Si Manis, Kamu.

Rambut Diiket

Tepat awal puasa kemarin saya membantu penelitian Ma’arif Institute, yang ingin tahu masih seberpengaruh apa wajah moderat NU dan Muhammadiyah di tengah masyarakat. Jadilah saya mewawancara sejumlah orang, berhari-hari. Saya lantas harus mentranskrip hasil rekaman wawancaranya untuk diserahkan pada Ma’arif Institute.

Dua hasil wawancara terakhir saya putuskan untuk mentranskripnya di Kedai Pak De, di dekat Siguragura. Konon, kedai itu tempat nongkrongnya teman-teman Psikologi UIN; pertama kalinya saya mampir ke situ. Saya duduk di meja sebelah luar setelah memesan minuman susu berwarna ungu bercampur oreo (saya lupa nama minumannya), lalu mulai mentranskrip. Saat sedang asyik mentranskrip itulah, si manis datang.

Seorang perempuan melangkah … memasuki pintu pagar. Ia berjilbab biru, berjaket hitam. Pakaiannya sederhana, layaknya gadis rumahan. Wajahnya tertutup masker, tapi tatapan matanya itu … aduhai … Saya tidak perlu melihat wajahnya; saya tahu gadis ini manisnya bukan buatan.

Si Manis melewati meja saya dengan santai dan kalem, namun langkah-langkahnya mantap. Ia masuk ke dalam kedai. Apakah ia pelanggan tetap kedai ini, batin saya, sehingga nyaman baginya ngopi sendirian? Ataukah di dalam ada teman-temannya? Kebanyakan membatin, tanpa sadar saya sudah melewatkan sekian banyak kalimat narasumber dalam rekaman.

Saya kaget karena Si Manis bercanda dengan para pelayan dan langsung bergabung di bagian dapur. Ternyata, Si Manis adalah pelayan kedai kopi ini! Saya terpukau. Karena meja saya tepat di sebelah jendela kasir yang sekaligus dapur kedai, giranglah hati saya. Dari balik jendela, saya leluasa mengaguminya diam-diam.

Ia semampai, sedikit lebih tinggi dari saya. Kening dan punggung tangannya langsat. Bila berdiri, posturnya tegak namun keanggunannya tetap ajeg. Sesekali Si Manis membuat minuman yang dipesan pelanggan. Saya terpaut pada alisnya yang sedikit berkerut dan matanya yang menyapu toples-toples di depannya—mungkin ada posisi toples tertentu yang letaknya berubah. Betapa telitinya gadis manis ini, duhai. Saya memerhatikannya membuat mie, dan saya ditenung oleh gemulai pergelangan tangannya yang membaur bumbu. Sumpah, itu goyang pergelangan paling elegan sedunia!

Saya merasa jatuh cinta. Apalah peristiwa yang paling gegar di dunia ini, selain jatuh cinta pada cara seorang gadis manis mengarih bumbu mie?

Sekitar jam 1, saya sempat sakit perut. Saya bergegas ke toilet di dalam kedai. Ternyata Si Manis sedang duduk di dekat meja kasir. Mungkin sedang beristirahat. Saya gugup, merasa dilihati saat melepas sepatu (sepatu adidas KW seharga 80 ribu), merasa diperhatikan saat masuk ke kamar mandi (saya sampai hampir lupa melepas kaos kaki). Sambil buang air, saya melamun. Aih, Si Manis, siapakah namamu?

Pukul dua malam, saya selesai mengerjakan seluruh transkrip. Saya menjadi pelanggan terakhir di situ dan kelihatannya hanya saya yang ditunggu kelarnya. Saya merasa tidak enak, lalu memutuskan untuk pulang saja. Karena minuman sudah saya bayar di awal, saya inggas beranjak ke parkiran.

Di luar dugaan, Si Manis muncul di pintu kedai. Ia tidak memakai masker—dan tersenyum pada saya! Duhai! Bak burung kena tembak, saya benar-benar merasa mati sesaat. Dua detik saya tidak mampu bergerak dan waktu serasa berhenti. Manis, manis sekali. Persis madu. Persis kurma kelas satu.

