Berwudulah, Tapi Jangan Boros

Sekitar 70% air wudu yang kita gunakan jatuh dengan percuma. Air yang benar-benar kita pakai untuk menyucikan diri hanya 30% saja. Ini namanya wudhu tabdzir, wudu yang boros air, yang tidak hemat energi. Apakah wudu yang semacam ini wajar untuk dibiasakan? Tentu tidak.

Nabi pernah menegur seorang sahabat bernama Sa’ad yang dilihatnya boros air dalam berwudu. Nabi menyuruhnya menghemat air “bahkan meski engkau berada di sungai yang airnya mengalir,” atau di sekitar sumber air. Nabi menekankan bahwa wudu yang berlebihan merupakan kezaliman, perbuatan jahat dan melampaui batas.

Kenapa Nabi harus menyamakan boros air dengan kezaliman? Padahal berwudu adalah soal ibadah. Bila berwudu saja tidak boleh boros, bagaimana dengan “boros” yang lain, misalnya, boros dalam membangun masjid?

Baca lebih lanjut
Standar

Hari Raya Qurban, Etika Bumi dan Sejarah

Beredar nasehat bijak idul qurban di media sosial. “Setiap orang adalah Ibrahim, setiap orang punya Ismail yang harus diqurbankan.” Ismail itu mungkin jabatan, mungkin harta, mungkin kedudukan sosial, dll.

Tentu nasihat tersebut sangat baik, tapi saya berpikir tentang konteks yang lebih luas. Jangan jauh-jauh membayangkan “Ismail” yang berupa keberanian untuk melepas jabatan dan menyedekahkan harta. Coba kita tanya diri kita: bisakah kita mengurbankan “Ismail” berupa mode konsumsi yang tidak ramah lingkungan dan boros energi—atau gaya hidup apapun yang merusak bumi?

Baca lebih lanjut
Standar

Gandhi yang Terpuruk

Mungkin, di sepanjang tahun 1946 – 1948, Gandhi, manusia besar dari India itu, merasakan kekecewaan dan kesedihan. Mungkin pula turut di dalamnya rasa putus asa.

Gandhi telah memperkenalkan satyagraha (a truth or virtue force) dan ahimsa (a non-violence resistance) sebagai metode untuk membebaskan orang India dari penjajahan, baik oleh kolonial Inggris maupun oleh sistem sosial dan budaya setempat. Gandhi bukanlah politisi. Satyagraha dan ahimsa bukan pula strategi politik. Gandhi memaksudkannya sebagai filsafat dan etika untuk berbagai bidang kehidupan. Tujuan utama satyagraha dan ahimsa adalah kemerdekaan yang damai. Politik Gandhi bukan kudeta; Gandhi hanya ingin agar Inggris segera angkat kaki, agar bangsa India merdeka menata masa depan yang lebih manusiawi.

Baca lebih lanjut
Standar

Seni dan Duka Modern

Pada tahun 1990, Guruh Sukarnoputra mengarang sebuah lagu berjudul “Seni”. Lagu itu dinyanyikan oleh Chrisye, kemudian dibawa ulang oleh banyak penyanyi setelahnya. Ada satu bait dalam lagu itu yang telah lama menarik perhatian saya.

Ingin kukatakan tentang makna seni | Namun kemunafikan tidak mungkin memahami

Lagu ini, saya rasa, adalah kritik atas pandangan sebelah mata negara pada pekerja seni dan dunia kesenian, serta pengerdilan makna kesenian di dunia pendidikan. Di era itu, Indonesia sangat mendewakan ABRI, Golkar, pegawai pemerintah, serta orang berdasi. Adapun seniman identik dengan gelandangan yang rizkinya susah; mereka adalah para tengik yang bahkan penampilannya saja menyalahi kebiasaan dan norma masyarakat; sekumpulan orang yang tidak bisa diatur.

Baca lebih lanjut
Standar

Lebih Baik Potong Gaji

Di antara repotnya tinggal dan bekerja di Lombok adalah waktu pagi yang tidak banyak. Subuh di Lombok dimulai sekitar pukul 05:30 Wita. Jarak antara salat subuh dan jam kerja rata-rata di Lombok hanya satu setengah jam. Bagi perempuan pekerja yang sekaligus ibu rumah tangga, waktu satu setengah jam itu (yang bahkan harus dipotong jam berangkat kerja ideal agar tidak terlambat apel) tentu kurang. Jelas pula ia tak ramah pada pemalas yang bangun pagi jam enam atau jam setengah tujuh—terutama pemalas yang gemar begadang sampai jelang pagi. Tapi saya bersyukur karena jam kerja saya dimulai pukul 07:45 Wita.

Baca lebih lanjut
Standar

Kenapa Tinggal di Rumah Orang tua Setelah Menikah Itu Perlu

Saya dan istri tidak memulai kehidupan sepenuhnya dari nol atau dari minus. Entah bagaimana Tuhan memberi jalan, tapi tabungan kami yang mulanya nyaris tak ada menjadi berlipat berkali-kali. Ada sesuatu yang kami bisa pakai untuk keperluan ini dan itu di awal pernikahan. Kami juga lebih leluasa menabung karena untuk sementara kami akan tinggal di rumah orang tua.

Ya, Insyaallah mulai dari Bulan Juli mendatang saya dan istri menetap di Lombok. Kami tidak tinggal satu atap dengan orangtua, tapi masih satu halaman. Saya akan menggunakan rumah mungil di halaman belakang. Kami akan punya kamar mandi sendiri, dapur sendiri, pengeluaran sendiri dan ruang privasi. Kami pernah minta izin pada Mamak agar kami boleh mengontrak rumah di suatu tempat, mungkin di desa. Kami ingin berlatih mandiri dalam berkeluarga. Tapi Mamak menolak.

Baca lebih lanjut
Standar

Dokter, Bukan Bom

Fidel Castro dan Jose Mujica adalah presiden favorit saya. Mereka pemimpin yang tetap merdeka terutama di hadapan arogansi negara-negara adidaya. Oleh banyak negara, kelompok kiri memang dibenci. Tapi bila kelompok kanan adalah penjajah, di sisi mana lagi kita harus berdiri?

Video ini adalah cuplikan pidato Fidel Castro pada tahun 2003 di Buenos Aires. Ini video kecil yang begitu saya sukai. Pemikiran beliau tentang bagaimana seharusnya para dokter dididik (dan bagaimana seharusnya negara menggunakan kemerdekaannya) justru sesuai dengan semangat pancasila. Berikut terjemahan bahasa Indonesia dari transkrip lengkap pidato Fidel Castro:

Baca lebih lanjut
Standar