinggi. Agar kamu merendah. Agar kamu melapangkan dada. Kita tidak hidup dalam dunia ideal menurut standar individualisme-modern, di mana kita bisa cerewet menuntut hak-hak dan kenyamanan kita. Kita butuh sesuatu yang lebih tinggi: keselamatan batin dunia akhirat.

Baca lebih lanjut
Standar

Berlabuh

Akhirnya penantian panjang kami akan berakhir. Di sinilah kami berdiri, menengok ke belakang, melihat hidup kami yang temaram: paduan antara buram dan terang. Sebentar lagi kami akan memasuki kehidupan baru. Kehidupan di mana kami tidak sendirian lagi. Kehidupan di mana sakit dan sembuh akan kami bagi. Mudah-mudahan inilah yang terbaik. Mudah-mudahan inilah jalan untuk menjadi lebih dewasa setiap hari.

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Bismillah.

Standar

Nabi

Oleh: AS Rosyid

Salawat serta salam ingin kulantunkan untuk engkau, wahai Nabi, di depan gerbang sebuah kebun rindang dan sunyi yang engkau sering duduk sendirian di sana. Kubayangkan diriku memasuki kebun itu perlahan, dan kudapati engkau sedang duduk bersila di atas sebuah tikar dari anyaman daun kelapa. Terhidang di sana piring dari tanah liat dan di atasnya penuh daging buah nangka. Sekocor air putih juga tampak tersedia. Dudukmu, Nabi, bersahaja, dan wajahmu teduh menenangkan. Namun tetap, sirat matamu itu tajam. Kubayangkan diriku menyatukan dua telapak tanganku di depan dada, menyapamu dengan cara khas Nusantara. Dan engkau mengangguk, memahaminya.

“Ada apa, anak muda?” Kubayangkan engkau bertanya demikian. Suaramu alam semesta. Iramamu temaram surga.

Aku duduk di sebelahmu.

Nabi, sesungguhnya aku ingin bercerita banyak sekali. Sebetulnya aku ingin mengadu. Umatmu mengamalkan Islam di zamanku kini, entah kenapa, bernuansa kaku. Mereka lebih didorong oleh kekuatiran, rasa takut salah dalam gerakan sembahyang. Mereka bimbang bila dikatai tidak berpenampilan sunnah, gelisah bila dicemooh karena berbeda. Sedangkan dulu, sependek yang kutahu wahai Nabi, engkau membiarkan Islam tumbuh dalam keragaman. Umat yang engkau didik punya pribadi merdeka, vitalitas tinggi, dan kreativitas. Islam, kebudayaan dan watak lokal mengalir alami.

Baca lebih lanjut
Standar

Kanak-kanak

Saya bisa membuat peta babak kehidupan saya lewat music playlist. Ada lagu-lagu yang sangat memengaruhi saya ketika saya masih kecil, mewakili memori romantik saya akan dunia sekitar. Ada lagu-lagu yang memengaruhi saya semasa remaja, masa awal kuliah. Bahkan, dengan music playlist, saya bisa memetakan babak mental: masa di mana saya polos, bahagia, dan ‘bersih’.

Di masa kecil, saya dipengaruhi lagu-lagu Sherina dan Sulis.

Baca lebih lanjut
Standar

Indie

Pada tanggal 26 Maret 2019, Project Hambalang merilis lagu berjudul “Senja Tai Anjing”. Lagu itu menyindir tren indie yang memang sedang berkembang di Indonesia dengan ciri-ciri: lirik tentang cinta dan hal-hal yang sederhana, musikalitas seadanya, secara visual menarik dan khas.

Istilah “indie” memang tidak baru-baru ini adanya. Indie berakar dari kata “independent” (merdeka), dan istilah itu mewakili kebudayaan musik yang sangat kuat dan kaya nada, melawan arus industri musik mainstream, berdikari dalam bermusik, dan liriknya biasanya diilhami dari renungan yang berpijak kuat pada realitas akar rumput dengan segudang pesona dan problemnya. Mungkin karena tren indie-baru yang berkembang di era serba-mudah-viral itu terkesan urbanistik/kelas menengah/menye-menye, kritik Project Hambalang relevan.

Baca lebih lanjut
Standar

Adi

Kampung Mamak saya di Labuan Aji (Kampung Mandar) punya banyak koleksi cerita aneh. Pohon yang tidak bisa dipotong bahkan dengan gergaji mesin, angkot yang mendadak tidak bisa jalan, macam-macam. Ditengarai, penyebabnya adalah jin. Pohon yang digergaji adalah pohon tua yang menjadi sarang jin. Angkot gagal melaju juga karena ternyata ada jin yang nyangkut di atap.

Ada juga kisah orang hilang, yang disekap-pindahkan ke tempat yang jauh oleh jin.

Baca lebih lanjut
Standar