Chun

Chun. Apa kabar?

Saya sedih, lho, kamu berpulang. Waktu ambulan datang membawa jenazahmu dari Mataram, Fitri menangis tidak keruan. Suara tangisnya mengalahkan sirine. Dia ndak mau percaya kalau yang ada di ambulan itu kamu. Lain lagi dengan Queen: waktu saya berikan kabar duka, anak itu menangis tanpa berhenti. Dia pergi ke makammu tiga hari kemudian dan meratapimu di sana. Kamu mungkin bisa mendengar suaranya.

Chun. Apa kabar?

Kamu bilang, waktu terakhir kali kita bertemu dua bulan yang lalu, janin di perutmu itu perempuan. Saya juga merasa begitu, karena penampilanmu lebih bersih. Kamu juga bertingkah lebih dewasa. Biasanya kamu polos-polos-konyol begitu. Terus suka bikin ilfil.

Misalnya, nih, ya, waktu kita bertiga (sama Ikhwan) petik rambutan di halaman belakang perpustakaan? Itu rambutan untuk pustakawan lain yang sedang sibuk mendata buku. Eh kamu mau makan di tempat sendirian. Dengan intonasi agak mistis, saya bilang ke kamu: “Jangan makan di sini, nanti kamu kenapa-kenapa.” Kamu pucat, tapi berusaha mengendalikan ekspresi. “Apa sih abang ini, saya ndak takut.” Terus saya bilang, “ya sudah, abang ndak bakal tanggung jawab.” Kamu lantas mundur selangkah, dua langkah, pelan-pelan, balik hadap, lantas kabur, lari kencang-kencang. Kepolosmu.

Kamu juga sering membuat orang merasa ingin memujimu, tapi kamu malah bikin berantakan perasaan itu. Kamu ingat? Kamu pernah mencobai jilbab baru di perpustakaan kita. Kamu keluar dari kamar dan membuat kita terpukau: sungguh jilbab yang indah. Tapi kamu malah memasang wajah kucing-minta-dielus sambil bilang: “Saya cantik, kan?” Oit, oit, biarkan kami yang bilang begitu, jangan kamu. Kan, ilfil kita.

Lanjutkan membaca Chun

Djendela

Di sebuah pesisir pantai yang tidak terlalu bersih, di sebelah perahu nelayan yang parkir paling utara. Di sore hari yang terang dan riuh. Dengan berbekal beberapa buku anak dan selembar tikar, lapak baca Perpustakaan Djendela digelar. Ada anak-anak yang tenggelam dalam bacaannya, ada yang hanya ingin mengacak-acak buku, ada yang lebih tertarik mengintip bacaan temannya, ada yang cuma senang bermain-main di dekat lapak.

Sore itu adalah sore yang indah.

Perpustakaan Djendela hadir lagi. Kali ini memasuki babak ketiga, sejak saya dirikan tahun 2015. Perpustakaan Djendela kini dipimpin oleh Asila, seorang alumni Indonesia Mengajar. Jadi, lewat tulisan ini saya umumkan: saya dan Ikhwan sudah tidak lagi memimpin Perpustakaan Djendela. Si gendut yang lamban dan si manajer serba teliti tidak boleh menghalangi tunas muda yang segar.

Lanjutkan membaca Djendela

Joaquin

Tahun lalu, saya menulis apresiasi untuk film Joker. Betapa saya terpukau pada akting Joaquin Phoenix sebagai Arthur Flec, dan betapa saya tercenung lama karena isu-isu kemanusiaan yang disokongnya; juga, betapa saya heran pada aneka rupa dakwah salah sasaran yang menyertai terkenalnya film itu.

Tahun ini, saya menyalin dan menerjemahkan pidato Joaquin saat ia mendapatkan piala Oscar sebagai aktor utama terbaik. Sebetulnya tidak perlu disalin: kita bisa menonton videonya di Youtube. Tapi pidato Joaquin amat menyentuh. Ia berbicara tentang kemanusiaan dan ekosentrisme dengan sangat indah sekaligus menusuk. Saya ingin mengabadikan pikiran itu.