“Makasih ya, Mas.” Suaranya merdu.

“Iya, Mbak. Hehehe.” Jawaban saya sebenarnya mencang-mencong. Dari sekian banyak pelanggan yang pulang, hanya saya yang dimakasihkan.

Sungguh, saya tidak rela percakapan berakhir. Saya ingin agar Si Manis yang sudah mulai bebersih ini menoleh lagi pada saya.

“Sebenarnya, kedai ini tutup jam berapa, Mbak?”

Si Manis menoleh lagi. Aih, cara menolehnya benar-benar berkelas.

“Jam empat, Mas.”

“Duh,” tanpa sadar keluhan saya bervolume besar. Gusti, saya pulang terlalu cepat. “Tapi saya sudah terlanjur kemas-kemas. Lain kali aja deh, saya ke sini lagi.”

Si Manis mengangguk tersenyum semakin lebar. Astaga, kamu kok manis sekali. Mirip artis Tiongkok yang terkenal, Tang Wei. 

“Iyaaa,” jawabnya riang.

Motor saya turut berbunga-bunga karena keriangannya. Dari hidung kembang kempis saya terciptalah musim semi. Percakapan kami singkat, tapi yang singkat itu telah mengunci kenangan di sangkarnya. Si Manis adalah merak di dalam sangkar itu. Saya jadi ingin berterima kasih pada ibunya, karena telah membesarkan seorang peri pelayan kedai. Saya pulang dengan dada yang dijembari cinta, dengan senyum yang lebih lebar dari lapangan sepak bola. []

 

Catatan:

Adegan-adegan antara saya dan mbak pelayan Kedai Pak De adalah nyata. Bahwa mbaknya manis, itu juga nyata. Tapi cerita yang saya tulis adalah fiksi. Saya senang berlatih cara berkisah. Saya doyan mencoba ekspresi-ekspresi bahasa yang baru.

Akhirnya, saya sudah menerbitkan lima tulisan, setelah beberapa bulan yang lalu saya memutuskan untuk hiatus panjang. Ada perasaan rindu ngeblog, tapi saya bisa menahannya. Sampai seorang sobat asal Lombok yang berharap saya ngeblog lagi menantang saya main catur dengan konsekuensi bahwa bila saya kalah, saya harus menerbitkan minimal lima tulisan di blog. Saya kalah—terang saja, ternyata sobat saya itu juara catur tingkat kecamatan.

Kini, sudah tunai amanah taruhan. Sobat itu yakin bila saya menulis lima tulisan di blog, saya akan tidak sanggup lagi menahan rindu dan akhirnya akan ngeblog terus. Tapi dia keliru. Saya masih ingin hiatus. Semua tulisan saya sejak enam tahun lalu sudah saya hapus dari sini, dan itu bentuk komitmen. Tapi dia ada benarnya; memang ngeblog itu asyik bukan buatan. Flatform ini berbeda dengan media sosial lain.

Saya terpikir, bila tesis sudah selesai, saya akan membuat cerita bersambung (cerbung) yang akan saya jadikan novel. Saya akan menulisnya di blog ini. Mungkin, sih. Saya hanya terpikir begitu.

Terima kasih telah menemani lima tulisan di Bangicalmu. Semoga kalian tetap rajin menulis di blog dan sehat selalu. Salam damai, Ical.

Iklan

Mengais Motivasi

Castillians_and_moors

Saya diajari oleh Pak Guru bahwa kehidupan apapun yang tidak bersemangat puasa, adalah kehidupan yang menghitung waktu hancur lebih cepat. Bagi Pak Guru, puasa tidak dilihat bentuk formalnya (secara syariat), tapi semangatnya. Puasa harus menjadi gaya hidup; puasa harus menjadi cara berpikir dan mengambil keputusan; puasa harus menjadi kekasih.

