Santai

Saya Pamit, Teman-Teman.

 

IMG-20180723-WA0010.jpg

Insya Allah, pada tanggal 9 Agustus 2018, media online Djendela.co yang saya dan Ikhwan bangun akan dilaunching. Insya Allah, saya akan sepenuhnya menulis di Djendela.co. Saya sudah menyiapkan sekitar 15 tulisan untuk launching. Mohon doa, agar seterusnya media kami Djendela.co bisa konsisten merawat tulisan-tulisan yang baik.

Oleh CEO Djendela.co (Ikhwan), saya diberi tugas sebagai kontributor rubrik “Album Religi” (tulisan-tulisan sosial-keagamaan), rubrik “Lampaq” (tulisan feature dan pemikiran pariwisata), dan redaktur rubrik khusus “Mancanegara” (tulisan anak-anak muda Indonesia tentang luar negeri). Djendela.co memiliki beberapa rubrik menarik lain. Teman-teman bisa melihatnya nanti.

Tapi, semua itu bukan tugas utama saya. Ikhwan menugaskan saya menjadi Pemred. Saya yang menentukan Djendela.co membicarakan topik apa dalam tiap dwiminggu. Saya yang menentukan tulisan mana yang bisa dimuat di Djendela.co. Saya yang mengambil keputusan, Djendela.co harus mengawal isu-isu macam apa selama beroperasi.

Benar, media Djendela.co menerima tulisan dari warga. Ada rubrik umum yang bisa diisi warga, dengan ragam tema. Hanya saja, karena kita semua bermodalkan nekat dan semangat, Djendela.co belum bisa membayar tulisan warga. Tapi Djendela.co tetap mengapresiasi setiap tulisan yang masuk. Djendela.co menyiapkan meja redaksi sebagai wahana menguji tulisan. Setiap tulisan yang masuk akan di-promote secara luas di media sosial. Khusus pelajar (SD–SMP–SMA) akan mendapatkan kiriman buku gratis dari Perpustakaan Djendela setiap kali tulisannya dimuat.

Kru Djendela.co bekerja tanpa dibayar. Tapi manajemen Djendela.co sudah menyiapkan rencana jangka panjang untuk menghasilkan profit, dan tetap, yang akan diprioritaskan adalah honorarium penulis, bukan gaji kru. Bagi kami, kru Djendela.co bisa belakangan. Niat kami murni untuk merawat literasi Indonesia, terutama di Lombok dan NTB.

Sedikit berat, sebenarnya, membuat media yang amatiran, tidak berbayar. Banyak yang meremehkan. Saya punya argumentasi, tapi percuma berbicara. Saya tetap berdoa pada Tuhan, dan meminta doa dari teman-teman sekalian, agar saya bisa membuktikan, bahwa media amatiran bisa berbuat sama signifikannya dengan media profesional. Toh, suatu saat kami akan menjadi profesional.

IMG-20180723-WA0009.jpg

***

Dengan tulisan ini, saya juga ingin pamitan pada teman-teman. Insya Allah, saya tidak akan menulis lagi di Bangicalmu.wp ini.

Saya tidak akan menutup blognya. Saya hanya akan fokus menulis untuk Djendela.co. Saya akan rutin memosting penggalan-penggalan paragraf tulisan-tulisan yang menarik Djendela.co di blog ini, dengan menyertakan link agar mudah diakses. Sebagai informasi, ada tulisan baru di media kami. Tapi saya berhenti menulis di sini.

Sebagai gantinya, bila Djendela.co sukses besar suatu saat, saya akan memulai blog baru, yang lebih profesional. Pakai dotcom, dengan spesifikasi tulisan yang berbeda dari selama ini. Di blog itu saya ingin meluapkan pencarian identitas kesukuan saya. Saya ingin berbagi proses saya belajar “menjadi” orang Sasak.

Mudah-mudahan diberi umur panjang. Amin.

Sekali lagi, saya ingin pamitan pada teman-teman. Terima kasih telah membaca Bangicalmu.wp ini! Silakan berkunjung ke media kami di hari launchingnya. Djendela.co!!!

Iklan
Standar
Santai

Aphelion dan Betapa Tidak Adilnya Pembagian Zona Waktu di Indonesia

Pembagian waktu di indonesia, WIB WITA dan WIT

Ternyata sedang Aphelion. Bumi sedang melipir ke garis orbit terjauhnya. Bumi menjauh dari matahari, sehingga suhu terasa semakin dingin. Kata sahabatku Kak Mulya di Pangadaran sana, udara yang dingin dan langit yang jernih sehingga bintang-bintang terlihat lebih banyak dan jelas, adalah pertanda akan datangnya musim kemarau. Rasa-rasanya memang demikian.