Pidato itu membuat saya percaya, pemeran Joker yang paling pas memang Joaquin. Penjahat yang sepenuhnya jahat dan pahlawan yang sepenuhnya baik hanya ada di fiksi klise. Fiksi cerdas menghadirkan kompleksitas. Sebab, dunia nyata tidak pernah sederhana. Fiksi mendidik manusia menghadapi kenyataan dengan liku-rumit rasio dan rasa. Putih tak sepenuhnya putih. Hitam pun demikian.

Selamat membaca.

Lanjutkan membaca Joaquin

Ponsel

Beberapa waktu lalu, ponsel saya hilang. Ini aneh, dan sudah terjadi tiga kali.

Jadi, tiga tahun terakhir, ponsel saya pasti kenapa-kenapa tiap tanggal 3 Syawal.

Dua tahun lalu, ponsel saya rusak. Saya tinggalkan ponsel itu seharian di kamar, dan begitu kembali, layarnya sudah retak. Ponsel itu sendiri tidak bisa hidup. Tukang servis menyerah. Sayang sekali: itu ponsel pemberian sahabat karib saya. Beberapa hari kemudian, baru saya tahu ternyata itu ponsel sudah dipakai main-main sama ponakan. Mungkin dipakai melempar anjing kampung, terus nyasar ke pagar rumah, terus nyemplung ke got.

Setahun lalu, ponsel saya tercebur di laut. Saya sowan ke seorang Pak Tua yang sudah sepuluh tahun tinggal sendirian di satu pulau kecil di Lombok Timur. Pergi pagi, pulang malam, pakai sampan. Sialnya, pas pulang, terjadi keanehan. Di tengah laut, sampan saya hanya berputar di tempat. Padahal tuas kemudi sudah diangkat. Sempat saya matikan mesin, kemudian saya dayung sampan ke titik lain, dan saya nyalakan lagi. Sampan tetap berputar-putar di tempat. Akhirnya saya dayung sampai darat. Kala mendayung, sampan saya sering nabrak karang. Ponsel yang saya pinjam senternya itu terlepas dari tangan waktu sampan menabrak karang. Jatuhlah ia ke laut. Wassalam.

Keduanya terjadi tanggal 3 Syawal.

Lanjutkan membaca Ponsel

Laut

Ada suatu ngilu yang mampir di hati saya, yang sekaligus membuat bulu kuduk saya berdiri, mengetahui bahwa manusia baru hanya menjamah 5% lautan di bumi.

Sejumlah kawan selalu mengejek saya karena berpikir bahwa kraken (gurita raksasa yang menghancurkan kapal-kapal) benar-benar ada. Tapi saya diam saja. Barangkali mereka sungguh-sungguh tidak mengenal kebudayaan laut serta mitos-mitosnya―yang nyata.

Memang agak ganjil menperdampingkan kata mitos dan nyata, tapi bila ganjil hanyalah soal kaidah bahasa, saya berharap manusia tidak buru-buru tinggi hati. Sebab, bukan bahasa yang membentuk realitas kita. Realitaslah yang membentuk bahasa.

Misalnya: sejumlah masyarakat nelayan di Nusantara memiliki mitos bahwa nama hewan darat tidak boleh disebut di laut, karena laut akan cemburu dan ikan-ikan akan disuruhnya pergi. Itu mitos. Tapi jantung modernitas saya terguncang karena saya pernah mengalaminya langsung: ketika ikut melaut sebagai anak bawang bersama warga Kangean, saya tidak sengaja menyebut “ayam”. Semua nelayan mangkel. Laut yang mulanya berombak kemudian berangsur tenang. Terlalu tenang, bahkan, hampir tidak ada ombak. Nihil tanda pergerakan ikan. Semua terjadi dalam hitungan menit. Maka mereka kompak mengangkat jaring, menyimpan pancing. Tidak ada aktivitas sampai malam. Waktu terbuang. Rejeki hilang. Saya dirundung rasa bersalah sekaligus tergugah.

They have myths about sea, and they find them real.

Realitas yang mereka temukan melahirkan narasi tentang mitos-mitos. Bila kita memaknai mitos sebagai khayalan, itu sepenuhnya urusan kita.

