Aksara dan Anak-anaknya

Huruf beranak pinak, namun bukan menjadi kata dan kalimat. Sebab huruf lahir belakangan. Kata dan kalimat beranak pinak dari lidah yang memodifikasi bunyi tenggorokan. Begitulah manusia berkomunikasi ribuan tahun sebelum huruf ditemukan. Huruf melahirkan sesuatu yang lain, yang lebih besar, dan mampu bertahan dari zaman ke zaman.

Baru-baru ini aku menyadarinya setelah ditanyai rekan sesama guru yang mengajar mata pelajaran sejarah. Madrasah kami menuntut guru agar mampu menyajikan konsep dasar serta konteks aktual sebuah pelajaran, sehingga ia merasa perlu mencari pendapat dariku yang punya ketertarikan pada sejarah. “Kenapa sih, kita perlu mengenal jenis-jenis huruf kuno? Kenapa penting mempelajari sejarah aksara?”

Baca lebih lanjut
Standar

Kembali Ke Huma Berhati

Akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke Lombok, ke tanah kelahiranku, ke gumi yang pelan-pelan kehilangan romantika dan jati dirinya ini. Lombok akan menjadi rumah baru bagi istriku yang selama ini tidak pernah benar-benar mengenal rumah. Karib kerabatku akan menjadi karib kerabatnya.

Keputusan itu, sayangnya, mengharuskan istriku mundur dari kantor. Istriku bekerja sebagai seorang konselor di lembaga bimbingan konseling Universitas Muhammadiyah Malang sejak tahun 2015. Keputusan ini membuatnya harus berpisah dari bos yang beberapa tahun terakhir tampil sebagai bos sekaligus orangtua bagi istriku. Kantor tempatnya bekerja memang selalu terasa hangat. Ia nyaman bekerja di bidang psikologi, sesuai dengan disiplin ilmunya sewaktu kuliah. Ia nyaman bekerja di kantor yang jam kerjanya longgar tapi tetap punya tuntutan profesionalitas dalam menangani klien.

Karena itulah aku merasa bersalah padanya. Kantor BK-UMM telah memberi istriku sahabat dan keluarga dan kini mereka harus berpisah. Namun keputusan ini terasa berat bukan hanya baginya. Bagiku, meninggalkan Kota Malang adalah pilihan yang menyakitkan. Setiap sudut Malang Raya menyimpan cerita: Jabung-Tumpang-Bromo, Gadang-Turen-Kepanjen, Batu-Cangar-Pacet, Batu-Pujon-Kediri, kukenang semua itu sampai-sampai aku sadar aku telah mengenal daerah ini lebih pekat dari tanah kelahiranku sendiri.

Baca lebih lanjut
Standar

Lebih Baik Dari Buruh

Murid-murid kelas Aliyah (setara SMA) mengenalku sebagai sosok yang sulit ditebak. Mereka tahu aku menyenangkan dan pemberang sekaligus, tapi mereka tidak dapat selalu menebak kapankah kumenjelma menjadi salah satunya. Bahkan mereka pernah menemukanku menjelma keduanya di satu waktu.

Memang mereka bisa mereka-reka pola. Mereka tahu biasanya aku berang pada murid yang tidak tekun, yang meremehkan proses, yang tidak disiplin, atau yang petantang-petenteng menindas kawannya. Tapi mereka juga tahu aku tidak pernah mempersoalkan nilai, tidak memusingkan sikap selengean, tidak melarang mereka makan di kelas (kadang akulah yang membawakan mereka jajan), dan tidak keberatan bila mereka menyela materiku dengan candaan. Sesekali aku bahkan menyilakan mereka tidur sejenak supaya mereka merasa lebih segar dan siap belajar. Mereka bisa menangkap pola, tapi polanya terus berkembang sehingga mereka tetap sulit menebakku.

Baca lebih lanjut
Standar

Mengembalikan Teknologi ke Pangkuan Seni

*AS Rosyid adalah peneliti dan pustakawan di Akademi Gajah.

Bila akar kata teknologi adalah techne, yaitu kata Yunani kuno untuk menyebut kesenian, maka kita harus merenungkan lagi banyak item teknologi kita.

Masyarakat industrial menyederhanakan makna teknologi. Lazimnya, kita melihat teknologi sebagai “karya mekanis yang menggunakan energi tertentu untuk mempermudah pekerjaan dan kebutuhan manusia.” Lebih gampang bagi kita membayangkan produk elektronik sebagai contoh teknologi, alih-alih, misalnya, tasbih dan cangkul.