Puasa menurut Pak Guru, antara lain, adalah ketidakmudahan untuk terlena; sebuah kekuatan hati untuk menolak hal-hal yang sebenarnya diinginkan tapi sesungguhnya tidak dibutuhkan. Dengan kata lain, puasa menuntut kemampuan berpikir kritis dan jujur, apakah sesuatu di hadapan kita merupakan keinginan atau kebutuhan. Puasa juga adalah tentang ketangguhan sekaligus kecakapan untuk berpuas diri atas apa yang ada.

Bagi Pak Guru, puasalah yang melahirkan kesabaran. Puasa juga yang melahirkan keikhlasan. Puasa melahirkan kemerdekaan; ketidakbergantungan. Puasa melahirkan kemandirian. Dulu, waktu Pak Guru menyebut ‘kemandirian’, saya tercenung lama.

Saya sadar saya bukan tipe orang yang mudah dimotivasi, baik oleh orang atau buku. Saya tidak akan betah mendengar atau membaca motivasi. Nalar saya lebih banyak bermain bila dihadapkan pada “bahasa manusia” (yang di dalamnya ada logika, ada motif, ada worldview tertentu). Reaksi wajar pikiran saya adalah membantah; sekalipun saya sepakat, saya tetap mengandaikan argumen tandingan.

Maka saya merasa agak wajar bila bacaan saya lebih banyak berupa buku-buku pemikiran, filsafat, sastra, sejarah, dll. Sesuatu yang mengandung (dan memancing) perdebatan. Termasuk ketika membincang Islam, pemikiran saya cenderung berbeda dengan kebanyakan kenalan. Belajar pada siapapun atau membaca buku apapun, pada akhirnya saya tetap ‘mengunyah’ sendiri. Saya menolak ‘digembalai’.

Sebab itulah saya heran pada orang-orang yang keranjingan motivasi bahkan dalam urusan sepele. Untuk memilih sebuah sikap, mereka sebegitu butuhnya dengan pembenaran dari pikiran orang lain. Saya sering tak habis pikir melihat tabiat tak percaya diri dan terlalu bergantung seperti itu. Tidak beranikah mereka mengambil langkah dan ‘mengadunya’ pada suara-suara keberatan? Apa menariknya hidup di atas kutipan-kutipan orang lain?

Saya sering ditabrak jenuh dan ditusuk situasi-situasi buruk (kegagalan, kekecewaan, kemarahan, kesedihan, dll). Saya tak jarang pula terpuruk. Tapi saya menolak surut secara mengenaskan, tidak sampai harus mengais motivasi dari kata orang atau kata buku. Kalau saya harus bicara pada orang lain, yang saya butuhkan bukan dukungan, melainkan tukar pikiran. Saya mencari insight yang bisa menundukkan insight saya.

Mungkin ini pengaruh zodiak saya, Aquarius. Zodiak saya disebut-sebut sebagai yang keras kepala dan lebih suka menjadi merdeka. Tapi, orang bilang tidak boleh percaya zodiak. Tapi, saya bilang saya percaya konstelasi alam memengaruhi seseorang. Nah, kan, saya membantah lagi.

Tapi belakangan ini wejangan Pak Guru mengusik saya. Kalau ditelan harfiah saja, saya sudah mandiri dalam berpikir dan merdeka dalam bersikap. Tapi saya mendapati sisi yang tidak wajar. Entah bagaimana, keadaan saya yang seperti itu terasa kurang manusiawi. Saya diteror oleh kenyataan bahwa kekuatan setiap orang berbeda-beda, dan setiap orang menghadapi cerita hidup yang tidak sama.

Saya bahkan diteror oleh kenyataan bahwa semakin ke sini, saya tidak sekuat yang saya kira. Saya butuh dorongan. Saya butuh ditarik paksa, bahkan. Bukan sekadar motivasi. Semakin hari, saya semakin rapuh. Saya semakin ingin menjadi biasa-biasa saja. Berpikir layaknya banyak orang berpikir. Merasa layaknya kawan-kawan saya yang lucu dan lugu merasa.