Suhu udara di Kota Mataram berubah, rasanya seperti suhu normal Kota Malang. Tidak pernah aku bertemu Kota Mataram sedingin ini. Bahkan aku bisa bebas memakai jaket di siang hari, sesuai kebiasaanku. Adikku di Bandung bercerita suhu di sana turun menjadi 11 derajat. Ada yang bercerita di kawasan Dieng suhu anjlok menjadi 0 derajat.

Pentingkah membahas suhu? Penting, karena bagi umat Islam yang lemah imannya seperti aku ini, suhu bumi yang mendingin berpengaruh pada ujian berat bangun subuh dan mengambil wudu untuk salat. Bagi yang kuat imannya usahlah sombong, aku tahu kamu kuat iman, sudahlah, jangan pamer, bosan kudengar kisah-kisah orang sempurna. Baca lebih lanjut

Standar
Santai

Sahabat Yang Semakin Renta

photo

Sebenarnya, jauh-jauh bulan saya sudah ingin menantang Darin merayakan ulang tahun hanya dengan penanggalan hijriyah, bukan dengan penanggalan masehi. Sebagai umat Islam yang taat beragama (tapi usil bukan main), Darin layak mencobanya. Tapi saya kelupaan terus mengajaknya, sampai akhirnya hari ini dia ultah.

Selamat ulang tahun, Darin. Setiap 8 Juni kamu makin tua, semoga badannya tidak semakin gembrot, dan pipinya tidak semakin sesak. Tapi agak sulit ya: soalnya kamu kan akan menikah suatu saat, akan punya anak, dan kemudian dimulailah segala ketakutan itu, hahaha.

Saya mendoakanmu yang baik-baik, Darin, kamu tahu itu. Maka tak usahlah saya berpanjang lebar. Kamu cukup mengaminkan saya punya doa.

Saya hanya berbagi nostalgia sedikit saja pada teman-teman. Di hari ulang tahunmu ini, saya teringat banyak pertanyaan todongan, yang yakin sekali kita bukan sekedar teman. Satu dua cemburu (lho?). Saya pasti tertawa setiap kali menerima todongan itu. Mereka benar: kita bukan sekedar teman. Kita adalah sahabat tanpa tabir sungkan, tanpa selaput kepentingan, tanpa maksud romantis apapun. Kita adalah sahabat tanpa niat saling memiliki sebagai kekasih. Baca lebih lanjut

Standar
Santai

“La Riru” Membaca Saya

30605061_1324804000997149_4026190853956435968_n

[“La Riru” adalah bahasa Bima yang berarti ‘seperti awan’. Ia adalah judul cerpen yang ditulis oleh Bapak Mas’ud Bakry, seorang sastrawan Bima, di era 70-an.  “La Riru” bercerita tentang seorang bocah joki pacuan kuda dengan kuda andalannya, La Riru, yang pada pertarungan final ‘diminta mengalah’ pada lawannya karena permainan politik di balik pertandingan. Tulisan ini adalah sumbangan diskusi bedah cerpen yang diselenggarakan Komunitas Akar Pohon, Kota Mataram, 22 April lalu]

1.

Komentar positif untuk cerpen, yang biasa saya dengar, adalah apik, seru, keren, luar biasa, bagus, dan beberapa yang lain. “La Riru” mendapatkan komentar sebagai cerpen yang indah. Benar, ketika membacanya, saya merasakan keindahan yang sama ketika dulu membaca cerpen Kuntowijoyo, “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga”. Keduanya membincangkan sisi-dalam manusia dengan cara yang bersahaja.

Diksi dalam cerpen Bapak Mas’ud Bakry ini tidak rumit dan muluk-muluk—memudahkan saya yang tidak terbiasa membaca cerpen sastra. Namun sejak awal, dengan tidak berpanjang kalimat, Bapak Mas’ud Bakry mampu menggambarkan suasana dan saya langsung bisa menangkap watak tokoh.

Seorang bocah yang berpembawaan tenang dan berani, namun penyayang. Ia digambarkan seperti dewasa sebelum waktunya: melangkahi kaki adik-adiknya yang sedang tidur, tidak banyak menanggapi kicauan bapaknya, dan berbicara seperti biasa kepada orang yang lebih tua darinya: Bang Ara. Ia lebih hangat saat menyapa kuda. Jiwanya ada di sana. Baca lebih lanjut

Standar
Serius

Mengapa Saya Ber-Muhammadiyah

kh-dahlan

KH. Ahmad Dahlan

1.