Kedangkalan kita.

Lanjutkan membaca Laut

Lugas

Goenawan Mohamad (GM) menulis di Majalah Tempo pada 9 April 2000. Sebuah surat yang panjang dan, seperti biasa, sangat memukau. Penuh akrobat lincah wawasan sejarah, seni dan sastra, serta logika alternatif yang dibalut dengan bahasa yang meliuk-liuk. Membaca GM senantiasa menghadirkan pada saya sensasi opera yang khas: musik, tari, di dalam gedung berornamen tua. Atau suatu masa yang jauh dengan gambar-gambar tua. Itu sensasi sastrawi yang juga muncul ketika saya membaca esai-esai Albert Camus.

Surat itu ditujukan pada Pramoedya Ananta Toer. GM menyayangkan sikap Bung Pram yang menolak permintaan maaf Gus Dur, terkait dosa masa lalu masyarakat Indonesia pada anggota dan simpatisan PKI, beserta keluarganya, yang telah mengalami represi menyedihkan sejak tahun 1965. Bung Pram, menurut GM, tidak bisa meneladani Nelson Mandela, yang memaafkan ras kulit putih setelah memenangkan perang melawan Apartheid.

Bung Pram membalas surat terbuka dari GM, namun dengan kalimat-kalimat yang tegas, langsung, tajam; tidak berbasa-basi, menembak jitu ke inti masalah. Surat Bung Pram seperti kemarahan terkendali yang menghantam tanpa peduli estetika-retoris, tapi justru di sanalah keindahan muncul. Bung Pram menunjukkan bahwa yang puitis bisa lahir dari rahim kebenaran yang lugas, bukan dari liuk seksi bahasa dan logika. Apalagi: kesantunan palsu.

Bagi saya, surat Bung Pram adalah surat terbuka terbaik yang pernah saya baca. Lepas dari suka-tak-suka saya pada afiliasinya pada suatu jalan politik atau ideologi tertentu, catatan-catatan Bung Pram memang apik, terutama yang terkumpul dalam buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu.

Saya lampirkan surat Bung Pram itu di sini. Adapun surat GM bisa dicari sendiri. Selamat membaca.

Lanjutkan membaca Lugas

Rumah

Mak Fat adalah kakak pertama ibu saya. Mulanya dia diadopsi oleh saudara kakek. Ia sering berkunjung ke rumah kakek (rumahnya sendiri), dan bermain dengan adik-adiknya (yang dikiranya sepupu). Setelah agak besar, ia diberitahu kenyataan. Konon, suasananya sangat haru. Mak Fat sampai jatuh pingsan.

Tapi tidak ada yang sungguh-sungguh berubah. Mak Fat tetap Mak Fat yang sangat mengayom adik-adiknya. Ia kakak tertua, tapi bertubuh paling pendek karena terlalu sering menggendong. Ia sangat tidak jelita dibandingkan dengan saudari-saudarinya. Ada fotonya: bila adik Mak Fat berjalan-jalan di tepi pantai dengan seorang belahan hati, Mak Fat akan mengikuti dari belakang, sebagai pengawal. Sebab bila terjadi apa-apa pada adiknya, Mak Fat yang akan dicambuk menggunakan ekor pari.

Mengawal kencan? Menurut saya, Mak Fat lebih tampak seperti obat nyamuk. Mak Fat tidak punya potongan ‘saudara yang mengawal’. Dari jauh, bila orang tidak mengenal keluarga kami, Mak Fat akan dikira pembantu. Betapa dia sangat berbeda dari saudari-saudarinya.

Tapi hanya kubur Mak Fat yang selalu saya kunjungi sendirian. Mungkin hampir tiap bulan, bila saya ada di Kota Mataram. Hanya kubur Mak Fat yang bisa membuat saya menangis tersedak-sedak.

Kubur itu di Desa Sandik, terpisah jauh dari kubur orangtua dan adik bungsunya. Kubur itu biasa dalam bentuk. Seperti Mak Fat dulu. Sendirian. Sederhana.

Kesepian.

Lanjutkan membaca Rumah