Hanya saja, “kemandirian mengerikan” ini sudah berlangsung begitu lama. Mungkinkah diobati? Apakah saya harus mengobatinya dengan motivasi atau bertukar pikiran? Saya kok jadi ingin tahu jawaban tiga hal: (1) apakah keadaan saya ini normal? (2) bila tidak normal, bagaimana cara memulihkannya? (3) Bila pun normal, adakah ada alternatif sikap-hidup lain yang bisa saya kembangkan?

Apakah tulisan saya termasuk mengais motivasi?

Apakah normal mengarungi Ramadan dengan kecamuk pikiran? []

Satu Kebiasaan Baru Saya Saat Puasa

1840_jer_salat.jpg

Hari pertama berpuasa! Satu Ramadan tidak jatuh pada tanggal enam Mei. Enam Mei adalah hari pertama berpuasa. Satu Ramadan tiba pada lima Mei, saat azan magrib berkumandang. Seperti di tahun-tahun sebelumnya, menjelang terbenamnya matahari saya sudah membereskan kamar, mandi suci, lantas berdiri di halaman. Saya memandang langit. Saya meraba energi, mencoba merasakan kedatangan Ramadan. Dengan cara itu, gugup saya berkurang.

Cara-cara saya menyambut Ramadan memang agak aneh. Orang lain membuat target ibadah. Saya yang buka orang alim ini, apalah daya. Akhirnya saya mencoba menyambut Ramadan dengan merenungkan jenis puasa yang lain. Namanya “Puasa Hijau”—puasa sepanjang zaman demi mengendalikan mode produksi dan mode konsumsi yang merusak alam. Saya tulis juga pendapat bahwa miskin (seharusnya) adalah sebuah gaya hidup. Saya menulis dengan bahasa yang ringan, bisa dibaca di sini.

Cara lain menyambut Ramadan versi saya adalah memutar dua buah lagu. Pertama berjudul “Akan Kemana”—puisi Cak Nun yang digubah oleh Mimi Larasati. Kedua berjudul “Hakekat Cinta”—lagu Band Ungu yang menurut saya musikalitasnya paling matang. Dua lagu itu semacam OST tetap Ramadan buat saya. Bukan soal lirik; ini soal musik, soal nuansa. Kemungkinan besar hanya saya yang berpendapat begitu. Tapi tak ada salahnya kalau kamu mau coba dengarkan. Dua-duanya syahdu kok.

Tapi, beberapa tahun belakangan ini ada satu kebiasaan baru yang saya berusaha keras memeliharanya—terutama saat bulan puasa. Kebiasaan itu adalah: tidak mengumbar kebersamaan saya bersama keluarga, pun dengan karib-kerabat. Saya juga berusaha untuk tidak mempertontonkan foto/video makanan enak yang saya santap untuk berbuka atau sahur. Saya berusaha untuk tidak memamerkan kebahagiaan yang sedikit banyak merupakan nasib.

Saya sendiri tidak bisa menjelaskan kenapa saya (harus) memelihara kebiasaan itu. Tidak ada alasan rasional; ada alasan, tapi sekadar mampu saya pahami dan tidak sanggup saya gambarkan.

Nalar saya sempat memberi jawaban, misalnya: saya bertingkah begitu karena saya tahu beberapa orang di lingkaran pertemanan saya yang nasibnya jauh dari beruntung. Ada yang tidak punya sanak famili. Ada yang orang buangan. Ada yang tidak beruang dan hanya mampu menyantap makanan sederhana—hape mereka butut dan wifi pun menumpang. Ada, ada yang begitu; mungkin akan sulit bagi kita (yang terbiasa hidup nyaman) untuk memercayainya. Tapi, alasan itu hanya cocokologi nalar saya saja.

Akhirnya alasan itu hanya berupa rasa yang untuk dituruti, bukan rasio yang untuk dicerna. Kadang saya khilaf, saya pamer juga, dan entah kenapa saya lantas merasa berdosa. Padahal jelas-jelas tidak haram.