Sebentar lagi Ramadhan tiba, sedangkan hasrat saya menulis masih belum pulih. Mungkin saya takkan membuat “Diary Puasa” di blog seperti tahun lalu, meski saya punya ide harus menulis apa. Tapi hasrat saya masih belum tertolong. Mungkin saya hanya akan merevisi naskah novel yang telah selesai dua tahun lalu itu—takkan mudah. Setelah Ramadhan, saya ingin memperjuangkan naskah itu untuk penerbit.

2.

Mengapa saya tidak menjadi NU, NW, atau menjadi netral saja. Kemarin, teman kos saya (yang NU tulen dan baru lulus pesantren) mempertanyakan pilihan saya itu.

Imej Muhammadiyah di sebagian besar warga akar rumput masih tipikal: kaku, menolak tradisi, dan menyimpang dari masyarakat—pendek kata, sesat. Di Madura bahkan berkembang lelucon: penduduk Madura terdiri dari 99% Islam dan 1% Muhammadiyah.

Baca lebih lanjut

Standar
Santai

Aroma Karsa: Anugerah dan Hal-Hal Gaib

IMG_20180421_215426_HDR.jpg

1.

Aroma Karsa karya Mbak Dee Lestari sudah lama selesai kubaca. Tapi, baru kali ini ada tenaga untuk menuliskannya. Bukan review, bukan resensi, saya tidak pandai menulis itu. Saya hanya menceritakan perasaan dan perenungan saya ketika dan setelah membacanya. Sejujurnya, novel itu benar-benar candu, sehingga butuh agak lama buat saya, dan tidak mudah, untuk menulis setelah emosi diaduk-aduk olehnya.

Aroma Karsa bicara tentang “Manusia yang diberi anugerah”—dalam hal ini, indera penciuman yang sangat tajam. Jati Wesi dan Tanaya Suma punya kepekaan yang jauh di atas batas normal. Jati, misalnya, bisa menebak datangnya hujan badai karena perubahan bau di udara.

Jati Wesi belajar mengenali bau bangkai manusia hari per hari, terhitung sejak hari pertama manusia mati, hingga pembusukannya. Eksperimen itu memungkinkan untuk dilakukan karena Jati tinggal di Bantaran Kali, di dekat gunungan sampah TPS terakhir, tempat segala yang tak diperlukan dan tak diinginkan dibuang oleh manusia Jakarta, termasuk jabang bayi atau korban pembunuhan. Dengan itu, Jati bisa membantu polisi menemukan jasad seorang warga yang tertimbun belasan meter di gunungan sampah. Jati bisa membaui mayat itu.

2.

Aroma Karsa mengingatkan saya pada film Farfume: The Story of a Murderer. Tokoh utama dalam film itu, Jean-Baptiste, sama seperti Jati: dibesarkan di kawasan pasar kumuh pinggiran kota di dataran Prancis kuno. Hidung keduanya diperkuat, dilatih, dan dibiasakan untuk menemukan harum-haruman di tengah bebauan busuk. Mereka memperkaya ‘kosakata aroma’ dalam olfaktorium kepala mereka dengan terus menerus mengenali semua bau di sekitar mereka. Baca lebih lanjut

Standar
Santai

Menulis Dengan Apa Adanya

IMG_20171020_120742_HDR.jpg

Gerimis di Atas Kertas dan Cakwe Sastri 🙂

1.

Buku saya, Gerimis di Atas Kertas, menerima tiga kritik yang paling sering disebut, lebih dari 5 kali, dimulai bahkan oleh editor sendiri.

Kritik pertama, bunyinya sederhana: “Kenapa semua ceritanya happy ending, dan semua tokoh utama akhirnya menikah?” Dan tiap kali menerima kritik itu, saya selalu membatin: “Memangnya kenapa?” Rupa-rupanya, ada yang tidak puas dengan happy ending semacam itu.

Mereka mungkin terbiasa membaca karya sastra yang melukiskan kepahitan hidup, dan manusia musti siap menghadapinya. Adalah perlu menjadi satir yang gusar, tak pernah puas, dan siap sinis pada kemapanan. Bahwa cinta harus berliku, sakit, dan kerap kali kandas. Tiga cerita dalam satu buku ujungnya bahagia semua, buat mereka kurang seru. Baca lebih lanjut

Standar