Empat ratus ribu tahun yang lalu, Manusia Erectus menemukan cara membuat dan mengendalikan api. Hubungan manusia dan api pun berkembang. Dengan api, manusia mampu mengolah dan menyimpan makanan, melengkungkan lambung kapal dengan metode pengasapan, atau membakar lempeng tanah liat sebagai media tulisan.

Tiga ribu lima ratus tahun yang lalu, di Mesopotamia, manusia menemukan roda. Penemuan itu memudahkan manusia dalam banyak kerja fisik. Roda menjadi komponen gerobak yang memudahkan distribusi hasil bumi atau bahan bangunan. Roda juga menjadi komponen alat pelengkung tembikar yang lebih sempurna dari kerja tangan.

Begitulah teknologi berangkat dari hal-hal sederhana. Namun esensi di balik perkembangan teknologi tidaklah sederhana. Dari contoh di atas, kita bisa mengambil dua kesimpulan.

Baca lebih lanjut
Standar

Teacher’s Diary dan Jalan Sunyi

Film “Teacher’s Diary” adalah salah satu film yang paling gani rasa dan bernas. Setidak-tidaknya menurutku.

Film adalah hasil sulingan jitu dari banyak aspek: daya kreatif para pengambil gambar, karakter yang dibangun oleh aktor,  kehalusan dan kejutan alur cerita, kekuatan dialog di dalam skrip. Bila semua itu diramu dengan baik dalam sebuah film, maka sebagai penonton perhatianku bisa sepenuhnya dirampas; pikiranku bisa terganggu oleh cadas gelisah bahkan hingga berminggu-minggu setelahnya; dan seakan sekujur punggungku meremang saat pengetahuan demi pengetahuan dari masa silam menemukan benang merahnya, terajut menjadi sebuah kesadaran. Itulah yang selalu kusebut sebagai moment of enlightment—saat di mana kejernihan menyambar-nyambar.

Baca lebih lanjut
Standar

Aku, Kamu, dan Legalisasi Industri Miras

Oleh: AS Rosyid

Sayangku,

Sebelum kusampaikan pendapat-pendapatku, aku harus terlebih dahulu mengatakan ini: aku tahu, antara aku dan kamu terdapat dinding yang tidak bisa kita lampaui satu sama lain. Dinding itu bernama etika. Tentu kamu mengerti apa itu etika. Etika bukanlah sekadar adab dan tata-krama. Etika adalah falsafah. Cara pandang paling mendasar.

Bagimu, individu adalah pusat pertimbangan. Kamu percaya individu itu bebas dan harus dibiarkan menentukan pilihannya secara merdeka. Pilihan itu tidak boleh diganggu-gugat. Kamu percaya individu itu unik dan punya kekuatan untuk bertanggungjawab atas pilihan. Bagimu, dengan kebebasan dan kemampuannya, individu bisa diajari untuk secara rasional memilih tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain.

Bagiku, individu tidaklah seunik dan sebebas itu. Keunikannya semu, kemerdekaannya semu. Individu sering lalai dan khilaf. Individu butuh bertukar pikiran untuk mengendalikan hasrat mereka―yang tak berujung, irasional, egois, akonsius. Individu tidak bisa diserahi keputusan moral sendirian. Seunik apapun individu, ia terpaut pada individu lain. Sebebas apapun kehendak individu, ia terikat pada kehendak individu lain. Konflik rentan terjadi; individu harus memilah prioritas antara kehendak personal atau kemaslahatan komunitas.

Baca lebih lanjut
Standar

Penyunting Naskah

Sudah sejak bulan September 2020 saya melakoni profesi sebagai editor lepas.

Sebetulnya, kegiatan menyunting naskah sudah lama saya lakoni, tapi sifatnya sukarela, biasanya untuk membantu kawan. Pengetahuan saya tentang bahasa Indonesia terbatas, sense menulis saya juga tidak terlalu bagus. Saya baru mulai giat mempelajari bahasa Indonesia dan berusaha menajamkan sense menulis saya pada tahun 2017, setelah kumpulan cerpen “Gerimis di Atas Kertas” terbit. Setelah beberapa tahun, akhirnya saya mulai berani menerima tawaran menyunting naskah dari beberapa kawan.

Mulanya naskah sederhana saja, kumpulan esai ringan dan pendek yang hendak diterbitkan secara self-publishing. Ada juga yang minta dieditkan naskahnya untuk keperluan lomba. Saya tidak menentukan tarif, tidak pula mengatakan bahwa saya ingin bayaran. Mereka, entah bagaimana, menawari saya sejumlah kompensasi. Tidak banyak, tapi itulah momen-momen pertama saya mendapatkan uang dari kegiatan menyunting naskah.

Baca lebih lanjut
Standar