Tapi satu yang saya bisa jelaskan: rasa itu datang dari Neneq. Tidak mungkin selain darinya. Segalanya pasti Neneq. Segalanya harus kembali padanya. Ingin tahu Neneq itu apa? Pergilah ke Lombok, ke rumah saya, kapan-kapan, saya akan ceritakan padamu sampai kamu merasa berat hati untuk pulang. []

Shaming?

04_Confidence_Quotes_Quotes_A_man_cannot-1068x561

Saya tidak tahu ada berapa banyak orang yang masih membaca blog sampai tahun 2019 ini. Meski beberapa bulan lalu saya memutuskan untuk menutup blog pribadi, saya masih membaca sejumlah blog yang saya suka. Hanya saja, saya tidak meninggalkan komentar seperti biasa.

Beberapa narablog yang saya kenal telah kehabisan energi untuk menulis. Hampir seratus blog yang saya ikuti tidak beraktifitas selama setidaknya 7 bulan terakhir. Ternyata ada yang sudah tidak aktif selama 4 tahun; saya mengikuti blog itu 5 tahun yang lalu. Satu per satu saya cek isi blog-blog itu dan bila tidak terlalu penting untuk saya ikuti, saya berhenti mengikutinya.

Saya masih menulis, terus menulis. Saya menerbitkan esai-esai pendek di beberapa media online dan sesekali menulis jurnal. Saya belajar merapikan kalimat dan patuh pada kaidah-kaidah dasar menulis. Tapi saya tetap kecolongan, ada saja salah tik di tulisan saya. Ada saja kalimat saya yang nirsubjek.

Saya berlatih lagi. Mungkin tidak ada ujung bagi seorang penulis untuk berlatih. Bagi seorang penulis, berlatih identik dengan berkarya.

Mas Hasnan Bachtiar, mentor menulis saya, kembali dari studinya di CAIS ANU akhir 2018 lalu. Tulisannya semakin matang dan ia ‘menyindir’ saya habis-habisan karena tulisan saya yang, menurutnya, tidak berkembang. Ia dengan serius menganjurkan saya untuk ‘berhenti’ menulis esai-esai popular dan mulai menulis jurnal. “Kualitas tulisanmu masih buruk,” katanya. “Jurnal SINTA 2 pun tidak mau menerimanya.”

Itulah gaya Mas Hasnan dalam mendidik saya. Sedikit sombong, tapi sebenarnya perhatian. Kemarin saya kembali dilatih dasar-dasar academic writing oleh Mas Hasnan. Saya disajikan struktur dasar tulisan akademik yang ideal dan itu cukup membuat saya mengembuskan napas berkali-kali. Saya teringat semua tulisan saya di laptop dan merasa itu semua sampah.

Tapi saya tidak baper. Saya tidak surut. Saya mengakui tulisan saya buruk tapi tanpa harus merasa terpuruk. Saya tidak harus merengek protes pada Mas Hasnan, atas nama kebahagiaan saya sendiri, agar ia tidak berlidah runcing dalam memberi penilaian. Bukan karena saya tegar, tapi saya telah belajar untuk menghargai watak Mas Hasnan apa adanya. Saya tidak perlu malu karena toh yang dia sampaikan benar. Toh, saya belajar darinya.

***

Konteksnya sama seperti tindakan body shaming (BS) yang tidak jarang tertuju pada saya. Kalau saya tidak merasa malu dikatai gendut, tidak ada masalah, kan? Badan saya memang gendut. Alih-alih merasa tersinggung, saya belajar menerima diri dan bahagia apa adanya.

Konteks dari BS adalah ejekan dan ‘ejekan’ tidak sama dengan ‘ledekan’. Ejekan berbicara tentang kegiatan yang memang bermaksud menyakiti. Ledekan adalah ekspresi kebersahabatan. Saya mengerti bahaya laten BS; ada lidah di luar sana yang begitu kejam dan kampanye anti-BS berupaya membela korban. Idenya adalah dengan mendidik mulut pengejek.

Tapi, kampanye itu jadi terasa berlebihan karena ruang untuk bercanda menjadi semakin hilang. Tubuh yang dijadikan percandaan disamakan dengan ‘eksploitasi’ dan semua orang menjadi lebih sensitif terhadap tubuh. Seharusnya kampanye bergerak dua arah; adalah lebih penting untuk belajar menerima diri apa adanya dan merasa bahagia karenanya. Di tengah masyarakat kita ada ekspresi-ekspresi kultural yang bersifat jujur dan menuntut kejujuran; itu semua punya maksud positif dalam masyarakat berwatak komunalistik, yang mungkin sulit diterima oleh nalar masyarakat individualistik. Ekspresi kultural itu mendorong seseorang agar mampu menertawakan dirinya sendiri. Bila saya mampu melakukan itu, maka ruang bagi orang lain untuk menghina jadi tidak ada.

Kondisi gendut, tanpa leher dan kulit legam adalah untuk saya terima dan mesrai. Baru dengan demikian saya bisa menangkap nuansa kemesraan yang orang lain berikan pada saya. Diledek adalah bentuk silaturrahim dan itu baik.

Lagu “Gajah” dari Tulus mungkin contoh lagu yang melampaui kesadaran anti-BSLagu itu menekankan bahwa pembulian atas tubuh bisa dilawan dengan cara lain, yaitu mengapresiasi diri dengan sudut pandang yang lebih baik. Bila saya tidak bahagia dengan tubuh saya, bukankah itu artinya saya sedang mengeksploitasi diri sendiri? Eksploitasi itu harus dicegah luar dalam. Kampanye anti-BS baru bekerja di sisi luar saja. Tentu pendapat ini sependek penglihatan saya. []

Yang Bersemi Setelah Pemilu

tunas

Pemilu telah usai. Keributan mungkin belum akan usai (politik selalu bising, bukankah?), tapi setidaknya kita sudah bisa bernapas lebih lega. Masing-masing telah mengambil hikmah, begitupun saya. Ada hal-hal yang bersemi setelah pemilu kali ini; berupa pelajaran berharga tentang manusia dan cara berpikirnya.

Saya merasakan kebenaran tulisan almarhum Kuntowijoyo: kesadaran politik masyarakat Indonesia masih kuna. Konsep Ratu Adil masih kuat; masyarakat menggantungkan harapan pada satu sosok karismatik, dan sosok itu dianggap mampu mengubah keadaan. Kesadaran Ratu Adil muncul dalam kalimat-kalimat seperti: “Pilih yang paling sedikit dosanya!” atau “memilih untuk mencegah yang terburuk berkuasa!”

Kalimat-kalimat seperti itu tidak salah, hanya saja, tidak berlaku di hadapan realitas politik yang kompleks. Nasehat semacam itu hanya berlaku di realitas yang lebih sederhana, di mana warga bisa dengan mudah mengawasi pemimpinnya.

Realitas negara modern itu kompleks. Di negara modern ada kesepakatan-kesepakatan antara negara dan pasar, yang menguntungkan (para elit dari) kedua belah pihak. Presiden tidak berkuasa sendirian. Di negara modern, yang ada adalah presiden, bukan pemimpin dalam arti klasik (yang berkuasa tunggal). Dan setiap presiden berdiri berdiri di atas struktur kompleksitas itu. Tidak mudah diawasi.

Struktur realitasnya harus dipahami: ada pemain-pemain, ada relasi-relasi, ada dealings di belakang layar, ada ancaman-ancaman, ada tawaran-tawaran. Itu semua nyata adanya, bukan sekadar bumbu film atau imajinasi konspiratif.

Guru saya, Pradana Boy ZTF, yang menjadi staf khusus kepresidenan selama beberapa waktu, telah melihat bagaimana pertarungan politik di level elit sama sekali berbeda dengan apa yang ‘didongengkan’ di koran-koran (apalagi media sosial). Siapapun presidennya, realitas itu mendesak presiden bungkam. Sekali lagi: siapapun presidennya. Guru saya membagikan cerita, di antaranya, tentang bisikan-bisikan istana tentang kasus kekerasan terhadap Novel Baswedan dan terbuangnya Mahfud MD dari sisi Jokowi.

Karena sering mendengar informasi dari kantong-kantong rahasia, saya jadi sadar, sebagai orang awam, saya hanya mengkonsumsi sekitar 40% saja dari kebenaran. Itupun yang terangkat di media—belum termasuk kejadian-kejadian yang tidak (diizinkan) diangkat media. Saya jadi semakin tidak tahu apa-apa tentang negara ini—yang kelihatan baik-baik saja di media massa dan brosur pariwisata.

Itulah sebabnya saya kerap merasa lucu melihat keluguan dan kenaifan banyak orang tentang politik. Kalau komentar datang dari pendukung fanatik, it’s okay, goblok merupakan ciri lazim fanatisme. Tapi komentar datang dari ‘orang-orang pandai yang baik hati namun lugu’, yang senantiasa berpikir positif bahkan tentang politik. Kampanye anti-golput itu bagus, tapi menurut saya kampanye itu salah tanggap.

Menjelang pemilu, ungkapan yang paling sering muncul adalah: “Meskipun kedua calon bermasalah, golput bukan solusi.” Ya, tapi apakah itu berarti solusi satu-satunya hanya mencoblos? Lantas setelah mencoblos, kita akan kembali pada kehidupan nyaman imut-imut khas kelas menengah?

Kampanye anti-golput menyindir golput sebagai bentuk ketidakpedulian. Saya langsung teringat sejumlah kawan aktivis yang telah berdarah-darah mengadvokasi rakyat, bertahun-tahun. Mereka berhadapan dengan realitas yang tidak diberitakan; realitas yang memakan korban; realitas yang tidak diketahui dan tidak dimengerti oleh kaum kelas menengah yang hidupnya serba tenteram; realitas yang memberi trauma akan politik praktis; realitas yang mengecewakan mereka berkali-kali. Memang mereka memutuskan untuk golput, tapi mereka siap berdiri lagi di barisan rakyat meski berkali-kali telah terluka dipopori senjata aparat dan preman sewaan. Alangkah tega tuduhan golput sebagai ketidakpedulian.

Tapi saya tidak mengkritik kaum anti-golput. Mereka tidak membaca dan menyimak kisah-kisah yang saya simak—yang kebanyakan tragedi. Mungkin karena itu saya sulit berpikir positif, sedangkan mereka mudah. Anggaplah golput itu salah, tapi saya mengharapkan kedisiplinan berpikir. Jangan langsung lompat ke kesimpulan (golput-tak-golput). Jawab dulu pertanyaan besar secara serius: memangnya, masa depan apa yang ditawarkan oleh dua calon yang sama-sama akan melanggengkan struktur kuasa modal di negeri ini, sehingga warga harus memilih?

Ingat, dijawab secara serius, jangan pakai retweet omongan orang. Jangan malas.

Memang kebanyakan kita kurang mengerti anatomi kritik. Kritik adalah, meminjam istilah Eyang Sapardi, “Bilang begini maksudnya begitu”. Terhadap kritik, kita lebih emosional menyikapi begini-nya daripada begitu-nya. Setelah menonton film Sexy Killers, misalnya, bukan soal golput atau bahaya tambang yang seharusnya kita cemaskan, melainkan “relasi kuasa modal”—dan hampir tidak ada kawan yang serius membicarakan itu.

Sesekali saya terpengaruh untuk merasa jengkel pada satu dua kawan naif. Saya bisa santai dalam banyak hal, tapi pada ocehan kelas menengah yang tidak tahu diri, masih sulit bagi saya untuk mengendalikan diri dan tidak meladeni. Itulah kekurangan saya. Saya khilaf dan meminta maaf.

Sebentar lagi Ramadan tiba. Saya ingin kembali pada perjuangan-perjuangan yang gembira. Perlawanan-perlawanan sederhana. Tragedi tidak selalu melahirkan bitterness. Baik di Malang atau di Lombok, saya punya rumah dan teman untuk melakukannya. Inilah bentuk optimisme yang kami percaya. []